
Hari ini oma Rheana mengajak wanita itu untuk jalan-jalan, dan setelah hampir satu bulan lebih, akhirnya Rheana mau keluar dari zona nyamannya, yaitu rumah sang kakek dan nenek.
"Oma, kemana kita akan pergi?" tanya Rheana seraya menatap sang Oma dengan hangat.
"Ke suatu tempat. Memangnya kamu tidak bosan terus berada di rumah?" jawab Oma diakhiri pertanyaan lagi.
Rheana terkikik, wajahnya yang cantik menjadi berkali-kali cantik apabila ia tersenyum apalagi tertawa.
"Nggak bosan dong, Oma. Kan aku di rumah juga bukan tidur aja, banyak hal yang bisa aku nikmati di sana." Jawab Rheana dengan senyuman manis sebagai penutup.
"Kamu mungkin nggak bosan, tapi cicitku ini pasti ingin sesuatu kan?" Tanya Oma sambil mengusap perut cucunya.
Rheana tertawa, tentu saja Rheana memiliki keinginan seperti ibu hamil lainnya, namun keinginannya itu sepertinya sulit untuk dipenuhi.
Rheana menggeleng. "Nggak kok, Oma. Cicit Oma ini nggak ingin apa-apa." Jawab Rheana berbohong.
Tidak mungkin jika Rheana mengatakan mau bertemu dengan Cakra, ia tidak mau membuat kakek dan neneknya malah menjadi khawatir karena keinginannya.
Benar sekali, keinginan Rheana sekarang adalah bertemu dengan suaminya. Ada rasa yang mengganjal di dadanya setiap kali ia mengusap perutnya sendiri.
Rheana ingin sekali merasakan tangan Cakra mengusap perutnya, bicara hal baik kepada anaknya dan berakhir memberikan kecupan kasih sayang di perut dan juga keningnya.
Rheana menginginkan itu semua. Bisakah ia bertemu dengan Cakra di dalam mimpi, sekedar untuk memenuhi keinginan anaknya saat ini.
"Rhe, kok melamun?" tanya Oma seraya mengusap bahu cucunya.
Rheana tersadar, ia menoleh ke arah sang Oma dengan senyuman yang ia buat semanis mungkin.
__ADS_1
"Eum tidak, Oma. Aku hanya sedang berpikir, makanan apa yang enak untuk dimakan." Jawab Rheana lagi-lagi berbohong.
Oma Rheana mengusap kepala cucunya, ia tersenyum lalu mengangguk singkat.
"Cucuku, jika kamu ingin sesuatu katakan saja ya." Ucap Oma dengan sangat lembut.
Rheana mengangguk, ia memeluk tubuh ringkih sang nenek dan tanpa sadar mapah mengeluarkan air matanya. Hal tersebut tentu saja tidak diketahui oleh sang Oma.
Rheana ternyata diajak oleh sang nenek ke sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar di kota itu. Rheana sendiri tidak menyangka sang nenek akan mengajaknya kesana.
"Oma, kita kesini?" tanya Rheana seraya menggandeng tangan sang Oma.
"Iya, Nak. Kamu ambil apapun yang kamu mau ya, jangan khawatir, kartu Opa mu ada padaku." Bisik Oma membuat keduanya tertawa.
Rheana dan neneknya pun segera masuk ke pusat perbelanjaan itu. Mereka tidak benar-benar pergi berdua saja, melainkan ada penjagaan yang tidak terlihat.
Sementara itu di rumah sakit, Cakra sudah lebih baik dari sebelumnya. Pria itu juga sudah mulai mau makan meski terkadang masih harus di paksa sedikit.
Mama Mila dan papa Wawan melakukan itu tentu saja untuk kebaikan Cakra, mereka tidak mau sang putra kembali masuk ke rumah sakit dan sakit.
Sakit yang Cakra derita bukan sakit keras, tetapi bisa membahayakan nyawa juga. Meraka tidak mau sampai kehilangan Cakra.
Papa Wawan masih melakukan pencarian Rheana, ia sudah tidak kuat melihat putranya yang uring-uringan, apalagi sampai sakit seperti ini.
"Cakra, kamu mau makan apa?" tanya Mama Mila seraya membantu putranya untuk berjalan.
"Ma, aku hanya ingin istirahat." Jawab Cakra pelan.
__ADS_1
"Tapi kamu harus makan, dan sehat. Jika kamu sehat, maka kamu akan lebih mudah mencari keberadaan Rheana." Ujar Mama Mila, berusaha untuk membuat putranya lebih semangat.
Cakra mengangguk pelan. Setelah ia merasa sudah fit kembali, Cakra akan mencari Rheana dan ia yakin bahwa mereka akan segera bertemu.
"Jika suatu saat aku bertemu dengan Rheana, apa dia mau memaafkan ku, Ma?" tanya Cakra lirih.
"Mama yakin pasti Rheana mau memaafkan kamu, dia wanita yang baik." Jawab Mama Mila.
"Dia sangat baik, Ma. Dia juga cantik dan lembut," timpal Cakra dengan senyuman.
Mama Mila ikut tersenyum, namun senyumannya hilang saat Cakra tiba-tiba berhenti sebentar lalu berlari.
"Cakra!!" pekik Mama Mila segera mengejar putranya.
Mama Mila mengikuti Cakra yang berlari ke toilet, ia menunggu diluar sampai Cakra kembali nanti.
Di dalam kamar mandi, terlihat Cakra sedang mual-mual, pria itu bahkan sampai muntah dan membuatnya sedikit lemas.
"Mungkin karena maag." Gumam Cakra lalu mencuci mulutnya.
Setelah merasa lebih baik, Cakra pun keluar dan melihat sang Mama ada disana.
"Cakra, kamu nggak apa-apa?" tanya Mama Mila khawatir.
"Iya, Ma. Aku hanya mual saja, mungkin karena maag." Jawab Cakra.
Mama Mila manggut-manggut, mereka pin segera pulang karena papa Wawan akan menunggu mereka di lobby rumah sakit.
__ADS_1
DUHHH MAS CAKRA, CEPET SEHAT YA🖤
Bersambung.............................