
Rheana menata sarapan di meja makan. Seperti setiap harinya, hari ini ia juga sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan seperti menyetrika pakaian suaminya dan memasak sarapan.
Ketika selesai menata makanan, Cakra datang dengan penampilan yang sudah rapi, siap untuk pergi ke kantor.
“Selamat pagi.” Sapa Cakra dengan hangat.
Rheana membalasnya dengan senyuman singkat.
“Duduklah, Kak. Aku akan siapkan sarapannya,” tutur Rheana pelan.
Cakra mengangguk, pria itu langsung menarik kursi dan duduk, siap untuk menyantap sarapan yang istrinya buat.
Rheana melayani Cakra setiap hari, namun entah mengapa hari ini terasa begitu berbeda. Rheana merasa sedang diperhatikan oleh Cakra.
“Dimana makananmu?” tanya Cakra setelah Rheana selesai melayaninya.
“Aku akan sarapan nanti, Kak. Aku harus segera berangkat, jika tidak, aku bisa terlambat datang.” Jawab Rheana seraya mengambil tas miliknya di kursi.
Rheana hendak pergi, namun tangannya dipegang oleh Cakra yang mencegahnya untuk berhenti.
“Duduk dan sarapanlah, Rhe. Aku akan mengantarmu setelah ini,” tutur Cakra dengan lembut.
Rheana terdiam, entah sikap apalagi sekarang yang sedang Cakra tunjukkan. Ia baru pertama kali mendengar Cakra mau mengajaknya duluan.
“Tidak, Kak. Aku berangkat sendiri saja,” jawab Rheana menolak.
Cakra menghela nafas, ia mengalihkan pandangannya sebentar, lalu kembali menatap Rheana.
"Jika aku bilang ini perintah suami untuk istrinya, kamu mau nurut?" tanya Cakra dengan lembut.
Rheana terdiam sambil menahan nafas. Ia menatap Cakra sekilas, lalu memilih untuk duduk di kursi yang ada tepat di depan Cakra.
__ADS_1
Cakra tersenyum melihat Rheana yang kembali duduk, ia lalu menyodorkan piring makannya kepada istrinya.
"Makan duluan saja, Rhe." Tutur Cakra.
Rheana menggeleng, ia mengembalikan piring Cakra. "Aku akan mengambil makanan ku," balas Rheana.
Rheana mengambil makanan untuknya sendiri, ia tidak mengambil porsi banyak, hanya untuk mengganjal perut, sekaligus menuruti perintah suami, seperti yang Cakra katakan.
Untuk pertama kalinya, hari ini, Rheana dan Cakra sarapan bersama layaknya suami dan istri.
Meski belum ada perbincangan seperti orang-orang kebanyakan, namun setidaknya mereka sudah merasakan yang namanya kebersamaan.
"Ayo." Ajak Cakra seraya mengusap mulutnya dengan tisu.
Mereka telah menyelesaikan sarapan, dan Rheana selesai duluan, sehingga harus menunggu suaminya dulu.
"Kak, nasi." Ucap Rheana seraya menunjuk pipi Cakra.
Cakra memegang pipinya, dan benar bahwa ada nasi yang tertinggal disana.
Rheana mengekor dibelakang Cakra, ia tidak mau terkana marah pria itu sebab dirinya berjalan di sampingnya.
Lagi-lagi hal aneh terjadi, Cakra memegang pergelangan tangan Rheana lalu menariknya, hingga kini Rheana berada di samping suaminya.
"Kamu istriku, Rhe. Berjalanlah di sampingku," bisik Cakra tanpa menatap Rheana.
Rheana lagi-lagi hanya bisa menurut, sampai keduanya sudah berada di mobil, dengan Cakra yang mengemudi sendiri.
"Hari ini apa kamu yakin bisa datang ke kantorku?" tanya Cakra seraya menoleh sebentar ke arah Rheana.
Rheana menganggukkan kepalanya. "Iya, aku akan usahakan itu," jawab Rheana pelan.
__ADS_1
Cakra manggut-manggut, entah sadar atau tidak, tapi pria itu tiba-tiba mengusap kepala Rheana dengan lembut, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
Karena jalanan yang lumayan lancar, Rheana cepat sampai di kampusnya.
Sebelum turun, ia terbiasa mencium punggung tangan Cakra sebagai bentuk rasa hormat istri kepada suaminya.
Tapi jika biasanya Cakra akan cuek, hari ini berbeda.
"Boleh aku mencium keningmu, Rhe?" tanya Cakra meminta izin.
Rheana makin syok, ia menatap Cakra dengan mata membulat dan mulut terbuka sedikit.
"Jika tidak boleh, ya sudah." Lanjut Cakra pelan.
"Lakukan saja, Kak." Ucap Rheana tiba-tiba.
Cakra mendengar itu tentu saja tersenyum. Pria itu menangkup wajah cantik istrinya, lalu memberikan kecupan hangat di kening Rheana.
Rheana memejamkan matanya, meresapi setiap rasa yang baru pertama kali ia rasakan.
Sejak mereka menikah, ini kali pertama Cakra menciumnya bukan karena napsu semata.
"Belajar yang benar 'ya." Bisik Cakra lembut.
Rheana mengangguk, kemudian segera keluar dari mobil suaminya.
Cakra pun melajukan mobilnya meninggalkan kampus Rheana, dengan Rheana yang masih setia berdiri di tempatnya.
Rheana memegangi keningnya, tanpa sadar ia tersenyum mengingat apa yang baru saja ia alami tadi.
"Apa kak Cakra benar-benar menyesal?" gumam Rheana tersenyum sendiri.
__ADS_1
CIEEE MBA RHEAAA .....
Bersambung....................