
Tangis haru mengiringi acara akad sekaligus resepsi pernikahan Velia dan Fikri. Benar, hari ini menjadi hari paling dinantikan oleh keduanya, sebab setelah sekian lama menunggu, akhirnya mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan yang suci.
Velia dengan kebaya putih adat sunda itu membuat penampilannya jauh lebih cantik, jangan lupa pada Fikri yang juga mengenakan pakaian adat sama dengan Velia.
Kini status keduanya telah berubah, menjadi sepasang suami istri. Mulai hari ini, suka maupun duka akan di lalui bersama.
Senyuman tidak pernah hilang dari wajah keduanya, baik Fikri maupun Velia sama-sama menyambut para tamu undangan yang hadir dengan penuh suka cita.
"Selamat ya, Kak. Ya ampun, akhirnya kalian nikah juga!!" ucap Rheana seraya memeluk sang kakak.
Velia membalas pelukan adiknya, tanpa sadar Velia menangis karena teringat dengan segala perlakuan buruknya dulu.
"Lhoo kok nangis, Kak." Tegur Rheana segera menyeka air mata kakaknya.
"Maaf ya, Rhea." Ucap Velia dan Rheana langsung mengerti.
Rheana tersenyum lebar, ia menatap kakak iparnya yang juga khawatir melihat istrinya menangis.
"Kakak ipar, tolong ya ini istrinya nangis. Baru sehari menikah masa istri nangis nggak dibujuk." Celetuk Rheana geleng-geleng kepala.
"Nanti nggak di kasih jatah lhoo," tambah Rheana pelan sehingga hanya mereka berempat yang mendengarnya.
Velia melotot, ia memberi gerakan memukul kepala adiknya karena malu. Jelas malu, ia saja sedang mempersiapkan diri untuk itu secara diam-diam, tapi Rheana malah membahasnya.
"Rhea." Tegur Velia melototkan matanya.
Rheana tertawa, ia sontak menggandeng tangan Cakra dengan berpura-pura takut.
"Mas, kak Velia marah." Adu Rheana dengan manja.
"Jangan berani melototi istriku." Ujar Cakra kepada Velia.
"Kau juga jangan berani marah-marah kepadanya." Sahut Fikri yang sontak membuat keempatnya tertawa.
Rheana mengusap perutnya, lalu beralih mengusap perut Velia dibalik kebaya putihnya. Gerakan itu dilakukan seakan doa untuk Velia agar bisa segera hamil usai 'anu-anuan' nanti.
"Belum, tapi makasih doanya Rhe." Ucap Fikri yang mengerti.
"Nanti malam baru proses ya." Balas Rheana yang langsung di mengerti oleh Velia.
"Cakra, lebih baik kau bawa pergi istrimu ini. Dia membuatku sangat malu ini," ujar Velia geleng-geleng kepala.
Cakra tersenyum menatap istrinya, ia mengacak rambut panjang itu lalu menghadiahi kecupan di keningnya.
"Hei! Kami yang baru menikah, kenapa kalian yang bermesraan!" protes Fikri tidak terima akan kedua orang itu.
"Iya ya, Sayang. Mana mesra-mesraan nya di pelaminan kita," timpal Velia ikut protes.
Cakra tersenyum simpul. "Nikmatilah malam ini." Ujar Cakra seraya memberikan sebuah kunci kepada Fikri.
"Apa ini?" tanya Fikri bingung.
"Kamar honeymoon suite di hotel ini." Jawab Cakra lalu mengajak istrinya pergi.
"Mas, tadi–" Rheana yang hendak bertanya di potong oleh Cakra.
"Kenapa? Mau juga ke honeymoon suite?" tawar Cakra dengan tatapan genitnya.
Rheana menggeleng, ia menepuk bahu suaminya dan memilih untuk menghampiri kedua orang tuanya, daripada harus meladeni Cakra yang tidak henti menggodanya.
"Sayang!!" panggil Cakra dengan manja.
Rheana melotot, ia ingin sekali melayangkan sandal teplek nya ini ke wajah tampan Cakra yang asal memanggilnya.
Rheana berdecak, ia berjalan mendekati kedua orang tuanya yang asik mengobrol dengan para tamu.
Saat Rheana menghampiri, tepat sekali para tamu itu pergi. Rheana duduk di depan papa dan mamanya dengan wajah ditekuk.
"Ada apa ibu hamil?" Tanya Mama Erina menggoda putrinya.
