
Rheana tidak henti tersenyum ketika melihat pemandangan alam yang menyejukkan. Sudah hampir 30 menit, jalanan yang ia dan Cakra lalui begitu asri.
"Kacanya buka, Sayang. Kamu hirup udara segar disini juga aman." Ucap Cakra dengan lembut.
Rheana menatap Cakra dengan mata bulatnya penuh kebingungan.
"Boleh?" tanya Rheana dan Cakra membalasnya dengan anggukan kepala.
"Boleh dong, apa sih yang nggak boleh buat bunda." Jawab Cakra dengan cepat.
Rheana tersenyum, ia pun segera membuka jendela dan membiarkan angin sejuk itu masuk ke dalam mobil mereka.
Rheana langsung memejamkan matanya ketika hidungnya tidak memiliki hambatan untuk menarik dan membuang nafasnya pelan-pelan.
Rheana juga merasakan hawa dingin di sekitar, dan itu tentu saja karena masih banyak kali atau sungai berair jernih sebab airnya langsung dari pegunungan.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Rheana karena sejak tadi tak kunjung sampai.
Cakra menoleh sebentar. "Ke tempat bagus, sebentar lagi sampai." Jawab Cakra.
Rheana hanya manggut-manggut, ia memilih untuk menghirup udara lagi dan menatap pemandangan yang asri itu.
Cakra sesekali melirik istrinya yang tampak begitu senang. Akhirnya, hari ini ia bisa melihat wajah Rheana yang penuh dengan kebahagiaan. Mungkin dulu ia sangat jahat, dan Tuhan memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya kepada sang istri.
Lalu bagaimana dengan Rheana? Cakra terus berperang dengan pikirannya, ia takut segala sikap dan perlakuannya selama ini tetap akan membuat istrinya itu minta pisah.
Cakra memang iklhas membahagiakan Rheana, tetapi ia berharap ada titik terang dalam diri Rheana yang akan memberinya celah untuk kembali masuk dalam hati wanita cantik itu.
"Mas." Panggil Rheana.
"Apa, Sayang?" sahut Cakra lembut.
"Kenapa sih dari tadi senyum-senyum terus?" Tanya Rheana heran melihat Cakra seperti sangat bahagia.
"Beritahu aku siapa suami yang tidak akan bahagia jika jalan-jalan bersama istrinya, Sayang." Jawab Cakra tanpa menjelaskan secara rinci.
Rheana melongo, ia berusaha mencerna kata-kata suaminya.
"Kamu senang?" tanya Rheana menebak.
Cakra tersenyum simpul, ia bukan hanya senang tetapi bahagia.
"Sayang, ada teman kamu." Ucap Cakra heboh.
"Hah? Dimana, Mas?" sahut Rheana begitu polos dan celingak-celinguk mencari keberadaan temannya.
"Kerbau itu, mereka teman-teman kamu kan." Jawab Cakra seraya menunjuk beberapa kerbau yang sedang makan rumput.
Rheana menatap Cakra dengan horor, ia langsung menggeplak bahu Cakra dengan entengnya, tanpa beban sama sekali.
"Nggak lucu." Ketus Rheana seraya melipat tangannya di dada.
Cakra terkekeh, ia lantas mencolek dagu Rheana untuk merayu wanita itu. Namun Rheana dengan gerakan cepat langsung menepis tangan suaminya.
"Duhh … gawat nih kalo bunda marah sama papa, Dek." Ujar Cakra beralih ke perut besar Rheana.
__ADS_1
"Anak aku lagi tidur, jangan gangguin dia." Tegur Rheana kesal.
Cakra menghela nafas, ia mengusap puncak kepala istrinya.
"Anak kita, Sayang. Dia anak kita, bukan anak kamu aja." Ralat Cakra lembut.
Rheana tidak bicara, wanita itu memilih untuk kembali menatap pemandangan yang asri itu.
Tidak terasa akhirnya Cakra dan Rheana sampai di tempat tujuan. Rheana menatap bangunan di hadapannya dengan bingung, lalu menatap ke sekitar.
"Sayang, ayo turun." Ajak Cakra yang membukakan pintu untuk istrinya.
Rheana langsung keluar, ia juga mengandeng tangan Cakra agar tidak terjatuh akibat tanah yang sedikit licin.
"Mas, villa siapa ini?" tanya Rheana bingung.
"Punya Mama." Jawab Cakra seraya mengusap tangan istrinya.
"Dingin nggak?" tanya Cakra tanpa menghentikan usapan di tangan Rheana.
Rheana mengangguk lucu, ia semakin menduselkan dirinya untuk memeluk Cakra. Baju yang Rheana kenakan hanya dress hamil, dan ia tidak memakai jaket apapun lagi.
"Siang, Den Cakra." Sapa seorang pria paruh baya dengan sopan.
"Siang, Mang. Sudah beres semua kan?" tanya Cakra langsung.
"Aman atuh, Den. Tadi si bibi udah bersih-bersih," jawab Mang Iyun, penjaga villa milik keluarga Cakra.
