Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Penderitaan Abel


__ADS_3

Seorang gadis terlihat baru saja sampai di rumahnya setelah seharian berkuliah. Naik angkutan umum memang melelahkan, tetapi jauh lebih baik daripada di jemput oleh pria yang merupakan kekasihnya.


Gadis itu adalah Abel, ia baru sampai dirumah setelah dijemput oleh Rizi, kekasihnya. Sejujurnya ada rasa malas ketika sang kekasih menjemput, namun ia tidak bisa berbuat banyak.


"Sayang." Panggil Rizi seraya merangkul bahu kekasihnya.


Abel menepis tangan Rizi, ia tidak suka didekati apalagi disentuh oleh pria seperti Rizi. Andai saja dia bisa, maka ia akan mengusir Rizi sekarang.


"Hei, ada apa denganmu?" tanya Rizi terkejut, nadanya lembut namun banyak mengandung ancaman.


"Rizi, aku lelah. Tolong jangan menggangguku." Pinta Abel dengan nada malas.


Rizi tersenyum culas, ia mencekal lengan Abel dengan kasar, dan tidak lupa tangan lainnya mencengkram dagu Abel kasar.


"R-rizi, aku kesakitan." Lirih Abel berusaha melepaskan tangannya yang dicekal oleh Rizi.


"Lo mulai berani sama gue ya, sialann. Lo nggak ingat ibu lo masih butuh duit gue buat pengobatannya?" tanya Rizi seraya mengeraskan cengkraman di dagu Abel.


Abel menangis, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk meminta maaf. Ia tidak mau Rizi sampai marah dan mencabut dana untuk pengobatan ibunya.


"Rizi, aku minta maaf." Ucap Abel dengan cepat.


Rizi tersenyum remeh, ia menghempaskan wajah cantik Abel dengan kasar, kemudian menjambak rambut gadis itu dengan tidak berperasaan.


"Akhhh!!" pekik Abel kesakitan.


"Masih bagus ya mau gue terima, bahkan gue rela ngeluarin uang buat biaya ibu lo yang penyakitan itu." Ujar Rizi semakin mengeraskan jambakan di rambut Abel yang panjang.


"Hiks … kepala aku sakit, jangan tarik rambut aku." Pinta Abel memohon.


Rizi mendorong Abel sampai tersungkur ke lantai. Pria itu menatap Abel dengan tajam dan penuh kebencian.


"Lo nggak pernah mau gue sentuh, dan gue fine fine aja asal lo mau jadi pacar gue. Tapi kalo lo masih ngelawan, gue bakal perkosaa lo sekarang!" ucap Rizi dengan nada sungguh-sungguh.


Abel menggelengkan kepalanya, ia sontak mundur menjauhi Rozi sambil menutupi bagian dadanya. Abel tidak sudi jika dirinya harus disentuh oleh Rizi.

__ADS_1


"Nggak! Jangan, aku mohon Rizi." Pinta Abel memohon.


Rizi melangkah mendekati Abel, ia memegang dagu gadis itu dan mengangkatnya agar dirinya bisa menatap wajah gadis manis yang miskin itu.


"Seharusnya, dengan duit gue yang keluar buat biaya pengobatan ibu lo, gue bisa beli wanita cantik di luar sana. Tapi apa? Gue tetep mempertahankan gadis culun kaya lo!" Bentak Rizi di depan wajah Abel.


"Atau gue lepas aja biaya pengobatan ibu lo itu, terus lo gue jual buat ganti biayanya?" tanya Rizi tanpa perasaan.


Abel lagi-lagi menangis, ia menggelengkan kepalanya lagi lalu memegang tangan Rizi memohon.


"Tolong, jangan lakukan itu. Aku nggak tahu harus gimana, Rizi." Pinta Abel memohon lagi.


Rizi menghempaskan tangan Abel, ia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya daripada mendengarkan suara Abel yang hanya bisa memohon terus menerus.


Tinggal lah Abel yang masih duduk di lantai dengan keadaan yang masih menangis. Gadis itu berusaha untuk bangkit, namun kepalanya sedikit pusing akibat cengkraman Rizi di rambutnya tadi.


Abel berjalan tertatih menuju kamarnya, kamar yang sudah ia tempati selama 6 bulan terkahir di apartemen mewah Rizi.


