
Rheana terpaksa ikut Cakra yang mengantarnya pulang. Ia ingin meminta Ryan yang menjemput, tetapi adiknya itu sedang kuliah sehingga ia tidak mau mengganggunya.
Sementara Cakra, selama perjalanan, ia terus melirik istrinya yang hanya diam. Senyuman tipis terukir di wajah tampannya saat ia tidak menyangka akan dipertemukan kembali dengan istrinya.
"Kamu mau beli sesuatu dulu?" tanya Cakra menawarkan.
Rheana hanya diam, ia tidak menjawab 'ya' ataupun 'tidak'. Rheana menatap jalanan dengan tangan yang terus mengusap perutnya.
Mata Rheana menangkap tukang penjual rujak. Saat di Italia, ia tidak bisa menemukan rujak yang seenak rujak Indonesia, apalagi yang di pinggir jalan.
Cakra menyadari tatapan istrinya, ia paham apa yang diinginkan oleh Rheana sehingga dirinya berhenti di pinggir jalan, dan mundur perlahan.
"Apa yang kamu lakukan, ayo kita pulang." Ajak Rheana saat sadar bahwa Cakra berhenti.
"Mendadak ingin makan rujak, kamu mau?" tanya Cakra sengaja menggoda istrinya.
"Nggak sama sekali." Jawab Rheana berbohong dan ketus.
"Yakin?" tanya Cakra makin gencar menggoda.
"Jika kamu terus bertanya, aku akan turun dan pulang naik taksi." Sahut Rheana mengancam.
Cakra terkekeh pelan, ia pun segera turun untuk membelikan istrinya rujak, namun dengan dalih ia yang menginginkannya.
Cakra kembali dengan dua porsi rujak buah yang ia beli, ia meletakkan rujak itu diatas pangkuan Rheana.
"Kenapa kamu taruh sini?" tanya Rheana sedikit kesal.
"Makanlah, Sayang. Aku tahu kamu menginginkannya," jawab Cakra lembut.
Rheana mendengus, namun tak ayal ia mulai membuka pembungkus rujak buah yang ada di pangkuannya. Perlu digaris bawahi, bahwa Rheana sudah sarapan bubur yang tadi Cakra belikan untuknya.
Rheana mengambil potongan buah mangga dan mencocol nya ke sambal gula merah yang pedas itu.
Rheana tersenyum merasakan asam yang tercampur rasa manis dari rujak yang ia kunyah saat ini. Ini benar-benar rujak yang diinginkannya sejak lama.
"Eumm … enak sekali." Celetuk Rheana seraya melahap kembali rujak yang suaminya berikan.
Cakra tersenyum senang mendengar Rheana yang begitu menikmati makanannya saat ini. Hanya karena hal sederhana saja Rheana terlihat begitu senang.
"Kamu nggak mau nawarin aku, Sayang?" tanya Cakra usil.
Rheana menoleh, ia yang hendak melahap buah kedondong itu terhenti dan malah menatap Cakra.
"Tidak, aku ingin menghabiskan nya sendiri." Jawab Rheana lanjut menyantap rujaknya seorang diri.
Cakra tertawa, ia sampai geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari istrinya yang cantik itu. Tangan Cakra terulur untuk mengusap kepala Rheana.
"Habiskan, jika perlu aku akan bawakan rujaknya setiap hari." Tutur Cakra dengan sangat perhatian.
Rheana hanya diam dan tidak membalas ucapan suaminya sama sekali. Rheana lanjut makan rujak, namun karena diiringi dengan emosi, membuat Rheana tersedak.
__ADS_1
"Astaga, Sayang. Pelan-pelan, tidak akan ada yang mengambilnya." Ucap Cakra menepikan mobilnya, lalu membantu Rheana minum.
Rheana menerima minum dari Cakra, ia juga membiarkan suaminya membantu mengelap mulutnya yang basah.
"Hmm, iya." Balas Rheana singkat.
Mobil pun kembali melaju, Rheana sudah menghabiskan satu bungkus rujak buah, dan hanya tinggal satu bungkus lagi.
Tanpa terasa, mereka pun sampai di rumah kediaman Chandrama. Terlihat mama dan papa Rheana sudah menunggu di depan teras rumah untuk menyambut putrinya.
"Mama, Papa." Panggil Rheana berlari kecil lalu memeluk kedua orang tuanya bergantian.
"Bagaimana keadaan kamu, Sayang? Sudah lebih baik?" tanya Mama Erina lembut.
Rheana mengangguk, ia pun mengajak sang mama masuk ke dalam rumah, meninggalkan sang papa dan Cakra di luar.
"Ada yang ingin kamu katakan kan, Cakra?" tanya Papa Rama.
"Iya, Pa. Mari bicara di dalam," ajak Cakra menganggukkan kepalanya.
Papa Rama dan Cakra masuk ke dalam rumah, menyusul Rheana dan sang mama yang sudah duduk duluan.
Cakra duduk telat di hadapan istrinya yang hanya diam. Wanita itu terlihat enggan menatap Cakra.
"Jadi apa yang mau kamu katakan, Cakra?" tanya Papa Rama membuka suara.
