Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Ada apa dengan Cakra?


__ADS_3

Cakra memeluk tubuh istrinya dari belakang, ia sedang ingin bermanja-manja dengan Rheana yang belakangan ini sudah membuatnya begitu khawatir dan takut.


Ya, sudah hampir seminggu ini pikiran Cakra melayang, ia memikirkan istrinya yang sudah hampir melahirkan. Kalian pasti tahu apa yang mengganggu pikiran Cakra bukan?


"Mas, lepasin. Nanti ada tetangga lihat nggak enak!" tegur Rheana berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Nggak peduli sama orang, aku cuma mau manja-manja sama istri sendiri." Balas Cakra tidak peduli.


Rheana menghela nafas, ia memegang tangan suaminya yang melingkar di bahu dan menutupi dadanya. Posisinya, Rheana duduk di kursi taman, sementara Cakra berdiri dibelakangnya sambil memeluk tubuh istrinya.


"Mas, sini deh duduk." Ajak Rheana lembut.


Cakra langsung menurut, pria itu berjalan sedikit lalu mendudukkan dirinya di sebelah istrinya. Cakra menundukkan kepalanya, ia mencium perut besar Rheana dengan sayang.


"Halo anak papa." Sapa Cakra dengan manis.


"Mas, aku mau bicara. Ini soal permintaan aku, aku–" ucapan Rheana terhenti ketika Cakra meletakkan jari telunjuknya di bibir nya.


"Sayang, tolong jangan sekarang. Aku mau tiduran di pangkuan kamu, sambil cium dedeknya." Ujar Cakra memotong pembicaraan Rheana.


Rheana mengerutkan keningnya, namun ia tidak menolak saat Cakra membaringkan kepalanya di atas paha, dengan posisi wajah menatap perutnya.


"Usap-usap kepala aku, Sayang." Pinta Cakra seraya membawa tangan Rheana ke rambutnya.


"Mas, udah sore. Masuk yuk, aku kan tadi niatnya cuma duduk sebentar." Ajak Rheana sambil terus mengusap kepala sang suami.


Cakra tidak menyahut, pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang sang istri.


"Hangat banget dekat kamu gini, aku nggak mau jauh-jauh jadinya." Celetuk Cakra.


Cakra mengubah posisinya, hingga kini wajahnya menghadap ke wajah Rheana yang menunduk.


"Sayang, cantik banget sih." Tangan Cakra menyelipkan anak rambut sang istri ke belakang telinganya di sertai dengan pujian.


Rheana tertawa, entah sejak kapan Cakra jadi pandai menggodanya begini.


"Papa Cakra kok sekarang pandai merayu?" Tanya Rheana membalas dengan mengusap pipi suaminya.


Cakra hanya tersenyum simpul, ia tidak menjawab pertanyaan istrinya, dan tetap diam tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kamu harus percaya kalo aku sangat-sangat mencintai kamu, Rhe." Ucap Cakra sungguh-sungguh.


Sekarang giliran Rheana yang diam, ia hanya tersenyum tipis lalu menatap lurus ke depan dengan helaan nafas yang bisa Cakra dengar.

__ADS_1


"Mas, sudah semakin sore. Aku mau mandi dan makan," ucap Rheana seraya mengangkat kepala Cakra dari pahanya.


Cakra menurut, ia duduk dengan benar lalu meraih pergelangan tangan istrinya. Cakra menggenggam tangan Rheana lalu menciumnya berulangkali.


"Ryan memang benar." Ucap Cakra tiba-tiba.


"Benar soal apa?" Tanya Rheana penasaran.


"Rahasia." Jawab Cakra seraya bangkit dari duduknya.


Rheana melotot, ia hendak mengeluarkan sebuah protes kepada suaminya, namun ia dikejutkan dengan tindakan suaminya yang tiba-tiba.


"Mas!!" Pekik Rheana kaget.


Cakra hanya tertawa, ia menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Cakra tidak peduli dengan tatapan para pelayan itu di rumah.


"Astaga, Cakra. Ada apa dengan Rheana?" tanya Mama Mila khawatir.


"Nggak apa-apa, Ma. Cuma lagi manja dia, minta digendong." Jawab Cakra manipulatif.


Rheana menutup mulut suaminya kesal, bisa-bisanya Cakra membalikkan fakta. Sejak tadi Cakra lah yang manja padanya.


