Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Keadilan!!


__ADS_3

Abel menarik nafas dalam-dalam sebelum dirinya berdiri sebagai saksi dalam persidangan hari ini. Ia menatap sosok pria yang pernah ia cintai itu dengan penuh kebencian.


Abel bersumpah akan bicara dengan sejujur-jujurnya.


"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa Rizi menyerang dan menusuk Ryan dengan sebuah belati. Pria itu juga telah memberikan sebuah ancaman dan teror kepada saya jika saya tidak mau kembali bersamanya." Ucap Abel tanpa gentar.


Rizi menatap gadis yang berdiri di tempat saksi dengan penuh amarah, ia telah melakukan sebuah kesalahan, seharusnya ia membunuh Abel, bukan ibunya.


"Ancaman berupa apa?" tanya hakim dengan serius.


"Pembunuhan dan pelecehan." Jawab Abel tegas.


"Bohong! Saya tidak pernah mengancam akan membunuhnya." Sahut Rizi membantah.


Sudah sangat jelas bahwa Rizi lah yang berbohong, sebab pria itu memang mengancam Abel.


"Harap tenang!" ujar hakim sambil mengetukkan palunya.


Hakim itu kembali menatap Abel yang masih menunggu untuk ditanyakan kesaksiannya.


"Apa anda memiliki bukti dari pernyataan anda barusan?" tanya hakim.


Abel menganggukkan kepalanya, ia memberikan ponselnya kepada pengacara pembela pihak Ryan yang berisi bukti-bukti pesan ancaman.


Pengacara Brama memberikan ponsel Abel kepada hakim dan membiarkannya untuk membaca tiap kalimat ancaman.


Wajah Rizi semakin pucat, ia menatap Abel dengan tangan terkepal dan wajah yang semakin panas. Tatapan pria itu beralih ke arah papanya yang menjadi pengacaranya.


Terlihat raut kekecewaan dan putus asa, sebab bukti-bukti mengarah kuat kepada Rizi.


Setelah beberapa kali ditanya, Abel pun dipersilahkan untuk turun dari kursi kesaksian. Gadis itu memberi sapaan sopan kepada hakim dengan menundukkan kepalanya sebentar.


Sidang di lanjutkan, pengacara pembalap Ryan pun memberikan sebuah bukti atas tindak kejahatan Rizi lainnya, yaitu pembunuhan.


"Kami sudah memanggil pelaku yang telah diperintahkan oleh terdakwa Rizi kemari yang mulia. Jika di perbolehkan, izinkan saya memanggilnya." Ucap pengacara Brama sopan.


"Izin di berikan." Sahut hakim dengan cepat.


Ruang sidang terbuka, masuklah seorang perawat yang menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan infus mama Abel sampai membuat nyawa nya melayang.


Abel menangis mendengar tiap kalimat yang keluar dari mulut suster itu, ia benar-benar tidak kuasa menahan air mata saat tahu bahwa sang mama telah di racun hingga meninggal dunia.

__ADS_1


Rheana ada disana, ia mengusap bahu Abel dengan lembut lalu memeluknya. Rheana berusaha untuk menenangkan Abel yang terlihat begitu terpukul.


"Tenang, Abel. Keadilan akan didapatkan almarhumah mama kamu." Bisik Rheana lembut.


Sidang masih terus berjalan, pengacara Brama terus menskakmat pernyataan dari pengacara pembela Rizi. Ditambah lagi dengan bukti kuat, pihak Rizi benar-benar tidak bisa berkutik.


Sidang dihentikan sementara untuk mengambil keputusan, semua pihak yang hadir di ruang sidang pun di perkenankan untuk keluar sampai sidang kembali berjalan.


Abel bersama kedua kakak Ryan dan suami mereka memilih untuk makan dulu. Namun ditengah jalan, langkah mereka dihadang oleh seorang wanita yang diketahui Abel sebagai ibunya Rizi.


"Abel, Tante mau bicara sama kamu. Bisa kamu ikut Tante?" tanya Rika dengan nada yang tidak bersahabat.


"Maaf, Tante. Aku nggak bisa," jawab Abel menolak.


Rika terlihat kesal, ia menatap Abel dengan tajam dan penuh akan kemarahan.


"Tahu diri kamu, jika bukan karena putra saya mungkin kamu dan ibu kamu yang penyakitan itu sudah jadi gelandangan!" cetus Rika dengan emosi.


"Tapi saya menjadikan diri saya sebagai pelayan di rumah anak anda, saya sudah sewajarnya mendapatkan upah!" balas Abel tidak terima.


