
Rheana sampai di kampus dengan sedikit paksaan. Entah mengapa, pagi tadi setelah suaminya berangkat bekerja, Rheana merasakan seluruh tubuhnya lemas, tidak bertenaga.
Awalnya ia ingin istirahat saja dirumah, namun ia urungkan karena merasa bosan, akibatnya sekarang di kelas ia hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di meja.
"Ada apa denganmu?" tanya Fikri yang baru saja datang.
Rheana mengangkat kepalanya sebentar, lalu menggeleng.
"Tidak, aku hanya sedikit pusing dan lemas." Jawab Rheana pelan.
Tangan Fikri terulur untuk menyentuh kening Rheana, dan itu membuat Rheana terkejut.
"Ck, kenapa tiba-tiba? Kau membuatku terkejut!" decak Rheana kesal.
Fikri mengerutkan keningnya, tidak biasanya temannya itu sensitif begini. Biasanya Rheana santai dan selalu lembut.
"Kau kenapa, hari ini sensitif sekali?" tanya Fikri terheran-heran.
Rheana mengangkat bahunya acuh, ia kembali merebahkan kepalanya di atas meja dengan mata terpejam.
"Hari ini kau kurang baik sepertinya, padahal aku ingin berbagi cerita." Ujar Fikri berdecak.
Rheana membuka matanya. "Katakan saja, aku akan mendengar dan mengeluarkan pendapat jika perlu." Sahut Rheana.
"Kau ingat aku pernah bilang bahwa aku jatuh cinta?" tanya Fikri yang dijawab anggukan oleh Rheana.
"Besok aku akan pergi selama tiga hari, dan aku akan mengajak gadis yang aku cintai. Menurutmu, apakah aku harus menyatakan cintaku di sana?" tanya Fikri meminta pendapat.
"Dimana?" tanya Rheana kini duduk dengan tegak.
"Surabaya." Jawab Fikri langsung.
Rheana manggut-manggut, tidak ada salahnya menyatakan cinta. Cinta bisa diutarakan dimana saja.
"Silahkan saja, dan menurutku itu bagus. Tapi siapa nama gadis itu?" tanya Rheana kepo.
"Dia gadis yang cantik dan sangat baik, namanya Velia." Jawab Fikri dengan sumringah.
Senyuman di wajah Rheana luntur, ia terdiam mendengar nama wanita yang disebut oleh temannya.
Nama itu, adalah satu nama yang pernah begitu ia ingat dan ia sayangi, namun semenjak tuduhan besar yang terjadi, kini ia sangat membenci nama itu.
"Rhe." Fikri melambaikan tangannya di depan wajah Rheana yang terdiam.
Rheana tersadar, ia menatap sahabatnya dan lanjut mendengar cerita kebaikan sosok Velia yang dikenal oleh Fikri.
Mustahil jika Velia yang Fikri katakan adalah kakaknya, sebab semua sifat yang Fikri sebutkan sangat berbalik arah.
Tanpa terasa jam perkuliahan telah selesai, Rheana keluar dari kampus pukul 12 siang. Memang, hari ini ada sedikit keterlambatan pulang karena dosennya datang telat.
Rheana pulang dengan naik taksi online, ia selalu menolak ajakan Fikri yang ingin mengantarnya.
Sesampainya di apartemen, Rheana masuk dan langsung merebahkan tubuhnya di kamar.
Ia sudah sangat lemas, tidak bertenaga. Belum lagi pusing di kepalanya dan perut yang sedikit melilit.
"Aduhh … apa gue salah makan ya, perasaan tadi pagi nggak apa-apa." Gumam Rheana memijat kepalanya sendiri.
Rheana memutuskan untuk tidur, ia akan mengistirahatkan otak dan pikirannya sebelum nanti masak makan malam dan membantu suaminya berkemas.
__ADS_1
Rheana tidur tanpa mengganti pakaiannya dulu, ia benar-benar tidak kuat untuk bangun lagi saat ini.
***
Jam menunjukkan pukul 3 sore, dan sampai saat ini Rheana belum bangun dari tidurnya. Tanpa Rheana tahu, bahwa suaminya pulang cepat, dan baru saja sampai.
"Sayang." Panggil Cakra seraya melonggarkan dasinya.
Mata Cakra menelisik ke seluruh ruang tamu, namun tidak ada istrinya. Cakra memutuskan untuk langsung ke kamar, karena jika Rheana ada di dapur, sudah pasti akan menghampirinya.
Cakra membuka pintu kamar, ia melihat Rheana tidur. Cakra menutup pintu kamarnya dengan pelan, agar tidak membangunkan istrinya.
Cakra mendekat, ia duduk di sebelah Rheana kemudian memberikan kecupan kasih sayang di kening istrinya.
"Sayang." Bisik Cakra tepat di telinga Rheana.
Rheana menggeliat, namun tidak kunjung membuka matanya, hal itu membuat Cakra terkekeh.
"Sayang, aku pulang." Bisik Cakra lagi, dan kali ini berhasil membangunkan istrinya.
Rheana membuka mata, ia terkejut melihat suaminya disana, namun ia juga senang bahkan langsung memeluk Cakra.
"Maaf ya aku membangunkan mu." Ucap Cakra seraya mengusap punggung istrinya lembut.
Rheana menggeleng manja. "Kepalaku pusing sekali sampai ketiduran." Ucap Rheana memegangi kepalanya.
