Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Kepikiran Abel


__ADS_3

Rheana dan Cakra sudah bersiap-siap untuk pulang setelah liburan 2 hari. Mereka sebenarnya masih ingin, namun teringat pada pernikahan Velia yang akan digelar beberapa hari lagi, membuat keduanya harus pulang segera.


Rheana sejak tadi hanya duduk di kursi depan villa, ia tidak diizinkan untuk melakukan apapun oleh suaminya, padahal hanya bantu bawa tas saja tidak boleh.


"Non, minum susu hamilnya dulu ya." Tutur bibi dengan sopan.


"Siapa yang buat, Bi?" tanya Rheana seraya menerima susu hangat itu.


"Den Cakra tadi, katanya jangan sampe Nona nggak minum susu." Jawab Bibi seraya menunjuk ke dalam villa.


Rheana mengangguk, ia memang belum minum susu hamilnya di pagi ini. Ya, sengaja ia dan Cakra pulang pagi-pagi agar tidak terlalu siang sampai di rumah.


Rheana menenggak habis susu itu. Seperti biasa, suaminya selalu bisa membuat susu yang enak dan nagih untuknya.


"Sayang." Suara lembut itu berasa dari dalam villa.


Rheana menoleh, ia melihat Cakra keluar dengan tas selempang miliknya. Rheana terkekeh, ia segera bangkit dan mengambil alih tas miliknya.


"Sudah selesai?" tanya Rheana yang dijawab anggukan kepala oleh Cakra.


"Sudah habis kan susunya?" Tanya Cakra.


"Udah dong." Jawab Rheana menunjuk gelas kosong di meja.


Cakra tersenyum simpul, ia menggandeng tangan Rheana untuk berpamitan pada mamang dan bibi yang akan menjaga villa ini.


"Makasih ya, Mang, Bi. Selama kami disini, kalian selalu bantu kami." Ucap Rheana sopan dan ramah.


"Iya Nona, atuh sama-sama. Itu teh emang tugas kita," balas bibi dengan tidak kalah sopan.


"Iya, Den, Nona. Kalian jika ada waktu sering-sering ya main kesini, sekalian atuh ajak tuan dan nyonya besar." Tambah si mamang.


Cakra dan Rheana mengangguk saja. Karena kabut sudah semakin tebal, akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera pergi.


Rheana duduk di sebelah suaminya, ia hendak memasang seatbelt namun dihentikan oleh Cakra.


Cakra memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya, sambil mencuri ciuman di bibir Rheana.


"Nggak ada puasnya kamu? Dua hari lho kamu udah culik aku." Pungkas Rheana geram.


Cakra tertawa, ia menyalakan mesin mobilnya lalu tidak lupa memberi klakson sebagai tanda pamit kepada mamang dan bibi.


"Culik? Suami ajak istrinya jalan-jalan itu menculik namanya?" tanya Cakra menaik turunkan alisnya.


"Iyalah, kamu aja nolak waktu aku minta ajak siapa saja untuk liburan." Jawab Rheana dengan yakin.

__ADS_1


"Iya deh iya, aku culik kamu selama dua hari. Masih kurang sebenarnya, Sayang." Celetuk Cakra menekuk wajahnya.


"Kurang? Apanya yang kurang?" tanya Rheana memicingkan mata.


"Jatahnya." Jawab Cakra langsung tanpa ba bi bu lagi.


Rheana menggeplak bahu Cakra seperti biasa. Kurang bagaimana? Selama mereka di sana, tidak ada hari tanpa Cakra menggerayangi tubuhnya.


Jika pria itu masih mengatakan kurang, maka ia tidak terima. Kesannya Rheana tidak mau melayani Cakra.


"Kamu kalo ngomong seakan nggak pernah di layani aku." Ketus Rheana seraya melipat tangan di dada.


Cakra menoleh terkejut mendengar ucapan sang istri, ia tidak pernah berpikir begitu. Rheana selalu melayaninya dengan baik, dalam hal apapun.


"Eh nggak, Sayang. Aku nggak pernah mikir gitu, aku kurang soalnya kamu nagih." Jelas Cakra gelagapan.


Rheana menggeleng, ia tetap melipat tangannya di dada dan tidak mau menatap Cakra sama sekali.


"Sayang, kamu melayani aku dengan sangat baik dan itu dalam hal apapun. Kamu masakin aku makanan enak, kopi dan teh buatan kamu juga juara, lalu kamu juga melayani aku dengan puas di ranjang." Ujar Cakra panjang lebar.


