Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Merindukanmu


__ADS_3

Seorang pria datang ke rumah Chandrama untuk menjemput kekasihnya, namun saat sampai di sana, wanita yang dicarinya tidak ada, bahkan tidak ada yang mengetahui kemana wanita itu pergi.


"Bagaimana bisa kalian tidak tahu jika Velia pergi?" tanya Fikri dengan keheranan, antara kesal dan khawatir.


"Kami tidak tahu kemana Velia pergi, sejak tadi fokus kami hanya kepada Rheana." Jawab Mama Erina.


Jujur saja, Mama Erina tidak mau jika Velia ikut menghilang. Cukup satu putrinya yang harus ia cari dengan penuh perjuangan. Tetapi nyatanya Velia juga pergi meninggalkan rumah.


"Rheana, kemana Rheana?" tanya Fikri yang belum dengar kabar apapun tentang Rheana.


"Rheana pergi, dan Velia juga. Kami kehilangan dua putri," jawab Papa Rama dengan lirih.


Mendengar itu sontak membuat Fikri terkejut. Apakah Velia pergi karena merasa bersalah kepada adiknya? Atau karena Velia tidak mau terus terbayang akan kesalahannya di masa lalu.


Fikri menggeleng pelan, ia tidak mau kehilangan Velia, ia mencintai wanita itu.


"Om, Tante. Saya permisi dulu, saya akan membantu mencari Rheana dan juga Velia." Ucap Fikri dengan sangat yakin.


Papa Rama menatap Fikri. "Kau begitu mencintai putriku?" Tanya Papa Rama tiba-tiba.


"Iya, Om. Saya sangat mencintai Velia," jawab Fikri yakin.


"Dengan masa lalunya, kau tau bagaimana sikapnya di masa lalu yang membuat adik kandungnya sendiri menderita. Kau masih mau mencintainya?" tanya Papa Rama lagi.


"Iya, Om. Terlepas dari masa lalu Velia, saya kenal bahwa Velia adalah gadis yang baik, bahkan orang tua saya menyukainya." Jawab Fikri.


"Velia sudah berubah, dia mengakui kesalahannya dan saya mohon agar kalian juga mau memaafkannya. Permisi, selamat malam." Tambah Fikri kemudian pergi meninggalkan kediaman Chandrama.


Fikri pergi, ia akan mencari keberadaan kekasihnya yang sekarang entah ada dimana. Jika ia boleh berteriak, maka ia akan mengeluarkan segala rasa kecewanya kepada Velia yang memilih jalan pergi tanpa bicara padanya.


Namun, dibalik rasa kecewanya kepada Velia, tentu masih ada cinta yang begitu besar untuk wanita itu.


"Vel, kamu dimana." Lirih Fikri dengan mata berkaca-kaca.


Sementara wanita yang sedang dicari keberadaannya oleh sang kekasih, kini wanita itu terlihat berdiri di pinggir jembatan.


Wanita bernama Velia itu menatap aliran sungai yang cukup deras. Berniat untuk bunuh diri? Tidak. Velia hanya ingin menghirup udara disana.

__ADS_1


"Aliran sungai yang deras itu pasti tidak lebih deras dari air mata Rheana selama ini." Ucap Velia pelan.


Velia menangis, ia menutup kedua matanya dengan tangan.


"Hiks … bagaimana bisa aku menjadi sangat jahat kepada adikku sendiri. Dia menderita, dia kesakitan karena aku," ucap Velia dengan tangis yang semakin terdengar.


Velia tidak tahu bagaimana memperbaiki semua keadaan yang kacau ini. Rheana pergi setelah merasa siksaannya sudah cukup, sekarang kemana ia harus mencari adiknya.


"VELIA!!!" Velia terkejut mendengar suara teriakan yang begitu menggema.


Velia menoleh, ia terkejut melihat adik iparnya sekaligus mantan tunangannya berada disana.


"Kau, sedang apa disini?" tanya Velia.


"Tentu saja berusaha untuk mencari istriku." Jawab Cakra dengan wajah datar.


Cakra maju selangkah. "Dulu aku sangat bodoh sampai mencintai wanita sepertimu, tapi beruntungnya aku tidak jadi menikah denganmu." Tekan Cakra dengan tatapan penuh kebencian.


Cakra melirik ke arah sungai dibelakang Velia, ia tersenyum simpul.


