
Cakra baru saja sampai di hotel tempat dimana acara akan dilaksanakan. Ia sekalian memesan kamar hotel untuk beristirahat selama 3 hari kedepan.
Cakra meregangkan otot tubuhnya, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih diri dan mengganti pakaiannya.
Besok malam pertemuan dengan para pebisnis lain, dan siangnya ia harus ke kantor cabang untuk melakukan tinjauan tentang pengembangan.
"Benar-benar melelahkan." Gumam Cakra seraya menggosok tengkuknya.
Cakra duduk dipinggir ranjang, ia merasa seluruh tubuhnya pegal hanya karena naik pesawat selama beberapa jam saja.
Andai dirinya di rumah, mungkin ia sudah meminta bantuan kepada sang istri untuk memijatnya.
Namun sayangnya saat ini mereka sedang berjauhan.
Mengingat Rheana seketika membuatnya sadar bahwa ia belum menghubungi istrinya sampai sekarang.
Cakra bangkit, ia mengambil tas miliknya yang mana didalamnya ada ponsel juga.
Cakra memulai panggilan video, dan tidak butuh waktu lama untuk Rheana mengangkat panggilannya.
"Sayang." Sapa Cakra yang dibalas senyuman oleh Rheana.
"Aku baru saja sampai, bagaimana hari ini tanpaku?" tanya Cakra memulai percakapan.
"Kurang baik, aku kesepian, Kak." Jawab Rheana lesuh.
Cakra terkekeh, terlihat jelas sekali wajah istrinya yang kurang bersemangat.
"Sudah makan?" tanya Cakra begitu perhatian.
Rheana mengangguk. "Sudah, aku juga baru kembali bertemu dengan Ryan." Jawab Rheana.
Mereka pun berbincang bersama, terdengar rengekan Rheana beberapa kali yang tidak mau mengakhiri panggilan mereka.
Namun setelah Cakra mengatakan bahwa besok ia harus bangun pagi, dan jadwalnya penuh, akhirnya Rheana mau mengakhiri panggilan mereka.
"Istirahat yang cukup, Kak." Ucap Rheana seraya melambaikan tangannya kemudian memutuskan panggilan mereka.
Cakra masih tersenyum, ia meletakkan ponselnya di nakas, kemudian berbaring di atas ranjang.
Cakra merasa begitu nyaman bisa berbaring, namun akan lebih nyaman jika ada Rheana di sebelahnya. Bisa ke peluk, dan ia ciumi.
Jika mengingat itu semua, terkadang Cakra tersenyum sendiri, namun saat ingat dengan rencananya, maka senyuman langsung hilang.
"Cakra, kau harus ingat dengan rencana mu!" ujar Cakra kemudian memejamkan matanya.
Sementara itu di tempat lain, tampak seorang pria dan wanita kini sedang duduk di sebuah restoran untuk makan malam.
Mereka sampai di Surabaya siang tadi, dan sudah memilih salah satu hotel untuk menginap.
"Makananya enak-enak." Celetuk Velia seraya melahap makanan miliknya.
__ADS_1
Fikri tersenyum, ia manggut-manggut tanda bahwa setuju dengan apa yang wanita itu ucapkan.
Senyuman Fikri menghilang, ia menunduk sedikit dengan perasaan ragu. Ia ingin sekali mengutarakan perasaannya kepada Velia sekarang, namun takut.
"Ada apa?" tanya Velia saat menyadari perubahan wajah pria itu.
Fikri menarik nafas lalu membuangnya perlahan. "Sebenarnya … sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu, Vel." Jawab Fikri.
Kening Velia mengkerut. "Iya, katakan saja, kenapa kamu ragu begitu?" tanya Velia balik, dan tidak lupa senyuman manis di akhirnya.
Fikri menggenggam tangan Velia, membuat wanita itu langsung menatapnya dengan serius.
"Vel, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini, tapi aku tidak punya cukup nyali." Ucap Fikri serius.
Fikri menarik nafas lagi, kemudahan membuangnya perlahan.
"Aku mencintaimu, Vel. Aku cinta dan sayang sama kamu, aku ingin hidup bersama kamu." Ungkap Fikri dengan sungguh-sungguh.
Velia tampak terkejut, ia terdiam dengan perasaan yang gugup. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Velia merasa sangat bahagia mendengar pengakuan dari pria yang dicintainya.
"Mungkin kamu kaget, tapi aku sungguh-sungguh, Vel." Ungkap Fikri lagi.
