Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Ciuman di teras


__ADS_3

Awalnya sarapan berjalan dengan lancar. Mereka berempat bahkan saling mengobrol, hanya saja Rheana banyak diam karena masih asing dengan lingkungannya saat ini.


Namun di tengah acara sarapan, tepat sekali saat Cakra hendak meminum jus jeruk yang biasa tersaji di pagi hari. Cakra melompat dari duduknya dan berlari ke kamar mandi yang paling dekat disana.


"Cakra!!" pekik Mama Mila terkejut.


Rheana tidak kalah terkejut, ia ikut bangkit dari duduknya, dan mengekor di belakang Mama Mila yang mengejar Cakra.


Sementara itu Cakra langsung menutup pintu kamar mandi, namun suara mualnya tidak bisa ia redam yang membuat orang diluar bisa mendengarnya.


"Cakra, kamu kenapa? Ayo keluar," ajak Mama Mila begitu khawatir kepada putranya.


"Uwekk … nanti, Ma." Sahut Cakra berteriak masih di iringi dengan mual-mual.


Rheana yang juga mendengar Cakra muntah-muntah tidak tega, ia mengetuk pintu kamar mandi dengan pelan.


"Kak, ayo keluar. Aku buatin teh hangat buat kamu," ajak Rheana dengan ragu. Suaranya begitu lembut saat berkata.


Cakra yang mendengar itu lantas keluar, ia memasang wajah melas, membuat Rheana mengerutkan keningnya.


"Aku buatin kamu teh, ayo." Ajak Rheana hendak jalan duluan, namun dicegah oleh Cakra.


"Sayang, gandeng dong. Aku abis muntah-muntah lemas nih," pinta Cakra dengan manja.


Rheana mendengus, ia tidak menuruti permintaan Cakra dan berlalu begitu saja, meninggalkan Cakra dan mama Mila yang masih ada disana.


"Dia masih peduli padaku, Ma." Ucap Cakra dengan senang.


"Mama tahu itu," balas Mama Mila manggut-manggut.


Cakra pun segera menyusul istrinya kembali ke meja makan. Ia sudah tidak berselera untuk melanjutkan sarapannya. Kini ia ingin meminum teh buatan istrinya.


Cakra duduk di kursinya, menanti Rheana yang saat ini sedang membuat teh untuk Cakra.


"Kamu nggak apa-apa, Cakra?" tanya Papa Wawan yang sudah siap berangkat bekerja.


"Iya, Pa. Hanya mual saja," jawab Cakra singkat.


Papa Wawan mengangguk paham, ia pun meminta sang istri untuk mengantarnya ke depan rumah.


"Ma, anterin papa ayo." Ajak Papa Wawan kepada Mama Mila.


"Rheana, Mama antar papa ke depan dulu ya." Ucap Mama Mila pamitan.


Rheana tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma." Sahut Rheana.


Kini tinggal Cakra dan Rheana yang ada di dapur. Rheana mengantar segelas teh untuk suaminya, dan meletakkannya di meja.


"Habiskan." Ucap Rheana seraya duduk di depan Cakra untuk menghabiskan susu hamilnya.


Cakra meminum teh buatan Rheana dengan penuh perasaan. Teh pagi ini berbeda dari teh sebelumnya, hari ini terasa sangat nikmat dan spesial.


"Sayang, pulang aku dari kantor mau beli sesuatu atau kamu mau jalan-jalan?" Tanya Cakra yang enggan ada keheningan diantara mereka.

__ADS_1


"Nggak." Jawab Rheana singkat dan dingin.


Cakra tersenyum simpul, ia pun segera menghabiskan teh buatan Rheana, bersamaan dengan Rheana yang sudah menghabiskan segelas susu hamilnya.


"Rasanya beda, enakan buatan papa ya, Nak?" batin Rheana menatap perutnya yang bulat.


Diamnya Rheana tentu saja di sadari oleh Cakra, ia mengerutkan keningnya lalu menggenggam tangan istrinya.


"Enakan susu buatan aku ya?" Tebak Cakra yang jawabannya adalah benar.


Rheana mendengus, ia menepis tangan Cakra kemudian bangkit dari duduknya.


"Anterin aku sampe depan yuk, Sayang." Ajak Cakra dengan lembut.


Sebelum Rheana menjawab, Cakra sudah menggenggam tangan Rheana dan mengajaknya keluar rumah.


Saat di ruang tamu, Cakra dan Rheana berpapasan dengan mama Mila yang baru saja mengantar papa Wawan sampai teras.


"Sudah enakan, Cakra?" Tanya Mama Mila kepada putranya.


"Sudah, Ma. Teh buatan Rheana benar-benar ampuh," jawab Cakra seraya berpindah memegang pinggang Rheana.


Rheana mendengus, ia berusaha menjauhkan tangan Cakra, namun tidak berhasil.


"Ayo, Sayang." Ajak Cakra kemudian membawa Rheana keluar rumah.


Rheana pasrah ditarik oleh Cakra sampai luar, ia berdiri dengan tangan terlipat di dada saat Cakra sudah melepaskan pegangan di pinggangnya.


Cakra berdiri dihadapan Rheana dengan senyuman yang begitu menawan.


