Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Velia menemui Rheana


__ADS_3

Rheana menyeka air matanya yang tidak mau berhenti membasahi wajahnya. Ia teringat pada suaminya, suami yang begitu ia cintai, namun telah membohonginya.


Rheana tidak menyangka bahwa sikap manis Cakra selama ini hanyalah dusta, ia kira Cakra benar-benar sudah mempercayainya, tetapi kenyataanya tidak.


Rheana sedih melihat suaminya menangis dan memohon agar dimaafkan, tetapi Rheana tidak bisa, ia sudah cukup menderita selama ini.


Rheana memang mencintai Cakra, tapi ia juga manusia biasa yang memiliki hati. Sakit hatinya tidak bisa dibayarkan dengan kata maaf.


Saat ini Rheana seorang diri di kamar rawatnya. Cakra pergi setelah ia usir, sementara Ryan pergi untuk membelikan makanan.


Rheana yang belum berhenti menangis tiba-tiba saja dikejutkan oleh pintu yang terbuka lebar.


Disana, berdiri pria yang tampak berantakan. Sosok pria yang begitu berarti bagi Rheana, dulu maupun sekarang.


"Sayang." Panggil Cakra lirih.


Cakra melangkah mendekati istrinya, ia ingin mengusir suaminya itu, namun terhenti saat melihat Cakra tidak datang seorang diri.


"Rhea." Mama Erina berlari memeluk putrinya yang terbaring diatas bangsal.


"Ma, hiks …" Rheana kembali menangis, ia memeluk dengan erat tubuh ibunya.


"Kamu kenapa, Nak? Kenapa sampai masuk ke rumah sakit gini?" tanya Mama Erina lembut.


"Rheana keguguran, Ma." Jawab Cakra lirih.


Papa Rama yang ada disana tentu juga terkejut mendengar jawaban Cakra. Ia tanpa menunggu lagi langsung mencengkram kerah baju menantunya.


"Kamu apakah putriku sampai seperti ini, hah? Kamu membunuh cucuku, iya?!" tanya Papa Rama dengan emosi yang menggebu.


Cakra tidak menjawab, ia hanya diam dan pasrah jika papa Rama mau menghajarnya.


"Keterlaluan kamu, Cakra. Kamu jahat kepada Rheana yang tidak bersalah!" tambah Papa Rama berteriak.


"Rama." Semua yang ada disana menoleh, ternyata kedua orang tua Cakra juga datang.


Mama Mila mendekati Mama Erina dan juga Rheana.


"Rhea, Mama minta maaf ya." Ucap Mama Mila seraya menggenggam tangan menantunya.


Rheana bingung mengapa ibu mertuanya tiba-tiba meminta maaf. Rheana membalas genggaman tangan Mama Mila.


"Minta maaf untuk apa, Ma?" tanya Rheana bingung.


Sebelum Mama Mila menjawab, satu ruangan itu dikejutkan dengan suara tamparan yang terdengar begitu keras.


Papa Wawan menampar wajah Cakra dengan begitu keras bahkan sampai membuat pria itu tersungkur di lantai.


"Kak Cakra." Lirih Rheana, ingin sekali ia membantu suaminya, namun ia tidak sanggup.


Cakra mendongak, ia menatap wajah penuh khawatir istrinya dengan senyuman.


"Papa nggak seharusnya tampar kamu, tapi seharusnya papa juga menampar diri papa." Ucap Papa Wawan.

__ADS_1


"Kita semua disini bersalah, sama bersalahnya dengan Cakra. Selama ini kita tidak percaya bahwa Rheana bukan seorang pembunuh." Lanjut Papa Wawan sadar diri.


"Papa, maksudnya apa?" tanya Rheana semakin bingung.


Ia bingung kenapa mertuanya tiba-tiba minta maaf dan mengungkit masalah pembunuhan Velia.


"Kau benar, Wan. Aku juga sangat bersalah, karena sebagai ayah aku tidak mempercayai putriku sendiri." Ujar Papa Rama ikut-ikutan.


Papa Rama dan Papa Wawan menatap Rheana dengan penuh rasa bersalah.


"Kami minta maaf, Nak. Kami mohon maaf telah membiarkan Cakra menyiksa kamu selama ini," ucap Papa Wawan.


"Papa juga merasa tidak berguna, Papa tidak mempercayai putri papa sendiri." Sambung Papa Rama.


Rheana menatap sang Mama. "Ma, apa semua ini?" tanya Rheana bingung.


"Kamu lihat saja, Nak." Jawab Mama Erina lalu menunjuk ke arah pintu masuk.


Wajah Rheana yang bingung berubah terkejut melihat sosok yang berdiri di depan pintu. Wanita berbaju biru itu menundukkan kepalanya dengan bahu bergetar.


"Rhea." Panggil Velia dengan lirih.


Cakra yang mendengar itu pun ikut menoleh, ia merasa geram dan ingin menghabisi Velia karena telah membuatnya mengambil jalan yang salah.


"Kak Vel." Lirih Rheana berusaha untuk turun dari bangsal.


Rheana turun dengan dibantu oleh ibu dan ibu mertuanya. Tangannya memegangi perut yang terasa sakit.