"Hiks … Ryan." Lirih Abel memanggil nama pria yang selalu bicara ketus, tapi baik kepadanya.


Abel merebahkan tubuhnya yang terasa sakit di ranjang. Siksaan Rizi bukan hanya tadi, bahkan pria itu sering menampar wajah Abel ketika dirinya melakukan sebuah kesalahan kecil.


Benar, saat ini hanya Ryan yang selalu berhasil membuatnya tersenyum. Semua orang hanya bisa membuatnya sedih. Inilah alasan dirinya menjadi pendiam di kelas.


"Hiks … mama." Lirih Abel memeluk dirinya sendiri.


Abel memejamkan matanya, ia mulai mengingat saat-saat ibunya masih sehat dan bekerja untuk membiayai sekolahnya.


Namun karena kecelakaan, ibunya itu menjadi sakit-sakitan dan tidak bisa berjalan. Dokter mengatakan bahwa ibunya itu memiliki sakit komplikasi hingga membuatnya harus dirawat.


Sementara Rizi, pria itu sudah menjadi kekasihnya sejak lama. Dulu Rizi sangat baik, bahkan sangat mencintainya. Tetapi ketika sang mama sakit, sikap pria itu berubah.


Rizi menjadi pria kejam yang tidak berperasaan. Pria itu mengiyakan permintaan tolong Abel, namun dengan syarat gadis itu menjadi pelayan di rumahnya, dan terima jika dirinya selingkuh.


Dan selama 6 bulan inilah Abel menahan segala rasa yang ia terima. Rasa sakit, rasa sedih dan penderitaan. Ia memendam semuanya seorang diri.

__ADS_1


Abel tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menangis saja. Namun semenjak bertemu Ryan, semua harinya berubah.


Pria dingin dengan sejuta pesona itu berhasil mewarnai harinya yang telah gelap akibat Rizi. Ryan ketus, namun hatinya sangat baik dan hangat.


Apakah Abel mencintai Ryan? Ya, dia mencintai pria itu. Namun Abel memilih untuk memendam perasaannya kerena ia tahu siapa Ryan, darimana dia berasal.


Abel merasa tidak pantas untuk menjadi pasangan Ryan. Sudah jadi teman saja, Abel beruntung.


"ABEL!!" suara itu membuat Abel langsung terkesiap karena kaget.


Abel membuka matanya, ia segera turun dari ranjang dan berlari menghampiri Rizi yang telah memanggilnya.


"Iya, Rizi?" Sahut Abel dengan nafas memburu.


"Mana makanan, gue kan laper?!" tanya Rizi kesal.


"A-aku belum masak." Jawab Abel terbata karena gugup.


Rizi bangkit, pria itu mengambil gelas lalu melemparnya hingga pecah.


"Emang nggak becus sama sekali lo. Udah nyusahin, bodoh juga. Lo emang nggak berguna!" umpatan itu meluncur dengan lancar dari mulut Rizi.


"Rizi, kamu mau kemana?" tanya Abel ketika melihat pria itu pergi dari hadapannya.


"Ketemu pacar gue, daripada di rumah. Gue muak!" jawab Rizi.


"Tapi aku–" Ucapan Abel terhenti ketika Rizi menatapnya dengan tajam.


Abel selalu kalah jika berdebat dengan Rizi. Bukan karena dirinya takut, namun karena ia tidak berdaya untuk melawan.


"Aku apa? Lo siapa? Lo bukan pacar gue. Lo cuma pembantu disini!" potong Rizi kemudian benar-benar pergi.


Abel menyeka air matanya, ia tidak boleh menangis dan terus lemah seperti ini. Ada ibunya, ada Ryan juga yang membuatnya bersemangat. Abel tidak boleh menyerah, ia akan melewati semua ini dengan penuh semangat.


Dulu hanya sang mama yang menjadi alasannya untuk bertahan, tetapi saat ini ada Ryan juga. Pria itu lah yang membuat Abel lebih semangat dalam menjalani hidup.

__ADS_1


SEMANGAT ABELLL, ADA BABANG RYAN YANG SELALU DUKUNG KAMU🖤


Bersambung............................


__ADS_2