Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Rheana kembali


__ADS_3

Rheana mendengarkan ucapan dari Oma dan Opa nya pagi ini. Kedua orang tua itu memberikan sebuah nasehat kepada cucu mereka yang sedang berada diambang kebimbangan.


"Ikuti kata hati kamu, Nak. Jika memang kamu ingin kembali kepadanya, maka pergi. Tapi jika sebaliknya, maka kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan." Ucap Opa Chandra dengan lembut.


"Apa yang Opa mu katakan benar, ikuti kata hati kamu." Tambah Oma Siwi seraya menggenggam tangan cucunya.


Rheana menundukkan kepalanya. "Aku tidak tahu apa kata hatiku, aku masih ragu Oma, Opa." Lirih Rheana.


Oma Siwi mengusap kepala cucunya perlahan, ia tahu bahwa cucunya belum bisa menentukan keputusannya, namun ia tidak bisa ikut campur.


Masalah yang Rheana hadapi adalah masalah rumah tangganya, dan orang lain termasuk keluarga tidak bisa terlalu ikut campur.


"Setidaknya pulanglah dulu, Sayang. Kasihan mama mu sakit," tutur Opa Chandra mengingatkan.


Rheana mengangguk, ia memang akan pulang ke Indonesia untuk menjenguk sang mama, namun belum berniat untuk menemui apalagi kembali kepada Cakra.


"Aku akan pulang hari ini, Ryan sudah mempersiapkan segalanya." Ucap Rheana dengan senyuman.


"Oma dan Opa ikut?" tanya Rheana.


Keduanya kompak menggeleng. Mereka tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal disana.


Rheana memahami hal itu, ia tidak akan memaksa nenek dan kakeknya.


Tidak lama kemudian Ryan datang dengan barang bawaannya. Sudah satu minggu remaja itu ada di Italia, dan harus segera kembali karena izin dari perkuliahan sudah habis.


"Kak Rhea, sudah siap?" tanya Ryan dengan semangat.


Rheana bangkit, ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Iya, aku sudah siap." Jawab Rheana.


Rheana dan Ryan diantar oleh Oma dan Opa mereka sampai bandara. Selama perjalanan Rheana terus mengucapkan terima kasih kepada kakek dan neneknya yang sudah mau membantunya untuk tetap tinggal.


"Oma, jika aku nanti kesini lagi boleh?" tanya Rheana dengan wajah yang polos.


"Tidak." Bukan Oma yang menjawab, melainkan Opa.


Rheana menekuk wajahnya, ia menatap sang Opa dengan mata berkaca-kaca.


"Dasar anak nakal, untuk apa bertanya. Disini juga rumahmu, jadi tidak perlu meminta izin." Cetus Opa Chandra.


Rheana tersenyum lebar, ia lantas memeluk sang Opa dengan erat.


"Dek, buyut kamu ini nakal ya." Celetuk Rheana mendapat pelototan dari Opa Chandra.


"Hanya kak Rheana saja yang boleh, bagaimana denganku?" tanya Ryan tiba-tiba.


Oma Siwi mencubit pipi cuci laki-lakinya itu dengan gemas.


"Boleh, Nak. Jika perlu, lanjutkan pendidikan S2 mu disini." Jawab Oma Siwi.


Ryan tertawa, ia mungkin akan melakukan itu nanti. Ia mungkin akan melanjutkan pendidikan jika dirinya tidak kunjung menemukan jodoh setelah menyelesaikan S1 nya.


"Siap, Oma. Aku akan melanjutkan pendidikanku jika tidak mendapat jodoh." Sahut Ryan seraya menaik turunkan alisnya.


Rheana geleng-geleng kepala, adiknya itu masih Maba, tetapi sudah memikirkan soal jodoh saja.

__ADS_1


Tidak terasa, mereka pun sampai di bandara. Rheana dan Ryan mengambil penerbangan paling pertama di malam hari, agar sampai di Indonesia waktu sana masih siang.


"Pintu rumah Oma dan Opa akan selalu terbuka untuk kalian berdua, Nak. Semoga segala urusan kalian di selesaikan segera ya." Ucap Oma Siwi dengan penuh kasih sayang.


Rheana mengangguk. "Iya, Oma. Terima kasih banyak," balas Rheana kemudian memeluk sang Oma.


"Ryan, jaga kakakmu ya." Ucap Opa Chandra menitip pesan.


"Iya, Opa. Aku yang akan menjadi tameng untuk kakakku." Sahut Ryan dengan sangat yakin.


Oma Siwi dan Opa Chandra senang mendengarnya, kedua cucunya itu memang yang paling dekat, sementara Velia dekat juga tapi tidak sedekat mereka.


Dulu Velia selalu belajar dan memilih mengurung diri di kamar daripada main dengan mereka, sehingga mereka tidak sedekat itu dengan cucu tertua mereka.


Pesawat akan segera diberangkatkan, Rheana dan Ryan pun buru-buru masuk ke dalam pesawat mereka. Tidak lupa lambaian tangan di lakukan sebagai bentuk perpisahan ini.


"Jangan sedih, Kak. Siapa tahu langkah kakimu sekarang ini akan menjadi langkah baru untuk kehidupanmu." Ujar Ryan tanpa menatap kakaknya.


Rheana terdiam, namun setelah beberapa saat ia terkekeh.


"Kau menjadi mahasiswa sastra? Pandai sekali merangkai kata." Celetuk Rheana.


Ryan mendengus, ia tidak menyahut ucapan kakaknya yang malah meledek disaat dirinya sedang serius.


