
Rheana sudah siap untuk pergi bertemu dengan kedua temannya. Ia janjian bertemu dengan Becca dan Faraz di salah satu mall yang cukup terkenal di kota itu.
Kini Rheana sedang duduk sambil memakan potongan apel yang disiapkan oleh ibu mertuanya, sambil menunggu kedatangan sang suami yang katanya ingin mengantarnya pergi.
"Kamu sudah minum vitamin dari dokter kan, Sayang?" tanya Mama Mila seraya terus memotong apel.
"Udah, Ma. Kak Cakra tidak pernah membiarkan aku untuk absen minum vitamin." Jawab Rheana jujur.
Rheana menggigit potongan apel itu dengan semangat, selain rasanya manis, dan menyegarkan, ia tidak mau membuat mertuanya marah karena ia tidak mau makan buah.
"Kok kak Cakra belum datang-datang ya, Ma." Ujar Rheana seraya berusaha menghubungi suaminya.
Rheana ingin menelepon Cakra lagi, namun suara mobil yang berhenti didepan rumah menghentikan gerakan Rheana yang hendak menelepon.
"Nah itu orangnya, Rhe." Ujar Mama Mila.
Rheana bangkit dari duduknya, ia mengambil tas selempang miliknya yang akan ia bawa.
"Maaf ya lama, tadi macet banget." Ucap Cakra seraya mengusap puncak kepala istrinya.
"Iya, Kak." Balas Rheana mengangguk paham.
"Mau langsung berangkat?" tanya Cakra lembut.
Rheana menggeleng, wanita itu meletakkan kembali tas selempang miliknya lalu pergi ke dapur.
Mama Mila dan Cakra saling pandang, mereka heran melihat Rheana yang pergi begitu saja ke arah meja makan.
"Sayang." Panggil Cakra seraya mengejar sang istri.
Cakra mengekor di belakang Rheana, ia melihat istrinya itu mengambil air minum kemudian membawanya.
"Minum dulu, kamu pasti capek kan." Tutur Rheana begitu perhatian.
Cakra tersenyum lebar. Rheana begitu perhatian sampai rela mengambilkan air minum untuknya sebelum pergi, padahal di mobil juga tersedia air minum.
Cakra menerimanya, ia menenggak air itu hingga sisa setengah gelas.
"Makasih ya, Sayang. Kamu perhatian banget sih sama suami," ucap Cakra dengan sangat senang.
Rheana tidak membalas, wanita itu langsung melenggang pergi meninggalkan suaminya yang masih tersenyum lebar.
Cakra buru-buru menyusul sang istri, ia meraih pergelangan tangan Rheana untuk ia gandeng.
__ADS_1
"Sebentar, Kak. Aku mau bawa apelnya," ucap Rheana lalu mengambil apel yang tersisa di piring, yang sudah dipotong oleh ibu mertuanya.
Rheana melakukan itu tentu saja untuk menghormati mama Mila yang sudah mau repot-repot memotongi buah untuknya.
Jika ia pergi begitu saja, sama saja ia tidak menghormati usaha mama Mila.
"Ma, makasih ya. Apelnya manis kaya Mama," celetuk Rheana terkikik.
Mama Mila tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ada-ada saja tingkah menantunya ini.
"Sama-sama, Nak. Have fun ya, Sayang." Balas Mama Mila diangguki pelan oleh Rheana.
Rheana pun pergi bersama Cakra. Ia duduk di samping Cakra seperti biasa sambil memakan buah apel yang ia bawa.
"Kan bisa bawa yang masih bulat tadi, kenapa bawa yang sudah di potong, Sayang?" Tanya Cakra gemas.
Rheana menoleh. "Aku menghormati mama yang sudah repot memotong ini." Jawab Rheana dengan mulut yang tidak henti mengunyah.
Cakra menghentikan mobilnya di pinggir jalan ketika mendengar jawaban dari istrinya. Cakra tidak tahu selama ini bahwa dirinya buta, buta sampai tidak melihat segala kebaikan yang ada dalam diri seorang Rheana Dwika Chandrama.
