
Rheana membuka matanya dengan penuh semangat, hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah suaminya yang masih asik memeluknya erat.
Rheana menoleh, ia terkekeh geli sekaligus kasihan melihat Ayla yang dicueki dibelakangnya sementara dirinya malah asik memeluknya papanya.
Rheana sedikit mengangkat tubuhnya, ia mencium kening dan pipi kiri Cakra dengan penuh kasih sayang.
Cakra tidak terbangun, pria itu tampak begitu pulas dengan tidurnya. Bahkan saat Rheana melepaskan pelukannya pun Cakra tetap tidur.
"Ih papa ngantuk banget ya, masa udah di peluk sama cium nggak bangun." Celetuk Rheana lalu menciumi lagi seluruh wajah suaminya.
Cakra tidak terbangun, justru Alya lah yang bersuara sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Nah kan, malah anak mama yang bangun. Cup .. cup, anak mama." Rheana menggendong Alya dan menimang-nimangnya.
Rheana menggendong baby Ayla, ia pun membawa anaknya ke balkon kamar untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi yang hangat.
Rheana membuka baju Ayla, kata mama Mila dan mama Erina, akan lebih sehat jika bajunya dibuka saat berjemur begini, sehingga sinar matahari yang mengandung vitamin D itu bisa terserap langsung oleh tubuh.
"Abis ini mandi ya, Cantik Mama. Duhh cantik banget anak mama Rheana sama papa Cakar." Kata Rheana sedikit membelokkan nama suaminya.
"Eh kok papa Cakar, papa Cakra dong. Ihh Adek sembarangan ngomongnya." Celetuk Rheana asik bercanda dengan Ayla.
Setelah beberapa menit berjemur, Rheana kembali ke dalam kamar. Ia harus memandikan Ayla sekarang, setelah itu baru ia mengurus suaminya.
Rheana sudah belajar memandikan bayi sehingga ia bisa melakukannya sendiri, meskipun masih ada rasa takut sedikit.
Ayla mandi dengan air hangat tentunya, ia yang di sabuni dan diberi shampo kini benar-benar harum dan membuat Rheana tidak bosan menciumnya.
Rheana membaringkan putrinya diatas ranjang, ia mulai mengeringkan baby Ayla dengan handuk lalu memakaikan minyak telon yang khas untuk para baby.
Disusul oleh bedak, dan barulah pakaian. Tidak lupa juga Rheana membedong putrinya seperti lontong.
"Yeay! Baby udah cantik, sekarang ke Oma dulu ya. Mama mau bangunin papa sekalian bantu siap-siap." Ucap Rheana seraya keluar dari kamarnya.
Rheana turun ke lantai bawah, ia pergi ke kamar mertuanya, lalu mengetuk pintu kamar itu.
"Ma, Pa." Panggil Rheana sopan.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, papa Wawan terlihat sudah memakai kemeja dan celana bahannya, hanya tinggal memakai jas.
"Cucu Opa sudah cantik." Ucap papa Wawan dengan riang.
__ADS_1
Rheana tersenyum, ia memberikan Ayla ketika papa Wawan ingin menggendongnya. Tidak lama, mama Mila muncul dari kamar mandi.
Mama Mila mendekati Rheana, ia melihat Ayla yang sudah cantik dan wangi, kemudian menciumnya bertubi-tubi.
"Harum banget cucu Oma, mau kemana Sayang?" tanya Mama Mila berceloteh.
"Ma, Pa. Aku titip Alya sebentar ya, mau bangunin mas Cakra dulu." Ucap Rheana kepada kedua mertuanya.
"Iya, Nak. Tenang saja, Ayla biar sama kami dulu." Tutur Papa Wawan lembut.
Rheana mengangguk kecil, ia pun pergi dari kamar mertuanya lalu kembali ke kamarnya sendiri.
Rheana mengambil handuk Ayla di ranjang, ia pergi ke balkon kamar untuk menjemur pakaian baby Ayla.
