Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Syndrome couvade


__ADS_3

Rheana pergi ke rumah kakaknya untuk sekedar bermain, tidak lupa ia juga membawa mangga muda yang tumbuh di depan rumah mertuanya untuk merujuk bersama Velia yang saat ini sedang hamil muda.


Rheana pergi dengan diantar sopir, karena suaminya sedang di kantor. Rheana tidak mau mengganggu Cakra yang fokus bekerja.


"Kak Velia!!" pekik Rheana seraya memeluk kakaknya itu.


"Rhea, pelan-pelan. Perut kamu sedang sakit kan?" Tanya Velia dengan lembut, tangannya mengusap perut adiknya yang sudah besar, bahkan sudah hampir bulannya.


"Udah nggak, Kak. Mungkin baby Peachyyy tau mau punya teman," jawab Rheana mengusap singkat perut kakaknya yang masih rata.


Velia terkekeh, ia mengusap perutnya sendiri yang kini sedang mengandung bayinya dan Fikri. Velia tidak menyangka jika Tuhan akan memberikan kepercayaan secepat ini.


"Aku masih nggak nyangka sebenarnya bisa hamil secepat ini, Rhe." Ujar Velia dengan senyuman di wajahnya.


Rheana terkekeh, ia mengajak kakaknya masuk ke dalam apartemennya karena ia lelah berdiri.


"Tuhan mempercayakan kalian secepat ini karena mereka tahu bahwa kalian mampu untuk mengurus anak, apalagi kak Fikri sangat menyayangimu." Sahut Rheana ikut bahagia.


Velia mengangguk setuju, ia juga bisa merasakan kasih sayang suaminya yang sangat besar, apalagi kedua mertuanya yang sangat perhatian.


"Hmm, kamu benar. Aku beruntung punya Fikri," timpal Velia mengangguk setuju.


Rheana memeluk Velia, ia senang kakaknya sudah bahagia dengan pernikahannya, bahkan sebentar lagi akan memiliki anak.


"Aku bawa mangga dari pohon depan rumah, Kak. Ayo merujak!" ajak Rheana dengan semangat.


Velia manggut-manggut, ia pun mengajak Rheana ke dapur untuk menyiapkan bumbu rujaknya.


"Kakak libur berapa hari dari kantor?" tanya Rheana seraya mengupas buah mangga muda yang ia bawa.


"Mungkin satu mingguan." Jawab Velia.


Velia sengaja mengambil cuti dari kantor selama satu minggu karena takut mengalami mual muntah, tapi ternyata ia tidak mengalami itu.


"Fikri yang ngidam. Aku yang hamil, dia yang muntah-muntah." Lanjut Velia sekedar memberitahu adiknya.


"Oh iya?! Wah, kena syndrome couvade ya." Sahut Rheana terkekeh.


"Iya kayaknya, aku kasihan lihatnya muntah-muntah kalo pagi." Jawab Velia sedih.


"Wajar, Kak. Malah bagus kalo suami yang ngidam, biar dia tahu hamil itu nggak mudah." Balas Rheana sedikit tertawa.


Velia manggut-manggut, tanpa terasa bumbu rujak yang ia buat pun sudah jadi. Mereka merujak bersama dengan mangga muda dari pohon ibu mertuanya Rheana.


Sebelum main kesini, Rheana tentu sudah memberitahu Cakra sebelumnya, dan pasti pria itu akan menjemputnya sepulang bekerja nanti.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, terlihat pria yang sedang mual dan muntah-muntah di ruang kerjanya, bahkan asistennya sedikit aneh melihat atasannya itu.


"Pak, anda baik-baik saja?" tanya salah satu karyawan Fikri.


"Iya, saya hanya sedang mual sedikit." Jawab Fikri pelan.


"Istri anda sedang hamil ya, Pak?" tanya karyawannya lagi.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Fikri mengerutkan keningnya.


"Karena dulu saya juga mengalami itu, Pak. Saya yang ngidam, walaupun istri saya yang hamil." Jawab karyawan itu memberitahu.


"Astaga, ternyata jadi wanita hamil itu tidak mudah ya. Aku–uwekkk …" Fikri langsung berlari ke kamar mandi yang ada di toiletnya ketika ingin muntah.


Di dalam kamar mandi, Fikri mengeluarkan isi perutnya yang ia makan tadi pagi. Kepalanya sedikit pusing, bahkan wajahnya pun sudah terlihat pucat.


"Pak, anda baik-baik saja?" tanya karyawan yang tadi masih ada di ruangan Fikri.


"Ya, kau boleh pergi. Terima kasih sebelumnya," sahut Fikri dari dalam kamar mandi.