Cakra manggut-manggut setelah mendengar ucapan dari pekerja nya itu. Ia lalu beralih menatap Rheana yang diam dengan wajah kebingungan.
"Sekarang udah siang?" tanya Rheana.
"Udah dong, kenapa?" tanya Cakra balik.
"Kaya bukan siang, hehehe." Jawab Rheana tertawa malu.
Cakra ikut tertawa, ia gemas sekali kepada Rheana. Rasa-rasanya Cakra ingin menggendong dan menggigit habis Rheana di dalam Villa.
"Oh iya, Mang. Ini kenalkan, Rheana istri saya." Ucap Cakra memperkenalkan Rheana.
Mang Iyun tampak sedikit syok, pasalnya dulu Cakra pernah mengirimkan undangan kepadanya dengan nama wanita lain. Tapi sebagai seorang pekerja biasa, ia tidak mungkin mempertanyakannya.
"Oh iya, halo neng Rhea." Sapa Mang Iyun sopan.
"Halo juga, Mamang." Balas Rheana ramah.
Cakra pun mengajak Rheana untuk masuk dan beristirahat, sementara barang-barang yang ia bawa akan dibantu oleh mamang dan bibi untuk dibawa masuk ke dalam villa.
"Bi, eta istrinya den Cakra beda namanya." Ucap Mang Iyun berbisik.
"He'uh. Bibi ge bingung, tapi udahlah." balas bibi.
Mereka berhenti bicara sampai disitu. Keduanya masih membutuhkan pekerjaan sampai untuk membicarakan majikannya sendiri, mereka tidak berani.
Sementara Cakra dan Rheana kini sudah berada di dalam kamar yang akan menjadi tempat mereka tidur malam nanti.
__ADS_1
Rheana sudah berbaring dengan selimut sampai perut, sementara Cakra asik dengan ponselnya. Tentu saja, karena semalam ia malah bermain-main dengan Rheana sampai membuat pekerjaannya terlupakan.
"Mas." Panggil Rheana dan Cakra hanya berdehem karena fokus chatting dengan Bagas.
"Mas." Panggil Rheana lagi.
"Apa istriku sayang?" Sahut Cakra lembut seraya menatap istrinya hangat.
Wajah Rheana bersemu merah, entah mengapa ia merasa dag dig dug mendengar sahutan dari Cakra tadi.
"Kok diem, kenapa manggil tadi?" tanya Cakra seraya mendekati Rheana.
Rheana menyandarkan tubuhnya ke papan headboard lalu menatap suaminya dengan sayu.
"Villa nya, eummm …" Rheana menggigit bibirnya, ia takut untuk bicara.
"Villanya kenapa, Sayang?" Tanya Cakra bingung.
Kini fokus Cakra bukan hanya tentang pertanyaan istrinya, tetapi dengan bibir Rheana yang digigit sendiri.
"Jangan di gigit, nanti berdarah." Tegur Cakra seraya mengusap bibir manis Rheana.
Rheana tidak lagi menggigit bibirnya, dan itu menyisakan bibir Rheana yang basah.
"Sayang, bibir kamu manis banget masa." Celetuk Cakra kemudian langsung mencium bibir istrinya tanpa permisi.
Rheana tidak menolak, ia membalas ciuman dari sang suami yang begitu lembut. Rheana merasakan bahwa ciuman kali ini tidak dibarengi napsu, hanya ada kelembutan di dalamnya.
"Rhea, kamu percaya kan kalo aku sungguh jatuh cinta sama kamu?" tanya Cakra tiba-tiba setelah melepaskan ciumannya.
Rheana menatap wajah suaminya, ia mengusap rahang tegas Cakra lalu memberikan kecupan di sana.
Rheana tidak menjawab, wanita itu malah memeluk Cakra dengan sangat erat.
"Mas, villanya berhantu nggak?" tanya Rheana tiba-tiba.
Inilah pertanyaan yang sejak tadi ragu untuk Rheana keluarkan. Pasalnya ia membayangkan villa di film horor yang seram itu.
Mendengar pertanyaan konyol dari istrinya, Cakra langsung tertawa dengan begitu lepas.
Astaga! Dimana Cakra menemukan istri menggemaskan seperti ini.
"Jangan kebanyakan nonton horor makanya." Tegur Cakra geleng-geleng kepala.
"Ihh, kan aku cuma tanya." Sahut Rheana sewot.
"Nggak ada hantu disini. Jangan mikir aneh-aneh lagi!" jawab Cakra sambil mengusap punggung tangan Rheana.
Cakra bangkit, ia harus membuatkan susu untuk Rheana karena tadi pagi belum sempat meminumnya.
"Mas, aku percaya." Ucap Rheana menghentikan langkah Cakra.
Cakra membalik badan, ia hendak bertanya maksud ucapan Rheana barusan, namun istrinya itu sudah menutupi diri dengan selimut.
VILLA BERHANTU GUYS KATANYA 😫
__ADS_1
Bersambung..................................