Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Rheana keguguran


__ADS_3

Rheana dilarikan ke rumah sakit oleh Cakra dan juga Ryan yang tadi di telepon oleh Cakra untuk membantunya membawa Rheana.


Kini Cakra dan Ryan sedang sama-sama menunggu kabar dari dokter yang sedang memeriksa kondisi Rheana.


"Rheana hamil, dan aku menyakitinya." Batin Cakra gusar.


Cakra bangkit dari duduknya, ia meninju tembok rumah sakit untuk menyalurkan rasa kesalnya kepada dirinya sendiri.


"Bodoh, kau memang bukan suami yang baik. Sekarang nyawa istri dan anakmu dipertaruhkan!!" ucap Cakra sambil terus meninju tembok.


Ryan mendekati. "Kak, apa yang kau lakukan!" tegur Ryan geram.


"Lepas, Ryan. Aku pria bodoh yang tidak menghargai istriku, apalagi dia sedang hamil." Balas Cakra semakin keras memukul temboknya.


"Kak, cukup!!" bentak Ryan hilang kesabaran.


Ia menarik Cakra untuk duduk, ia belum sempat mengabari keluarganya tentang kondisi Rheana karena terlalu khawatir.


Ryan meraih ponselnya, ia menghubungi sang mama, namun tidak kunjung dijawab, begitupun sang papa.


Ryan menghubungi telepon rumah, dan diangkat oleh asisten rumah tangganya.


"Bi, papa dan mama kemana? Kak Rheana masuk ke rumah sakit , dimana mereka?" tanya Ryan saat telepon akhirnya diangkat.


"Anu, Den … benar-benar kakak yang jahat kamu, Vel!!" sebelum asisten rumah tangga Ryan menyelesaikan perkataannya, Ryan mendengar suara teriakan yang begitu kencang.


"Bi, ada apa disana?" tanya Ryan penasaran.


"Nona Velia, nona Velia masih hidup." Jawab art dari seberang sana.


Ryan reflek menjatuhkan ponselnya di lantai saat mendengar jawaban dari asisten di rumahnya.


Velia masih hidup? Itu artinya keyakinannya terhadap Rheana benar, bahwa kakaknya itu tidak bersalah.


Ryan menatap Cakra yang terlihat frustasi.


"Kak Velia masih hidup, jadi kembalilah padanya dan lepaskan kakakku Rheana." Ketus Ryan langsung.


Cakra mengangkat wajahnya, ia menatap Ryan dengan penuh keterkejutan. Bukan kaget karena Velia masih hidup, tetapi darimana ia tahu hal itu.


"Ryan, kau tau darimana?" tanya Cakra.

__ADS_1


Belum sempat Ryan menjawab, namun pintu ruang periksa Rheana terbuka.


Dokter keluar dari sana dan langsung didekati oleh Cakra maupun Ryan.


"Dokter, bagaimana istri saya?" tanya Cakra dengan kekhawatiran.


"Kandungan kakak saya baik kan, Dok?" tanya Ryan ikut-ikutan.


"Keadaan nona Rheana sudah lebih baik, tapi dengan berat hati saya katakan bahwa, kandungan nya tidak bisa terselamatkan." Jawab dokter menjelaskan, ada raut kesedihan juga di wajah dokter itu.


"Kakak saya keguguran?" tanya Ryan dengan mata berkaca-kaca.


"Benar." Jawab dokter menganggukkan kepalanya.


Cakra terdiam, dadanya sesak sekali mendengar ucapan dokter yang menyatakan bahwa kandungan Rheana tidak bisa diselamatkan.


Cakra duduk dengan perasaan yang takut, rasa khawatirnya semakin besar karena takut Rheana akan semakin membencinya.


Mereka kehilangan anak karena dirinya, seharusnya Cakra membiarkan Rheana pergi untuk sementara agar kejadian jatuh dari tangga tadi tidak terjadi.


Nasi sudah menjadi bubur, anak mereka telah pergi untuk selamanya.