Fikri mencuci wajah dan mulutnya, ia benar-benar sangat lemas setelah sejak kemarin terus mual dan muntah. Kepalanya pun ikut terasa berputar dan sakit.


Fikri kembali ke meja kerjanya, ia mendudukkan dirinya di kursinya dan memejamkan matanya.


"Astaga, aku lemas sekali." Gumam Fikri seraya menyeka keringat di dahinya dengan tisu.


Sore harinya, Cakra pergi ke apartemen Fikri dan Velia untuk menjemput istrinya yang sedang main disana. Ia memarkirkan mobilnya di basemen apartemen, dan hendak langsung pergi ke unit apartemen kakak iparnya.


Langkah Cakra terhenti saat melihat Fikri juga baru kembali dari kantor, ia sedikit bingung melihat wajah pria itu yang pucat dan tidak bersemangat.


"Fikri!" Panggil Cakra melambaikan tangannya.


Fikri menoleh, ia menghampiri adik iparnya itu dengan tidak bersemangat. Seharian ini ia benar-benar mual dan tidak bisa menerima makanan apapun.


"Ada apa dengan wajahmu, kusam sekali." Celetuk Cakra dengan enteng.


"Mulutmu. Aku sedang terkenal cydrom couvade." Sahut Fikri sewot, enak saja wajahnya yang tampan dibilang kusam.


"Maksudmu ngidam disaat istrimu yang hamil?" tanya Cakra dan Fikri menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Bagaimana rasanya? Kau tahu, aku sangat menginginkan itu." Cetus Cakra dengan bersemangat.


Kening Fikri mengkerut mendengar ucapan adik iparnya yang malah ingin merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Pria di depannya ini sangat aneh.


"Kau menginginkannya? Untuk apa? Rasanya tidak enak jika kau mau tahu." Timpal Fikri geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Karena aku tidak mau membuat istriku semakin kesulitan. Dia sudah hamil anak kami, lalu kenapa dia juga harus merasakan mual dan muntah." Jelas Cakra dengan cepat.


"Astaga, sangat menyayangi Rheana ya." Goda Fikri.


"Tentu saja, dia segalanya untukku." Balas Cakra dengan yakin.


Fikri senang, ia juga sangat menyayangi Velia. Tentu saja, apa ada suami yang tidak menyayangi istrinya.


"Ya sudah, ayo kita ke atas. Kau mau menjemput Rheana kan." Ajak Fikri berjalan mendahului adik iparnya.


Cakra mengekor, ia dan Fikri masuk ke dalam lift dan menekan tombol 8, dimana unit apartemennya berada.


Sesampainya disana, Cakra dan Fikri langsung disambut oleh suara tawa Rheana dan juga Velia.


"Sayang, aku pulang." Ucap Fikri dengan tangan terbuka lebar.


Velia menoleh, ia melihat suaminya sudah pulang. Velia bangkit, ia memeluk suaminya erat.


"Bagaimana keadaan kamu, wajah kamu pucat banget." Ujar Velia seraya mengusap wajah suaminya.


"Aku mual, lemas juga." Jawab Fikri dengan manja.


Rheana mendekati suaminya, ia mencium punggung tangan Cakra dan dibalas kecupan di keningnya.


"Pulang yuk!" Ajak Cakra seraya mengusap kepala istrinya.


"Ayo." Sahut Rheana menggandeng tangan suaminya.


Rheana melihat kakak dan kakak iparnya yang masih belum melepaskan pelukan mereka. Rheana sedikit kasihan melihatnya Fikri yang pucat dan benar-benar tidak bersemangat.


"Kak, kami pulang ya." Pamit Rheana kepada Velia dan Fikri.


Velia melepaskan pelukan suaminya, ia hampir lupa jika masih ada adiknya disana.


"Iya, Rhea. Makasih ya udah temanin aku," balas Velia lembut.


"Fikri, aku pulang ya. Velia, kami permisi." Pamit Cakra lalu menarik tangan istrinya keluar dari apartemen Fikri dengan lembut.


Rheana dan Cakra pun pulang ke rumah mereka, keduanya tidak mau mengganggu pasangan suami istri itu.


"Sayang, aku kangen." Celetuk Cakra sekedar mencairkan keheningan diantara mereka.


"Yeee … setiap hari juga ketemu, jangan lebay ah." Sahut Rheana tersipu.


Cakra tertawa, ia senang sekali jika sudah melihat wajah istrinya yang merah karena malu begini. Menurut Cakra, wajah Rheana yang merah menambah kesan manis wajah istrinya.

__ADS_1


GULA KALI MANIS🍭


Bersambung...........................


__ADS_2