
Rheana melepaskan pelukan suaminya secara tiba-tiba. Ia menatap Cakra lalu memukul wajahnya sendiri, guna membuktikan apakah saat ini dirinya bermimpi atau tidak.
"Awww …" Rheana meringis saat merasakan sakit di wajahnya yang ia pukul sendiri.
Cakra mendekat, memegang tangan Rheana lalu mengusap pipinya dengan lembut.
"Jangan pukul dirimu sendiri, Rhea." Ucap Cakra dengan lembut.
Rheana menatap Cakra dengan mata yang berkaca-kaca. Ada rasa senang dalam hati Rheana menerima perlakuan lembut dari suaminya. Tapi di sisi lain, ia juga curiga dengan perubahan sikap Cakra yang tiba-tiba.
"Ada apa denganmu, Kak?" tanya Rheana pelan.
Cakra tersenyum penuh arti. Ia semakin menggenggam tangan istrinya lalu menciumnya tanpa ragu.
"Entah mengapa, hari ini aku sadar bahwa apa yang telah aku lakukan padamu adalah sebuah kesalahan." Jawab Cakra.
"Seakan ada yang memberitahuku bahwa kamu tidak bersalah," tambah Cakra dengan senyuman.
"Bagaimana mungkin." Lirih Rheana menundukkan kepalanya.
Cakra memegang dagu Rheana, mengangkatnya agar wanita itu mau menatapnya.
"Rheana, kamu masih mencintaiku 'kan?" tanya Cakra dengan penuh perhatian.
Rheana memalingkan wajahnya. Wanita itu tidak menjawab dan hanya terdiam.
"Katakan jika kamu mencintaiku, Rhea." Pinta Cakra lagi.
Rheana melepaskan genggaman tangan Cakra, ia menyeka air mata yang sudah sedikit membasahi wajahnya.
"Kak, lebih baik kau mandi. Aku harus memasak makan malam," tutur Rheana mengalihkan pembicaraan.
Cakra menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Ia mengangguk dan segera pergi ke kamarnya untuk mandi dan bersih-bersih.
Sementara Rheana, usai Cakra pergi ke kamarnya, wanita itu tampak masih berdiam diri.
Rheana tentu saja senang melihat perubahan Cakra, namun entah mengapa ada rasa mengganjal ketika ingin percaya kepada suaminya.
__ADS_1
"Sebenarnya kak Cakra kenapa." Gumam Rheana pelan.
Rheana memejamkan mata sebentar, ia memilih untuk melanjutkan masakannya daripada otaknya berperang topik perubahan Cakra yang tiba-tiba.
***
Rheana menyelesaikan makanannya, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia merasa sangat kepanasan setelah memasak, dan hanya mandi yang bisa mengembalikan kesegaran tubuhnya.
Sementara itu di kamar Cakra, pria itu terlihat berdiri di balkon kamar sambil mengubungi seseorang.
"Kau benar, seharusnya sejak lama aku melakukan ini." Ucap Cakra kepada orang di seberang telepon.
Usai mengatakan itu, Cakra pun memutuskan panggilannya dan masuk ke dalam kamar.
"Rheana." Ucap Cakra menyebut satu nama wanita yang merupakan istrinya.
Cakra keluar dari kamar, ia pergi ke dapur untuk melihat apa yang sedang dilakukan istrinya saat ini.
Cakra duduk di sofa, mungkin saja istrinya itu sedang di kamarnya untuk mandi.
Cakra menonton televisi, ia melihat berita yang sedang ramai di bicarakan. Cakra tentu saja tidak peduli, baginya tiap berita selebriti tidak berhubungan dengannya sama sekali, jadi untuk apa ia peduli.
Tidak lama kemudian, Rheana datang menghampirinya yang sedang mengganti satu channel ke channel televisi lain.
"Kak, ayo kita makan. Aku akan mengambilkan nasinya," ajak Rheana lembut.
Cakra bangkit, ia mendekati Rheana lalu merangkul bahu wanita itu dan mengajaknya ke meja makan.
Rheana gugup, sejak mereka menikah, ini pertama kalinya Cakra berbuat begini. Biasanya, jangankan merangkul, untuk menyapa saja terasa berat.
"Duduklah." Tutur Cakra seraya menarik kursi untuk Rheana.
Rheana menggeleng. "Kau saja, aku akan mengambilkan makananmu dulu, Kak." Tolak Rheana.
Cakra nurut, ia duduk di kursi tempatnya biasa duduk, sambil memperhatikan Rheana yang sedang melayaninya dengan begitu baik.
__ADS_1
"Kau mau pakai sambalnya?" tanya Rheana lagi.
"Tidak, akhir-akhir ini pencernaan ku kurang baik." Jawab Cakra.
"Oh begitu, baiklah nanti akan aku buatkan jus jambu untukmu ya, Kak." Sahut Rheana seraya meletakkan piring makan di depan Cakra.
Rheana bergantian mengambil makanan untuknya sendiri. Berbeda dengan Cakra yang tidak pakai sambal, Rheana justru sebaliknya.
"Jangan terlalu banyak sambal, perutmu bisa sakit, Rhe." Tutur Cakra begitu perhatian.
Rheana mengulas senyuman lalu menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan Cakra barusan.
"Oh iya, bagaimana hari pertama di kampus?" tanya Cakra seraya melahap makanannya.
"Biasa saja, Kak. Tadi hanya perkenalan dosen," jawab Rheana jujur.
Cakra manggut-manggut. "Besok masuk jam berapa?" tanya Cakra.
"Jam delapan, sama seperti tadi dan aku akan pulang pukul 11 siang." Jawab Rheana.
"Bisa tidak jika kamu besok datang ke kantorku?" tanya Cakra pelan.
Rheana hampir tersedak makanan saat mendengar permintaan Cakra.
Datang ke kantornya? Bukankah hal itu adalah poin yang paling dilarang oleh Cakra selama ini, tapi mengapa tiba-tiba pria itu memintanya datang.
"Kau sungguh meminta itu, Kak?" tanya Rheana dan Cakra menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kau tidak bisa 'ya? Jika tidak bisa, ya sudah." Ujar Cakra.
Rheana menghela nafas. "Akan aku usahakan, Kak." Ucap Rheana pelan.
Cakra tersenyum lebar, ia manggut-manggut dan melanjutkan makan malam nya, begitu juga dengan Rheana.
MBA RHEA, HARUS PASANG SINYAL WASPADA SIH🤣
Bersambung.................
__ADS_1