Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Malam pertama?


__ADS_3

Acara resepsi berjalan dengan lancar, saat ini masih ada beberapa tamu yang ada di sana, namun kedua mempelai sudah tidak lagi duduk di pelaminan, melainkan duduk bersama seluruh keluarga di meja bundar besar.


Rheana menggendong putri cantiknya, ia belum menyusui Ayla sejak pagi dan ia seperti merasa kehilangan sekali.


Rheana ingin menyusui Ayla, namun anaknya itu sudah tidur hanya dengan digendong olehnya.


"Anak mama kasian banget, nungguin mama nggak?" Celoteh Rheana seraya merapikan gaun cantik yang dikenakan Ayla.


"Nggak, soalnya mama jelek." Sahut Ryan asik meledek kakaknya.


Rheana menatap adiknya, ia melototkan matanya membuat semuanya tersenyum dengan interaksi kakak dan adik itu.


"Mas, masa katanya aku jelek." Rheana mengadu kepada suaminya dengan wajah yang ditekuk.


Cakra mencium pipi istrinya tanpa malu sama sekali di depan semua orang. Cakra lalu menatap Ryan yang sedang melotot usai menyaksikan dirinya mencium pipi sang istri.


"Ryan, jangan meledek Istriku seperti itu. Dia selalu cantik, apalagi malam ini." Ucap Cakra menegur, tentu mengandung candaan juga.


Fikri tergelak tiba-tiba. "Alah, bilang aja mau dapat jatah makanya puji-puji istri." Timpal Fikri.


"Hahaha, benar kamu Sayang." Sahut Velia menyetujui ucapan suaminya.


Rheana geleng-geleng kepala, ia malas sekali meladeni ucapan-ucapan yang membuat dirinya merona.


Rheana baru sadar jika masa nifasnya sudah selesai, dan malam ini bisa disebut malam pertamanya, karena dulu setelah menikah malam pertama mereka sangatlah buruk.


"Ayla nyusunya banyak nggak, Ma?" tanya Rheana seraya menatap putrinya terus.


"Banyak, Rhe. Kenapa?" tanya Mama Erina balik.


"Nggak apa-apa, kalo dia belum minum banyak susu, aku mau susuin." Jawab Rheana menatap sang mama.


"Kenapa harus Alya, Kak. Malam ini kan jatahnya nyusuin kak Cakra." Ucap Ryan dengan entengnya.


Rheana dan semua orang melotot, terutama Abel yang ada di sebelahnya.


"Ma, Ryan bahaya, Ma." Adu Rheana menunjuk adiknya.


Papa Rama memukul kepala putranya pelan.


"Kamu, anak kecil sok tahu." Ucap Papa Rama sambil tertawa.


Ryan hanya bisa cengengesan, ia melirik Abel yang juga tertawa melihatnya, hal itu semakin membuat Ryan seperti tidak punya muka.


Ryan sendiri heran bagaimana bisa mulutnya sangat enteng bicara seperti tadi.


"Rheana, Cakra. Sudah malam, sini Ayla nya sama kamu." Pinta Mama Mila kepada sang menantu.


"Jadi aku malam ini nggak bobok sama Ayla dong, Ma?" tanya Rheana sedih, namun tetap memberikan putrinya kepada mertuanya.

__ADS_1


"Ya nggak apa-apa, Rhea. Kan ada Cakra yang siap gantiin posisi Ayla," sahut Papa Wawan lalu mengajak Ryan untuk tos.


Ryan tersenyum sumringah, ia memukul telapak tangan mertua kakaknya yang ternyata sepemikiran dengannya.


"Astaga, Papa." Ucap Cakra geleng-geleng kepala.


Rheana mengusap wajahnya pelan, ia benar-benar menjadi buah bibir semua orang malam ini.


"Eh tapi, Ma. Ayla cantik banget, bajunya siapa yang beli?" tanya Rheana yang teringat akan gaun cantik yang di pakai Ayla.


"Calon istriku lah!" jawab Ryan seraya merangkul bahu kekasihnya.


Rheana mendengus, ia lalu menatap Abel dengan penuh senyuman.


"Makasih ya sudah belikan baju cantik itu untuk Ayla, kamu pintar sekali nyari bajunya." Kata Rheana kepada Abel.


"Sama-sama, Kak. Aku juga tidak sengaja melihatnya, dan aku langsung beli karena merasa cocok untuk Ayla." Balas Abel sopan.


"Kamu pintar pilih baju, Abel. Tapi tidak pintar pilih pasangan," celetuk Cakra menahan tawa.


Semua orang terdiam, menunggu reaksi Ryan yang sepertinya belum mencerna kata-kata Cakra dengan baik.


