
Cakra tidak henti tersenyum melihat istrinya yang terus mendumel, hal itu dikarenakan ia menarik paksa istrinya keluar rumah untuk mencari makanan yang sedang diinginkan oleh Rheana saat ini.
Cakra meraih tangan istrinya, ia cium punggung tangannya dengan penuh kasih sayang.
"Lepasin, ngapain sih cium-cium." Pinta Rheana seraya menarik tangannya dari tangan Cakra.
Cakra tertawa, ia melirik istrinya dengan tatapan yang begitu jahil, membuat Rheana malas.
"Nggak boleh cium tangan, bolehnya cium bibir ya?" tanya Cakra seraya menaik turunkan alisnya.
"Kamu nggak usah ngomong terus, Kak. Mending cepetan jalan dan cari makanannya. Anakku sudah kelaparan," balas Rheana sewot dan ketus.
Cakra meringis, mendengar suara istrinya yang ketus dan pedas justru membuatnya merasakan hal tersendiri. Dulu ia tidak pernah melihat Rheana seperti ini.
"Bukan anak kamu aja, Sayang. Tapi anakku juga, anak kita." Ucap Cakra meralat perkataannya.
Rheana tidak menyahut, ia melipat tangan di dada dan hanya terus fokus menatap lurus ke depan.
Cakra menghela nafas, ternyata memang sulit menaklukkan ibu hamil seperti Rheana ini, apalagi jika ingat kesalahannya di masa lalu.
Cakra pun membawa Rheana ke makanan pinggir jalan yang begitu ramai. Mirip food court, namun ini lebih sederhana.
Rheana turun duluan, membuat Cakra buru-buru menyusul istrinya yang sedang hamil anak mereka.
Cakra meraih pergelangan tangan Rheana untuk ia pegang, lalu turun ke telapak tangan dan digenggamnya.
Rheana tidak menolak, ia tidak mungkin marah-marah ditempat umum seperti ini. Bisa-bisa ia dikira KDRT oleh orang sekitar.
"Kamu mau makan apa?" tanya Cakra lembut, matanya menoleh kanan kiri untuk mencari makanan yang enak.
"Bubur, sama bakso, terus minum es campur." Jawab Rheana begitu bersemangat.
Entah sadar atau tidak, Rheana berucap sambil mengeratkan gandengannya di tangan sang suami.
Cakra menoleh, menatap Rheana lalu beralih ke pergelangan tangannya yang dipeluk oleh istrinya.
"Iya, apapun yang kamu mau, kita makan ya." Ajak Cakra kemudian menariknya ke tukang bubur yang ada di sana.
Kebetulan penjual bubur dan bakso dekat, sehingga ia tidak perlu susah-susah memesan.
"Dua porsi bubur ayam, sama seporsi bakso ya, Pak." Ucap Cakra pada penjual disana.
"Siap, Mas. Sebentar ya," balas si penjual bubur, ia juga terlihat mengatakan pesanan Cakra kepada si penjual bakso.
"Kamu duduk sini ya, aku pesan es campur dulu. Aku belum lihat tukang es campur dimana." Ujar Cakra seraya celingak-celinguk.
"Itu tukang es campur." Tunjuk Rheana kepada penjual es yang ada di belakang suaminya.
__ADS_1
Cakra menoleh, ia menepuk jidatnya karena bisa-bisanya tidak melihat penjual es di belakangnya.
Rheana yang melihat tingkah Cakra tanpa sadar tertawa, tingkah suaminya itu hari ini benar-benar membuatnya tidak tahan untuk tertawa.
Cakra sadar saat mendengar tawa istrinya, bahkan sampai memegangi perutnya yang bisa saja kram tiba-tiba.
Cakra tersenyum, sudah lama ia tidak melihat tawa istrinya yang begitu manis.
"Kamu tuh cantik banget tau kalo ketawa gini." Puji Cakra seraya mengusap pipi istrinya.
Rheana tersadar, ia menghentikan tawanya lalu menjauhkan tangan Cakra karena banyak yang memperhatikan mereka.
"Kak, es nya pesan." Cicit Rheana menundukkan kepalanya, tidak berani menatap sekitar.
Cakra gemas, ia ingin sekali memeluk istrinya saat ini juga, namun ingat bahwa mereka ada di tempat umum.
"Bu, es campur satu ya, sama jus jeruk nya satu." Ucap Cakra kepada penjual di belakangnya.
"Sayang, minumnya apa? Air putih ya?" tanya Cakra kepada Rheana yang masih diam.
Rheana hanya mengangguk. Ia menatap Cakra dengan mata bulatnya yang begitu menggemaskan.
Satu persatu pesanan mereka mulai datang, Cakra memakan buburnya, sementara Rheana menyantap baksonya duluan.