Velia tersenyum hangat, ia membalas genggaman tangan Fikri.
"Terima kasih sudah jujur, aku senang mendengarnya." Ucap Velia lembut.
Fikri menatap Velia.
"Benarkah, Vel?!!" tanya Fikri dengan sumringah.
Velia mengangguk. "Ya, Fikri. Aku mengatakan yang sejujurnya." Jawab Velia.
Fikri bangkit, ia menarik Velia untuk berdiri juga dan memeluk tubuh gadis itu.
Velia tersenyum dalam pelukan Fikri yang ia balas tidak kalah erat. Ia bahagia sekali karena bisa dicintai dan mencintai.
Di saat masih berpelukan, tiba-tiba Velia merasa sakit di bagian kepalanya. Ia melepas pelukan mereka, lalu meringis.
"Vel, kamu nggak apa-apa?" tanya Fikri khawatir.
"Kepalaku pusing." Jawab Velia sambil meringis.
Tanpa bicara lagi, Fikri langsung menggendong Velia, dan berniat membawanya pergi. Ia takut terjadi apa-apa dengan Velia yang lukanya belum sembuh total.
Velia tentu saja terkejut dengan tindakan Fikri, ia mengalungkan tangannya di leher pria itu karena takut terjatuh.
"Fikri, aku bisa jalan sendiri." Bisik Velia malu.
"Tidak, aku bisa menggendongmu." Balas Fikri tetap menggendong Velia.
Fikri membawa Velia ke hotel tempat mereka menginap, dan tentu saja mereka memesan kamar yang berbeda.
__ADS_1
"Jika butuh sesuatu, segera hubungi aku ya." Ucap Fikri dengan lembut.
Velia mengangguk, ia berbaring dan menyelimuti tubuhnya sampai batas dada.
Fikri pun pergi meninggalkan kamar Velia untuk kembali ke kamarnya sendiri.
***
Di sebuah ballroom hotel mewah, tampak terlihat sebuah pesta yang sedang digelar dengan begitu megah.
Bagaimana tidak megah dan istimewa, pesta ini bukan sembarang pesta, melainkan pesta untuk para pebisnis.
Cakra, pria berjas hitam dan dasi kupu-kupu itu kini sedang berbincang dengan pebisnis lainnya.
"Saya kira anda tidak akan datang, mengingat usaha anda sedang sangat berkembang saat ini." Ucap salah satu pria yang usianya lebih tua dari Cakra.
Cakra tertawa pelan. "Saya pasti datang, karena saya tidak tahu kapan lagi saya diberi kesempatan untuk bertemu anda-anda." Sahut Cakra dengan senyuman.
Para pebisnis itu tertawa mendengar ucapan Cakra.
"Kami yang seharusnya bicara begitu, suatu kehormatan bagi kami bisa bertemu dengan pebisnis muda yang sukses seperti anda, Pak Cakra." Timpal seorang pria yang juga berjas hitam.
Perbincangan masih berlanjut, Cakra harus menemui salah satu pebisnis yang kabarnya mau bekerja sama dengannya.
"Dimana pak Hartanu." Gumam Cakra celingak-celinguk.
"Permisi." Seseorang menyapa Cakra, membuat pria itu menoleh.
Saat Cakra menoleh, ia terkejut melihat siapa yang menyapanya.
"Kau." Ucap Cakra dengan bingung.
"Anda, suaminya Rheana?" tanya Fikri, orang yang diutus untuk melakukan pertemuan dengan para pebisnis oleh ayahnya.
"Iya." Jawab Cakra singkat.
"Apa Rheana juga ikut, Pak? Dimana dia?" tanya Fikri antusias.
Cakra menyipitkan matanya, ia tidak suka mendengar Fikri mencari-cari keberadaan istrinya.
"Kenapa kau mencari istri saya, jangan sampai kau menaruh hati pada wanita bersuami." Tekan Cakra to the point.
Fikri tertawa, ia menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Cakra.
"Tentu saja tidak, Pak. Saya sudah memiliki kekasih, dan tidak mungkin saya jatuh cinta pada istri orang." Balas Fikri takut.
"Oh bagus jika begitu." Cakra hendak pergi, namun langkahnya terhenti tiba-tiba karena sebuah alasan.
"Fikri, maaf ya aku kelamaan di toilet," ucap seseorang yang begitu dikenali oleh Cakra.
DIGANTUNG CIEE KAYA JEMURAN, KOMEN DULU YANG BANYAK NANTI UP LAGI 🤣
__ADS_1
Bersambung............................