Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Kesadaran Velia


__ADS_3

Velia terlihat sedang menangis seorang diri usai seluruh keluarganya keluar dari ruang rawatnya dan meminta dirinya untuk istirahat.


Velia merasa sedih karena suaminya tadi datang dan langsung memilih untuk pergi meninggalkan ruang rawatnya.


Velia tahu jika Fikri marah padanya. Suaminya itu sudah berulang kali memintanya untuk berhenti dari pekerjaannya, namun ia selalu menolak.


Wanita hamil itu berbaring, ia mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat bulat dengan gerakan pelan. Velia bersyukur karena bayinya baik-baik saja.


"Sabar ya, Nak. Ini semua memang salah mama yang nggak nurut sama papa kamu." Ucap Velia dengan lirih.


Velia sudah beberapa kali merasakan seperti ini, dan beruntungnya adalah bayi dalam kandungannya tetap baik-baik saja.


Namun dokter mengatakan bahwa jika hal ini terus terjadi, maka itu akan berbahaya bagi kondisi kesehatannya sendiri.


Sementara itu diluar ruang rawat Velia, terlihat seorang pria sedang duduk bersama kedua orang tuanya yang terus saja menasehatinya dengan penuh kelembutan.


Pria itu terlihat marah, namun juga khawatir dengan kondisi istrinya saat ini.


Keluarga dari istrinya sudah pulang beberapa menit lalu, kini benar-benar hanya tinggal dirinya dan kedua orang tuanya saja disana.


"Mama tahu kamu marah, tapi jangan melampiaskannya sekarang, Fikri. Velia sedang butuh kamu," tutur mama Ani dengan lembut.


"Apa yang mama mu bilang benar, kami tahu bahwa apa yang Velia lakukan salah. Tapi jangan lampiaskan kemarahan mu sekarang, kasihan istrimu." Sambung papa Amar.


Fikri masih diam, ia tidak menyahuti ucapan kedua orang tuanya. Fikri memang tadi sempat masuk ke dalam ruang rawat Velia, namun hanya beberapa detik saja sebelum akhirnya keluar.


Fikri pergi dari ruang rawat istrinya bukan tanpa alasan, melainkan karena ingin menenangkan diri.


Fikri tidak mau sampai lepas kendali dan membentak Velia, ia tidak pernah mau menjadi sosok pria arogan dan tidak sayang istri.


Fikri belum bisa menenangkan dirinya, masih ada rasa menggebu-gebu setiap kali mengingat kejadian dimana Velia pingsan dengan banyak darah.


Mama Ani mengusap bahu putranya dengan lembut.


"Temui Velia ya, Nak. Kasihan dia, dia menantikan kamu untuk masuk ke dalam." Tutur mama Ani dengan halus.

__ADS_1


Fikri menghela nafas, ia menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. Ia rela meninggalkan rapat karena istrinya yang utama.


Tapi saat sampai di rumah sakit, dirinya malah ingin marah. Beruntungnya ia masih bisa mengendalikan diri.


Fikri bangkit dari duduknya, ia memijat pelipisnya sebentar sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam ruang rawat istrinya.


Fikri masuk, ia bisa melihat jika Velia sedang menangis sambil mengusap perutnya sendiri.


Velia yang kala itu sedang menangis lantas buru-buru menyeka air matanya, ia tidak mau suaminya semakin marah karena dirinya menangisi perbuatannya sendiri.


"Mas." Panggil Velia hendak bangkit, namun dihentikan oleh Fikri dengan mengangkat tangannya.


Velia mengulum bibirnya, ia menatap Fikri dengan mata berkaca-kaca. Suami manja dan selalu merengek padanya, sudah beberapa hari ini malah mendiaminya.


"Mas, aku minta maaf." Lirih Velia menundukkan kepalanya.


Fikri menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, ia menarik kursi yang ada di sebelah bangsal lalu duduk.


Velia pun tetap berbaring, ia menuruti suaminya kali ini. Velia meraih tangan sang suami untuk ia genggam dengan erat.


Fikri tetap diam, ia tidak bicara apapun meskipun dirinya ingin.


"A-aku, aku janji akan berhenti bekerja dan fokus pada kehamilanku aja. Aku nggak mau kamu marah lagi, Mas." Ucap Velia lagi dengan berlinang air mata.


Fikri senang, namun ia tidak memberikan reaksi apapun kepada istrinya. Fikri masih tetap diam dan memperhatikan Velia.


"Mas, kamu maafin aku kan?" tanya Velia, wanita itu menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca.


Fikri melepaskan genggaman tangan istrinya, ia lantas bangkit dari duduknya lalu berdiri dengan tangan terlipat di dadanya.


"Aku kecewa sama kamu." Kata itu akhirnya keluar dari mulut Fikri.


"Aku sangat-sangat kecewa karena kamu nggak mau menuruti permintaan aku. Padahal aku masih mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga kita tanpa kamu harus bekerja." Tambah Fikri dengan helaan nafas diakhir kata.


Velia kembali menangis, ia benar-benar merasa takut dan bersalah terhadap suaminya sekarang.

__ADS_1


"Sekarang aku tanya sama kamu, Vel. Alasan kamu nggak mau berhenti bekerja apa? Kamu berpikir bahwa aku nggak mampu memenuhi kebutuhan kita, iya?" tanya Fikri dengan nada biasa, namun terdengar seperti amarah bagi Velia.


Velia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak pernah berpikir begitu tentang suaminya.


Fikri bukan hanya mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka, tetapi lebih dari apa yang Velia harapkan.


"Mas, hiks … aku nggak pernah mikir gitu, aku minta maaf jika membuat kamu tersinggung." Tangis Velia kembali pecah mendengar ucapan suaminya itu.


"Aku janji akan berhenti bekerja." Tambah Velia menundukkan kepalanya.


Fikri menghela nafas panjang, ia menatap istrinya yang menangis dengan tersedu-sedu. Velia terlihat begitu sakit dengan perilakunya.


Fikri mendekat, ia duduk di pinggir brankar lalu memeluk tubuh wanitanya dengan erat. Sebenarnya Fikri berat mendiami istrinya belakangan ini, tapi ia harus melakukannya.


"Kamu mau kehilangan anak kita?" tanya Fikri dan Velia buru-buru menggelengkan kepalanya.


"Kalo begitu nurut ya, biar aku aja yang bekerja." Pinta Fikri dengan lembut.


Velia mengangguk, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang suami. Velia merindukan ini, ia rindu berada dalam dekapan hangat suaminya.


Fikri sendiri mengusap-usap punggung dan bahu istrinya yang bergetar karena menangis. Ia juga menghadiahi kening sang istri dengan kecupan hangat.


"Sekarang istirahat ya." Tutus Fikri, namun Velia menolak dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku takut kamu pergi." Cicit Velia.


Fikri terkekeh, ia mengambil tangan istrinya lalu mencium punggung tangannya dengan penuh kasih sayang.


"Aku nggak kemana-mana, Sayang. Aku disini, temani kamu dan anak kita." Balas Fikri menjelaskan.


Velia akhirnya nurut, ia mau untuk tidur dan istirahat dengan Fikri yang akan terus menemaninya.


"Selamat bobok, Sayangku." Bisik Fikri lalu mengecup bibir istrinya yang sedikit pucat.


NAH, NURUT GINI KAN ENAK😬

__ADS_1


Bersambung...................................


__ADS_2