
Rheana yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah mencuci tangannya langsung dikejutkan oleh tindakan suaminya.
Cakra, pria itu mengangkat tubuh istrinya dengan sekali gerakan, lalu membawanya untuk berbaring diatas ranjang empuk hotel tempat mereka menginap.
"Kebiasaan." Ketus Rheana kesal.
Cakra hanya tertawa, ia mengungkung tubuh Rheana dengan mata yang saling memandang satu sama lain.
Rheana tersenyum, ia mengalungkan tangannya di leher sang suami kemudian mengusap-usap tengkuk pria itu dengan gerakan seduktif.
"Mas Cakra." Panggil Rheana pelan.
Sebelah tangan Rheana berpindah ke dada bidang suaminya yang tertutup oleh baju tidur berbahan satin.
"Apa, Sayang?" Sahut Cakra tidak kalah lembut.
Jubah yang Rheana pakai sudah tergeletak tidak berdaya sejak tadi, sehingga kini pemandangan dada sang istri yang menggoda berada tepat di depannya.
Rheana menggerakkan jari-jarinya di dada bidang Cakra untuk membuka piyama yang suaminya kenakan.
Tanpa terasa bahwa baju tidur itu kini telah terbelah menjadi dua, memperlihatkan bentuk tubuh seorang Cakra Dharmawan yang benar-benar hot dan mempesona.
Rheana benar-benar selalu dibuat kagum dan terlena akan tampilan tubuh suaminya dan juga sentuhannya.
"Ahh, Mas." Rheana memekik terkejut saat tangannya ditarik oleh suaminya hingga dirinya bangun.
"Kamu kan nggak suka aku sobek bajunya." Jelas Cakra seraya menanggalkan lingerie yang digunakan oleh Rheana.
Rheana hanya tersenyum, ia menangkup wajah sang suami lalu mencium bibir Cakra duluan.
Cakra tidak menolak, jarang-jarang Rheana mau melakukan hal ini. Ia membalas pangutan bibir istrinya lebih menggebu, sehingga ciuman yang Rheana mulai beralih ke Cakra yang memegang kendali.
Cakra menggigit dan menghisap bibir Rheana dengan penuh candu. Bagi Cakra, bibir semanis cherry itu selalu menarik perhatiannya untuk ia hisap dalam-dalam.
Bibir Cakra berpindah ke leher jenjang istrinya, ia mencium dan menggigit leher itu hingga tercetak tanda merah yang tidak sedikit.
"Ahhh."
__ADS_1
Suara merdu Rheana benar-benar membangkitkan sisi liar Cakra sudah lama berpuasa. Malam ini, ia merasa menjadi pengantin baru, sehingga ia akan menikmati ini semua dengan penuh kelembutan.
"Mas, ahh. Punya Ayla!" Pungkas Rheana saat merasakan dadanya dimainkan di dalam mulut sang suami.
Cakra terkekeh, ia mencium kening sang istri lalu menciumi seluruh wajahnya.
"Malam ini cukup susuin aku aja, Sayang." Balas Cakra lembut.
Rheana mengusap keringat di dahi sang suami, ia mencium pipi Cakra lalu tersenyum dengan lebarnya.
Melihat senyuman di wajah istrinya membuat Cakra semakin bersemangat untuk menyelesaikan malam indah ini bersama.
"Ahhh." Rheana kembali melenguh panjang saat merasakan tangan Cakra merambat turun ke jalan lahir Ayla.
Istri dari Cakra itu tidak henti mendesahh di setiap sentuhan candu yang suaminya berikan.
"Sayang, cantik banget sih. Ihh beruntungnya aku punya istri cantik begini," ucap Cakra seraya berusaha menyatukan diri dengan istrinya.
Rheana tidak menjawab, ia mencengkram sprei dibawahnya dengan tenaga saat merasakan sesak dan sedikit perih di bawah sana.
Cakra bingung mengapa milik istrinya terasa sangat mencengkram, padahal istrinya itu baru saja selesai melahirkan putri mereka.
"Mas, awww sakit." Kata Rheana pelan.
Cakra menundukkan kepalanya, ia mencium kening lalu berpindah ke bibir manis wanita yang sangat dicintainya itu.
"Eumhhh, Mas." Lenguh Rheana setelah beberapa saat Cakra hanya diam.
Cakra pun mulai memajukan tubuhnya diatas tubuh sang istri, dari pelan hingga semakin cepat.
Rheana dibuat menjerit oleh suaminya malam ini, malam indah setelah mereka melangsungkan sebuah resepsi pernikahan.
"Sayang, diatas ya." Kata Cakra lembut.
Cakra berbaring sambil bersandar di papan headboard, sementara Rheana sedang duduk di atas tubuh suaminya.
Rheana yang sedang merasa nikmat membuat wajahnya bertambah cantik menurut Rheana, apalagi posisi ini benar-benar menguntungkan untuk Cakra.
__ADS_1
Dengan posisi ini, Cakra bisa mencium bahkan bermain-main lebih dengan sumber asi Ayla. Ia menghisap sampai bisa merasakan sesuatu keluar dari dada istrinya.
"Mas, nggak boleh." Tegur Rheana dan Cakra hanya tersenyum lebar.
Cakra memegang pinggang istrinya yang mulai kembali ramping, ia pun membantu pergerakan sang istri untuk mencapai puncak kenikmatan bersama malam ini.
"Ahhh … ah, Mas. Nggak kuat," ucap Rheana sedikit berteriak.
"Bersama, Sayang." Balas Cakra.
Akhirnya malam itu Cakra bisa berbuka dengan nikmatnya, bahkan pria itu nambah berkali-kali sampai membuat Rheana tidak berdaya dan nyaris pingsan.
"Terima kasih, Sayang." Bisik Cakra seraya mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri.
Keesokan harinya, Rheana terbangun saat merasakan sinar matahari yang masuk dan mengenai wajahnya.
Ia yang saat itu baru saja membuka mata langsung dikejutkan dengan bau harum dari buket bunga mawar besar yang ada di sebelahnya.
Rheana tersenyum, ia duduk bersandar lalu meraih secarik kertas yang tergantung di buket tersebut.
"Selamat pagi, Istriku sayang. Bagaimana tidurnya, aku harap nyenyak ya. Aku minta maaf jika semalam terlalu bersemangat meminta jatah, tapi mau bagaimana lagi, semuanya terlalu nikmat.
Sayang, di pagi hari yang indah ini aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kamu, mungkin lebih spesial dari bunga ini.
Bicara soal bunga, kamu sadar nggak bahwa kecantikan bunga ini tidak bisa mengalahkan kecantikan kamu. Andai saja bunga itu bisa bicara, mungkin dia sudah marah-marah sama kamu karena melihat kamu yang tertidur dengan cantiknya.
Rheana, istriku. Aku menunggu kamu datang di roof top hotel ini ya.
Cintamu, Cakra tampan."
Rheana tersenyum membaca surat yang ditulis dengan tulisan Cakra sendiri. Bagaimana Rheana bisa tahu? Tentu saja, selama ini ia selalu menemani suaminya bekerja dan melihat tulisan tangannya.
"Ahhh sayang, aku datang!!" teriak Rheana dengan sangat bahagia.
MBAK RHEANA, BOLEH NGGAK AKU JADI MADUMU? EH KAGAK! BERCANDA.
Bersambung............................
__ADS_1