Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Persiapan calon pengantin


__ADS_3

Rheana yang siang itu sedang bersantai tiba-tiba dikejutkan oleh suaminya yang pulang tiba-tiba. Saat itu Rheana sedang makan buah seperti biasa, sambil menonton drama Korea di dalam kamar.


Rheana yang tidak menutup pintu membuatnya tidak sadar bahwa Cakra masuk dan langsung memeluknya dari belakang.


"Ck, Kak!" protes Rheana yang sudah hafal dengan parfum suaminya.


Cakra terkekeh, ia berpindah duduk di depan istrinya yang masih asik makan dan fokus menatap layar ponselnya.


"Sayang." Panggil Cakra, namun Rheana diam saja.


"Sayang, aku pulang lohhh …" ucap Cakra lagi dan Rheana masih tetap diam.


Karena geram, tapi tidak berani marah kepada istrinya, akhirnya Cakra menyusupkan tangannya ke perut Rheana, dan menjatuhkan kepala di pangkuan wanita itu.


Cakra melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, sementara bibirnya menciumi perut Rheana di balik daster yang digunakan wanita itu.


Rheana tidak menolak, ia membiarkan suaminya berbuat semaunya, bahkan tangannya mengusap-usap kepala suaminya dengan lembut.


"Sayang, aku mau makan bareng kamu. Sengaja aku pulang lohh," ujar Cakra dengan manja.


Rheana tersadar, ia menunduk dan menatap suaminya yang sedang memelas sambil menggambar abstrak di perutnya yang besar.


Rheana jadi tidak tega, namun ia tidak mau mengatakannya. Rheana berdehem, ia mengangkat kepala Cakra agar menjauh darinya.


"Berat kamu, sana jauh-jauh." Ucap Rheana seraya mematikan ponselnya.


Cakra duduk tegak, ia menatap istrinya dengan penuh cinta, lalu menghadiahi kecupan kasih sayang di keningnya.


"Aku mau buat makanan, mendadak laper." Ucap Rheana seraya turun dari ranjang.


Hal itu tentu ia katakan bukan karena dirinya sungguh ingin makan, tetapi ia ingin memasak sesuatu untuk suaminya.


Cakra segera mengekor, ia sudah melempar jasnya di sofa setelah masuk tadi, hingga kini menyisakan celana bahan dan kemeja yang lengannya sudah di gulung sampai batas siku.


"Sayang, mau makan apa? Mau beli di luar?" Tanya Cakra menawarkan.


Mata Rheana bukan fokus pada wajah Cakra, tetapi ke dada pria itu yang sedikit terlihat akibat tiga kancing kemejanya di buka.


"Sayang." Panggil Cakra menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


"Nggak mau, aku mau masak sendiri." Jawab Rheana menolak.


Rumah siang itu memang sangat sepi, sebab mama Mila pergi untuk menemani papa Wawan yang akan makan siang bersama klien.

__ADS_1


Rheana sampai di dapur, ia membuka kulkas yang lengkap dengan bahan makanan apa saja. Karena tidak tahu harus masak apa, Rheana akhirnya memutuskan untuk membuat ayam bumbu mentega.


"Perlu bantuan nggak, Sayang?" tanya Cakra menawarkan diri.


"Nggak, Kak. Duduk saja disana, dan jangan ganggu aku." Jawab Rheana sewot.


Cakra terkekeh, ia bukannya duduk dan menuruti ucapan sang istri, tapi ia malah memeluk Rheana dari belakang dan mendekapnya erat.


"Kak." Tegur Rheana pelan.


Cakra tidak membalas, pria itu tetap memeluk dan menciumi leher jenjang Rheana yang putih bersih dan wangi.


"Kenapa sih panggilannya nggak kaya kemarin, padahal aku udah suka di panggil mas." Ucap Cakra seraya mencium tengkuk Rheana singkat.


"Lupa." Balas Rheana singkat.


"Yaudah aku ingetin setiap hari, kita buat perjanjian." Ujar Cakra membuat Rheana yang sedang memotong cabai dan bahan lainnya terhenti.


Rheana membalik badan hingga kini membuatnya berhadapan dengan istrinya yang cantik.


"Perjanjian apa?" tanya Rheana bingung.


"Kalo kamu nggak panggil aku 'mas', maka kamu wajib cium aku." Jawab Cakra dengan semangat.


