
Rheana dan Cakra sampai di apartemen yang akan menjadi tempat tinggal mereka mulai sekarang. Apartemen itu memiliki 2 kamar tidur yang masing-masing akan menjadi kamar Rheana dan Cakra.
Benar, Cakra enggan tidur satu kamar dengan Rheana kecuali saat pria itu sedang membutuhkan kehangatan dari Rheana.
Ini sudah waktunya makan malam, dan Rheana berniat untuk memasak makan malam, namun saat ia membuka kulkas, tidak ada apapun selain minuman bersoda.
“Tidak ada yang bisa aku masak disini,” gumam Rheana lalu menutup kembali pintu kulkasnya.
Cakra tiba-tiba datang, tanpa melirik apalagi bicara kepada istrinya, pria itu langsung membuka kulkas dan mengambil minuman soda.
Rheana memperhatikan Cakra yang menenggak minuman dingin tersebut dengan gelisah, pasalnya ia ingin meminta izin belanja sekarang, namun takut tidak diizinkan.
“Kak, tidak ada bahan masakan di sini. Boleh tidak aku pergi berbelanja di supermarket, hanya sebentar saja.” Ucap Rheana pelan.
“Ini sudah malam, kau memang suka keluar malam atau ingin kabur hah?” tanya Cakra dengan tatapan menyidik.
Rheana menggelengkan kepalanya. “Bukan begitu, Kak. Aku benar-benar ingin belanja saja, kita harus makan malam ‘kan.” Jelas Rheana.
Cakra hanya diam dan langsung pergi meninggalkan Rheana, dan hal itu membuat Rheana terdiam sambil menatap kepergian suaminya.
Rheana ikut pergi dari dapur, ia juga tidak mungkin pergi belanja sekarang sebab Cakra belum memberinya uang, ditambah lagi ia tidak diizinkan. Kalau pun ia nekat pergi, bisa-bisa ia habis di marahi oleh Cakra.
“Jadi aku harus makan apa, sementara uang di tabunganku sudah sangat menipis.” Gumam Rheana diakhiri helaan nafas.
Rheana duduk di sofa yang ada di sana, ia hanya diam saja tanpa melakukan apapun dan tiba-tiba ponselnya bergetar yang menandakan ada notifikasi masuk.
Rheana membuka notifikasi di ponselnya, ia melihat ada dana yang masuk ke rekeningnya dalam jumlah besar.
"Gunakan uang itu untuk belanja dan membeli kebutuhan rumah ini." Ucap Cakra yang tiba-tiba sudah berada di belakang Rheana.
Rheana bangkit, ia menatap Cakra dengan kening mengkerut.
"Sebanyak ini?" tanya Rheana.
"Ya, anggap saja itu juga sebagai bayaranmu yang kedepannya akan mengurus apartemenku." Jawab Cakra datar.
Rheana tersentak, lagi dan lagi Cakra seakan menempatkan dirinya sebagai pelayan, namun ia harus tetap tenang.
"Tapi aku menganggap ini sebagai bentuk nafkah dari kamu, Kak. Ini nafkah seorang suami untuk istrinya." Sahut Rheana kemudian pergi.
Cakra menatap kepergian Rheana dengan heran. Bagaimana tidak heran, mendengar jawaban istrinya tadi itu baginya aneh.
Rheana yang biasanya akan melawan atau menangis justru kini terlihat tenang.
Cakra menghela nafas, ia seharusnya tahu bahwa Rheana adalah gadis yang patah semangat dan keras kepala.
__ADS_1
Untuk malam ini, mereka akan makan dengan memesan secara online dan yang memesannya tentu saja adalah Rheana.
Mereka makan di kamar masing-masing karena Cakra langsung pergi begitu saja usai Rheana berikan makanan nya.
"Entah sampai kapan kondisinya seperti ini, sebenarnya dimana kak Velia." Gumam Rheana menatap putihnya nasi di piring.
Keesokan harinya, Rheana bangun pagi-pagi sekali karena ingin membuat sarapan. Karena belum ada bahan yang bisa ia masak, Rheana akhirnya hanya membuat roti saja.
Cakra datang dengan pakaian yang sudah rapi. Jas hitam, kemeja putih dan dasi biru membuat penampilan pria itu sangat tampan.
"Selamat pagi, Kak. Aku hanya membuat roti saja, karena aku belum belanja bahan masakan." Ucap Rheana memberikan roti yang sudah ia olesi dengan selai kepada Cakra.
"Rapikan kamarku, dan jangan lupa mencuci pakaian yang sudah motor." Ucap Cakra kemudian pergi begitu saja tanpa memakan sarapan yang Rheana buat.
Rheana menatap kepergian Cakra dengan sedih. Ia sudah membuatkan sarapan nya, namun Cakra justru tidak memakan sama sekali.