Ketika ingin berbalik badan untuk membangunkan Cakra, tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya yang sudah tidak sebesar saat hamil.
"Akhirnya bangun juga kamu, Mas." Ucap Rheana tanpa melihat, tentu saja Rheana tahu karena ia sangat mengenali bentuk tubuh dan rasa hangat pelukan suaminya.
"Kenapa, kangen ya, Ma?" tanya Cakra usil.
Cakra semakin mengeratkan pelukannya, ia menjatuhkan kepalanya di bahu sang istri lalu menciumi pipi Rheana dengan gemas.
"Ih, ngapain cium-cium." Tegur Rheana dengan manja.
"Kenapa? Nggak boleh?" tanya Cakra mengangkat kedua alisnya.
"Nggak." Jawab Rheana sewot.
"Enak aja nggak boleh, kamu aja tadi cium aku kan waktu bangun tidur." Sahut Cakra lalu mencium bahu dan leher istrinya.
"Oh jadi kamu pura-pura tidur?" tanya Rheana mengangguk-angguk pelan.
"Udah dong." Jawab Cakra lalu melepaskan pelukannya dan membalik tubuh istrinya.
"Dih cantik banget, untuk cuma punya aku." Celetuk Cakra tidak jelas.
Rheana hendak berucap, namun Cakra memotongnya duluan.
"Apa? Mau adu mulut atau adu bibir?" tanya Cakra menantang.
Rheana melotot, ia menggelitik perut Cakra hingga membuat pria itu tertawa tidak tahan. Cakra benar-benar tidak bisa jika di goda di bagian perut.
__ADS_1
"Hahaha, Sayang. Ampun, udahan ah geli!!" kata Cakra seraya berusaha menyudahi aksi istrinya.
Cakra duduk, ia lalu menarik tubuh istrinya hingga terjatuh diatas pangkuannya.
"Geli mama, Rheana. Kalo mau main geli jangan nanggung, sini dong." Ucap Cakra menunjuk lehernya.
"Gigit sampai merah ya?" Tanya Rheana seraya menarik turunkan alisnya.
"Iya." Jawab Cakra pasrah.
Rheana segera mencium dan menggigit leher suaminya, ia berhasil mencetak tanda kepemilikan di leher suaminya.
"Sayang, kirain bohong." Ujar Cakra mengusap-usap lehernya yang sakit, tapi enak juga.
Rheana tidak membalas ucapan suaminya, ia melirik jam di atas nakas dan sudah semakin siang.
"Udah sana mandi, kasihan papa nanti tungguin." Tutur Rheana kepada sang suami.
Cakra menggelengkan kepalanya membuat Rheana bingung, dan mengerutkan keningnya apalagi saat Cakra malah menjatuhkan kepalanya di pangkuannya.
"Nggak mau kenapa?" Tanya Rheana bingung.
"Aku mau mandi, tapi …" Cakra menggantung ucapannya dengan tatapan jahil.
"Apa? Mandi bareng? Nggak mau!" tebak Rheana disertai tolakan.
Cakra tertawa, ia bangkit dari posisinya lalu menggenggam tangan istrinya.
"Siapa yang mau ngajak mandi bareng, aku juga sadar puasa." Timpal Cakra masih tertawa.
Rheana menghela nafas. "Jadi kamu mau apa?" Tanya Rheana terkesan tidak sabar.
"Cieee, nggak sabar ya?" goda Cakra asik meledek istrinya.
Rheana geram, ia hendak melayangkan pukulan namun dihentikan oleh Cakra.
"Iya-iya maaf." Ucap Cakra takut.
"Cepetan, Mas. Kamu mau apa?" tanya Rheana kesal.
"Mau adu bibir, Sayang." Jawab Cakra dengan enteng.
__ADS_1
CAKRA, ENTE KADANG-KADANG 😫
Bersambung............................