
Rheana kedatangan Ryan dan juga Abel dirumahnya. Dua orang itu datang bukan untuk menemuinya, tapi menemui baby Ayla yang sedang asik digoda oleh keduanya.
Rheana duduk sambil melipat tangan di dadanya, ia benar-benar sudah dilupakan oleh Ryan dan juga Abel sejak ada Ayla.
Rheana menoleh saat merasakan usapan lembut di bahunya, ia melihat senyuman tulus dan penuh kasih sayang dari suaminya.
"Sayang, ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Bisa sekarang ke kamar?" tanya Cakra lembut.
"Bicara apa, Mas?" tanya Rheana kebingungan.
Cakra bangkit, ia mencium kening sang istri lalu pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang masih bertanya-tanya.
Rheana bingung, ia pun ikut bangkit untuk menyusul suaminya, namun sebelum itu ia bicara kepada Ryan dan juga Abel.
"Ryan, Abel. Titip Alya sebentar ya," ucap Rheana.
"Iya, Kak. Tenang saja," balas Abel dengan senyuman lebar.
Rheana pun pergi meninggalkan Ryan dan Abel yang sedang menjaga anaknya, ia harus pergi ke kamar dan mendengarkan pembicaraan apa yang ingin Cakra katakan.
Rheana membuka pintu kamar perlahan, ia membuka pintu dan melihat suaminya sedang duduk di pinggir ranjang sambil memegang sebuah amplop besar.
"Mas." Panggil Rheana lembut.
Cakra mendongak, ia tersenyum lalu menghampiri istrinya.
"Sini duduk." Ajak Cakra menarik Rheana duduk di sofa.
"Mas, ada apa?" tanya Rheana heran.
Cakra menggeleng pelan, tanpa mengucapkan apa-apa, pria itu memberikan amplop besar yang tadi ada di tangannya.
"Apa ini, Mas?" Tanya Rheana.
"Buka, Sayang." Jawab Cakra dengan tenang.
Rheana pun membuka amplop itu, ia mengeluarkan sebuah surat yang ada di dalam sana dengan penuh keterkejutan.
Sementara Cakra, pria itu berusaha untuk tetap tersenyum meskipun hatinya sakit.
"Ini yang kamu mau kan? Aku sudah mengabulkannya, ini berkas yang dibutuhkan pengadilan untuk mendaftarkan perpisahan kita." Ucap Cakra dengan suara yang berat.
Cakra nyaris merobek kertas itu saat Bagas mengantarnya tadi, namun ia menahan diri dan memutuskan untuk memberikannya kepada sang istri.
Cakra ingin melihat bagaimana reaksi Rheana setelah menerima surat perpisahan itu.
"Aku sudah banyak mengecewakan kamu, Sayang. Kali ini, aku tidak akan mengecewakan kamu lagi, aku akan menepati janjiku sama kamu." Tambah Cakra diakhiri senyuman tipis.
Rheana masih diam, ia masih memegangi berkas-berkas milik Cakra dan miliknya yang siap dikirim ke pengadilan besok.
"Aku cuma minta satu hal, jika memang keputusan ini sudah bulat, maka izinkan aku tetap menemui kamu dan Ayla." Ucap Cakra lagi.
Rheana masih diam, wanita itu menatap surat-surat di tangannya dengan tatapan kosong.
"Sayang." Panggil Cakra lembut.
__ADS_1
Rheana tetap diam, ia tidak menyahut panggilan Cakra atau bergerak sedikit saja. Rheana berubah seperti patung.
Rheana bangkit dari duduknya, ia keluar dari kamar dengan terburu-buru.
Cakra bingung, ia pun segera mengejar istrinya yang sudah keluar dan menuruni anak tangga.
"Sayang." Panggil Cakra.
Panggilan Cakra seketika membuat orang yang ada di ruang tamu menatap suami istri itu dengan heran.
Diruang tamu itu, bukan hanya ada Ryan dan Abel, tapi ada orang tua dan mertua Cakra yang entah kapan datang.
"Lho, Rheana mau kemana?" tanya Mama Erina heran melihat putrinya.
"Apa yang kakak bawa?" tanya Ryan kepada semua orang.
Sementara Cakra masih mengikuti langkah istrinya yang ternyata menuju dapur, semua orang yang bingung jadi ikut mengikuti pasangan itu.
"Sayang, kamu kenapa kesini?" tanya Cakra.
Rheana tetap diam, ia menyalakan kompor di dapur lalu meletakkan surat-surat persyaratan cerai itu diatasnya.
"Sayang, kamu …" Cakra tidak bisa berkata-kata ketika melihat Rheana membakar berkas yang ia siapkan sejak lama.
Rheana membalik badan, ia menatap suaminya dengan mata merah penuh air mata.
"Nggak bisa! Kamu mau cerai kan? Mau mengabulkan permintaan aku? Nggak bisa!" Ucap Rheana dengan nada tinggi.
Rheana membuang berkas yang terbakar itu ke wastafel, ia menyalakan kran nya sehingga api padam dan menyisakan asap dengan penampilan berkas yang sudah hancur.
