
Rheana memakai gaun pink soft dibawah lutut, dengan model Sabrina, sehingga ia harus berusaha keras untuk menutupi tanda di lehernya yang dibuat Cakra semalam.
Rambut panjang yang digerai menambah kecantikan seorang Rheana meskipun hanya terpoles makeup tipis.
Rheana keluar dari kamar hotel, ia terkejut melihat 2 orang pelayan hotel berdiri dan langsung menyapanya dengan sopan.
"Selamat pagi, Nyonya Rheana. Kami akan mengantar anda kepada suami anda," ucap salah satu dari mereka.
Rheana tersenyum, ia pun menurut saja dengan pelayan hotel itu yang mengajaknya naik ke lantai paling atas.
Sesampainya di rooftop hotel, Rheana pun ditinggalkan oleh kedua pelayan itu. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat ada meja dan dua kursi dengan sesuatu di atas meja sudah tersaji.
"Mas." Panggil Rheana sedikit berteriak karena angin kencang.
Rheana memejamkan matanya ketika merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya. Rheana tentu tahu siapa pemilik tangan itu.
"Mas." Panggil Rheana lagi.
"Suka nggak sama bunganya?" Tanya Cakra dengan wajah berada di leher istrinya.
Rheana tersenyum, ia menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Cakra. Wanita mana yang tidak suka diberikan kejutan oleh orang terkasih.
"Sekarang apa lagi ini?" tanya Rheana menunjuk meja di depan mereka.
Cakra tertawa pelan, ia pun menggandeng tangan sang istri dan mengajaknya untuk duduk di kursi yang sudah ia siapkan.
Cakra menarik kursi untuk istrinya duduk, membuat Rheana tersenyum menerima segala perlakuan manis suaminya.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Rheana dengan senyuman lebar.
"Sama-sama, Cinta." Balas Cakra sambil menyelipkan anak rambut Rheana di belakang telinga wanita itu.
Cakra lalu membuka penutup makanan yang terbuat dari stainless itu, kini terlihatlah hidangan pagi ini.
Spaghetti, sandwich dan salad buah. Makanan itu memang sudah biasa di makan, tapi bagi Rheana sangat spesial sebab suaminya yang menyiapkan.
"Mama Rhea harus makan yang banyak, supaya bisa susuin Ayla sama papanya terus," celetuk Cakra seraya menyuapi istrinya spaghetti.
Rheana mendengus, namun beberapa saat kemudian wanita itu tersenyum lebar.
"Iya, Papa nakal!" balas Rheana mencubit kedua pipi suaminya.
Cakra dan Rheana saling menyuapi, hingga tanpa terasa makanan mereka telah habis dimakan bersama.
"Suka makanannya?" tanya Cakra sangat lembut.
"Suka, Mas. Apalagi makan ditempat gini, berduaan lagi." Jawab Rheana terkikik.
__ADS_1
Cakra bangkit dari duduknya, ia mengangkat kursi yang ia duduki, lalu menggesernya mendekati istrinya.
"Enak ya berduaan sama aku," ucap Cakra dengan percaya diri.
Rheana mengusap wajah suaminya, ia ingin sekali mencakar wajah tampan suaminya karena gemas. Tapi itu hanya sekedar gemas, gila saja Rheana berbuat seperti itu.
"Mas, kita pulang jam berapa?" tanya Rheana sambil mengusap kepala suaminya yang bersandar pada bahunya.
"Kenapa, kamu nggak suka lama-lama sama aku?" Tanya Cakra dengan lembut, matanya kini bersinggungan dengan mata cantik Rheana.
Rheana mencium pipi suaminya. "Bukan gitu, Mas." Jawab Rheana.
"Aku ingat Ayla, dari kemarin kan dia nggak nyusu sama aku." Tambah Rheana menjelaskan.
Cakra mengangguk paham, ia mengusap wajah istrinya lalu menarik wanita yang paling ia cintai itu ke dalam pelukannya.
"Setelah ini kita pulang ya, aku juga kangen putri aku." Ucap Cakra penuh pengertian.
Rheana tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya yang begitu mengerti perasaannya.
Cakra sendiri memang tidak mau egois, ia tidak mungkin melupakan putrinya hanya demi kesenangannya berdua bersama istrinya.
