
Rheana membuatkan minum untuk adik dan suaminya. Ia membawa dua gelas jus itu ke ruang tamu dimana suami dan anaknya sedang berbincang.
"Kenapa hanya dua, Sayang. Punya kamu mana?" tanya Cakra saat Rheana meletakkan dua minuman itu.
"Nggak haus, Kak. Aku juga abis minum susu," jawab Rheana tersenyum.
Ryan menatap kakaknya dengan teduh, ia lalu beralih menatap Cakra yang begitu romantis kepada kakaknya.
Ryan tersenyum simpul, ia ingin tahu apakah yang dilakukan Cakra ini hanya sandiwara, atau sungguh-sungguh pria itu sudah mencintai kakaknya.
"Kak Rhea, mama mengajak kita semua untuk melakukan doa agar kak Velia bisa tenang." Ucap Ryan tiba-tiba.
"Doa, kapan?" tanya Rheana pelan.
Cakra menatap Ryan dan Rheana bergantian. Doa? Tidak ada doa yang harus dilakukan untuk Velia, karena wanita itu masih hidup dan sehat sampai sekarang.
"Sayang, aku–" Ucapan Cakra terhenti saat Rheana bangkit dari duduknya tiba-tiba.
"K-kalian lanjutkan bicara dulu ya, aku mau … mau keluar sebentar." Rheana langsung berlari keluar dari apartemen.
Ucapan Rheana yang tidak jelas dan sedikit terbata tadi karena ia menahan rasa mual yang tiba-tiba muncul.
Rheana tidak mau mual-mual di depan suaminya, atau kejutan yang akan ia berikan nantinya berantakan.
Sementara itu di ruang tamu, kini hanya ada Cakra dan Ryan disana. Ryan tampak menghela nafas beberapakali sebelum bicara dengan pria yang merupakan kakak iparnya.
"Ceraikan kakakku, Kak." Ucap Ryan tiba-tiba.
Bagai tersambar petir di siang bolong, Cakra begitu terkejut mendengar ucapan adik iparnya.
Menceraikan Rheana? Sampai matipun Cakra tidak akan melakukan itu.
"Nggak!" balas Cakra menolak tegas.
Ryan menatap Cakra dengan nyalang. "Sudah cukup menyiksa kakakku dengan cinta palsumu." Tekan Ryan yang seakan tidak ada takutnya dengan Cakra.
"Tapi ini rencanamu." Balas Cakra tidak mau kalah.
"Memang, tapi rencana ini aku buat untuk membuat mu percaya bahwa kak Rhea tidak pernah membunuh siapapun." Jelas Ryan diakhiri helaan nafas pelan.
"Kak Rheana pantas bahagia, dan sepertinya bukan denganmu." Lanjut Ryan sedih.
__ADS_1
Cakra menggeleng. "Ryan, aku akui bahwa cintaku pada Rheana itu palsu, semua perlakuanku padanya dulu hanyalah kebohongan, tapi sekarang …" Cakra menggantung ucapannya.
"Sekarang apa, Kak?"
Suara lirih itu terdengar dari arah pintu apartemen. Wanita yang kini sedang berdiri dengan air mata yang membasahi wajahnya.
Cinta palsu? Kasih sayang dan perlakuan manis yang selama ini ia terima hanyalah sebuah kebohongan.
"Sayang." Panggil Cakra panik, ia kelepasan bicara dan tidak sadar jika istrinya itu sudah kembali.
"Jangan mendekat, Kak." Pinta Rheana seraya mundur.
"Sayang, dengarkan penjelasan ku dulu ya. Tolong jangan salah paham, semua ini–" Ucapan Cakra terhenti.
"Semua ini adalah kebohongan. Cinta, kasih sayang, sikap manis. Semua itu hanya dusta, kamu telah membohongiku." Potong Rheana dengan emosional.
"Sayang." Cakra mendekat, ia meraih pergelangan tangan Rheana, namun ditepis oleh si pemilik.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Sudah cukup tipuan ini, Kak." Pinta Rheana menutup telinganya.
Rheana menangis, tubuhnya perlahan merosot ke lantai, membuat Ryan buru-buru mendekat dan menolong kakaknya.
