Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Keputusan mengejutkan


__ADS_3

“Velia telah dilenyapkan, dan aku tidak akan membiarkan pelakunya bisa mendapat hukuman yang ringan. Penjara tidak cukup pantas untuk seorang adik yang tega melenyapkan kakaknya sendiri.” Ucap Cakra sambil terus menatap Rheana.


Mama Mila terlihat mengerutkan keningnya bingung saat mendengar ucapan putranya. Ia juga menyadari kemana arah tatapan putranya.


“Maksud kamu apa Cakra? seharusnya kamu biarkan pihak berwajib yang memberikan sanksi kepada Rheana.” Tegur Mama Mila.


Rheana mengatupkan kedua belah bibirnya. Ia cukup sakit hati mendengar ucapan wanita yang sudah ia anggap seperti ibu. Memang antara mama Mila dan Rheana ada kedekatan layaknya seorang anak dan ibu, dan itu terjadi semenjak Cakra memperkenalkan Velia.


Cakra menggelengkan kepalanya dengan tegas.


“Itu nggak cukup, Ma. Dia harus mendapat sebuah balasan yang lebih menyakitkan dari apa yang Velia rasakan saat adiknya sendiri melenyapkan nyawanya hanya karena cinta.” Sahut Cakra tanpa menatap mama Mila.


Tatapan Cakra benar-benar tertuju pada Rheana, dan enggan mengalihkannya. Jika dulu Cakra merasa kagum dengan sifat Rheana yang baik, justru tatapan itu telah berubah menjadi tatapan kebencian.


“Jadi kamu mau apa?” tanya Papa Wawan.


Cakra menarik nafas kemudian membuangnya perlahan. Tangan Cakra terulur untuk menunjuk Rheana yang sudah seperti patung, hanya diam saja.


“Aku ingin Rheana menjadi pengganti mempelai hari ini.” Ucap Cakra.


“Aku ingin menikah dengan Rheana, sekarang!” Tambah Cakra memperjelas.


Semua orang yang mendengar ucapan Cakra tentu saja terkejut. Mereka bingung dan tidak menyangka bahwa Cakra akan mengatakan hal tersebut.


“Maksud kamu apa? kamu mau menikahi adik dari mendiang calon istrimu?” tanya Papa Wawan.

__ADS_1


Cakra menganggukkan kepalanya. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada kedua orang tua Rheana yang juga tampak terpaku dengan keterkejutan atas ucapan yang terlontar dari mulut pria yang seharusnya menjadi suami Velia itu.


“Ma. Pa. Kalian mengizinkan aku untuk menikahi Rheana bukan?” Terdengar seperti pertanyaan, namun mengandung sebuah pernyataan.


Mama Erina tampak menangis kembali, entah mengapa jalan hidup anak-anaknya menjadi seperti ini. Pertama Velia tewas secara tiba-tiba dengan tersangka Rheana yang merupakan adik kandung Velia, dan yang kedua adalah pernikahan mendadak yang akan terjadi kepada putri keduanya.


“Cakra, kau yakin?” tanya Papa Rama menyakinkan.


“Ya, saya sangat yakin, Pa. Saya ingin menikah dengan Rheana,” jawab Cakra.


Jangan tanyakan soal perasaan Rheana sekarang, karena gadis itu terlihat ingin menjatuhkan diri saja ke lantai.


Jujur saja, dulu ia pernah bermimpi untuk bisa bersanding dengan Cakra, tetapi bukan dengan cara seperti ini. Dia ingin menikah dengan Cakra atas dasar cinta dan bukan dendam semata.


Rheana menatap kedua orang tuanya, berharap bahwa mereka akan menolak permintaan Cakra, sebab ia tida mau hal itu terjadi.


“Ya, karena saya ingin menunjukkan arti sebuah cinta itu berbeda dengan obsesi.” Jawab Cakra penuh penekanan.


“NGGAK!” Tolak Rheana dengan tegas.


Rheana mendekati Cakra, ia menatap pria bertubuh tinggi itu dengan mata yang sudah penuh dengan air mata.


“Aku menolak! aku tidak mau menikah dengan kak Cakra.” Tolak Rheana mentah-mentah.


Cakra ikut mendekat, sehingga jarak diantara mereka hanya beberapa senti saja.

__ADS_1


“Kenapa? bukankah ini yang kau inginkan, kau ingin memiliki aku bukan? kau bahkan sampai rela membunuh hanya karena obsesimu yang sangat gila.” Ucap Cakra bertubi-tubi.


“Aku tidak pernah membunuh siapapun.” Balas Rheana tidak kalah penuh penekanan.


“Aku tidak peduli kau mau atau tidak, yang aku tahu adalah kau harus menggantikan posisi Velia di pelaminan.” Sahut Cakra seraya mencekal tangan Rheana.


Rheana berusaha memberontak. Ia menatap kedua orang tuanya dan juga Ryan, berharap bahwa keluarganya akan memberikan pembelaan, namun hasilnya nihil.


Mereka semua hanya diam memperhatikan Rheana di tarik Cakra untuk duduk di kursi pelaminan, tempat dimana akad nikah akan diadakan


“Aku mohon, jangan lakukan ini Kak!” Pinta Rheana dengan lirih.


Cakra tidak menyahut sama sekali. Pria itu malah fokus bicara kepada penghulu yang sebentar lagi akan menikahkan mereka berdua.


Rheana menangis, ia menangis sejadi-jadinya dan tetap berusaha untuk memberontak serta melepaskan cekalan tangan Cakra di pergelangan tangan nya.


Namun karena tenaga Cakra yang jauh lebih besar, usaha Rheana tidak ada hasilnya dan malah membuat pergelangan tangannya merah mencetak sebuah cekalan yang kuat.


“Nona, anda bersedia melanjutkan akad nikah ini?” tanya pak penghulu.


“Tidak perlu bertanya kepadanya, Pak.” Sahut Cakra dengan cepat.


Cakra menatap papa Rama, memberikan kode kepada ayah dari Rheana untuk segera duduk dan menjadi wali nikah untuk Rheana.


MAAFIN KALO ADA TYPO YA GUYS : )

__ADS_1


Bersambung......................


__ADS_2