"Kau berniat untuk bunuh diri?" tanya Cakra menebak.


"Kenapa? Kau tidak mau bertanggung jawab atas semua air mata adikmu selama ini?" tanya Cakra semakin emosional.


"Cakra, aku–" ucapan Velia terhenti saat Cakra kembali bicara.


"Kau penjahat, Velia. Kau benar-benar seorang penjahat, dan kau juga membuatku menjadi penjahat karena telah menyiksa istriku sendiri." Potong Cakra kemudian pergi dari sana dengan mengendarai mobilnya.


Setelah kepergian Cakra, Velia langsung menangis sambil terduduk.


Sementara Cakra, pria itu kembali pergi untuk mencari istrinya. Tadi ia hanya kebetulan bertemu dengan Velia, ia sungguh muak melihat wajah wanita itu.


Cakra mengerang frustasi. Ia bingung harus mencari keberadaan istrinya dimana.


"Sayang, segitu benci kamu sampai memilih pergi tanpa meninggalkan jejak apapun." Ucap Cakra.


***

__ADS_1


Seorang wanita tampak tersenyum sambil menatap pemandangan malam hari melalui udara. Wanita itu beberapa kali bicara pelan sambil mengusap perutnya.


"Indah ya, Sayang. Nanti kalo kamu sudah lahir, Mama akan ajak kamu untuk melihat Indonesia." Ucap Rheana terkikik.


"Indonesia itu negara dengan banyak keindahan, ada laut, gunung, dan banyak pemandangan alam yang indah lainnya. Kamu harus lihat, nanti kita lihat sama-sama ya." Tambah Rheana semakin mengusap perutnya.


Rheana saat ini masih berada di pesawat, pesawatnya mengalami keterlambatan untuk terbang, dan tadi sedikit masalah mengenai paspornya.


Rheana awalnya dilarang keluar negeri karena tuduhan kasus pembunuhan, namun ternyata kasus itu telah dicabut dan membuat Rheana akhirnya diperbolehkan untuk pergi.


"Nak, walaupun Mama ajak kamu pergi jauh, tapi Mama tidak akan pernah lupa untuk mengenalkan papa kamu."


"Papa adalah pria yang baik, hanya saja ia tertutup oleh dendam sehingga membuatnya seperti ini."


"Papa juga pria yang tampan, dan memiliki sifat yang tegas. Jika kamu laki-laki, maka Mama yakin kamu mirip dengannya."


Celotehan Rheana dilakukan untuk mengusir rasa sedihnya saat ini, bahkan sudah banyak bicara seperti tadi saja masih membuat dadanya sedikit sesak.


"Kenapa harus sesakit ini, Kak. Kenapa kamu harus terus berada di hati aku, tolong pergi." Batin Rheana memegangi dadanya.


Rheana menutup mata, ia memilih untuk tidur daripada pikirannya masih saja terus tertuju pada Cakra.


Apa Cakra baik-baik saja, apa dia sudah makan? Apa dia bisa membuat kopi sendiri untuk menemaninya bekerja.


Semua pertanyaan itu terus berputar di kepala Rheana. Ia yang terbiasa mengurus segala kebutuhan suaminya, kini justru pergi meninggalkan Cakra.


"Kamu harus makan dengan benar, Kak. Sudah payah aku membuat tubuhmu berisi sedikit," celetuk Rheana tanpa sadar sambil tersenyum.


Rheana meraih ponselnya, ia membuka akun Instagram pribadi miliknya dimana ada salah satu kirimkan yang ia privasi, kiriman itu adalah fotonya dengan Cakra.


"Kamu kalau senyum gini manis banget, apalagi kalo tertawa. Tapi lebih lucu kalo kamu ngambek, pipinya mau aku uyel-uyel." Celetuk Rheana seakan sedang bicara dengan Cakra langsung.


Tangannya mengusap layar ponsel. Hanya ini satu-satunya foto yang ia punya, karena ia sengaja membuang ponsel lamanya agar tidak ada yang bisa menghubungi nya.


"Kak Cakra, aku merindukanmu." Batin Rheana kemudian memeluk ponselnya itu.


RHEANA, SABAR YA. AKU NGGAK AKAN PERTEMUKAN KAMU SAMA CAKRA DENGAN CEPAT😟☺️

__ADS_1


Bersambung...........................


__ADS_2