Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Pagi penuh haru (End)


__ADS_3

Rheana bangun dari tidurnya dengan matahari yang sudah cukup terang, hal itu tentu saja menandakan bahwa ia bangun sangat siang.


Rheana benar-benar tidak bersemangat. Akhir-akhir ini, sejak ia hamil anak kedua rasanya ia malas melakukan apapun. Bahkan biasanya ia akan semangat memasak, sekarang jadi tidak.


Rheana sendiri heran dengan perubahan dirinya. Ia yang suka bersih, sekarang malah mandi di sore hari saja, bahkan ia jarang memoles makeup di wajahnya jika bukan pergi.


Hal itu terkadang mengganggu pikirannya, ia takut suaminya akan berpaling karena dirinya malas-malasan begini. Ia takut Cakra tergoda perempuan lain karena ia tidak merias diri.


Rheana stress memikirkan itu semua, sampai beberapa hari lalu ia harus dilarikan ke rumah skait karena kontraksi.


Dokter mengatakan bahwa apa yang Rheana rasakan saat ini termasuk ke dalam hormon ibu hamil. Bahkan mama Erina dan mama Mila kompak mengatakan bahwa janin dalam kandungannya adalah laki-laki, makanya ia malas.


Rheana tidak tahu darimana mama dan mama mertuanya mengetahui hal itu, yang jelas ia mengamini ucapan kedua mamanya.


Rheana dan Cakra sudah sangat menginginkan anak laki-laki, namun itu hanya sebuah keinginan dan sisanya akan mereka serahkan pada yang diatas.


"Baby, kamu buat mama jadi malas gini ya." Celoteh Rheana seraya mengusap perutnya yang baru berusia 3 bulan.


Rheana berjalan masuk ke dalam kamar mandi, ia akan bersih-bersih diri dan berdandan.


Rheana akan memanjakan Cakra, sebab hari ini adalah hari minggu sehingga suaminya pasti libur bekerja. Rheana akan merias diri untuk suaminya, ia hanya tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi.


Setelah beberapa menit, Rheana pun keluar dari kamar mandi. Wanita berbadan dua itu langsung memakai bajunya dan tidak lupa menggulung rambut dengan handuk.


"Ahh, sangat menyegarkan." Gumam Rheana menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.


Rheana duduk di depan meja rias, ia lalu mulai memoles wajahnya dengan sedikit makeup natural.


Wajah Rheana terlihat lebih fresh, dan pastinya cantik. Rheana yakin pasti suaminya akan terkesima padanya, hehehe.


Selesai urusan wajah, Rheana lalu mengeringkan rambutnya, ia bahkan meng-currly rambutnya agar terlihat lebih cantik.


"Mama cantik nggak, Baby?" tanya Rheana dengan tatapan ke perutnya sendiri, seakan sedang bicara dengan janin dalam kandungannya.


"Cantik dong, mama." Jawab Rheana sendiri dengan nada bicara anak kecil.


Setelah merasa rapi dan cantik, Rheana pun segera keluar dari kamar. Ia tadi sempat melirik jam, ternyata sudah pukul 11 siang.


Rheana menuruni anak tangga, ia yakin bahwa suami dan putrinya ada di ruang tamu sedang santai bersama.

__ADS_1


"Mama!!" panggil Ayla lalu berlari mendekati Rheana dan memeluknya.


Rheana tersenyum, ia menunduk lalu mencium kening putrinya yang tampak sangat cantik hari ini.


"Hari ini ada kegiatan apa?" tanya Rheana lembut.


"Tadi pagi jogging sama papa, Ma." Jawab Ayla menjelaskan.


Rheana manggut-manggut. "Yaudah kamu main lagi sana, mama mau samperin papa dulu." Tutur Rheana.


Ayla menurut, ia pun memilih untuk kembali bermain bersama mainannya di atas karpet berbulu itu.


Sementara Rheana, ia berjalan mendekati suaminya yang terlihat fokus pada ponselnya, bahkan Cakra seakan tidak menyadari kehadirannya disana.


Rheana mengintip sedikit, ternyata Cakra sedang membaca sebuah artikel tentang berhubungan saat hamil muda.


Rheana mengerutkan keningnya, ia ingat bahwa Cakra sudah pernah menanyakannya kepada dokter. Sekarang pasti Cakra sedang mencari tahu lebih dalam lagi.


Entah mengapa Rheana merasa bahagia dengan apa yang suaminya sedang lakukan sekarang, sebab hal sederhana itu seakan menunjukkan bahwa kenyamanannya adalah yang utama.