"Kenapa berhenti, Kak. Ayo jalan!" ajak Rheana yang akan terlambat jika terus berhenti.
"Sayang, kamu baik banget sih. Mama dulu ngidam apa waktu hamil kamu, kok anaknya bukan cuma cantik, tapi baik." Celetuk Cakra seraya mengusap-usap wajah Rheana.
Cakra terkekeh, poin plusnya adalah Rheana sering berkata ketus, tapi justru malah menambah kecantikan yang ia miliki.
Cakra menggenggam tangan Rheana, kemudian mencium nya dengan dalam.
"Demi Tuhan, Rheana. Aku sangat mencintaimu, kamu hanya milikku!" ungkap Cakra dari lubuk hatinya.
Rheana tersipu, namun ia berusaha menutupi itu dengan menekuk wajahnya dan mendorong suaminya menjauh.
"Sanaan, jangan deket-deket bisa kan." Ketus Rheana kesal.
Cakra mengecup bibir istrinya cepat, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat yang menjadi tujuan Rheana.
Sesampainya di mall pusat kota, Rheana hendak turun, namun tangannya di cegah oleh Cakra.
"Eh enak aja mau langsung pergi, bilang dulu. 'mas Cakra, makasih ya udah anterin aku', cepat bilang." Pinta Cakra memaksa.
"Nggak mau, ih kamu maksa-maksa." Omel Rheana seperti anak kecil.
"Yaudah nggak aku lepasin." Balas Cakra dengan santai.
__ADS_1
Rheana berdecak, ia kembali duduk kemudian mendekatkan diri kepada Cakra. Rheana menyusupkan wajahnya ke leher pria itu.
"Mas Cakra, izinin aku keluar ya." Bisik Rheana dengan tangan yang mulai mengusap abstrak dada bidang suaminya.
Cakra panas dingin mendengar suara seksi istrinya dan usapan lembut tangannya di dada. Cakra menatap Rheana. Andai saja Rheana tidak menggunakan lipstik, ia pasti sudah mencium bibir itu habis-habisan.
"Izinin ya, Mas." Pinta Rheana lagi dengan manja.
Cakra mengusap wajah Rheana lembut, ia melepaskan cekalan di tangannya lalu mengangguk.
"Aku jemput kamu ya, jangan pulang sendiri." Tutur Cakra dibalas kerlingan mata oleh Rheana.
"Makasih banyak ya, Mas Cakra jelek!!!" ujar Rheana kemudian langsung menutup pintu mobil dan pergi.
Cakra berdecak sambil tertawa, ingin sekali rasanya ia berlari menyusul istrinya dan memeluknya dari belakang.
Cakra ingin selalu mendekap erat tubuh Rheana yang hangat dan wangi.
"Rheana Cakra Dharmawan, aku akan hukum kamu nanti malam, Sayang." Celetuk Cakra kemudian segera pergi dari area mall.
Sementara itu Rheana kini sudah berada di restoran yang ia janjikan sebagai tempat bertemu. Ia celingak-celinguk dan matanya menangkap dua orang yang membelakanginya.
Rheana berjalan mendekat, ia menepuk kedua bahu orang itu pelan.
"Hai?!!" Sapa Rheana dengan riang.
Wajah bahagia Rheana berubah kaget ketika melihat bahwa orang yang ia tepuk bahunya itu bukanlah temannya. Dua orang itu hanya mirip saja.
"Oh ya ampun, maaf-maaf." Ucap Rheana tidak enak mengganggu mereka makan.
"Tidak apa, Nona." Balas salah satu dari mereka.
Rheana segera pergi, ia yakin bahwa pasangan tadi itu adalah pasangan kekasih. Bisa-bisanya ia mengganggu dan salah orang.
"Ini pasti gara-gara kak Cakra!"
"Hatcim, kok jadi bersin-bersin gini sih. Perasaan lagi baik-baik aja." Gumam Cakra seraya menggosok hidungnya.
MBAK RHEA, YOU KUALAT SAMA SUAMI 😫🤣
Sebab lagi malam ya, insyaAllah tapi aku belum ngetik lagi soalnya 🤗
Bersambung..........................
__ADS_1