"Mas, udah deh. Nggak usah bahas-bahas ranjang bisa?" tanya Rheana kesal.


"Nggak." Jawab Cakra spontan.


Cakra buru-buru menutup mulut dan memukulnya. Ahh dia ini benar-benar mencari masalah dengan Rheana.


Rheana menatap Cakra dengan horor.


"Iya, aku butuh ranjang buat tidur. Tapi malam ini aku mau tidur di ranjang yang beda sama kamu!" balas Rheana kejam.


Cakra melongo, ia berusaha mencerna kata-kata istrinya barusan. Maksudnya pisah kamar gitu?


"Nggak! Enak aja." Tegas Cakra menggeleng.


Rheana menoleh. "Suka-suka aku lah." Balas Rheana tidak mau kalah.


Cakra menghela nafas, ia memilih untuk diam daripada mulut istrinya akan semakin membasmi habis akal sehatnya.


Rheana pun diam, ia menurunkan sedikit jok agar bisa merebahkan diri dengan nyaman. Cakra pun membantu sedikit, meski Rheana masih berdecak dan menolak.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di rumah keluarga Chandrama. Terlihat satu keluarga itu sedang sarapan bersama.


Putri tertua akan menikah dalam waktu dekat, sehingga rumah sedikit ramai akibat persiapan sebelum hari H.


Di meja makan yang panjang itu, ada sepasang suami istri bersama anak mereka sedang sarapan. Seharusnya ada oma dan opa juga, tapi sayangnya mereka harus pulang karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.

__ADS_1


Velia, si calon pengantin pun sudah tidak diizinkan bekerja menjelang pernikahannya.


"Ryan, kamu kok diam aja?" tanya Mama Erina ketika sadar putranya.


Ryan menatap sang mama, lalu tersenyum.


"Nggak kok, Ma. Aku cuma lagi mikirin tugas," jawab Ryan berbohong.


"Mikirin tugas atau pacar?" goda Papa Rama dengan jahil.


Ryan tertawa pelan. "Papa apaan sih, nggak lah." Elak Ryan malu-malu.


"Oh kamu udah ada pacar, Ryan?" tanya Velia menepuk bahu adiknya.


"Tidak, aku belum memikirkannya." Jawab Ryan kembali fokus pada makanannya.


Ryan sebenarnya memang sedang ada pikiran. Pikiran apalagi juga bukan Abel, entah mengapa temannya itu selalu saja diam beberapa hari ini.


Pikiran Ryan melayang ke kejadian beberapa hari lalu, ketika Abel melihat pacarnya sendiri selingkuh. Apakah diamnya Abel berhubungan dengan itu?


Jika memang benar, maka Ryan tidak akan rela. Ia tidak rela jika Abel harus di sakiti. Siapa pria itu sehingga berani menyakiti gadis baik dan polos seperti temannya itu.


Ryan semakin tidak berselera makan, ia ingin segera sampai di kampus dan menemui temannya yang cerewet jika kepadanya.


"Ma, Pa. Aku sudah selesai, aku berangkat ya." Pamit Ryan menciumi tangan orang tua dan kakaknya bergantian.


Ryan pun langsung keluar dari rumah, ia tidak mendengarkan panggilan sang mama yang meminta untuk meminum susu.


Hari ini Ryan memakai mobil. Ia sedang malas mengendarai motor besarnya itu.


Butuh waktu lebih lama untuknya sampai ke kampus, ia pun bergegas ke perpustakaan. Untuk apa ia pergi kesana? Ya untuk menemui Abel.


"Abel." Panggil Ryan ketika melihat gadis itu hendak masuk ke dalam perpustakaan.


"Eh Ryan, kamu udah datang?" Tanya Abel mendekati temannya itu.


"Menurut lo? Kalo gue disini ya berarti udah datang." Jawab Ryan ketus seperti biasa.


Abel menekuk wajahnya, pagi-pagi begini Ryan sudah menghadiahi dirinya dengan ucapan ketus. Tapi Abel tidak masalah, justru itu yang membuatnya semakin tertarik kepada Ryan.


"Lo abis ngapain?" tanya Ryan juga bertanya.


"Menurut kamu?" tanya Abel balik, rupanya gadis itu membalas kata-kata Ryan tadi.


Ryan melotot, ia segera menyusul Abel yang pergi entah mau kemana. Bisa-bisanya gadis itu membalas ucapannya tadi.

__ADS_1


SABAR YA RYAN, MAKANYA JANGAN JUTEK 🤣


Bersambung........................................


__ADS_2