Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Menolak keras


__ADS_3

Rheana datang ke rumah sakit tanpa Cakra, sebab suaminya itu barusan mendapatkan telepon dari Bagas dan meminta datang karena urgent.


Karena tidak bisa ditinggal, akhirnya Rheana pergi sendiri dan membiarkan suaminya untuk bekerja dan mencari uang untuknya dan untuk si baby Peachyyy.


Saat ini Rheana sudah ada di ruangan rawat Ryan yang belum juga sadarkan diri. Di ruangan itu ada kedua orang tuanya, Abel yang begitu setia menanti Ryan untuk siuman.


"Papa sudah mengurus untuk melaporkan Rizi itu? Pokoknya aku nggak rela ya, Pa. Dia harus menerima hukuman yang setimpal!" ujar Rheana seraya menggenggam tangan Ryan.


"Iya, Rhea. Papa juga akan cari pengacara yang bagus, karena kedua orang tua bocah itu juga seorang pengacara yang cukup ternama." Balas Papa Rama menganggukkan kepalanya dengan yakin.


Ditengah-tengah mereka yang sedang mengobrol, terdengar desisan dari mulut Ryan disertai mata yang perlahan terbuka.


Semua orang langsung menatap Ryan dengan tatapan berbinar, terutama Abel.


"Ryan sayang, akhirnya kamu sadar!" ucap Mama Erina seraya menghapus air matanya.


"Ma." Lirih Ryan pelan.


Ryan membalas pelukan sang mama yang tidak terlalu erat, mungkin karena mama Erina tahu bahwa punggungnya terluka.


"Ryan, mama nyaris mati setelah dengar kabar kamu." Ucap Mama Erina jujur.


"Jangan ngomong gitu, Ma." Tegur Ryan menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Tanya papa Rama seraya mengusap bahu putranya.


"Jauh lebih baik, Papa." Jawab Ryan berusaha untuk tersenyum.


Ryan beralih menatap Rheana, ia membuka tangan dengan maksud meminta peluk kepada kakaknya itu.


Rheana tidak berkata apa-apa dan langsung memeluk adiknya. Ryan ini adiknya yang tersayang, mana mungkin Rheana menolak untuk memeluknya.


"Sehat ya, Ryan. Kasihan tuh Abel nungguin terus," bisik Rheana sambil mengusap kepala adiknya pelan.


Ryan mengedarkan pandangannya, dan ia melihat Abel sedang berdiri di dekat pintu dengan mata berkaca-kaca.


Ryan tahu apa yang gadis itu rasakan saat ini, pasti rasa bersalah dan takut akan kemarahan kedua orang tuanya.


"Abel, ayo kemari. Kamu menunggu Ryan sejak kemarin kan," tutur Mama Erina lembut.


Abel tersenyum terpaksa, ia melangkah mendekati Ryan dengan langkah yang sedikit gontai akibat seluruh tubuhnya gemataran.


"Ryan, b-bagaimana keadaan kamu?" tanya Abel sedikit gugup.

__ADS_1


"Santai aja, Abel. Gue baik-baik aja, lo khawatir ya sama gue?" tanya Ryan sambil tertawa.


Abel hanya tersenyum menanggapi ucapan Ryan, saat ini ia tidak bisa berkata banyak karena masih ada keluarga Ryan. Ia sangat canggung dan takut disalahkan oleh keluarga Ryan nantinya.


"Ma, Pa. Aku mau nikah." Ucap Ryan tiba-tiba.


Papa Rama menatap putranya dengan tatapan biasa saja, sementara mama Erina sudah melotot dibuatnya.


"Heh?! Kuliah baru semester dua udah bahas nikah!" Tegur Rheana geleng-geleng kepala.


"Ck, Kakak. Aku mengatakan ingin menikah, tapi bukan sekarang juga." Sahut Ryan berdecak.


"Memang sudah ada calonnya?" tanya Papa Rama serius.


"Abel." Jawab Ryan dengan sangat enteng.


Abel melototkan matanya, ia menatap Ryan dengan tatapan terkejut, sekaligus penuh pertanyaan.


Rheana dan semua orang langsung menatap Abel yang terlihat begitu syok.


"Kamu jangan bercanda, Ryan. Lihat, Abel sampai melotot gitu!" tegur Mama Erina.


"Kami tidak bercanda, Ma. Kami juga saling cinta, jadi wajar kan jika memutuskan untuk menikah." Balas Ryan sudah sangat yakin.


Abel seketika menundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan papanya Ryan. Memang ia belum menceritakan bahwa ia tidak punya keluarga selain sang mama yang kini terbaring di rumah sakit.


"Yang papa katakan benar, Ryan. Kita akan membahas ini setelah kamu pulih." Tambah Mama Erina.


Rheana menatap Ryan dan Abel bergantian, ia tahu bahwa Abel merasa sedih ketika papanya mengungkit soal keluarga.