"No sambal ya, Sayang." Ucap Cakra melarang istrinya yang hendak mengambil sambal.
"Sedikit ya?" Tawar Rheana seperti anak kecil yang sedang merayu.
Cakra sudah menghabiskan buburnya, ia melirik istrinya yang ternyata sejak tadi menatapnya.
"Kenapa? Kurang?" tanya Cakra melihat bakso di mangkok Rheana masih tersisa.
"Kenyang, kamu habisin ya. Nggak boleh buang-buang makanan." Jawab Rheana kemudian memberikan bakso miliknya.
"Aku mau makan bubur." Lanjut Rheana lalu memakan bubur pesanannya.
Cakra pasrah, ia memakan bakso sisa istrinya dengan perasaan senang. Tentu saja Cakra senang, setidaknya Rheana mulai mencair dan mau bicara lagi kepadanya.
Mereka pun selesai makan, Cakra segera membayar segala makanan yang ia pesan.
"Kak, mau itu!!" Ujar Rheana seraya menarik baju suaminya.
Cakra menoleh, ia melihat makanan yang ditunjuk oleh Rheana.
"Iya, ayo beli." Ajak Cakra pasrah saat tangannya ditarik ke tukang rujak.
Malam-malam ada tukang rujak, memang ajaib. Eh atau Cakra yang tidak tahu bahwa tukang rujak terkadang masih ada di malam hari.
__ADS_1
"Abang, mau dua porsi ya." Ucap Rheana dengan semangat.
Karena rujak sudah dibungkus, mereka tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan pesanan.
Cakra geleng-geleng kepala, untung saja ia memiliki uang cash yang cukup untuk jajan istrinya malam ini.
Hujan tiba-tiba turun, Cakra dengan cepat melindungi istrinya agar tidak kehujanan. Cakra membawa Rheana ke dalam pelukannya, dan ia tutupi dengan jas nya.
"Ayo pulang, Sayang." Ajak Cakra seraya memapah tubuh istrinya menuju mobil.
Kepala Rheana tidak basah, tetapi kaki dan sebagian bajunya basah, sementara Cakra sudah kuyup. Biarlah Cakra kehujanan, asal istrinya jangan.
Kini Cakra dan Rheana sudah berada di dalam mobil, mereka pun tancap gas meninggalkan tempat-tempat orang jualan makanan.
"Sudah kenyang, Sayang?" tanya Cakra seraya mengibas rambutnya yang basah.
"Eumm sudah, makasih ya kak." Jawab Rheana pelan.
Cakra merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan. "Sama-sama, Sayang." Balas Cakra lembut.
Rheana makan rujaknya dengan tenang. Seperti biasa Rheana akan menghabiskan dua porsi rujak sendiri tanpa niat membaginya kepada Cakra.
Setelah melewati jalan yang diiringi hujan, Rheana dan Cakra pun sampai di rumah mereka
Cakra mengambil payung yang ada di mobilnya, kemudian keluar. Cakra tidak membiarkan kepala istrinya terkena hujan, khawatirnya akan demam nanti.
Sementara ia tidak peduli dengan dirinya sendiri, ia sakit ya tidak masalah, tapi Rheana jangan.
"Ya ampun, Cakra, Rheana. Kalian darimana?" tanya Mama Mila terkejut.
"Abis jalan-jalan, Ma. Nyari makanan yang dipegang Rheana," jawab Cakra menjelaskan.
"Ya sudah, kalian berdua cepat mandi dan ganti baju, jangan sampai demam." Tutur Papa Wawan.
"Kamu mandi duluan gih, aku buatin susu hangat dulu." Tutur Cakra dengan mata yang menatap penuh kasih sayang.
"Tapi kamu lebih basah kuyup dari aku, Kak." Ujar Rheana memegangi baju Cakra yang basah.
"Nggak apa-apa, sebentar aja kok." Balas Cakra kemudian pergi ke dapur.
Rheana nurut, ia pun pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih dan mengganti pakaiannya. Sementara Cakra kini sedang membuat susu hamil untuk istrinya.
Cakra begitu perhatian kepada Rheana, membuat kedua orang tuanya senang. Mereka yakin bahwa hubungan Cakra dan Rheana akan kembali bersama dan bahagia.
NANTI UP SEBAB LAGI 💞
Bersambung...................................
__ADS_1
Guys, hari ini aku publish novel baru. Judulnya 'Terpaksa menjadi pelakor'. Novelnya publish sore nanti, dan akan aku umumkan di bab selanjutnya yaaa.
Ceritanya nggak kalah seru dari kisah ini yaa, nanti jangan lupa mampir🤗 Thank you guys🖤