
Rheana kini sedang diperiksa oleh dokter, ia tidak bisa menghentikan tangisannya saat mendengar ucapan dokter yang merupakan temannya semasa SMA.
Rheana tidak mengatakan pada siapapun bahwa dokter yang menanganinya adalah temannya, karena ia memiliki rahasia besar.
"Kamu yakin mau rahasiakan ini dari suami kamu?" tanya dokter Becca.
Rheana menangis, ia mengusap perutnya yang saat ini masih mengandung bayinya. Inilah rahasia besar yang Rheana sembunyikan, ia tidak keguguran, bayinya baik-baik saja.
Rheana sengaja melakukan ini karena ia mau terbebas dari Cakra, ia tidak mau kehamilannya akan menjadi alasan untuknya dan Cakra tetap bersama.
Tekad Rheana meninggalkan Cakra semakin besar saat kakaknya itu ternyata masih hidup. Ia tidak mau menjadi penghalang antara Cakra dan Velia untuk bersatu.
Cakra selalu menyebut nama Velia di setiap tidurnya, ia mengerti bahwa Cakra masih mencintai kakaknya, dan inilah waktunya untuk ia pergi, pergi menjauh dari Cakra bersama anaknya.
"Aku yakin, Becca. Tolong jaga rahasia ini ya, aku nggak mau kehamilan aku merepotkan semuanya." Jawab Rheana atas pertanyaan dokter tadi.
"Tapi kandungan kamu lemah, Rhe. Sedikit saja kamu stress apalagi tertekan, kamu bisa kehilangan bayi kamu." Ujar Becca berusaha menasehati temannya.
Rheana menutup mulutnya yang mengeluarkan Isak tangis. Bayinya selamat, tapi dokter Becca mengatakan bahwa kandungan Rheana sangat lemah dan rentan mengalami keguguran.
"Aku bisa mengurus anakku sendiri, aku yakin aku kuat. Aku cuma minta sama kamu agar merahasiakan ini semua dari siapapun." Pinta Rheana memohon.
Dokter Becca memegang tangan temannya lalu mengangguk.
"Aku nggak bisa berbuat banyak, aku doakan kamu selalu sehat, dan jangan lupa untuk terus memeriksa kandungan kamu dengan rutin kesini ya." Tutur Dokter Becca yang dibalas senyuman oleh Rheana.
"Makasih banyak ya, Becca." Ucap Rheana pelan.
"Kamu istirahat ya, aku pergi memeriksa pasien lain dulu." Setelah mengatakan itu, dokter Becca pun pergi meninggalkan Rheana.
Sementara di ruang tunggu yang letaknya cukup jauh dari ruang rawat Rheana. Kini terlihat keluarga Chandrama dan keluarga Dharmawan sedang bicara.
"Ceraikan putriku." Ucap Papa Rama final.
Cakra menggeleng. "Nggak, Pa. Aku tidak bisa menceraikan Rheana, dia istriku." Tolak Cakra.
"Tapi Velia sudah kembali, itu artinya Rheana tidak bersalah, dan dia berhak bahagia!" Tegas Papa Rama dengan masih menjaga suaranya agar tidak terlalu keras.
__ADS_1
"Aku mencintai Rheana, Pa. Dia juga baru kehilangan kami, bagaimana bisa Papa memintaku untuk menceraikannya." Balas Cakra pelan.
"Yang papa Rheana katakan benar, Cakra. Lebih baik kamu ceraikan putri Mama, lagipula Rheana juga menginginkannya kan." Sahut Mama Erina.
Cakra menjambak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa semua orang memintanya untuk menceraikan Rheana. Ia tidak mungkin melakukan itu sampai kapanpun.
"Kasihan kakakku, dia sudah menerima pukulan darimu." Ujar Ryan tiba-tiba.
Papa Wawan menepuk bahu putranya.
"Lepaskan dia, Cakra." Tutur Papa Wawan dengan pelan.
Cakra menggeleng. "Aku tidak bisa, Pa. Aku tidak bisa melepaskan Rheana, dia istriku." Balas Cakra tidak kalah pelan.
"Tapi dia berhak untuk bahagia." Sambung Mama Mila yang sebenarnya tidak ingin Cakra bercerai dengan Rheana.
