
Seperti yang Abel katakan, malam ini dirinya dan Ryan akan menjaga Ayla. Sementara kedua orang tua bocah mungil itu akan berjalan-jalan bersama, menghabiskan malam indah yang cerah ini hanya berdua saja.
Usai acara bakar-bakar selesai, Cakra dan Rheana beranjak dari sana. Kini keduanya sedang berjalan menyusuri keindahan pantai di malam hari.
Ombak air laut yang sedang pasang membuat Cakra melarang istrinya yang ingin dekat-dekat ke bibir pantai.
Mereka berjalan dengan tangan yang saling bergandengan, dan kaki tanpa alas. Sandal mereka di tentang di tangan mereka masing-masing.
"Gendong sama aku sini." Cakra tiba-tiba berlutut di depan Rheana dengan posisi membelakangi.
Rheana terkekeh, namun ia tidak menolaknya. Rheana langsung naik ke atas gendongan suaminya. Tangan Rheana tidak lupa mengalung di leher sang suami.
"Aku berat nggak?" tanya Rheana ketika suaminya mulai bangun dan kini berdiri tegak.
Cakra terkekeh, ia menoleh lalu mencium pipi istrinya meski sedikit kesulitan.
"Lebih berat Ayla." Jawab Cakra bergurau.
Putri mereka itu memang gembul, tapi mustahil jika Ayla lebih berat dibandingkan Rheana. Cakra selalu saja bisa membuat Rheana senang.
"Mas ihh!" cibir Rheana menggigit pelan daun telinga suaminya.
Cakra bergidik, jika dirinya sudah digoda dibagian telinga, maka ia tidak akan tahan. Cakra ingin sekali membanting tubuh istrinya itu ke atas ranjang dan menghabiskan malam panas berdua.
"Sayang." Panggil Cakra seraya membenarkan posisi gendongan istrinya.
"Apa, Mas?" sahut Rheana lembut.
"Sewa hotel yuk semalaman." Ajak Cakra dengan entengnya.
Rheana menutup mulut suaminya karena gemas. Bisa-bisanya Cakra mengajak menginap di hotel disaat mereka sudah tinggal di resort bersama keluarganya.
__ADS_1
"Pasti pikirannya yang tidak-tidak!" tebak Rheana yang jawabannya sangat benar.
"Gimana aku mau mikir positif, kamu aja gigit telinga aku." Sahut Cakra tidak mau kalah.
Rheana tertawa, ia bukannya berhenti menggoda suaminya, malah kembali menggigit dan meniup telinga Cakra sensual.
"Sayang!!!" rengek Cakra menepuk pelan bagian belakang istrinya.
Rheana gemas sekali, ia lantas mencium pipi sang suami lalu berpindah ke bahunya.
"Suami aku gemesin banget, jadi pengen aku jual." Pungkas Rheana membuat keduanya tertawa.
Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya Rheana dan Cakra pun berhenti melangkah dan duduk diatas hamparan pasir yang sangat lembut.
Rheana memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang menerpa wajah dan seluruh tubuhnya. Itu terasa sangat menyejukkan.
Sementara Cakra, pria itu bukan menikmati pemandangan pantai. Baginya, wajah Rheana jauh lebih indah dari pemandangan di depannya.
Cakra merapikan rambut Rheana yang berterbangan, hal itu sontak membuat Rheana membuka mata dan menoleh padanya.
Rheana membalas perlakuan Cakra dengan mengusap wajah pria tampan itu. Pria tampan yang hanya dimiliki oleh Rheana seorang, eh Ayla juga.
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku bisa mengerti," balas Rheana penuh pengertian.
Cakra memegang bahu istrinya dan mengusapnya pelan, membuat Rheana reflek menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Mereka berdua menikmati saat-saat berdua seperti ini. Rasanya sudah lama mereka tidak begini, sebab Rheana sibuk dengan Ayla.
"Sayang." Panggil Cakra tanpa menghentikan usapan tangannya di bahu sang istri.
"Hmm." Balas Rheana berdehem.
__ADS_1
"Ayla sudah pantas punya adik atau belum sih menurut kamu?" Tanya Cakra.
Rheana mendongak, ia mengusap-usap dagu Cakra lalu semakin menduselkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Pantas saja, jika memang Tuhan berkehendak." Jawab Rheana dengan artian bahwa Rheana sudah siap untuk hamil lagi.
Cakra melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah sang istri hingga kini mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Kamu udah siap punya anak lagi?" Tanya Cakra tampak bahagia.
"Setelah dipikir, bukankah menyenangkan memiliki banyak anak. Yang penting kamu masih semangat bekerja, sehingga kehidupan anak-anak kita terjamin." Jawab Rheana menjelaskan.
Cakra mencium kening Rheana dengan cepat.
"Tentu saja, aku akan selalu bekerja keras demi masa depan anak-anak kita yang cerah." Kata Cakra lalu kembali mendekap tubuh istrinya.
Rheana membalas pelukan suaminya. Dulu ia selalu menolak untuk hamil lagi, tapi setelah dipikir-pikir, rasanya tidak buruk juga.
Pernikahannya dan Cakra pasti akan bertambah bahagia jika banyak anak. Yang penting mereka mampu untuk membesarkannya.
Rheana mendongakkan kepalanya saat Cakra memegang dagunya. Ia memejamkan mata ketika merasakan ciuman Cakra di bibir terasa begitu lembut dan penuh perasaan.
Rheana dan Cakra selalu sama-sama terbuai dengan rasa bibir yang mereka miliki. Bibir Cakra yang semanis cherry dan bibir Cakra yang hangat dan memabukkan.
Mungkin sederhana, namun apa yang mereka lakukan malam ini sudah cukup. Rheana dan Cakra pun memutuskan untuk kembali ke resort.
Hari semakin malam, ditambah lagi mereka takut jika Ayla menangis dan ingin minum susu. Mungkin Cakra dan Rheana akan melanjutkan keromantisan ini di kamar nanti.
"Mau gendong lagi?" tawar Cakra, namun Rheana menggelengkan kepalanya.
"Jangan, kamu butuh tenaga banyak untuk puasin aku malam ini." Tolak Rheana diakhiri dengan kedipan mata yang genit.
__ADS_1
DUHH MAMA RHEAA SIAP PUNYA ANAK LAGI GUYS😅
Bersambung..................................