Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Keluarga kecil Cakra


__ADS_3

Rheana dan Cakra pulang karena hari semakin malam. Awalnya mama Erina meminta mereka berdua untuk menginap, namun Rheana menolak peralatan Ayla tidak dibawa, dan Cakra pun harus meeting pagi-pagi sekali besok.


Kini Cakra dan Rheana sudah berada di jalan. Rheana sibuk menyusui putrinya, sementara Cakra tentu saja menyetir mobil.


"Bobok, Sayang. Kamu bangun jam segini, nanti tidur lagi jam berapa." Bisik Rheana lembut.


Rheana mencium kening Ayla lalu turun ke kedua pipi dan bibirnya. Rheana selalu suka bau mulut baby.


"Anak mama cantik, bobok lagi ya sayang." Pinta Rheana lagi.


Ayla malah memegang bibir Rheana saat mamanya itu terus saja bicara. Bocah cantik itu bahkan menarik dan sedikit menekan sehingga seperti sebuah Cakaran.


"Ehh, kok mamanya di cakar. Jangan ya, Nak." Tegur Cakra seraya mengusap kepala babynya.


Ayla merancau sembari menunjuk-nunjuk Cakra, rancauan Ayla itu seperti memanggil papa, membuat Rheana dan Cakra tertawa.


"Anak mama pintar banget ih, cium coba cium." Rheana kembali menciumi seluruh wajah putrinya tanpa ada yang terlewat.


Cakra hanya tersenyum melihat istrinya yang begitu gemas pada Ayla. Namun rasa gemas Rheana tidak bisa melebihi Cakra yang menggigit putrinya.


Benar, Cakra sering sekali menggigit pipi atau bahkan jari Ayla hanya karena gemas, namun tentu saja tidak terlalu kuat.


Cakra bisa habis di maki-maki oleh Rheana jika putrinya terluka sedikit saja.


Ayla tidak bisa diam, beberapa kali ia mencoba untuk pindah ke pangkuan Cakra, namun Rheana tahan. Mana mungkin ia membiarkan suaminya menyetir sambil memangku Ayla.


Tidak di perbolehkan untuk duduk di pangkuan Cakra, Ayla langsung menarik dan merengek. Tangannya menepuk-nepuk dada Rheana berulang kali dengan tangan mungilnya.


Rheana terkekeh, begitu juga dengan Cakra. Mereka berdua selalu terhibur dengan segala tingkah dan kelucuan Ayla.


"Apa, mau apa sayang?" tanya Rheana sambil mengunyel pipi Ayla.

__ADS_1


Ayla semakin menangis, bahkan bocah itu sudah memasukkan tangannya ke dalam dada Rheana yang memang kancingnya belum ia tutup dengan benar.


"Nggak boleh nen, ini punya papa." Ucap Rheana seraya menggandeng dan menyandar di lengan suaminya.


Ayla semakin menangis. Sepertinya bocah itu sudah mengerti, ia cemburu melihat papa dan mamanya berdekatan. Maka dari itu, Cakra harus siap-siap menjauhi istrinya jika tidak mau Ayla ngambek.


"Kasihan anak aku, Sayang." Kata Cakra seraya mencium kening Rheana.


Rheana mendongak, ia mencium bibir suaminya singkat karena kebetulan ada lampu merah sehingga mereka bisa sedikit bermesraan.


"Lucu banget Ayla tuh, mirip istri kamu." Sahut Rheana dengan senyuman.


Cakra membalas senyuman istrinya, ia mengacak-acak rambut Rheana pelan.


"Istri aku kan kamu." Balas Cakra lalu mencium bibir istrinya lagi.


Suara klakson kendaraan membuat Cakra akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Malam ini ia harus mendapatkan jatah susu Ayla.


"Sayang, sekarang susuin Ayla dulu, nanti dirumah giliran aku ya." Goda Cakra mengedipkan sebelah matanya.


Rheana hanya mengangguk, ia punya topik pembicaraan lain yang lebih menarik, dan sudah lama ia ingin menyampaikannya kepada sang suami, namun lupa.


"Mas, aku mau ke pantai. Ajak Ayla main pasir, tapi kamu sibuk terus." Ucap Rheana sedih.


"Kamu kapan liburnya?" tanya Rheana kepada sang suami.


"Aku bisa libur kapan pun, Sayang. Mau ke pantai mana dan kapan?" tanya Cakra balik.


Ia sudah pernah mengatakan jika pekerjaan adalah nomor sekian, sedangkan istri dan anaknya adalah prioritas utama.


"Terserah kamu, mau yang dekat nggak apa-apa. Jauh juga nggak apa-apa." Jawab Rheana pasrah.

__ADS_1


Rheana sangat bersyukur Cakra memiliki posisi yang bagus di kantor, namun terkadang ia sedih sebab waktu untuk dirinya dan Ayla sangat sedikit.


Cakra biasa ada di rumah hanya Sabtu dan Minggu, itupun Cakra masih seringkali dihabiskan untuk bekerja.


Seperti paham dengan pikiran Rheana, Cakra tiba-tiba menggenggam tangan istrinya.


"Maafin aku ya, Sayang. Karena aku sibuk, aku suka lupa sama kamu dan Ayla," ucap Cakra penuh rasa bersalah.


Rheana tersenyum. "Iya, Mas. Aku juga minta maaf ya, aku tidak bisa ngertiin kamu. Kamu banyak pekerjaan, dan sibuk. Seharusnya aku mengerti dan bukan mengajak kamu liburan." Balas Rheana lembut.


Cakra menggeleng. "No, ayo kita jalan-jalan. Bagaimana jika Bali?" tawar Cakra.


Rheana mengatakan bisa yang jauh dan dekat, tapi ia tidak menyangka jika suaminya akan langsung menawarkan kesana.


"Lombok, Mas." Timpal Rheana tersenyum malu-malu.


Cakra manggut-manggut. "Boleh, Sayang. Kan aku bilang, buat kamu sama Ayla, apa sih yang nggak." Kata Cakra dengan hangat.


Rheana tersenyum lebar, ia senang sekali mendengar ucapan sang suami. Maka untuk membalas kebaikan sang suami, ia akan berikan jatah malam ini.


"Jatah malam ini aku tambahin satu ronde deh, soalnya kamu udah buat aku bahagia." Celetuk Rheana langsung.


Cakra tertawa lepas, ia tentu saja tidak akan menolak. Jatah cuyy, mana ada yang nolak.


Sementara Ayla asik menyusu saja. Bocah itu tentu saja tidak paham dengan obrolan kedua orang tuanya yang sebenarnya bisa menghasilkan adik untuknya tanpa ia ketahui.


Namun Rheana dan Cakra sepertinya akan menunda untuk punya anak lagi, sebab Ayla masih terlalu kecil untuk punya baby. Niat mungkin seperti itu, tapi setiap 'main' Cakra selalu asal tembak saja membuat Rheana terkadang kesal.


MAAF YA JARANG UP🤧


Bersambung...................................

__ADS_1


__ADS_2