"Baik-baik, jangan marah ya. Aku suka dengan kata-kata itu, dan semoga apa yang kau katakan akan menjadi kenyataan yang terbaik." Ujar Rheana seraya merangkul bahu adiknya.


Ryan yang memiliki postur tubuh tinggi bahkan lebih dari Rheana membuatnya tidak terlihat seperti seorang adik, melainkan seorang kekasih.


"Aku yakin orang-orang melihat kita seperti sepasang kekasih." Bisik Ryan membuat Rheana bingung.


"Karena aku tampan." Jawab Ryan begitu percaya diri membuat Rheana mendengus.


Rheana dan Ryan duduk bersebelahan dengan Rhea yang duduk dekat jendela. Karena perjalanannya malam, membuat Ryan akhirnya tertidur pulas di sebelahnya.


Rheana tidak terlelap, ia malah diam sambil mengusap perutnya.


"Dek, kita kembali ke Indonesia, tapi bukan untuk kembali dengan papa kamu. Nggak apa-apa ya, nanti disana mama kasih lihat foto papa mu yang lebih tampan dari foto yang biasa mama tunjukkan." Celoteh Rheana dengan terus mengusap perutnya.


Rheana menyandarkan tubuhnya pada kursi, ia memejamkan mata dengan tangan yang tidak henti mengusap perutnya.


***


Perjalanan belasan jam itu dilewati dengan selamat oleh Rheana dan Ryan beserta penumpang lain yang satu pesawat dengannya.


Ryan dan Rheana pulang dengan naik taksi karena ia tidak memberitahu siapapun tentang kepulangannya.


"Kak, aku akan belikan kamu minum sebentar ya." Ucap Ryan keluar dari taksi dan masuk ke dalam minimarket.


Rheana duduk diam di dalam taksi, ia merasa sangat berbeda kembali ke negara asalnya. Setelah satu bulan lebih ia pergi, hari ini ia kembali demi orang tuanya.


Tidak lama kemudian Ryan kembali dengan sebotol air minum untuk kakaknya. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah keluarga Chandrama.


"Ryan, aku mengantuk. Aku tidur ya," ucap Rheana pelan.


"Iya, Kak. Tidurlah," balas Ryan mengangguk.


Rheana mengantuk karena di pesawat ia tidak tidur dengan benar, akhirnya sekarang ia tidur dengan bahu Ryan sebagai sandaran.

__ADS_1


Tidak terasa mereka pun sampai di kediaman Chandrama. Ryan membangunkan kakaknya yang terlihat masih mengantuk.


"Kak, kita sudah sampai." Ucap Ryan pelan.


Rheana membuka mata, ia menatap rumah yang menjadi tempatnya berlindung sejak kecil itu dengan nanar. Rheana masih ingat bagaimana dirinya begitu dibenci oleh kedua orang tuanya dulu.


Tanpa sadar air mata Rheana merembes keluar dari mata dan membasahi wajahnya.


"Kak, ayo." Ajak Ryan membukakan pintu untuk kakaknya.


Rheana nurut, ia keluar sementara Ryan membantu sopir taksi mengeluarkan barang-barang mereka.


"Non Rheana!!" pekik seorang penjaga rumah Chandarama.


Rheana tersenyum. "Apa kabar mamang?" tanya Rheana ramah.


"Non, ya Allah. Mamang teh rindu pisan," ucap penjaga itu membuat Rheana tertawa.


"Mamang, kita masuk dulu ya." Pamit Ryan mengajak kakaknya masuk.


Rheana melambaikan tangannya kepada penjaga rumah dan tukang kebun yang terlihat melongo karena kedatangannya yang tiba-tiba.


"Assalamualaikum, Mama, Papa." Salam Ryan saat memasuki rumah.


Langkah kaki Rheana terasa sangat berat, namun setelah mendengar suara sang mama membuat Rheana tidak tahan dan akhirnya masuk.


"RHEANA!!!" panggil Mama Erina berlari dan langsung memeluknya putrinya.


"Mama, apa kabar?" tanya Rheana lirih.


Mama Erina melepaskan pelukan. "Nak, ya Allah. Kemana kamu selama ini, Mama kangen sama kamu. Mama minta maaf jika Mama punya salah, tapi jangan pergi lagi." Pinta Mama Erina memohon tanpa menjawab pertanyaan putrinya tadi.


"Aku sudah disini, Ma. Ryan bilang mama sakit, makanya aku kembali." Ucap Rheana seraya menggenggam tangan sang mama.


"Papa!" panggil Mama Erina berteriak.


Tidak lama kemudian papa Rama datang, pria yang merupakan ayah dari Rheana itu terlihat begitu terkejut sekaligus senang melihat putrinya.


"Rheana." Panggil Papa Rama langsung memeluk putrinya erat.


"Pa, jangan terlalu erat. Kasihan cucu kalian," bisik Rheana saat merasakan perutnya tertekan.


Mama Erina dan Papa Rama tampak menegang, mereka mundur beberapa langkah untuk melihat kondisi Rheana.


Rheana sedang hamil, perutnya terlihat membulat di balik dress yang digunakannya.


"Rheana, kamu …" Mama Erina menggantung ucapannya karena tidak mampu berkata-kata.


"Pa, Ma. Kak Rheana baru pulang, biarkan dia istirahat dulu." Ucap Ryan kepada kedua orang tuanya.


"Iya, Nak. Ayo Mama antar ke kamar untuk istirahat." Ajak Mama Erina dengan lembut.


Rheana nurut, ia ikut bersama sang mama menuju kamarnya untuk istirahat.


MAS CAKRA BELUM TAHU LOHH RHEANA UDAH BALIK😬


Bersambung.......................

__ADS_1


__ADS_2