
Rheana duduk di kantin bersama Fikri, mereka makan bakso bersama, namun entah mengapa Rheana merasa bahwa temannya itu seperti tidak fokus dengan apa yang sedang dilakukannya.
Bahkan bakso yang ada di hadapannya hanya diaduk-aduk saja.
“Kau sedang ada masalah?” tanya Rheana akhirnya membuka suaranya.
Fikri tersadar, pria itu lantas menggeleng lalu menyuap bakso ke dalam mulutnya.
“Tidak, aku selalu ceria kalaupun ada masalah.” Jawab Fikri seketika membuat Rheana tertawa.
Rheana manggut-manggut. “Katakan padaku jika kau ingin cerita, kita kan berteman.” Ucap Rheana dengan begitu hangat, hanya sebatas teman saja.
Fikri mengangguk. “Sebenarnya aku ingin cerita, tapi bukan sekarang. Jadi kau harus siap jika aku butuh teman curhat, awas saja kau.” Ancam Fikri seraya mengangkat garpu bakso dan menodongnya ke arah Rheana.
Rheana tertawa lagi. Berteman dengan Fikri cukup membuatnya sakit perut karena tertawa, selalu saja ada tingkah Fikri yang membuat Rheana tertawa.
“Tenang saja, kau bisa cerita padaku kapan saja.” Ucap Rheana sungguh-sungguh.
“Lalu jika aku menelpon disaat ada suamimu bagaimana?” tanya Fikri menaik turunkan alisnya.
“Tidak bagaimana, kau bisa telepon, dan suamiku juga tidak akan masalah jika aku mengatakan bahwa kita berteman.” Jawab Rheana yakin.
Fikri manggut-manggut. “Baiklah, bagus jika begitu.” Sahut Fikri terkekeh.
Rheana melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam pelajaran selanjutnya akan segera dimulai, dan itu membuat Rheana memaksa Fikri untuk segera menyelesaikan makan nya.
“Tenanglah, tidak perlu terburu-buru.” Celetuk Fikri membuat Rheana langsung melotot.
Mereka pun sampai di kelas, dan tidak lama setelahnya dosen datang untuk mengajar.
***
__ADS_1
Rheana dan Fikri keluar bersama, mereka tapi tidak pulang bersama sebab Rheana akan pulang dengan naik ojol saja.
Namun siapa sangka, di parkiran terlihat Cakra berdiri sambil melipat tangan di dadanya.
Rheana yang melihat itu tentu saja terkejut bercampur senang. Ia memasang senyuman lalu memeluk Cakra tanpa permisi.
“Sudah lama menunggu? kenapa tidak bilang jika ingin menjemput, Kak.” Ujar Rheana dengan senyuman yang belum hilang.
Cakra tidak menjawab, pria itu hanya diam sambil menatap Fikri dengan tajam. Pria yang terlihat begitu dekat dengan Rheana, istrinya.
Rheana menyadari tatapan Cakra, dan ia takut jika suaminya akan salah paham.
“Oh iya, Kak. Perkenalkan, dia Fikri, temanku.” Ucap Rheana memperkenalkan.
Fikri memasang wajah penuh senyum, lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan, namun Cakra hanya diam tanpa berniat membalas jabatan tangan Fikri.
“Saya Fikri, Pak. Saya temannya Rheana, dan saya harap anda tidak salah paham. Saya dan Rheana benar-benar hanya teman saja,” ucap Fikri to the point.
Rheana meringis dalam hati, ia jadi tidak enak dengan Fikri karena khawatir tersinggung dengan ucapan Cakra barusan, namun disisi lain ia juga senang mendengar Cakra menyebutnya sebagai istri.
“Kak, ayo kita pulang.” Ajak Rheana mengusap punggung tangan suaminya.
Cakra tersenyum manis lalu mengangguk. Ia masuk duluan ke dalam mobil, sementara Rheana akan meminta maaf dulu kepada Fikri.
“Maafkan suamiku ya, Fik. Dia orangnya emang gitu, tapi dia baik kok.” Ucap Rheana tidak enak hati.
Fikri mengangguk. “Santai aja, Rhe. Bagus malah kalo sumi gitu, itu artinya di sangat menyayangimu.” Sahut Fikri jujur.
Rheana mengulas senyum, ia pun pamit pergi dan segera menyusul Cakra untuk masuk ke dalam mobil, kemudian pulang.
Cakra mengemudi dengan begitu fokus, sehingga membuat Rheana berpikir jika suaminya itu marah atas hal tadi.
__ADS_1
“Kak, apa kau marah?” tanya Rheana pelan.
“Marah? untuk apa aku marah.” Jawab Cakra sekilas melirik Rheana lalu kembali fokus melihat jalanan di depan.
“Mungkin karena hal tadi, dan kau salah paham.” Jawab Rheana sangat pelan.
Tepat sekali, mereka berhenti karena lampu merah, dan hal itu dimanfaatkan Cakra untuk menarik istrinya ke dalam pelukannya yang hangat.
“Aku tidak sudi melakukan ini, tapi demi membuatmu jatuh dengan penderitaan maka akan ku lakukan.” Batin Cakra dengan tangan yang mengusap punggung Rheana.
“Lupakan saja, aku tidak salah paham sama sekali, Sayang.” Tutur Cakra dengan penuh kasih sayang, meskipun palsu.
Cakra melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Rheana lalu mencium kening istrinya dengan cepat.
“Mama mengundang ita makan siang bersama, kita kesana ya?” tawar Cakra yang lebih mirip sebuah ajakan.
Wajah Rheana tegang, ia takut akan diusir dari sana. “Bagaimana bisa, mereka tidak mau menerimaku,” cicit Rheana menundukkan kepalanya.
Cakra mengusap kepala istrinya. “Tenang, Sayang. Aku ada bersamamu,” tutur Cakra lembut.
Lampu pun hijau. Cakra segera tancap gas menuju kediaman rumah kedua orang tuanya untuk mendatangi undangan makan siang bersama.
Sementara Rheana masih terlihat ketakutan dan gugup, namun saat Cakra meraih tangannya dan menciumnya, ia sedikit lebih tenang.
“Jangan dipikirkan, Sayang.” Tutur Cakra dengan sangat lembut, dengan masih menciumi tangan Rheana.
Rheana melihat tangannya yang masih setia digenggam dan dicium oleh Cakra, dan itu benar-benar membuatnya senang, bahkan tidak henti tersenyum sejak tadi.
“Kak, apa kau mencintaiku?”
RHEA, JANGAN POLOS-POLOS BANGET YA🤧
__ADS_1
Bersambung.............................