Sebagai seorang ibu, Mama Mila tahu bahwa Rheana mengurus anaknya dengan sangat baik. Semenjak Cakra tinggal bersama Rheana, anaknya menjadi berisi, yang menandakan bahwa Rheana adalah istri berhasil yang sangat memperhatikan suaminya.
Tapi ia juga sadar bahwa Rheana pantas bahagia, tidak terus bersama putranya yang hanya memberikan penderitaan.
Sementara Velia yang juga ada disana hanya diam. Tidak ada yang mau bicara kepadanya, sementara ia tadi meminta Fikri untuk pulang.
Mereka memutuskan untuk memberikan Cakra kesempatan satu bulan untuk memperbaiki pernikahan nya dengan Rheana, namun sebelum keputusan diambil, mereka juga butuh persetujuan dari Rheana.
"Kita temui Rheana sekarang." Ucap Papa Rama dibalas anggukan oleh semuanya.
Cakra berjalan paling belakang, bersama dengan Velia. Pria itu menatap Velia dengan tajam dan penuh kebencian.
"Lebih baik kau pergi, kau yang telah membuatku menjadi pria gila yang menyakiti istriku sendiri." Tekan Cakra kemudian segera menyusul yang lain.
Velia terdiam mendengar ucapan Cakra, ia sakit hati, namun tidak marah sama sekali karena apa yang Cakra ucapkan memang benar.
Velia pasti akan pergi, tetapi setelah ia bicara kepada adiknya sekali lagi. Ia akan mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal pada Rheana.
Semuanya telah sampai di ruang rawat Rheana. Mereka masuk setelah mengetuk pintu kamar itu.
Saat pintu terbuka, mereka tidak menemukan Rheana disana, bahkan di kamar mandi juga. Selang infus yang seharusnya terpasang di tangan wanita itu juga telah di cabut.
__ADS_1
"Rheana hilang!" ucap Mama Erina histeris.
Semua yang mendengar juga terkejut, terutama Cakra yang langsung seperti orang gila.
Tidak! Ia tidak mau kehilangan istrinya.
"Rheana, Sayang. Aku mohon beri aku kesempatan sekali saja untuk membahagiakan kamu," lirih Cakra, tanpa sadar pria itu meneteskan air matanya.
Sementara Ryan hanya diam. Ia yakin bahwa kakaknya pergi, pergi meninggalkan rasa sakitnya disini.
Ryan tidak akan mencari kakaknya untuk sekarang ini, ia justru senang jika kakaknya itu memutuskan untuk pergi dan mencari kebahagiaannya.
"Kak Rhea, pergilah yang jauh. Sudah cukup kakak menderita selama ini, carilah kebahagiaan mu diluar sana, Kak" batin Ryan menangis tanpa suara.
Semua orang mencari keberadaan Rheana di seluruh penjuru rumah sakit, namun hasilnya nihil. Rheana tidak ditemukan.
"Dokter, Rheana kemana Dok?" Tanya Mama Erina sambil menangis.
Dokter Becca tidak tahu, ia juga sangat syok mengetahui Rheana kabur dari rumah sakit.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Tapi saya akan meminta bagian cctv untuk memeriksa." Jawab dokter Becca kemudian pergi.
Semua orang tampak sedih termasuk Velia. Ia tidak tahu kemana Rheana akan pergi sekarang ini.
"Hiks … papa, Rheana kita." Ucap Mama Erina menangis dalam pelukan suaminya.
Cakra tidak kalah hancur, ia menjambak rambutnya sendiri karena tidak bisa menemukan istrinya.
Rheana pergi, Rheana pergi meninggalkannya entah kemana. Ia tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya.
Sesakit itukah hati Rheana sampai memilih untuk pergi? Sekejam itukah siksaannya sampai membuat Rheana ingin bercerai?
Cakra tidak henti bertanya-tanya, andai saja bisa, ia ingin Rheana membalas rasa sakitnya dengan memukulnya juga, bukan meninggalkannya seperti ini.
"Rheana." Panggil Cakra lirih.
MBA RHEA PERGI GUYS🤧😫
__ADS_1
Bersambung........................
Note. KOMEN YANG RAME BIAR AKU SEMANGAT DOUBLE UPDATE🤣