Cakra sadar bahwa dirinya sekarang sudah memiliki anak, sehingga mereka tidak bisa melakukan apapun hanya berdua, mereka harus membawa dan mengikutsertakan Ayla juga.
Pagi ini cukup indah, bisa sarapan berdua bersama sambil suap-suapan. Semalam dan pagi ini rasanya belum cukup bagi mereka, namun mereka tidak bisa egois dan melupakan Ayla.
Rheana sedikit bingung karena jalan yang mereka lewati berbeda dengan jalan menuju rumah mertuanya.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Rheana menoleh dan menatap suaminya.
Cakra membalas tatapan istrinya sebentar, sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Pulang, Sayang. Katanya keinget sama Ayla," jawab Cakra.
"Tapi ini jalan yang berlawanan dengan arah rumah mama, Mas." Ucap Rheana memberitahu, siapa tahu saja jika suaminya itu lupa jalan pulang.
Cakra hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya, ia tidak menyahut meskipun istrinya terus memanggilnya.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai." Tutur Cakra lembut.
Rheana mengerutkan keningnya, tidak paham dengan kata-kata sang suami barusan. Namun karena tidak mau membuat suaminya kesal, Rheana akhirnya diam.
Setelah beberapa saat, mobil yang ditumpangi Rheana dan Cakra memasuki sebuah pekarangan rumah minimalis modern yang indah.
"Ayo turun, Sayang." Ajak Cakra seraya membuka seatbelt nya.
Rheana lagi-lagi hanya bisa nurut, ia lalu menggandeng tangan suaminya sembari menatap rumah di hadapannya dengan penuh kekaguman.
__ADS_1
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Rheana bingung.
Cakra menggerakkan sebuah kunci didepan istrinya.
"Ayo masuk." Ajak Cakra lembut.
Cakra dan Rheana masuk setelah Cakra membuka pintu rumah dengan kunci yang ia miliki.
Saat masuk, mata Rheana langsung dimanjakan dengan ruang tamu yang tidak terlalu besar, namun rapi dan modern.
"Mas, ini sebenarnya rumah siapa?" tanya Rheana dengan serius.
Cakra tertawa, ia memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang, lalu ia ciumi pipi dan leher sang istri karena gemas.
"Gemesin banget istri orang." Celetuk Cakra.
"Ini rumah kita, Sayang. Mana mungkin rumah orang aku yang pegang kuncinya," lanjut Cakra memberitahu.
Rheana tersenyum lebar. "Rumah kita?" Tanya Rheana memastikan.
Cakra mengangguk. "Lebih tepatnya rumah kamu sih, aku sama Ayla nanti numpang." Jawab Cakra.
Rheana berdecak, ia memukul bahu sang suami lalu memeluknya erat.
"Suka nggak rumahnya?" tanya Cakra lembut.
"Sangat." Jawab Rheana singkat.
"Singkat banget jawabnya." Cetus Cakra sembari mengunyel pipi istrinya.
Rheana melepaskan pelukannya, ia menatap Cakra dengan tatapan mata menyipit.
"Aku suka banget sama rumahnya, Mas Cakra. Rumahnya cantik, sama kaya aku." Kata Rheana di depan wajah suaminya.
Cakra tertawa, ia pun mengajak Rheana untuk melihat-lihat rumah yang telah ia siapkan untuk istrinya. Cakra membeli rumah ini atas nama Rheana, sebagai hadiah karena wanita itu sudah banyak memandikannya kebahagiaan.
Bukan maksud Cakra menilai Rheana dengan harta, tapi ia tidak bisa memberikan apapun selain cinta, kasih sayang, dan materi yang cukup.
"Wahh, ada kolam renangnya juga." Ucap Rheana.
Rheana tidak menyangka jika rumah minimalis itu bisa tetap ada kolam renang, meskipun tidak terlalu besar.
"Rumahnya cantik, makasih ya, Mas!!" ungkap Rheana.
Cakra mengangguk singkat. "Sama-sama, Sayangku." Balas Cakra.
NOVELNYA PENGEN TAMAT, TAPI AKU MASIH PUNYA BANYAK KISAH BAHAGIA BUAT MEREKA. GIMANA DONG???
__ADS_1
Bersambung............................