"Kak, ayo bangun." Ajak Ryan namun Rheana hanya diam.
Rheana merasa sangat bodoh, bagaimana mungkin ia tidak menyadari bahwa selama ini sikap suaminya yang tiba-tiba berubah itu hanya untuk menghancurkannya.
"Sayang, tolong dengar penjelasan ku dulu. Mungkin iya, awalnya hanya sebuah kebohongan, tapi sekarang aku benar-benar mencintaimu, Rhea." Ungkap Cakra dengan jujur.
Ryan tersenyum mendengar pengakuan Cakra, rencananya berhasil. Sekarang, ia harus memastikan bahwa Cakra bersimpuh di kaki kakaknya untuk pengampunan.
Rheana mendongak, ia menatap Cakra dengan mata merah penuh air mata.
Rheana bangkit dengan dibantu Ryan. Tanpa menunggu lama, akhirnya tangan Rheana mendarat sempurna di pipi kiri suaminya.
"Nggak cukup kamu? Nggak cukup kamu siksa aku, Kak? Kebohongan apa lagi yang kamu ucapkan sekarang hah?!" teriak Rheana didepan wajah suaminya.
Rheana mendekat, ia mencengkram kerah baju suaminya.
"Kamu berpikir aku pembunuh, iya? Aku membunuh tunangan mu dan karena itulah kamu mau balas dendam kan, Kak?" tanya Rheana bertubi-tubi.
Cakra menggeleng, ia menangkup wajah cantik istrinya, namun buru-buru Rheana menepisnya.
__ADS_1
"Ayo bunuh aku, Kak. Lebih kamu bunuh aku daripada kamu berpura-pura mencintaiku seperti ini!!" teriak Rheana lagi.
"Kak Rhea, ayo kita pulang." Ajak Ryan lembut.
Rheana tidak menyahut, ia menatap Cakra dengan pedih. Cakra bisa melihat ada kesedihan, kekecewaan, dan kebencian di mata istrinya.
"Aku menyesal, aku menyesal telah sangat mencintai kamu. Aku merasa seperti orang gila. Tertawa, dan tersenyum sepanjang hari karena merasa begitu dicintai oleh suamiku, ternyata apa semua nya?!"
"Kamu jahat sekali, Kak. Kenapa harus kamu, dari sekian banyak pria di dunia ini, kenapa hati aku harus jatuh di kamu."
Cakra berkaca-kaca, Rheana sangat mencintainya, tapi apa yang ia lakukan.
"Sayang, ayo kita bicara berdua dulu. Kita selesaikan pelan-pelan," ajak Cakra lembut.
Rheana menggeleng. "Ayo kita bercerai, Kak. Aku janji, aku akan menyerahkan diriku ke polisi meski semua itu tidak pernah aku lakukan." Ajak Rheana pelan.
"Seharusnya sejak awal aku di penjara, mungkin itu lebih baik daripada harus berada disini." Tambah Rheana.
Rheana merasa kepalanya ingin pecah. Pusing karena faktor hamil muda, dan sekarang ditambah lagi dengan kebenaran yang terungkap.
Rheana tidak sanggup lagi, ia ingin lepas dari cengkraman dendam Cakra sekarang.
"Ryan, bantu aku." Pinta Rheana lirih.
Ryan ingin mengajak kakaknya untuk pergi, namun Cakra mencegahnya.
"Ryan, tolong kau pergi dulu. Biarkan aku bicara dengan istriku." Pinta Cakra pelan.
Ryan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, ia menatap kakaknya yang hanya diam.
"Kak, aku tunggu diluar ya." Ucap Ryan lembut.
Ryan pun keluar sebelum mendapat jawaban dari kakaknya, ia akan memberikan sedikit waktu pada Cakra untuk bicara dengan kakaknya.
"Sayang, kita duduk ya. Kita bicara pelan-pelan," ajak Cakra seraya memegang tangan istrinya.
"Tolong lepaskan aku, Kak. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau asal jangan dalam ikatan pernikahan."
"Kamu mau aku menerima hukuman? Baik, aku akan menyerahkan diriku ke polisi."
CALON DITINGGAL ISTRI 😰
__ADS_1
Bersambung................................