
"Fikri, maaf ya. Aku kelamaan di toilet," ucap seseorang yang begitu dikenali oleh Cakra.
Cakra membalik badan dengan ragu. Ia berdiri tegak dengan wajah tegang dan mulut yang sedikit terbuka.
Mata Cakra terlihat berkaca, ia terkejut melihat siapa yang saat ini berdiri tepat di hadapannya.
Sosok wanita berbaju navy yang tampak cantik, dengan senyuman yang belum berubah.
"Velia." Panggil Cakra pelan.
Velia menoleh, ia mengerutkan keningnya ketika namanya di panggil oleh pria yang tidak dikenal olehnya.
Velia menatap Fikri untuk bertanya.
"Oh iya, Vel. Kenalin, ini Cakra, suaminya temanku." Ucap Fikri memperkenalkan.
"Dan pak Cakra, bagaimana bisa anda kenal dengan kekasih saya?" tanya Fikri bingung.
Cakra langsung menatap Fikri dengan tajam. Telinganya tidak salah dengar pertanyaan Fikri berusaha, yang mengatakan bahwa Velia adalah kekasihnya.
"Kekasihmu?" tanya Cakra menyipitkan matanya.
"Iya, Pak. Bagaimana anda bisa mengenalnya?" tanya Fikri lagi.
Cakra tidak menjawab, ia beralih menatap Velia dan mendekatinya selangkah.
"Velia, kamu kemana saja?" tanya Cakra seraya meraih tangan Velia.
Velia kaget, ia menepis tangan Cakra kemudian menggandeng tangan Fikri dengan wajah yang ketakutan.
"Vel." Panggil Cakra lirih.
Fikri menyembunyikan Velia dibelakangnya, ia mendekati Cakra dengan wajah yang masih terlihat bingung.
"Pak, anda membuat kekasih saya ketakutan." Ucap Fikri pelan.
Cakra mencengkram kerah baju Fikri. "Dia tunangan ku." Tekan Cakra dengan mata penuh kilatan amarah.
Fikri tersentak, ia menatap Cakra dengan mulut yang terbuka, memperlihatkan banyak sekali pertanyaan yang berputar di otaknya.
"Apa maksud anda, Pak?" tanya Fikri seraya melepaskan cengkraman tangan Cakra dengan kasar.
__ADS_1
Cakra tidak menjawab, ia hendak meraih pergelangan tangan Velia, namun dihentikan oleh Fikri.
"Jangan berani menyentuh kekasih saya!" tegas Fikri mulai hilang kesabaran.
"Dia tunanganku, Brengsekk!!" umpat Cakra tidak kalah emosi.
"Anda sudah menikah! Bagaimana mungkin anda punya tunangan?" tanya Fikri tidak kalah tinggi.
"Bukan urusanmu." Jawab Cakra ketus.
"Velia, kamu kemana saja. Ayo kita pulang, semua orang sedih karenamu," ajak Cakra dengan lembut.
Velia terdiam, ia tidak mengerti dengan apa yang pria itu katakan. Ia takut, hingga hanya diam sambil memegang tangan Fikri.
"Anda terlalu banyak bicara, Pak. Berhenti omong kosong, ingatlah Rheana. Istrimu itu!" ujar Fikri dengan tegas.
Cakra terdiam, ia seketika teringat dengan wanita itu. Wanita yang merupakan istrinya, seorang gadis yang ia nikahi beberapa bulan lalu.
Cakra mundur selangkah dari Fikri, ia menatap ke segala arah lalu pergi dari pesta itu.
Cakra kehilangan konsentrasi dan semangat untuk melanjutkan pesta. Velia, wanita itu adalah tunangannya yang tiada karena dibunuh oleh adiknya, lalu bagaimana sekarang bisa kembali.
Cakra kembali ke kamarnya, ia membanting pintu kemudian duduk di pinggir ranjang.
Cakra teringat tiap tangisan dan teriak pembelaan dari Rheana. Setiap penjelasan wanita itu yang mengatakan bahwa dirinya tidak pernah membunuh Velia.
"Aku nggak pernah bunuh siapapun, Kak. Aku tidak mungkin melakukan itu,"
"Velia adalah seorang penipu."
Cakra memejamkan matanya, telinganya terus terdengar tiap suara Rheana yang memohon kepercayaan semua orang.
Suara nyaring tamparan, dan tiap bentuk siksaan yang ia lakukan selama ini ternyata salah! Rheana mengatakan hal yang benar.
"Rheana." Panggil Cakra dengan lirih.
Cakra bangkit, ia mendekati meja rias disana kemudian mengacak-acak seisi meja. Parfum dari botol kaca kini pecah dan tidak berbentuk.
"Aghhhhh!!!" Teriak Cakra frustasi.
Cakra mengambil vas bunga yang ada disana, ia melemparkan vas itu ke cermin hingga pecah tidak karuan.
__ADS_1
Cakra keluar dari kamar dengan penampilan yang begitu berantakan. Tepat sekali Cakra bertemu dengan Fikri dan juga Velia yang ada di dalam lift.
"Kalian, aku ingin bicara!" tekan Cakra dengan mata penuh amarah.
"Fikri, aku takut." Lirih Velia ketakutan.
"Pak, anda membuat kekasih saya ketakutan." Ujar Fikri pelan.
Cakra tidak berkata apa-apa, ia langsung memegang tangan dua orang itu dan menariknya ke kamarnya.
"Pak, apa yang anda lakukan. Lepaskan kami!" Pinta Fikri dan berhasil, ia berhasil melepaskan tangannya dari cekalan Cakra.
"Aku hanya ingin mendengar penjelasan darinya. Kemana dia selama ini, dan bagaimana bisa kalian bertemu?" tanya Cakra kepada Velia.
Velia terdiam, kepalanya sakit mendengar suara Cakra yang tinggi.
"Katakan, Vel. Dimana kamu selama ini, jadi benar bahwa kau seorang penjahat? Kau menipu kami semua?" tanya Cakra bertubi-tubi.
"Pak!" tegur Fikri namun tidak di dengarkan oleh Cakra.
"Katakan semuanya Velia, sudah cukup kau berlari!" pinta Cakra tegas.
"Akhhh, kepalaku sakit." Ringis Velia seraya memegangi kepalanya sendiri.
"Vel, kamu nggak apa-apa?" tanya Fikri khawatir.
"Kepalaku sakit sekali, lebih sakit dari biasanya." Jawab Velia sambil meringis.
"Berhenti bersandiwara." Tekan Cakra tidak percaya.
Velia terus meringis, sampai akhirnya gadis itu jatuh tidak sadarkan diri dalam pelukan Fikri.
"Vel, buka matamu." Pinta Fikri penuh kekhawatiran.
Cakra terkejut menatap Velia yang tidak sadarkan diri. Ia ikut berlutut dan menepuk pipi wanita itu.
"Velia." Panggil Cakra lirih.
WAHHHH CAKRA GIMANA NIH? RHEA OR VELIA?
Nanti kalo sempet aku up lagi, balik kampus jam 9 malam tapi😬
__ADS_1
Bersambung...........................