Cakra begitu memperhatikan istri dan janin dalam kandungannya, ia tidak mau egois sehingga memikirkan keinginannya saja.


Tanpa sadar mata Rheana berkaca-kaca, ia merasa sangat beruntung memiliki suami yang sangat pengertian seperti Cakra.


"Mas!!" Rheana langsung berhamburan ke pelukan suaminya, ia duduk di sebelah Cakra dan tidak lupa mengalungkan tangannya di pinggang sang suami.


"Eh, Sayang." Sahut Cakra melepaskan ponselnya dan berlatih membalas pelukan dari istrinya.


"Kamu ngapain, Mas?" tanya Rheana tanpa menatap wajah suaminya.


"Lagi baca-baca artikel aja." Jawab Cakra jujur.


Cakra menangkup wajah cantik istrinya, sehingga kini mereka sedang saling bertatapan.


"Mama kok udah bangun, kirain mau bobok sampai sore. Eh tapi, kok cantik banget sih sekarang." Puji Cakra lalu mencium kening istrinya cepat.


Rheana menjauhkan tangan Cakra dari wajahnya, ia menatap Cakra dengan tatapan ngambek.


"Kemarin-kemarin aku jelek ya?" tanya Rheana sewot.

__ADS_1


Cakra menggelengkan kepalanya. "Nggak, Sayang. Kapan aku ngomong gitu," jawab Cakra lalu menggenggam tangan istrinya.


"Bagi aku, kamu nggak pernah jelek." Tambah Cakra dengan jujur.


Rheana mendengus. "Bohong! Pasti aku yang belakangan ini malas-malasan bikin kamu nggak nyaman. Aku jelek ya, aku nggak bisa rawat diri?" ucap Rheana panjang.


"Mas, kamu nggak tergoda perempuan lain kan? Aku janji akan dandan yang cantik terus buat kamu, tapi jangan tergoda sama cewek lain ya." Pinta Rheana memohon.


Cakra terkekeh, ia pun mencium kedua pipi Rheana karena gemas.


"Kamu ngomong apa sih, Sayang? Aku nggak akan tergoda perempuan lain, aku cuma mau sama kamu." Ucap Cakra dengan yakin.


"Tapi akhir-akhir ini aku jelek, aku bahkan nggak pernah dandan untuk sambut kamu pulang. Hormon ibu hamil bikin aku malas-malasan, maaf ya Mas." Timpal Rheana sedih.


Cakra kembali menangkup wajah cantik istrinya. "Ssstt, kenapa mikir kesana sih? Udah deh, nanti kamu stress lagi kan kasihan dedeknya." Tutur Cakra lembut.


Cakra mengecup singkat bibir sang istri. "Aku nggak akan pernah tergoda wanita lain, Sayang. Cuma kamu yang bisa bikin aku gila," tambah Cakra tulus dari hati.


"Tapi–" Ucapan Rheana terhenti saat Cakra meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Nggak ada tapi, yang perlu kamu ingat adalah bahwa Cakra Dharmawan cuma cinta sama nyonya Rheana. Suami kamu ini udah bucin banget!" ucap Cakra lalu menarik Rheana ke dalam pelukannya.


Rheana menangis haru, ia sangat bahagia mendengar penuturan suaminya. Rheana akan selalu berdoa, semoga pernikahannya dan Cakra selamanya akan seperti ini.


"Aku juga mau peluk!!" ucap Ayla mengangkat kedua tangannya.


Rheana dan Cakra sama-sama terkekeh, mereka lantas turut memeluk anak mereka yang semakin bertambah cantik.


"Makasih ya, Sayang." Ucap Cakra tiba-tiba.


"For what?" tanya Rheana namun suaminya hanya tersenyum lalu mencium keningnya.


Cakra benar-benar berucap syukur atas kesempatan yang Rheana berikan setelah apa yang pernah ia perbuat dulu. Kini pernikahannya berjalan lancar dan bahagia, lebih bahagia lagi ketika anak kedua mereka lahir nantinya.


Rheana mencintai Cakra, begitupula sebaliknya. Kedua orang yang menikah atas dasar dendam, justru malah berakhir dengan bahagia.


Mereka berdua saja terkadang tidak menyangka, namun inilah takdir. Siapa yang bisa menebak apalagi melawan takdir, sebagai manusia hanya bisa menerima dan mensyukuri apa yang telah kita dapatkan.


END

__ADS_1


Nanti bakal ada ekstra part yaa, maaf end tiba-tiba tapi memang sudah waktunya end guys😫😫


__ADS_2