
Semua orang tampak berkumpul di rumah baru Rheana dan Cakra sambil menikmati hidangan makan malam yang Rheana buat.
Rheana sengaja memasak banyak, karena ia tahu bahwa keluarganya akan datang.
Sementara yang lain sedang makan, Rheana justru sibuk mendiami Ayla yang menangis. Bisa jadi anak itu merindukan ibunya setelah sehari semalam tidak bertemu.
"Cup … cup, anak mama. Ini mama, Sayang. Kita bobok ya," celoteh Rheana seraya mengusap-usap wajah bayinya.
Cakra yang melihat istrinya kesulitan mendiami Ayla menjadi kasihan, ia lantas menghampiri istri dan anaknya, meskipun makanannya belum habis.
"Sayang, sini. Kamu makan dulu gih," tutur Cakra lembut.
Rheana menggeleng. "Aku bisa makan nanti, sekarang kamu habiskan makanan nya dulu ya." Timpal Rheana menolak.
Cakra tetap mengambil alih untuk menggendong putrinya, dan seketika tangisan Ayla langsung berhenti.
"Ohh, Ayla rindu papa ya, sampai digendong mama aja masih nangis?" Tanya Rheana seraya menusuk-nusuk pipi Ayla pelan.
"Rhea, sini makan dulu." Panggil mama Erina, seperti memanggil anak kecil.
Rheana mencium pipi Ayla, ia lalu mengusap wajah sang suami yang tampak fokus menimang-nimang Ayla.
"Aku makan dulu ya, Mas." Ucap Rheana pada sang suami.
"Iya, Sayang." Balas Cakra lembut.
Rheana pun duduk bersama keluarganya untuk menyantap makan malam, sementara Cakra terlihat asik menggendong sambil berceloteh dengan putrinya.
*Kak, bagaimana kandunganmu?" Tanya Rheana seraya mengusap perut kakaknya yang sudah mulai terlihat.
"Sehat, Rhe. Tapi dokter menyarankan ku untuk jangan lelah, karena itu bisa berakibat pada kehamilan ku." Jawab Velia pelan.
__ADS_1
Rheana manggut-manggut, ia juga dulu pernah diperingatkan oleh dokter agar jangan lelah apalagi sampai banyak pikiran.
"Maka cuti saja dari kantor, Kak." Ujar Rheana menyarankan.
"Aku sudah mengatakan padanya, tapi kakakmu ini keras kepala." Timpal Fikri tiba-tiba seraya menyudahi makannya.
Fikri pun beranjak dari tempat duduk untuk menghampiri Cakra yang kini asik duduk sambil menggendong Ayla.
"Sepertinya kak Fikri marah." Bisik Rheana pelan.
Velia hanya tersenyum, kenyataanya memang begitu bahwa suaminya itu marah karena dirinya menolak untuk mengambil cuti dalam waktu dekat.
"Jangan khawatir, aku pasti akan cuti jika Ryan sudah bisa mengerti tugas-tugasnya." Ucap Velia seraya menatap adik laki-lakinya itu.
"Kak, ayolah! Masih ada waktu bertahun-tahun untuk aku bergabung ke perusahaan," protes Ryan pelan.
"Ryan, ini perintah dari papa lhoo," sahut papa Rama mengingatkan.
"Eh, ngomong-ngomong. Abel kemana, Ryan?" tanya Mama Mila yang sejak tadi ikut menimpali.
"Ada urusan, Tante. Dia ingin ikut kesini, tapi tugas-tugas kuliahnya tidak membiarkan." Jawab Ryan dengan sedih.
Tentu saja sedih, sebab biasanya Abel selalu ikut dengannya ke acara keluarga. Tapi hari ini, Abel terpaksa tidak ikut karena tugas kampusnya.
"Astaga, kasihan. Kenapa kamu nggak bantu?" Tanya Mama Erina.
"Aku tidak mengerti." Jawab Ryan malu-malu.
Satu meja itu tertawa mendengar jawaban Ryan. Rheana dan Velia sudah yakin dengan jawaban adiknya, bahkan di yakini jika Abel lah selama ini yang membantu Ryan jika pemuda itu tidak bisa.
Sementara itu di ruang tamu, terlihat Cakra dan Fikri sedang duduk bersebelahan. Ayla sudah tidur sejak tadi dalam gendongan Cakra, namun pria itu enggan melepaskannya.
__ADS_1
Saat ini hanya ada mereka, hal itu dimanfaatkan oleh Fikri untuk membagikan keluh kesah nya terhadap sang saudara ipar.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, sebab saat Rheana hamil pun aku khawatir jika dirinya lelah sedikit saja." Ucap Cakra menyahut.
Benar, saat ini Fikri sedang cerita tentang istrinya yang tidak mau ambil cuti meskipun ia sudah memintanya.
Fikri melakukan itu tentu saja karena khawatir saat dokter mengatakan jika kandungan Velia lemah, dan bisa mengalami keguguran jika terlalu lelah.
"Aku sudah berusaha untuk bicara padanya, tapi dia selalu mengatakan bahwa ia belum bisa meninggalkan pekerjaannya." Lirih Fikri menundukkan kepalanya.
Cakra menepuk bahu iparnya, pasti Fikri merasa sedih karena Velia tidak mau menurut, padahal ini semua demi kebaikannya juga.
"Sudah coba bicara dengan papa?" tanya Cakra.
Fikri menggeleng. "Belum, tapi papa seperti nya tahu tentang kekhawatiran ku." Jawab Fikri.
Cakra menepuk bahu Fikri lagi. "Aku akan bicarakan ini dengan istriku, mungkin dia bisa membujuk Velia agar mau cuti sementara waktu." Ujar Cakra membuat Fikri hanya bisa mengangguk.
Fikri berharap bahwa istrinya itu akan benar-benar mendengarkan Rheana. Ia terlalu mencintai istrinya sehingga bisa dikatakan jika dirinya posesif.
Fikri tidak mau terjadi sesuatu dengan Velia ketika dokter sudah memperingatkannya. Dokter sudah memberitahu bahwa ada tumor di rahim Velia.
Velia sakit, di trimester pertama ini wanita itu beberapa kali mengalami nyeri dan pendarahan ringan, namun Velia tidak mau seluruh keluarganya khawatir sehingga hanya Fikri yang tahu akan hal itu.
Itulah yang menjadi titik alasan Fikri melarang istrinya bekerja, ia takut jika sedang bekerja dan lelah, Velia mengalami pendarahan lagi dan berakibat pada janin dalam kandungannya.
Fikri takut, ia benar-benar pusing memikirkan segala macam bayangan yang muncul di kepalanya. Ia pernah melihat Velia hampir mati saat kecelakaan, dimana ia menemukannya dulu.
Fikri tidak mau hal itu terulang lagi, ia tidak mau kehilangan Velia.
MBAK VELIA SAKIT😫😫
__ADS_1
Bersambung..............................