
Rheana membantu Cakra bersiap untuk pergi ke kantor. Kini, ia sedang membantu suaminya memakai baju dan juga mengikat simpul dasi di leher sang suami.
Seperti biasa, Cakra akan menjahili istrinya dengan memegang pinggang dan mencuri kecupan di bibir atau pipi Rheana.
Jika sudah begini, hanya ada 2 kemungkinan besar yang terjadi, yaitu penolakan dengan pukulan, atau diterima baik oleh Rheana.
"Mas, kamu udah dong jangan cium terus!" tegur Rheana namun tidak menghadiahi suaminya dengan pukulan.
"Wajah kamu lembut, wangi lagi. Aku suka, makanya aku cium-cium terus." Balas Cakra lalu turun memberikan kecupan di leher istrinya.
Rheana mendongak, memberi akses lebih kepada Cakra untuk mencumbui lehernya. Tangan Rheana pun bergerak seduktif ke arah belakang leher suaminya.
"Ahmmm, Mas. Kamu terlambat nanti!" tegur Rheana meremat rambut suaminya.
Cakra tidak menyahut, pria itu malah terus menciumi leher jenjang istrinya tanpa mencetak tanda. Cakra tidak mau membuat istrinya marah.
"Ahh, Mas." Lenguh Rheana ketika tangan Cakra mulai bergerilya kemana-mana.
Cakra dan Rheana masih asik saling memanjakan diri, kini bibir mereka saling bertautan, menciptakan decak dua bibir yang memenuhi kamar.
Pintu kamar yang tidak tertutup rapat sama sekali tidak di pedulikan oleh mereka, padahal bisa saja ada yang mengintip adegan mereka ini.
Setelah beberapa saat, bibir itu pun akhirnya terpisah. Rheana mengatur nafasnya yang terengah-engah, sementara Cakra hanya tersenyum sambil mengacak rambut ibu hamil satu ini.
"Sesak ya, Mama Rheana?" tanya Cakra lembut.
"Sana ah, aku nggak mau bantu kamu siap-siap lagi. Kamu selalu ambil kesempatan," jawab Rheana merajuk.
Cakra tertawa, ia melingkarkan tangannya di pinggang Rheana lalu mengusapnya pelan.
"Iya, maaf ya. Pinggangnya pegal nggak? Hari ini mau sarapan apa, Mama?" tanya Cakra dengan sayang.
Rheana berpikir sejenak, ia membayangkan kira-kira makanan apa yang cocok untuk ia makan untuk sarapan pagi ini.
"Mau sarapan di bawah aja sama mama dan papa, tapi …" Rheana menggantung ucapannya.
Cakra mengangkat sebelah alisnya, ia menunggu permintaan apa yang akan istrinya ajukan kepadanya.
"Tapi apa, Sayang?" tanya Cakra lembut.
Rheana mendadak gagu, bukan tanpa alasan dirinya begitu. Salahkan Cakra yang menyahut dengan suara yang sangat mendalami. Suaranya barusan bukan hanya lembut, tapi juga berat.
"Mau ikut kamu ke kantor!" jawab Rheana setelah beberapa saat terdiam.
Rheana yang mendongakkan kepalanya membuat Cakra gemas. Ia menundukkan kepalanya, lalu mengecup bibir istrinya berulang-ulang.
Rheana tidak menolak, wanita itu hanya memejamkan mata sambil mengusap-usap dada suaminya yang sudah tertutup kemeja dan jas kerjanya.
"Gemes banget sama mama Rhea." Ucap Cakra lalu mencium sekali pipi istrinya.
"Mau ikut aku ke kantor?" tanya Cakra lembut.
__ADS_1
"Iya, mau ikut. Aku bosan di rumah terus," jawab Rheana dengan cepat.
"Boleh, Sayang. Janji jangan sampai lelah ya?" Pinta Cakra, ia melakukan itu agar nantinya Rheana tidak macam-macam yang malah membuatnya lelah.
"Janji, Mas!" balas Rheana yakin.
"Yaudah, yuk turun!" ajak Cakra seraya menggandeng tangan istrinya.
Rheana nurut saja, ia juga tidak perlu mengganti pakaian dan makeup, sebab ia susah melakukannya tadi. Hal itu Rheana lakukan karena memang dirinya niat ikut Cakra ke kantor.
Rheana dan Cakra sampai di meja makan, terlihat mama dan papa yang sudah mau sarapan duluan.
"Eh itu mereka datang, kirain Rheana mau sarapan di luar." Ujar Mama Mila tersenyum.
Rheana menggeleng. "Nggak, Ma. Aku mau sarapan masakan mama hari ini, cucu mama yang minta." Sahut Rheana seraya mengusap perutnya sendiri.
"Yaudah, duduklah kalian." Tutur Papa Wawan mempersilahkan.
Cakra duduk, sementara Rheana mengambilkan suaminya sarapan. Meskipun Cakra sudah melarang, namun istrinya itu tetap kekeh ingin melayaninya.