Tidak lama kemudian Cakra datang dan duduk di sebelah Rheana. Hal itu semakin membuat Rheana menekuk wajahnya.
__ADS_1
Kini baik papa Rama maupun mama Erina, keduanya paham mengapa Rheana sampai menekuk wajahnya.
"Ibu hamil memang sensitif, Cakra. Kesalahan kecil saja bisa buat kamu diusir dari kamar," ujar Papa Rama memberitahu sekaligus berbagi pengalaman.
"Jangan sampai deh, Pa. Aku tidak bisa tidur jika tidak memeluk dan mencium istriku." Timpal Cakra tertawa.
Rheana semakin melototkan matanya. Cakra ini ceo sukses, tapi mulutnya sama sekali tidak bisa di rem jika bicara.
"Mas, mulut kamu aku kasih kulit durian mau?" tawar Rheana geram.
Cakra menggeleng seraya menutup mulutnya sendiri. Ia bergidik mendengar suara Rheana yang begitu serius.
Sementara mama Erina dan Papa Rama hanya bisa tertawa mendengar ucapan Rheana barusan. Ada-ada saja wanita ini, segala kulit durian di bawa-bawa.
"Nak, kamu jutek banget sama suami." Tegur Mama Erina.
"Dianya mah ganggu aku harus." Balas Rheana mengadu.
"Ganggu gimana? Peluk cium sih bukan ganggu namanya, itu cara menunjukkan cinta." Sahut Papa Rama.
"Papa pengalaman banget." Celetuk Cakra bangga, tentu saja karena ia merasa di bela oleh kedua mertuanya.
"Jelas, sampai sekarang papa masih gitu sama mama." Sahut Papa Rama lalu merangkul bahu istrinya.
"Pa, apaan sih!" tegur Mama Erina malu.
Rheana dan Cakra tertawa melihat reaksi mama Erina. Tidak lama kemudian, datanglah orang tua Cakra yang tadi tidak sempat ikut acara ijab qobul.
"Maafin ya, kami baru datang." Ucap Papa Wawan kepada kedua besannya.
"Tidak apa-apa, silahkan duduk. Atau mau menyalami pengantinnya dulu," tutur Papa Rama.
"Sudah, kami baru dari sana." Jelas Mama Mila kemudian duduk di samping putranya.
"Ini Rheana kenapa nekuk gitu wajahhya?" tanya Mama Mila kepada menantunya.
"Mas Cakra, Ma. Dia gangguin aku terus," jawab Rheana mengadu.
"Berani kamu ganggu menantu mama, awas aja!" ancam Mama Mila.
Cakra mengangguk, ia tahu ini akan terjadi. Ia di bela oleh mertuanya, dan Rheana juga akan di bela oleh mertuanya. Apakah memang begini? Mertua akan membela menantunya?
"Lagian kamu, Cakra. Jangan ganggu Rheana terus, nanti di suruh tidur diluar baru nangis." Celetuk Papa Wawan.
Semua yang ada disana langsung tertawa mendengar celetukan papa Wawan, sementara Cakra hanya bisa pasrah. Kini istrinya benar-benar pemegang tahta tertinggi di dalam hati kedua orang tuanya.
"Sayang, makan sesuatu yuk!" Ajak Cakra lembut.
"Ayo, Mas. Aku mau coba baksonya!" sahut Rheana dengan semangat.
Cakra menggandeng tangan istrinya, mereka pamit sebentar untuk mengambil makanan dulu. Kini meja itu hanya berisi pada orang tua.
"Aku hanya berharap bahwa mereka tidak jadi cerai." Ucap Mama Mila pelan.
"Tentu kami menginginkan hal yang sama, tapi semua keputusan ada di mereka." Balas Mama Erina sambil menggenggam tangan besannya.
"Aku yakin jika Cakra bisa meluluhkan hati Rheana lagi, apalagi Rheana itu gadis yang baik." Ujar Papa Wawan dengan yakin.
"Aku setuju." Timpal Papa Rama manggut-manggut.
Rheana hendak mengambil bakso, namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang masuk ke dalam area pernikahan.
"Ryan." Panggil Rheana segera mendekati adiknya.
Cakra yang mendengar ucapan sang istri lantas menoleh, ia melihat adik ipar laki-lakinya itu datang bersama seorang gadis.
"Ryan, kamu dari mana?" tanya Rheana lembut.
"Jemput Abel, Kak." Jawab Ryan seraya menunjuk gadis di sebelahnya.