"Dan satu lagi, selama ini Rizi tidak pernah menolong saya, dia hanya menyiksa saya dengan dalih menolong. Bahkan sekarang pun sudah jelas bahwa dia pembunuh mama saya." Tambah Abel tidak kalah emosi.


"Diam! Saya tidak punya urusan dengan keluarga Chandrama atau Dharmawan." Balas Rika tidak terima.


"Apa? Tidak memiliki urusan?" Tanya Rheana terkekeh kecil.


"Anda tuli, atau anda buta? Tidak bisa mendengar dan melihat persidangan tadi? Anak anda telah melukai adik saya, dan tentu saja itu ada urusannya dengan keluarga kami!" tambah Rheana dengan emosi meletup-letup.


Cakra merangkul bahu istrinya. "Sayang, tidak ada gunanya bicara dengan orang yang salah." Tutur Cakra lembut.


Cakra beralih menatap orang di depannya ini dengan tajam.


"Kami akan pastikan bahwa putra anda mendapatkan hukuman yang setimpal. Dia akan mendekam di penjara selama sisa hidupnya." Ucap Cakra dengan datar dan dingin.


Wajah Rika berubah pias, ia menatap Cakra Dharmawan dengan tegang dan takut. Sial sekali memang, keluarga kaya pasti akan menang.


"Putra kalian sudah terbukti bersalah, kini hanya tinggal menunggu keputusan hakim mengenai hukumannya." Ujar Velia kemudian mengajak mereka semua untuk pergi.


***


"Terdakwa Rizi Mahesa telah melanggar beberapa pasal, yaitu teror, kriminal, dan pembubuhan berencana. Sesuai dengan 340 KUHP. Terdakwa tercancam hukuman mati atau hukuman sekurang-kurangnya 20 tahun penjara."

__ADS_1


Ucapan hakim yang diakhiri dengan ketukan palu, yang menandakan jika keputusan telah diambil dan hukuman telah sah. Kini Rizi benar-benar menjadi seorang tahanan, bahkan terancam hukuman mati.


Rizi menangis, ia tidak terima dengan keputusan hakim barusan. 20 tahun kurungan sama saja ia nyaris menghabiskan sisa hidupnya dalam penjara.


Ucapan Cakra Dharmawan benar-benar terbukti.


Sementara Abel, gadis itu merasa sangat ketat setelah mendengar keputusan hakim. Kini mendiang mamanya telah mendapatkan keadilan.


"Selamat ya, Abel. Mama kamu sudah dapat keadilan," ucap Velia pelan.


Abel menganggukkan kepalanya, ia lalu menatap Rizi yang kini akan dibawa oleh polisi ke sel.


"Rizi." Panggil Abel membuat langkah pria itu terhenti.


Rizi menatap Abel dengan tatapan tajam, tidak ada rasa bersalah dan penyesalan di mata pria jahat itu.


"Makasih untuk semua rasa sakit selama ini, aku doakan kamu sehat selalu dan bisa menjalankan hukumannya dengan baik." Ucap Abel dengan senyuman.


"Dasar gadis brengsekk, aku seharusnya membunuhmu waktu itu." Tekan Rizi dengan suara pelan.


Rizi hendak memberontak, namun kedua polisi menahannya dan langsung menyeretnya keluar dari ruang persidangan.


Abel beralih menatap kedua orang tua Rizi yang terlihat begitu terpuruk dan putus asa. Mereka telah kelah.


"Om, Tante. Aku turut sedih, tapi putra kalian memang pantas mendapatkan ini." Ucap Abel.


Rika mendekat, ia langsung melayangkan tamparan di wajah Abel. Semua yang ada disana sangat terkejut dan marah.


"Dasar lancang! Kau tidak ingat seperti apa bantuan Rizi dulu hah?! Sekarang kau malah membuatnya kesusahan seperti ini. Dasar gadis tidak tahu diri!" Umpat Rika sambil menangis.


Abel memegangi wajahnya, ia tetap tersenyum meski pipinya terasa sakit.


"Terima kasih, Tante. Tante telah membuktikan bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya." Ujar Abel kemudian menjauhi kedua orang tua Rizi.


Abel pun diajak pulang oleh semua keluarga Ryan, sementara mamanya Rizi masih terus berteriak sambil mengumpat Abel yang perlahan sudah tidak terlihat.


Abel berusaha untuk tetap tegar, andai saja ada Ryan pasti ia akan menangis dalam pelukan pria itu. Sayangnya Ryan tidak bisa datang, lukanya robek dan harus kembali di periksa dokter semalam. Tapi tidak masalah, setidaknya Ryan dan mendiang sang mama telah mendapatkan keadilan.


SELAMAT MENIKMATI HUKUMAN, RIZI MAHESA😬


Bersambung........................

__ADS_1


__ADS_2