"Bohong, Ma! Mas Cakra sendiri yang mau gendong aku," sahut Rheana dengan cepat.


"Kalian ini … ya sudah, sana bersih-bersih dan makan malam bersama nanti." Tutur Mama Mila lembut.


"Iya, Ma. Kami ke kamar dulu ya," pamit Cakra kemudian segera membawa Rheana ke kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Cakra menurunkan istrinya yang sudah memberontak sejak tadi. Ia membiarkan istrinya berdiri dengan sorot mata tajam.


"Nyeblin." Ketus Rheana hendak berbalik badan, namun dihentikan oleh Cakra.


Cakra memegang pergelangan tangan istrinya, sebelah tangannya memegang wajah cantik Rheana.


"Mas." Tegur Rheana pelan.


Rheana ingin mandi, tapi sekarang Cakra malah menangkup wajahhya seperti ini.


Cakra kini menangkup wajah cantik Rheana dengan kedua tangannya, ia mengusap pipinya lembut dengan ibu jarinya.


Perlahan wajah Cakra semakin dekat, dan sampailah bibir mereka untuk bertemu satu sama lain.


Rheana tidak menolak, ia memejamkan matanya dan turut membalas lumatann yang diberikan oleh Cakra. Bahkan tangannya kini telah melingkar di leher sang suami.

__ADS_1


Ciuman masih terus berlanjut, ciuman yang terasa begitu lembut dan penuh perasaan, tidak ada napsu di dalamnya.


Mata Rheana terbuka ketika bibirnya merasakan getaran dan juga basah, ia melihat dari kata suaminya keluar buliran air mata yang jarang sekali ia lihat.


Cakra menangis.


Rheana buru-buru melepaskan ciuman mereka, kini gantian dirinya yang menangkup wajah suaminya.


"Mas, kamu kenapa nangis?" tanya Rheana khawatir.


Rheana menyeka air matanya, namun ditepis pelan oleh Cakra. Suaminya itu tidak menjawab dan langsung pergi ke kamar mandi tanpa mengatakan apapun.


"Mas." Panggil Rheana.


Rheana menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup dengan penuh tanya, ia tentu saja merasa bingung melihat suaminya yang tiba-tiba menangis.


"Apa terjadi sesuatu pada mas Cakra?" gumam Rheana bertanya-tanya.


Sementara itu di dalam kamar mandi, Cakra terlihat berdiri di bawah pancuran air shower yang membasahi seluruh tubuhnya.


Mata Cakra terpejam, ia benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis saat melihat wajah istrinya. Melihat Rheana, membuat Cakra ingin egois.


Cakra ingin hidup selamanya bersama Rheana, Cakra tidak mau berpisah dengan Rheana, Cakra tidak akan sanggup hidup tanpa Rheana.


Cakra dan Rheana adalah satu.


Cakra mengepalkan tangannya, ia meninju dinding kamar mandi untuk melampiaskan kekesalannya. Cakra kesal terhadap dirinya yang sangat bodoh dulu. Apa yang Cakra tanam dulu, kini ia harus memetiknya.


Dulu Cakra selalu menyiksa dan menghina Rheana, bahkan sampai membuat istrinya memilih kabur, dan sekarang Rheana kembali dengan permintaan yang tidak biasa.


Lagipula siapa yang menginginkan perpisahan, apalagi Cakra begitu mencintai istrinya.


"Cakra brengsekk." Umpat Cakra pada dirinya sendiri.


Cakra tidak menyangka jika dirinya bisa jatuh cinta sedalam ini pada wanita, ia bahkan sampai menangis di depan Rheana hanya karena hatinya sudah tidak bisa menahan sesak.


Kalian mungkin tahu bahwa seorang pria jarang menangis, sekalipun mereka menangis maka itu sudah sangat menyayat hatinya.


Sama seperti Cakra, perpisahan yang Rheana inginkan bukan hanya menyayat hati, tapi juga membunuh seluruh tubuhnya.


MERAKA ITU SAMA-SAMA BERUNTUNG MEMILIKI, RHEANA SANGAT DICINTAI CAKRA, DAN CAKRA SANGAT DI SAYANGI RHEANA. PANTASKAH MEREKA BERPISAH???


Bersambung.................................

__ADS_1


__ADS_2