Rheana beralih menatap gadis cantik yang ada di sebelah adiknya. Rheana kembali menatap adiknya dengan tatapan jahil.
__ADS_1
"Kekasihmu?" tebak Rheana menaik turunkan alisnya.
"Ck, tidak kakakku sayang. Dia temanku," jawab Ryan menjelaskan.
"Jadi pacar juga nggak apa-apa kan, Ryan. Asal kalian sama-sama sendiri, beres." Sahut Cakra ikut menimpali.
"Hai, nama kamu siapa tadi?" tanya Rheana mengulurkan tangannya.
Abel meraih tangan Rheana lalu mencium punggung tangannya.
"Aku Abel, Kak. Teman sekampusnya Ryan," jawab Abel sopan.
"Ihh lucu, kalian temenan sudah lama?" tanya Rheana gemas.
"Baru sih, Kak. Baru awal masuk kampus aja kita kenalan," jawab Abel jujur.
"Jadi, masih teman sampai sekarang?" tanya Rheana lagi dan dijawab anggukkan kepala oleh Abel.
Rheana dan Cakra tertawa melihat ekspresi wajah Ryan yang bete karena Abel di introgasi oleh mereka.
"Ya sudah, aku doakan semoga kalian secepatnya jadi pacar ya." Ujar Rheana dengan tulus.
"Kakak, dia ini pacar orang." Sahut Ryan memberitahu.
Rheana menatap Ryan dan Abel bergantian. Rheana tersenyum canggung, ia jadi tidak enak kepada Abel karena menjodoh-jodohkan nya dengan Ryan.
"Temui kak Velia dulu, sekalian ajak Abel kenalan. Aku mau makan," tutur Rheana kemudian pergi seraya menggandeng tangan suaminya.
Ryan pun segera mengajak Abel untuk bertemu dengan Velia dan Fikri, ia ingin seluruh keluarganya mengenal Abel.
"Ryan, darimana saja kamu?" tanya Velia kaget.
"Selamat ya, Kak. Semoga pernikahannya langgeng," bukannya menjawab, Ryan malah mendoakan kakaknya.
Velia beralih menatap gadis di sebelah adiknya. Apa gadis ini yang membuat Ryan kemarin terlihat malas-malasan karena patah hati.
"Happy wedding, Kak. Aku Abel, temannya Ryan." Ucap Abel seraya memberikan kado kecil untuk kakak temannya itu.
"Oh iya, makasih ya. Repot-repot banget bawain kado." Balas Velia ramah.
"Jadi udah ada gandengan nih, sampe kondangan di bawa-bawa." Celetuk Fikri ikut menggoda seperti Cakra tadi.
"Kakak ipar." Tegur Ryan memelas.
"Yaudah Ryan, ajak Abel makan dulu gih." Tutur Velia lembut.
"Oh iya, makasih ya kadonya, calon adik ipar." Tambah Velia dengan senyuman manis.
Abel tersipu mendengar ucapan kakak Ryan. Keluarga Ryan ternyata sangat welcome, namun entah mengapa ia takut jika semuanya berubah saat keluarga Ryan tahu siapa dirinya. Dia bukan dari keluarga kaya.
Ryan pun mengajak Abel untuk makan dulu, sebelum mengajaknya berkenalan dengan kedua orangtuanya.
"Ryan, kakak-kakak kamu cantik ya dan baik juga lagi." Ucap Abel jujur.
"Tentu saja, mama papa gue cantik dan tampan, jadi anak-anaknya bibit unggul." Balas Ryan.
"Tapi kamu kok jelek." Ucap Abel bergurau.
"Sembarangan mulut lo, gue ganteng ya." Sahut Ryan tidak terima.
Abel tertawa, Ryan ini benar-benar lucu menurutnya. Ia selalu terhibur setiap kali bertemu dengan Ryan.
Setelah makan, Ryan berniat untuk memperkenalkan Abel kepada kedua orang tuanya, tapi keduanya terlihat sibuk bicara dengan orang yang penting, mungkin rekan kerja papanya.
"Nggak apa-apa, lain kali kan bisa." Ucap Abel ketika Ryan meminta maaf padanya.
Ryan tersenyum, senyuman yang sangat jarang ia tunjukkan kepada siapapun, termasuk Abel.
"Nah, kamu ganteng kalo senyum gitu." Puji Abel dengan sangat jujur.
NGGAK KERASA UDAH 100 BAB😫
__ADS_1
Bersambung...............................