"APA, MAKSUD KAKAK APA?" kejut Ryan melototkan matanya.


"Telat, kelamaan sih mikirnya." Jawab Cakra membuat semua orang tertawa, tanpa terkecuali.


Karena hari semakin malam, semua orang pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Ryan sudah pergi bersama Abel untuk mengantarkan gadis itu pulang ke kostnya. Ryan pergi bersama dengan mobil kedua orang tuanya pergi.


Kini Rheana dan Cakra siap untuk pulang, namun mereka salah karena Velia dan Fikri memberikan sesuatu yang mewah.


"Hadiah malam pengantin." Tutur Velia dengan senyuman lebar.


"Makasih banyak ya, Kak." Ucap Rheana seraya memeluk kakaknya.


"Selamat bersenang-senang." Kata Fikri menepuk bahu Cakra.


Cakra tersenyum, tidak lupa ia mengucapkan terima kasih. Pasangan Velia dan Fikri pun langsung pulang karena ibu hamil tidak baik masih berkeliaran di luar rumah malam-malam begini.


Cakra dan Rheana juga pergi menuju kamar yang telah disiapkan oleh Fikri dan juga Velia. Kamar mewah dengan romansa bulan madu kini menjadi tempat yang akan Cakra dan Rheana tinggali selama satu malam.


Rheana melihat sebuah kotak di tengah ranjang, ia lantas membuka kotak tersebut dan melihat isinya.


"Hah?!" kejut Rheana buru-buru menyimpan kembali pakaian itu.


"Sayang, aku mandi duluan ya." Kata Cakra yang tadi tidak sempat melihat baju yang dipegang istrinya.


"Iya, Mas." Balas Rheana mengangguk-angguk.

__ADS_1


***


Rheana dan Cakra sudah sama-sama selesai mandi, namun sampai sekarang Rheana belum berani keluar dari kamar mandi sebab ia sudah memakai pakaian yang kakaknya berikan.


Tentu saja lingerie, apalagi. Rheana menatap pantulan dirinya di cermin, baju itu benar-benar memperlihatkan lekuk tubuh Rheana yang masih bagus meski baru melahirkan.


Ditubuh Rheana tidak ada bekas-bekas jahitan melahirkan atau apapun, sehingga kulit wanita itu masih tetap mulus seperti sebelum melahirkan.


"Nanti di sobek lagi." Ucap Rheana seraya menghela nafas pelan.


Rheana masih sangat ingat terakhir kali ia memakai baju dinas ini, Cakra langsung merobeknya padahal baru saja ia beli.


Suaminya itu sangat berbahaya jika sudah bergairah, apapun asal sobek yang penting lancar.


"Nggak apa-apa lah di sobek juga, kan tinggal minta beliin lagi sama suami aku. Duitnya kan masih cukup," gumam Rheana terkekeh sendiri.


"Sayang." Panggil Cakra dari luar kamar mandi.


"Iya, Mas. Sebentar lagi," sahut Rheana lalu bersiap untuk keluar.


Rheana membuka pintu perlahan, saat ini penampilannya belum terlalu terbuka, sebab lingerie itu model nya ada jubah sehingga ia harus membuka jubah itu jika ingin memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Sayang, aku sudah pesan makanan." Ucap Cakra seraya mendekati istrinya.


"Iya, Mas." Balas Rheana manggut-manggut.


"Kamu nggak kegerahan, ini dibuka aja sih." Ucap Cakra menunjuk jubah yang Rheana kenakan.


Rheana nurut, sangat percuma memang ia memakai jubah itu karena pada akhirnya pasti akan dibuka juga.


Mata Cakra langsung melotot dengan sempurna saat tahu bahwa Rheana tidak memakai dalamnya.


Aset miliknya dan milik Ayla benar-benar tercetak jelas.


"Makan dulu yuk." Ajak Rheana dan Cakra hanya manggut-manggut sambil tetap fokus pada dada istrinya.


Rheana menyadari tatapan suaminya, ia lantas menutup mata sang suami.


"Matanya nakal banget!" desis Rheana diiringi tawa.


Cakra menjauhkan tangan istrinya dan mata, ia lalu menduselkan kepalanya di leher sang istri.


"Kangen banget romantisan gini, apalagi cobain susu Ayla. Udah lama aku–" ucapan Cakra terhenti karena Rheana mencubit bibirnya.


"Ngomong terus, aku nggak kasih nih!" ancam Rheana.


"Enak aja!" Balas Cakra tidak mau kalah.


NUNGGUIN PART PANAS MEREKA YAAA?? ABIS INI YAA🙈🤣

__ADS_1


Bersambung.................................


__ADS_2