Rheana menatap Cakra dingin. "Aku kasihan lihat kamu, karena aku masih punya hati nurani, nggak seperti kamu." Balas Rheana langsung tepat sasaran.


Cakra menelan gumpalan saliva nya susah. Kata-kata Rheana belakangan ini sangat pedas bahkan sampai 'jleb' di hatinya.


Apa ini termasuk hormon ibu hamil?


Bicara soal hormon ibu hamil, Cakra terdiam sebentar. Mual dan muntahnya pagi ini apa termasuk ke dalam hormon bayi dalam kandungan Rheana.


Anak mereka yang membuatnya mual dan muntah.


Cakra tiba-tiba berlutut, membuat Rheana terjingkat kaget karenanya.


"Ngapain sih?!" tanya Rheana ketua.


Cakra tidak menjawab, ia masih tetap berlutut lalu mengusap perut istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Baby pagi ini buat papa mual dan muntah ya?" Tanya Cakra sambil tertawa.


"Kamu apa-apaan sih, kenapa jadi nyalahin anak aku!" gerutu Rheana, namun tidak dihiraukan oleh Cakra.


Cakra masih terus mengusap perut Rheana dan menciumnya berulangkali.


"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu boleh kasih mual muntah, atau rasa sakit ke papa, tapi jangan ke mama ya. Kasihan mama," ucap Cakra membuat Rheana yang ingin protes kembali terdiam.

__ADS_1


Cakra lagi-lagi mencium perut Rheana dengan sayang.


"Kamu bakal telat ke kantor kalo begini terus" Tegur Rheana dengan tangan yang masih terlipat di dada.


Cakra mendongak, ia tersenyum simpul mendengar kepedulian Rheana terhadapnya. Cakra akhirnya bangkit, kembali berdiri tegak di hadapan istrinya.


"Sini deh duduk, kamu pagi-pagi udah cemberut aja." Cakra mendorong pelan Rheana sampai istrinya duduk di kursi yang ada disana.


"Kamu ngapain, bukannya berangkat sana!" Usir Rheana dengan kesal.


"Nanti, aku belum pandangi wajah kamu." Balas Cakra sambil menatap wajah Rheana yang sangat cantik dengan dress pilihannya.


Rheana yang duduk di kursi, sementara Cakra yang berdiri tepat di hadapan Rheana membuat wanita itu harus mendongakkan kepalanya.


"Kamu cantik banget sih." Puji Cakra seraya mengusap wajah istrinya.


Rheana berdecak, namun tidak bisa dipungkiri bahwa jantungnya berdetak tidak karuan.


Cakra terkekeh sebentar, ia memegang dagu Rheana lalu mengangkatnya sehingga kini Rheana kembali menatapnya.


Cakra menunduk, ia mencium bibir istrinya dalam-dalam dan penuh kelembutan. Cakra memejamkan mata, meresapi kerinduan selama ini.


Rheana melotot, ia berusaha mendorong Cakra namun tidak bisa. Rheana bukan hanya terkejut, namun juga merasa malu karena penjaga rumah, tukang kebun dan beberapa art melihat adegan mereka ini.


Cakra mulai menggerakkan bibirnya, membuat Rheana terbuai dan akhirnya ikut memejamkan matanya. Ia juga rindu dengan kelembutan bibir suaminya.


Setelah beberapa saat, Cakra melepaskan ciuman mereka. Ia mencium kening Rheana dengan hangat sebagai pemutus keromantisan mereka pagi ini.


Sementara Rheana masih mengatur nafasnya, ia memegangi dadanya yang berdetak kencang sampai sekarang.


"Selalu manis, aku suka." Bisik Cakra membuat Rheana langsung mendongak dan melototkan matanya.


"Nggak sopan kamu cium-cium sembarangan!" Protes Rheana, dan itu malah membuat Cakra tertawa.


"Aku kan cium istriku sendiri, masa nggak sopan. Kecuali aku cium istri tetangga, itu baru nggak sopan." Balas Cakra sehingga membuat Rheana semakin melototkan matanya.


Rheana berdecak, ia melirik ke arah pekerja di sana yang salah tingkah. Mereka pasti berpura-pura tidak melihat, padahal jelas sekali jika mereka melihat tadi.


"Udah sana berangkat, aku mau istirahat." Ucap Rheana hendak masuk ke dalam rumah, namun lagi-lagi dihentikan.


Cakra memeluk Rheana dengan erat dari belakang, ia memberikan kecupan singkat di bahu Rheana yang sedikit terbuka.


"Tunggu aku pulang ya, Sayang. Bye," pamit Cakra kemudian langsung melepaskan pelukannya dan pergi.


Rheana membalik badan, ia bisa melihat Cakra yang masih tersenyum karena kaca mobilnya yang tidak tertutup rapat.


"Benar-benar deh papa kamu, Dek." Gerutu Rheana seraya mengusap perutnya.


Rheana segera masuk saat mobil Cakra sudah tidak terlihat dari pandangannya. Ia ingin masuk ke dalam kamar dan menghubungi Ryan yang belum menelponnya sejak pagi.


DIHH MASA AKU NGETIK SAMBIL SENYUM-SENYUM 😫🤣


Bersambung.............................

__ADS_1


Nggak tau up lagi apa nggak, aku banyak tugas kuliah :(


__ADS_2