Cakra menunduk, ia mencium bibir istrinya cepat. "Yaudah, kamu istirahat aja. Nggak usah masak, kita bisa beli." Tutur Cakra penuh perhatian.
Rheana mengangguk patuh, ia akan menuruti ucapan suaminya karena saat ini dirinya benar-benar lemas dan terus ingin rebahan.
"Aku mandi dulu ya, biar kamu cium sama peluknya enak." Ucap Cakra seraya menangkup wajah cantik Rheana.
Rheana ikut bangkit, ia mengambil jepitan di nakas kemudian mencepol rambutnya asal.
"Kak ihhhh!!" pekik Rheana terkejut.
Cakra tertawa, ia bangkit dari duduknya kemudian langsung pergi ke kamar mandi sebelum mendengar suara amarah istrinya.
Sementara Rheana hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
Rheana menyiapkan pakaian untuk suaminya, sekaligus membuat jus. Ia kembali ke kamar dengan segelas jus yang ia letakkan di meja.
Tidak beberapa lama, Cakra pun keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Kak, pakai bajunya di dalam aja." Ucap Rheana tanpa menatap suaminya.
Cakra tersenyum jahil, ia mendekati Rheana kemudian menarik pinggang istrinya hingga kini tubuh mereka menempel.
"Mau jatah sebelum pergi." Bisik Cakra dengan mata yang terus memandang takjub kecantikan istrinya.
Rheana menghela nafas, ia mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Tapi beliin ice cream ya abis ini?" tawar Rheana dengan mata berbinar.
Cakra tertawa, jangankan ice cream, ia bahkan bisa membeli pabriknya untuk sang istri tercinta.
Istri tercinta??
Cakra segera menggendong istrinya dan membawanya untuk berbaring di atas ranjang. Ia melucuti pakaian Rheana, dan melepaskan handuk yang menutupi tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Kak, i want you." Rheana membuka tangannya lebar yang tentu saja disambut baik oleh Cakra.
Cakra mencium bibir istrinya dalam-dalam, menyesap dan menariknya hingga membuat wanita di bawahnya mengerang.
"Kamu cantik, kamu istriku, Rheana." Ucap Cakra sambil merancau.
Rheana tersenyum, ia senang mendengar pengakuan Cakra. Ia selalu merasa ingin terbang setiap kali Cakra memanggilnya sayang, cantikku dan istriku.
Tiga panggilan itu selalu berhasil mendobrak hati Rheana hingga pasrah diperlakukan seperti apapun oleh suaminya.
"Kak, ahhh."
Cakra semakin mempercepat ritme permainannya, ia begitu menikmati setiap jepitan istrinya dibawah sana, belum lagi wajah cantik Rheana yang terlihat begitu menikmati.
Cakra menunduk untuk mencium kening istrinya, bersama dengan dirinya mendapat kepuasan tiada tara.
Cakra berbaring di sebelah Rheana, menarik tubuh mungil istrinya lalu memeluknya erat.
Sore itu menjadi sore yang panas untuk Cakra dan Rheana. Rheana yang baru bangun harus kembali tidur karena kelelahan melayani napsu suaminya yang menggebu.
Malam hari pun datang, Cakra memesan makanan via online dan menyajikannya untuk dirinya dan istrinya.
Rheana hanya diam sambil menatap suaminya, ia benar-benar tidak dibiarkan untuk melakukan apapun oleh Cakra.
"Habiskan ya, Sayang. Kamu mau nasi goreng sama ice cream kan tadi," tutur Cakra lembut.
Rheana mengangguk, ia kemudian menyantap makanan yang dibeli oleh Cakra sebelum nanti menghabiskan sekotak ice cream yang ada disana.
"Setelah ini aku bantu kamu berkemas ya, Kak." Ucap Rheana mulai menyebut Cakra 'kamu' dan bukan 'kau' lagi.
Cakra tersenyum seraya mengusap kepala istrinya. "Iya, Sayangku." Balas Cakra.
Meraka makan malam bersama dengan diiringi obrolan serta candaan. Sesekali Cakra juga akan menggoda Rheana yang penampilannya saat ini sedikit berbeda.
Banyak bercak merah di leher istrinya, dan jika dada Rheana terlihat, maka akan semakin banyak bercak ciptaan Cakra disana.
Selesai makan malam, Rheana pun membantu suaminya berkemas. Ia menyusun pakaian dan kebutuhan Cakra yang lain dengan begitu rapi.
"Kak, aku bawakan kamu vitamin. Jangan lupa untuk di minum ya," tutur Rheana seraya menyimpan Vitamin yang ia bawakan.
"Iya, Sayang." Sahut Cakra manggut-manggut.
Rheana meletakkan koper yang sudah beres itu di depan lemari pakaian, kemudian menyiapkan pakaian suaminya untuk berangkat besok.
"Jam berapa pesawatnya, Kak?" tanya Rheana seraya memilih dasi di lemari.
Tidak ada jawaban dari Cakra, namun Rheana merasakan sebuah pelukan di perutnya.
"Aku akan merindukanmu, bahkan sangat." Bisik Cakra tepat di telinga Rheana.
Rheana tersenyum simpul, ia mengusap lengan Cakra lalu naik ke wajah tampan suaminya.
"Aku juga, Kak." Balas Rheana.
Cakra membalik badan Rheana sehingga kini posisinya saling berhadapan.
Ia menggenggam tangan istrinya lalu menciumnya berulangkali.
"Rheana, aku mencintaimu."
__ADS_1
DOUBLE UPDATE NGGAK??
Bersambung...........................