Cakra menatap ayah mertuanya. "Ini tentangku dan Rheana, Pa." Jawab Cakra lalu kembali menatap istrinya.
Rheana bangkit dari duduknya, ia hendak pergi dengan dalih istirahat, namun ucapan Cakra menghentikan langkahnya.
"Rhea, aku akan mengabulkan permintaan kamu." Ucap Cakra sebelum Rheana melangkah pergi.
Langkah Rheana terasa begitu berat, bisa ia rasakan ada sesak di suara Cakra saat mengatakan kalimat tadi, namun Rheana berusaha biasa saja.
"Permintaan yang mana?" tanyakan Rheana pelan.
"Aku akan melepaskan kamu, Sayang." Jawab Cakra dengan lembut, terbit sebuah senyuman meskipun secara terpaksa.
Rheana memberanikan diri untuk menatap suaminya. "Itu bagus, aku akan meminta seseorang mengurus surat cerainya." Balas Rheana manggut-manggut.
Cakra bangkit, ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku belum selesai bicara, Sayang. Bisa beri aku bicara dengan orang tua kamu?" Tanya Cakra dan Rheana akhirnya nurut.
Rheana kembali duduk di sebelah kedua orang tuanya, menanti apa yang akan Cakra katakan.
"Aku akan mengurus permintaan kamu itu dengan syarat," ucap Cakra enggan menyebut kata 'cerai' karena ia tidak pernah menginginkan itu.
"Syarat apa?" tanya Papa Rama mengerutkan keningnya.
"Aku dan Rheana akan mengambil jalan masing-masing sampai anak kami lahir, setelah itu aku akan melepaskan Rheana, sesuai dengan permintaannya." Jawab Cakra dengan lantang.
__ADS_1
Rheana memejamkan matanya, ia sempat memegang dadanya yang berdetak kencang mendengar ucapan suaminya barusan.
"Kenapa harus menunggu anakku lahir, kita bisa bercerai sekarang!" Seru Rheana tanpa menatap Cakra.
"Nggak bisa, Rhe. Negara kita punya hukum yang berlaku, dan wanita hamil dilarang berpisah dari suaminya, sampai si bayi lahir." Balas Cakra menjelaskan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sama kamu sampai proses lahiran nanti, tinggal sama kamu lagi? Aku nggak mau." Ujar Rheana menggeleng cepat.
"Aku masih sah suami kamu, dan aku tahu bahwa kamu bukan wanita pembangkang." Balas Cakra lembut.
"Biarkan aku merawatmu dan calon anak kita sebelum aku mengabulkan permintaan kamu ya, Sayang." Tambah Cakra memohon.
Mama Erina mengusap bahu putrinya. Ia tidak mau jika Rheana akan membantah suaminya, apalagi Cakra terlihat sudah sangat menyesal.
"Rhea, suami kamu benar. Kalian harus tinggal bersama. Kalaupun pisah, kamu harus menunggu." Tutur Mama Erina.
"Biarkan Cakra menjalankan tugasnya sebelum memenuhi permintaan kamu, Nak." Tambah Papa Rama menasehati.
Rheana menarik nafas, ia memejamkan matanya seraya menghela nafas panjang.
"Baik, aku terima syarat dari kamu. Tapi kamu harus janji, setelah anakku lahir, kita akan pisah." Ucap Rheana dengan yakin.
Cakra hanya tersenyum, ia tidak mungkin berjanji akan menceraikan Rheana, karena syarat yang ia ajukan pun sebagai bentuk usahanya untuk memperbaiki hubungan mereka.
Cakra semalaman telah berpikir, ia akan melakukan hal ini dengan langkah untuk memperbaiki hubungannya dengan Rheana. Ia yakin bahwa mereka bisa sama-sama lagi.
Cakra akan menunjukkan kesungguhan cintanya kepada sang istri.
"Kita akan tinggal di rumah mama Mila, jadi kamu tidak perlu takut Sayang." Ucap Cakra memberitahu.
Ia sengaja membawa Rheana untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya agar Rheana percaya bahwa dirinya tidak akan berbuat kasar seperti dulu.
Rheana mengangguk pelan. "Pulanglah, besok datang lagi." Ucap Rheana datar.
"Nggak bisa, Sayang. Malam ini aku jemput kamu ya," balas Cakra pelan.
Rheana menarik nafas dalam-dalam lalu mengangguk. Ia pasrah saja dengan permintaan Cakra, demi terkabulkan permintaannya.
Cakra bangkit dari duduknya, ia mendekati Rheana dan memberikan kecupan di kening istrinya dengan hangat.
"Aku pulang dulu ya, Sayang." Ucap Cakra dan Rheana hanya diam.
Cakra mencium punggung tangan kedua mertuanya bergantian, sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan rumah keluarga Chandrama.
Setelah kepergian Cakra, Rheana pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Kini tinggal mama dan papa Rheana yang ada di ruang tamu.
"Cakra mungkin salah, tapi mama tahu bahwa dia sungguh-sungguh kepada cintanya." Ucap Mama Erina yakin.
"Kita lihat saja, Ma." Balas Papa Rama.
MAU SATU BAB LAGI NGGAK? KOMEN SAMA LIKE NYA DULU YA BEB🖤
__ADS_1
Bersambung............................