"Aku yakin suatu hari nanti, kau akan mengatakan bahwa kau ingin sarapan yang aku buat, Kak." Lirih Rheana menundukkan kepalanya.
Rheana menyeka air matanya, ia segera pergi meninggalkan dapur untuk membersihkan kamar Cakra.
Saat Rheana masuk, ia terkejut melihat kondisi kamar yang benar-benar berantakan, bahkan pakaian yang kemarin ia rapikan bercecer di lantai.
"Tega sekali kamu, Kak." Gumam Rheana.
Rheana mengencangkan ikatan rambutnya, ia menarik nafas lalu membuangnya dengan cepat.
Rheana mulai merapikan kamar itu dari ranjang, ia mengganti sprei dan memasukkan sprei lamanya ke dalam keranjang cucian kotor.
Selanjutnya ia melipat pakaian, menyapu bersih lantai dan mengepelnya.
Hanya dalam 30 menit, kamar Cakra yang awalnya seperti kapal pecah kini sudah bersih.
Rheana keluar dari kamar Cakra dengan membawa keranjang baju kotor, ia akan mencuci dengan mesin, sebelum nanti pergi berbelanja.
Rheana yang terlahir sebagai anak orang kaya tidak membuatnya buta akan pekerjaan rumah tangga, buktinya ia bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus.
Sambil mencuci, Rheana pergi ke kamar nya untuk menyapu dan mengepel lantai.
"Capek juga 'ya," celetuk Rheana seraya menyeka keringat yang mengalir dari dahinya.
Selesai mencuci pakaian, Rheana menjemur nya di balkon kamar Cakra, karena hanya disana yang ada balkon dan bisa menjemur pakaian.
Pakaian yang Rheana cuci tidak terlalu banyak, hanya saja ada sprei yang membuatnya terlihat banyak.
Pekerjaan Rheana di hari pertama telah beres, kini ia harus mandi dan pergi berbelanja sebelum makan siang.
__ADS_1
"Hari ini aku sudah terlambat bangun untuk menyetrika pakaian, jangan sampai aku terlambat lagi untuk memasak makan siang, aku bisa habis oleh kak Cakra." Gumam Rheana.
***
Tepat jam 10 pagi, Rheana keluar dari apartemen nya dan tidak lupa untuk mengunci pintu. Ia akan pergi ke supermarket untuk belanja kebutuhan.
Rheana pergi dengan naik taksi, ia pergi ke supermarket yang paling dekat agar bisa menghemat waktu.
Sesampainya di supermarket, Rheana langsung mengambil troli dan memasukkan bahan masakan yang ia butuhkan.
Rheana tidak perlu menghitung jumlah barang yang ia beli, sebab uang yang Cakra berikan pun lebih dari cukup.
Saat Rheana sedang memilih daging dan seafood, tiba-tiba saja ada yang memanggilnya.
"Kak Rhea." Panggil Ryan.
Rheana menoleh, ia melihat ada adik dan juga mamanya disana.
"Ryan, Mama." Rheana segera mendekat.
Rheana menyalami tangan sang mama meskipun terlihat Mama Erina ragu menerima sapaan sopan darinya.
"Ma, apa kabar?" tanya Rheana lirih, sedih dan rindu menjadi satu sekarang.
"Ryan, Mama akan cari kebutuhan lain." Mama Erina langsung pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Rheana.
Rheana tidak kuat, ia meneteskan air matanya melihat reaksi yang sang Mama berikan.
Ryan yang melihat itu tentu saja sedih, namun ia bisa apa.
"Kak, gimana kabar lo? Apa kak Cakra memperlakukan lo dengan kasar?" Tanya Ryan seraya memegang lebam di pergelangan tangan Rheana.
Rheana menarik tangannya. "Gue baik-baik aja, Ryan." Jawab Rheana.
"Gue kangen banget sama lo, kangen kita kumpul sama-sama. Kenapa suasana nya jadi gini," lirih Ryan menundukkan kepalanya.
"Semua orang benci gue." Balas Rheana diakhiri senyuman getir.
"Kak, lo harus kuat, lo harus buktiin ke semua orang kalo lo nggak salah, terutama ke kak Cakra." Ucap Ryan dengan semangat.
"Gue nggak tau gimana caranya, semua orang nggak ada yang dukung gue sama sekali." Balas Rheana pasrah.
"Gue dukung lo, dan gue juga percaya kalo lo nggak melakukan pembunuhan ke kak Velia." Sahut Ryan dengan yakin.
Rheana menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca. Beruntung sekali ia memiliki adik yang percaya padanya, dan hanya Ryan yang begitu.
__ADS_1
SEMANGAT MBAK RHEAA✨
Bersambung.......................