Rheana mendekati Cakra, wanita itu menangis lalu memukuli suaminya dengan tangan terkepal.
"Rheana." Tegur Papa Rama setelah mendengar ucapan putrinya.
"Enak ya jadi kamu, udah bikin aku jatuh cinta, udah bikin aku hamil dan punya anak, sekarang malah kasih surat cerai." Celetuk Rheana seraya terus memukuli suaminya.
Rheana masih menangis, ia tidak henti memukul Cakra dengan tangannya.
Cakra hanya diam, ia tidak menghentikan aksi istrinya yang terus sama memukuli bahu, lengan dan apapun ditubuhnya.
Rheana mencengkram kerah baju Cakra dengan tatapan tajam.
"Rheana." Tegur Mama Erina terkejut.
"Nggak! Aku nggak mau pisah sama kamu, aku mending bunuh kamu sekarang daripada kita cerai." Ucap Rheana penuh penekanan.
"Astaga, Rheana, Cakra." Tegur Papa Wawan terlihat bingung dan pusing.
Rheana menangis, ia memukuli suaminya lagi namun sesaat kemudian wanita itu malah memeluk suaminya dengan sangat erat.
"Hiks … kamu jahat, kenapa minta pisah." Ucap Rheana sambil menangis tersedu-sedu.
Cakra membalas pelukan istrinya, ia malah senang dengan sikap Rheana hari ini.
Amarah, kekesalan dan ancaman yang Rheana tunjukkan tadi adalah sebuah bentuk pembatalan atas perceraian yang Rheana inginkan dulu.
__ADS_1
"Aku nggak mau pisah sama kamu, Sayang. Aku kan cuma mengabulkan permintaan kamu, aku nggak mau lagi mengecewakan kamu." Balas Cakra lembut.
Rheana melepaskan pelukannya, ia mencubit hidung Cakra dan menutup mulutnya sampai pria itu tidak bisa bernafas.
"Kak, kak Cakra tidak bisa nafas itu." Tegur Ryan namun tidak didengarkan oleh Rheana.
"Aku udah nggak pernah mengingat permintaan itu, aku sengaja nggak mengungkitnya karena aku nggak mau pisah sama kamu, Mas." Ucap Rheana emosional.
Cakra makin tersenyum lebar, hal itu membuat Rheana benar-benar marah. Rheana mendorong Cakra menjauh, kemudian dirinya berlari menuju kamarnya.
"Apa-apaan ini, cepat kejar Istri kamu." Perintah Mama Mila kepada putranya.
Cakra pergi ke kamarnya, saat sampai disana ia melihat Rheana sedang menangis sambil memeluk guling.
"Sayang." Panggil Cakra lembut.
Rheana tidak menyahut, wanita itu malah semakin menangis.
Cakra mendekat, ia berlutut dihadapan istrinya kemudian menyeka air mata wanita itu.
"Maaf ya." Pinta Cakra lembut.
"Nggak, kamu jahat! Kamu nggak pernah cinta sama aku emang," timpal Rheana dengan kecewa.
Cakra melotot, apa kata wanita itu barusan. Dirinya tidak cinta? Sedangkan selama ini saja Cakra selalu mengutarakan perasaannya.
"Apa, coba ngomong lagi?" pinta Cakra.
Rheana diam, ia menyeka air matanya yang masih saja terus keluar.
"Aku nggak mau pisah, aku nggak mau." Lirih Rheana membuat senyuman Cakra terbit.
"Kenapa, bukannya ini yang kamu mau waktu itu?" tanya Cakra seraya menggenggam tangan istrinya.
"Kamu sebenarnya cinta nggak sih sama aku, kenapa masih tanya hah?! Aku nggak mau pisah karena aku cinta, kamu emang nyebelin." Jawab Rheana sewot.
Cakra tertawa pelan, ia lantas memeluk istrinya dengan erat. Astaga! Ini yang dirinya inginkan, Rheana sendiri mengatakan tidak ingin pisah darinya.
"Hiks … jangan minta pisah, aku nggak mau. Kasihan Ayla juga nanti," pinta Rheana berbisik.
Cakra mencium bahu Rheana.
"Iya nggak, Sayang. Buat apa aku minta pisah, sementara aku sangat mencintai kamu." Balas Cakra lembut.
Rheana melepaskan pelukannya, ia menatap Cakra dengan mata merah karena menangis.
"Aku boleh nggak sih tampar kamu?" tanya Rheana meminta izin.
Cakra mengangguk lalu memberikan pipinya untuk ditampar oleh Cakra.
Rheana mengangkat sebelah tangannya, namun bukannya menampar wajah Cakra, wanita itu malah menghujani wajah suaminya dengan ciuman.
"Kamu nyebelin, tapi aku cinta." Kata Rheana dengan masih belum menghentikan kecupan di seluruh wajah suaminya.
Cakra hanya bisa tertawa, ia membiarkan Rheana menciumnya terus menerus, karena Cakra juga menyukai ini.
__ADS_1
KALO KALIAN NGGAK BAPER AKU KECEWA SAMA DIRI AKU, SOALNYA AKU BAPER 😫😫
Bersambung............................