"Semua keuntungan di kamu." Cibir Rheana kembali melanjutkan acara memasaknya.


"Apa hukumannya?" Tanya Rheana penasaran.


"Ya sama kaya kamu, kalo aku panggil kamu pakai nama aja, aku bakal cium kamu." Jawab Cakra begitu enteng.


"Dasar laki-laki, maunya cuma untung." Celetuk Rheana seketika membuat Cakra tertawa terbahak-bahak.


"Kamu mending lari deh yang jauh, sebelum barang di dapur ini ke lempar semua ke wajah kamu." Ucap Rheana pelan, namun penuh ancaman.


Cakra terkekeh, ia akhirnya memilih untuk duduk daripada panci atau penggorengan melayang dan mengenai wajahnya yang tampan.


Sementara pasangan suami istri itu sedang asik bercanda dan saling menggoda penuh kebahagiaan. Lain halnya dengan pasangan kekasih yang sebentar lagi akan melangsungkan pertunangan dan pernikahan.


Pasangan Velia dan Fikri itu kini sedang melihat gaun yang akan mereka kenakan di acara paling bahagia dan di nantikan.


"Menurut kamu bagus mana?" tanya Velia setelah mencoba dua baju pengantin berwana putih.


"Nggak ada yang bagus." Jawab Fikri, sebab gaun yang dipakai Velia semuanya terbuka.

__ADS_1


"Kak, bisa nggak kalo di bagian tangannya kasih penutup kain yang tidak terlalu transparan, dan tidak terlalu tebal." Tanya Fikri pada perancang gaun.


"Aman, apapun aku lakukan untuk calon mempelaiku yang satu ini." Balas perancang itu dengan gemulai.


Velia pun tidak akan protes, ia suka dengan model baju yang saat ini ia gunakan, dan jika Fikri ingin menambahkan sedikit, maka tidak ada masalah.


Sebelumnya mereka juga sudah mendapatkan pakaian untuk di acara pertunangan, dan sekarang sekalian untuk acara pernikahannya.


Baik Velia maupun Fikri sama-sama tidak sabar menanti hari itu datang. Mereka bahkan sangat antusias menyiapkan segalanya agar berjalan lancar.


"Habis ini ambil cincin ya, besok soalnya aku harus cari seserahan sama mama." Ucap Fikri lembut.


"Iya, Sayang." Balas Velia mengangguk nurut.


Usai dari butik, Fikri pun mengajak Velia ke toko perhiasan yang sebelumnya sudah mereka datangi untuk memesan desain yang mereka inginkan.


"Mbak, cincin saya sudah jadi kan?" tanya Velia kepada petugas toko perhiasan.


"Sudah, Nona. Sebentar ya," jawab karyawan itu.


Tidak lama kemudian karyawan tadi datang dengan membawa dua buah cincin yang akan di pakai oleh Velia dan juga Fikri.


Mereka memeriksa cincin tersebut dan sudah sangat sesuai dengan yang mereka inginkan.


"Ini, Sayang." Tutur Fikri seraya memberikan kartu miliknya.


Velia mengambilnya, ia menggunakan kartu itu untuk membayar perhiasan yang mereka pesan.


Sebelum pergi, Velia tiba-tiba melihat kalung yang menurutnya sangat cantik. Ia ingin membelikan kalung itu untuk adiknya.


"Mbak, bungkus kalung yang itu ya." Ucap Velia menunjuk sebuah kalung permata dengan liontin zig-zag.


"Langsung bayar ya, ini." Velia memberikan kartu ATM miliknya untuk jadi alat pembayaran.


"Buat siapa, Sayang?" tanya Fikri bingung.


"Buat Rheana, biar aku sama dia kalungnya samaan." Jawab Velia tersenyum.


Fikri tersenyum, ia senang karena hubungan adik dan kakak itu sudah sangat membaik, hanya tinggal Ryan. Ia tahu bahwa adik laki-laki kekasihnya yang satu lagi masih marah kepada Velia.


Setelah dari toko perhiasan, mereka pun memutuskan untuk pulang karena hari semakin sore, dan Fikri harus kembali ke kantor.


LUNAS 2 BAB YAAA 🤗

__ADS_1


Maaf ya telat, biasa malam mingguan 🤣


Bersambung.........................


__ADS_2