Ia mungkin marah dan membenci Velia, tapi dalam hati kecil Rheana, ada rasa rindu kepada kakak yang dulu selalu perhatian kepadanya.


Velia mendekat, wanita itu bersimpuh di kaki adiknya sambil menangis.


"Rheana, hiks … tolong maafkan aku, maaf atas sikapku yang telah membuatmu begitu menderita." Ucap Velia sambil terus menangis.


"Aku mohon maafkan aku, Rhe. Aku berjanji akan menyerahkan diriku ke polisi asal aku mendapat maaf darimu." Lanjut Velia.


Tubuh Rheana bergetar, tangan yang seharusnya mendaratkan tamparan di wajah Velia, justru kini membangunkan wanita itu dari posisi yang bersimpuh.


"Bangunlah, Kak." Pinta Rheana pelan.


Velia bangun, ia menatap wajah adiknya yang begitu pucat dengan perasaan hancur. Adik yang seharusnya ia sayangi dan ia lindungi, justru malah ia dorong ke lembah siksaan seorang Cakra Dharmawan.


"Rhe …" tangan Velia terulur untuk memegang wajah adiknya.


"Kakak kemana saja?" tanya Rheana pelan.


Velia menggeleng. "Maafkan aku, Rhea." Bukannya menjawab, bibir Velia malah terus mengucapkan kata maaf.


"Aku sudah memaafkan kamu, Kak. Aku mungkin membencimu, tapi tidak bisa menutup kemungkinan bahwa kamu adalah kakakku." Balas Rheana dengan lembut.


Cakra menatap Rheana dengan mata berkaca-kaca, bagaimana mungkin, bagaimana mungkin Rheana memaafkan Velia dengan mudah.


Velia adalah penyebab ia menyiksa istrinya habis-habisan, seharusnya Rheana menyiksa Velia balik, tapi apa yang wanita itu lakukan.

__ADS_1


Cakra merasa sangat malu, ia malu terhadap dirinya sendiri yang tidak bisa melihat kebaikan di mata Rheana selama ini. Bukan hanya itu, bahkan ia juga mengabaikan ketulusan yang istrinya berikan.


"Sayang." Panggil Cakra pelan.


Rheana tidak menoleh sama sekali, ia malah membuang muka dengan mata terpejam.


"Berikan aku kebebasan, Kak. Di hadapan seluruh keluarga, tolong ceraikan aku." Pinta Rheana tanpa menatap suaminya.


Semua yang ada di sana begitu terkejut mendengar permintaan Rheana, namun mereka tidak bisa berkata apa-apa.


Rheana terbukti tidak bersalah, itu artinya Rheana punya keputusan sendiri untuk melanjutkan hidupnya.


"Nggak, Rhe. Aku nggak mau kita pisah, beri aku kesempatan." Pinta Cakra memohon.


Rheana menggeleng. "Sudah tidak ada yang bisa dipertahankan, bahkan anakku sudah pergi." Tolak Rheana.


"Rhea …" panggil Cakra penuh damba.


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, Ryan datang dengan makanan di tangannya. Ia yang awalnya tersenyum tiba-tiba menegang melihat kakak pertamanya ada disana.


"KAU!!!" teriak Ryan mendekati Velia.


Velia menatap adiknya, ia ingin memeluk Ryan namun dengan cepat di dorong oleh remaja itu.


"Dasar penjahat, mau apa kau kesini hah?! Tidak puas sudah membuat kakakku menderita?!" tanya Ryan dengan penuh kebencian.


"Ryan, kak Velia juga kakak kamu." Tegur Rheana lembut.


Ryan menggeleng. "Nggak! Semenjak dia menuduh kakak sebagai pembunuh, sejak saat itu aku hanya memiliki satu kakak." Tolak Ryan tegas.


Ryan beralih menatap Cakra. "Dan kau, kak Cakra. Cepat ceraikan kakakku, sudah cukup dia menderita karenamu selama ini." Tambah Ryan dengan kesal.


Rheana menangis tanpa suara, selama ini hanya Ryan yang rela menjadi tameng untuknya.


"Ryan." Tegur Rheana pelan, ia tidak mau adiknya sampai bicara tidak sopan kepada orang yang lebih tua.


"Kak Velia sudah kembali, maka menikah saja kalian. Kalian sangat serasi, sama-sama jahat dan tidak berperasaan!" ujar Ryan seketika membuat Rheana merasa sakit.


Hatinya sedikit berdenyut mendengar ucapan Ryan. Selama ini Cakra selalu menggumamkan nama Velia, dan memang wajar saja, karena hanya Velia yang Cakra cintai.


Rheana meringis, ia yang baru saja kehilangan anaknya merasakan sakit dibagian perutnya.


"Shhh … Ryan, bantu aku." Pinta Rheana sambil meringis.


Ryan dengan sigap membantu kakeknya untuk berbaring di atas bangsal. Cakra iri dengan Ryan yang terus diminta bantuan oleh Rheana.


Sementara dirinya yang merupakan suami hanya bisa diam. Cakra merasa sangat bodoh, ia menyesal telah menjadikan Rheana objek balas dendam selama ini.


Penyesalannya tidak berguna.


RYAN, AKU PADAMU🖤 BTW, HATI MBA RHEANA LUAS BANGET YA😫


Bersambung...........................

__ADS_1


__ADS_2