Rheana tahu tentang latar belakang hidup Abel dari Ryan, dan ia tidak mempermasalahkan itu. Rheana juga yakin bahwa kedua orang tuanya tidak memandang kasta dalam jodoh anak-anaknya.


Ryan juga menatap Abel, tangannya diam-diam menggenggam tangan gadis itu sebagai penguat agar Abel tidak sedih.


Ryan memasang wajah penuh senyuman saat Abel menatapnya.


"Tenang, oke." Ucap Ryan tanpa suara.


Abel hanya diam, meskipun ia tidak menyangkal bahwa hatinya merasa tenang setelah mendengar Ryan bicara bahwa mereka saling mencintai.


Entah sejak kapan Ryan mencintainya, Abel tidak tahu. Abel tidak akan mempertanyakan hal itu, karena baginya itu sudah cukup.


Ia juga sangat mencintai Ryan.

__ADS_1


Sementara itu di kantor polisi, terlihat Velia dan Fikri yang sedang duduk berhadapan dengan tiga orang manusia. Satu pelaku penusukan Ryan, dan sisanya ada pembela si pelaku.


"Jalur damai?" Tawa remeh Velia seketika tercipta setelah mendengar ajakan dari dua pengacara di hadapannya.


"Benar, Nona Velia. Apa kita tidak bisa untuk jangan membawa hukum, dan selesaikan masalah ini dengan kekeluargaan." Jawab Anto, ayah Rizi.


"Kekeluargaan? Kalian bukan keluarga kami, jadi jangan mengatakan hal itu." Timpal Fikri dengan datar.


"Tuan, Nona. Kami tahu anak kami salah, tapi semua ini terjadi karena dirinya sedang emosi setelah kekasihnya di rebut oleh adik kalian." Ucap Rika, ibu Rizi.


"Merebut kekasih? Ryan tidak pernah melakukan itu, dia hanya menolong Abel dari siksaan anak kalian." Balas Fikri tidak suka dengan statement yang di dengarnya.


"Kalian tahu? Jika Abel mau bersaksi nanti, maka hukuman putra kalian ini akan semakin berat. Pelaku kejahatan, dan penganiayaan terhadap Abel, serta rencana pelecehan terhadap gadis itu. Anak kalian ini adalah seorang penjahat!" Ucap Velia lagi dengan nafas memburu.


"Jaga mulut anda, Nona Velia Chandrama!" Rika bangkit dengan tangan yang mengacung di depan wajah Velia.


"Turunkan tangan anda sebelum saya benar-benar membuat anak kalian membusuk di penjara." Ucap Velia pelan dan tanpa emosi.


"Anak kalian sudah bermain-main dengan keluarga Chandrama. Mungkin kalian lupa bahwa kami juga kerabat keluarga Dharmawan, mereka tidak akan membuat anak kalian ini lepas dengan mudah." Lanjut Velia.


Velia bangkit dari duduknya, ia hendak pergi namun sebelum itu ia menatap Rizi yang masih menundukkan kepalanya, tidak mengatakan apapun sejak tadi.


"Rizi Mahesa, anda sudah menusuk adik saya dengan pisau, maka rasakan sakit itu di dalam penjara dengan hawa dingin yang menusuk anda." Ucap Velia penuh penekanan.


Velia pun pergi bersama Fikri. Fikri tahu bahwa istrinya itu sangat murka, bagaimana tidak. Seorang kakak yang selalu menjaga dan melindungi adiknya, justru adik itu malah dilukai oleh orang lain.


Velia tidak terima, ia akan membawa kasusnya ke jalur hukum, dan berjanji akan membuat Rizi mendapatkan hukuman yang berat.


Usia kepergian pihak korban, kini dia pengacara sekaligus orang tua pelaku tampak stress. Mereka mengenal dua keluarga yang tidak bisa dipandang sebelah mata.


Mungkin mereka pengacara, dan sering menangani kasus, tapi keluarga Chandrama dan Dharmawan memiliki segudang pengacara yang lebih-lebih dari mereka.


"Kenapa kamu berurusan dengan keluarga kaya seperti mereka, Rizi!!" Kesal Anto frustasi.


"Maaf, Pa. Aku tidak tahu jika keluarga Ryan sangat berpengaruh dan memegang kendali di hukum." Balas Rizi menangis pelan.


"Sudah tiada ada guna menyesal! Lagipula sejak dulu mama katakan untuk jangan terus membawa Abel dalam kehidupanmu, lihat bagaimana sekarang dia merepotkan kita semua!" Pungkas Rika dengan kesal.


Rizi tidak menjawab, ia tidak peduli lagi dengan hukuman yang akan diterimanya nanti. Mungkin kasus kejahatannya sudah banyak, dan ada satu kasus yang mungkin belum terbongkar.


"Dalam satu jam, kamu akan menangis karena kehilangan orang tersayang mu, Abelia." Batin Rizi dengan dendam yang sudah memenuhi seluruh tubuhnya.


HARI INI MUNGKIN 3 BAB, TAPI TIDAK JANJI✨

__ADS_1


Bersambung...............................


__ADS_2