"Kak Rhea." Gumam Ryan kemudian menerobos masuk ke dalam ruang rawat Rheana.


"Hiks … Ryan, anakku pergi, dia pergi meninggalkan ku." Ucap Rheana dengan tangisan yang pecah.


Ryan memeluk kakaknya, mengusap punggung sang kakak dengan lembut.


"Aku tidak mau, Ryan. Dia anakku, kenapa dia harus pergi." Lirih Rheana yang tentu saja di dengar oleh Cakra.


Cakra semakin sakit hati mendengar ucapan istrinya. Suara Rheana terdengar begitu lirih, dan penuh rasa sakit.


Cakra menyeka air matanya, ia masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Sayang." Panggil Cakra lirih.


Rheana melepaskan pelukannya, ia menatap Cakra yang terlihat begitu hancur.


"Mau apa kamu kesini, Kak?! Puas kamu? Puas sudah bikin anakku pergi!!" cecar Rheana berteriak.


"Kamu bikin anakku pergi, Kak. Kamu buat aku kehilangan anakku, kamu jahat!!" lanjut Rheana dengan berderai air mata.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku. Aku tau ini kesalahanku," pinta Cakra memohon.


"Pergi, Kak." Pinta Rheana dengan suara yang lemah.


Cakra menolak, ia ingin berada di sebelah istrinya, ia ingin Rheana membagikan dukanya kepadanya.


"PERGI BRENGSEKK!!" usir Rheana disertai umpatan. Selama ini Rheana tidak pernah bicara kasar kepada suaminya.


Hari ini, pertama kalinya Rheana mengumpat kepada suaminya. Ia melakukan itu bukan sebagai istri, tetapi seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya.


"Kak Cakra, pergilah." Pinta Ryan pelan.


Cakra ingin berlari dan memeluk istrinya, mengucapkan banyak sekali kata maaf atas apa yang telah ia perbuat selama ini.


Sementara di kediaman Chandrama, tampak sepasang suami istri sedang memarahi wanita jahat yang berstatus sebagai anak mereka.


"Aku cemburu, dan aku membuat rencana itu agar Cakra membenci Rheana, Pa." Jelas Velia sambil menangis.


Mama Erina mendekat, ia memberi hadiah sambutan berupa tamparan yang mendarat sangat keras di pipi putrinya.


"Jahat kamu, Vel. Kamu kakak yang sangat jahat, kamu nggak tau seberapa menderitanya Rheana karena kamu!!" ucap Mama Erina dengan emosi yang menggebu-gebu.


Velia bersimpuh di kaki kedua orang tuanya, meminta pengampunan atas apa yang sudah ia perbuat selama ini.


"Ma, Pa. Tolong maafkan aku, aku tidak mengerti kenapa aku harus melakukan hal itu dulu." Pinta Velia memohon.


Fikri mendekat, ia membangunkan kekasihnya yang tampak begitu hancur.


"Jangan meminta maaf pada kami, seharusnya kamu minta maaf pada adikmu yang kini sangat disiksa oleh suaminya!" balas Papa Rama.


"Saya nggak sudi buat menerima maaf dari kamu." Tambah Papa Rama kemudian pergi.


Mama Erina terlihat menangis. Selama ini ia selalu membanggakan Velia sebagai anaknya, tetapi ia tidak menyangka Velia memiliki sifat seperti itu.


"Kamu harus minta maaf sama Rheana, dia sangat menderita menikah dengan Cakra." Ucap Mama Erina tanpa menatap putrinya.


Tidak lama kemudian asisten rumah tangga yang tadi menerima telepon dari Ryan mendekat.


"Permisi, Nyonya. Tadi den Ryan telepon, katanya non Rheana masuk ke rumah sakit." Ucap art itu dengan sopan.


Mama Erina terkejut, ia lantas pergi ke kamarnya untuk memberitahu sang suami, sekaligus menghubungi Ryan untuk menanyakan rumah sakit mana tempat Rheana di rawat.

__ADS_1


RHEANA KEHILANGAN ANAKNYA :((


Bersambung............................


__ADS_2