"Sudah cukup, sekarang duduk dan makan sarapannya." Tutur Cakra menarik tangan istrinya pelan.
Rheana nurut, ia pun mulai menyantap sarapannya dengan lahap. Hari ini Rheana begitu semangat karena ingin segera ke kantor suaminya.
Sementara itu di tempat lain, hal yang sama pun di lakukan. Satu keluarga itu sedang sarapan bersama, sebelum memulai aktivitasnya masing-masing.
"Hari ini jadi pindahan?" tanya Mama Erina kepada putrinya, Velia.
"Jadi, Ma. Makanya aku datang untuk ambil sisa barang," jawab Velia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Pa." Balas Velia manggut-manggut.
Sejak awal Velia sudah meminta izin kepada suaminya untuk tetap bekerja, dan Fikri pun mengizinkan dengan syarat bahwa Velia bisa pulang sebelum dirinya pulang, atau mereka pulang bersama.
Fikri juga tidak akan memaksa Velia untuk hamil secepatnya, ia akan menerima anugerah dari Tuhan kapan saja, dan semoga istrinya sudah siap nantinya.
"Sayang, kayaknya aku sudah terlambat. Hari ini aku meeting," ucap Fikri melirik jam di pergelangan tangannya.
"Yaudah, kamu berangkat aja. Aku nanti langsung ke apartemen ya," balas Velia lembut.
"Antar suami kamu, Vel." Tutur Mama Erina dan dituruti oleh Velia.
Velia mengantar suaminya sampai ke depan rumah, ia mencium punggung tangan sang suami dan di balas kecupan di keningnya.
"Hati-hati, Pak suami." Ucap Velia begitu manis.
"Iya istriku, nanti malam lagi ya." Balas Fikri kemudian segera masuk sebelum Velia menerkamnya.
Velia terkekeh, ia pun kembali masuk ke dalam rumah orang tuanya. Saat Velia kembali, ia melihat Ryan sudah mau pergi dengan membawa bekal.
"Ryan, tumben bawa bekal?" tanya Velia aneh.
__ADS_1
"Buat Abel." Jawab Ryan singkat.
"Abel siapa?" Tanya Mama Erina yang tampak asing dengan nama itu.
"Temanku di kampus, Ma. Dia baru saja keluar dari rumah sakit, aku akan mengenalkannya dengan mama lain kali." Jawab Ryan lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Kekasih kamu ya?" tebak Papa Rama jahil.
"Doakan ya, Pa." Jawab Ryan tertawa malu-malu.
Ryan juga mencium punggung tangan kakaknya, kemudian barulah remaja itu pergi dari rumah orang tuanya.
Ryan mengendarai mobil, karena ia tidak mau jika Abel sampai kesulitan nantinya jika naik motor. Abel kost di dekat kampus, sehingga tidak akan memakan waktu jika ia sudah sampai di kostan Abel nanti.
Sesampainya di tempat kost, Ryan menunggu di depan gerbang, sebab kost itu adalah kostan putri, sehingga tidak boleh sembarang pria masuk.
"Ryan!!" panggil Abel lembut seraya melambaikan tangannya.
Ryan yang sedang duduk di kap mobilnya lantas mengangkat wajahnya dan menatap Abel.
Ryan membalas senyuman Abel dengan tipis.
"Maaf ya buat kamu nunggu." Ucap Abel dengan riang.
"Iya, lo udah sarapan?" tanya Ryan seraya berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Abel juga masuk ke dalam mobil, padahal bisa saja Abel berangkat jalan kaki, karena memang tidak terlalu jauh, tapi Ryan melarangnya.
"Aku kan tadi mau sarapan, tapi pas kamu hilang udah mau sampai, aku nggak jadi sarapan." Jawab Abel jujur.
Ryan memberikan kotak makan kepada Abel, membuat gadis itu bingung.
"Makan, ini buatan mama gue." Tutur Ryan tanpa menatap Abel.
Abel menatap kotak makan itu dengan nanar, ia jadi teringat kepada sang mama yang dulu sering memasak dan membawakannya bekal.
Tanpa sadar air mata Abel menetes, ia merindukan ibunya, merindukan masakan lezat yang dibuat oleh ibunya. Abel merindukan semuanya yang berhubungan dengan ibunya.
"Mama." Lirih Abel dengan sangat pelan.
Ryan menoleh, ia terkejut melihat Abel yang menangis.
"Heh, lo kenapa nangis?" tanya Ryan lalu menarik Abel ke dalam pelukannya.
"Aku kangen mama, Ryan." Jawab Abel sedih.
Ryan mengusap bahu gadis dalam pelukannya lembut.
"Sabar ya, kita doa sama-sama supaya mama lo cepat sembuh." Balas Ryan lembut.
Abel tidak menjawab, ia merasa nyaman dalam pelukan Ryan. Rasa nyaman dan aman yang sama dengan pelukan ibunya. Abel merasa begitu di sayangi, meskipun hatinya berusaha menepis segala perkiraannya.
__ADS_1
DOAKAN AKU BISA CRAZY UP BESOK GUYS✨
Bersambung.............................