Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Tipuan manis


__ADS_3

Rheana membuka matanya perlahan, ia menguap seraya menutup mulutnya sendiri. Sejenak Rheana terdiam, mengingat dirinya masih diatas tempat tidur padahal pekerjaannya sangat banyak di pagi hari.


“Astaga, jam berapa ini!!!!” pekik Rheana melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 8 pagi.


Rheana tersentak, ia buru-buru turun, namun terhenti saat dirinya merasa sedikit aneh dengan dirinya.


Rheana menunduk, ia semakin terkejut saat melihat tubuhnya polos, tidak mengenakan sehelai benangpun ditubuhnya. Rheana ingin berteriak, namun ia teringat dengan kejadian semalam.


Saat dimana Cakra menggendong, dan membawanya ke kamar pria itu, dan mereka menghabiskan malam panjang bersama.


Rheana mengulum senyum, semalam merupakan malam paling indah selama pernikahannya. Semalam dirinya benar-benar merasa sangat disayangi, dan dicintai oleh suaminya. Mereka sudah layaknya sepasang suami istri.


“Rhea.” Panggil Cakra yang berdiri diambang pintu sambil memperhatikan istrinya.


Rheana terkejut, ia buru-buru menarik selimut dan menutupi tubuh polosnya.


“Kak Cakra, sejak kapan disana?” tanya Rheana malu.


Cakra tersenyum manis, ia berjalan mendekati istrinya dengan nampan berisi makanan di tangannya.


Cakra meletakkan makanan itu di sebelah Rheana, lalu mencium kening istrinya dengan hangat.


“Selamat pagi, Rhea.” Sapa Cakra dengan begitu manis.


Rheana melongo, ia lagi-lagi tertegun mendapat kecupan di keningnya. Ia memejamkan mata sebentar, namun disadarkan oleh usapan Cakra di kepalanya.


“Ayo sarapan, kamu ada jam 'kan?” tanya Cakra lembut, panggilan nya berubah menjadi ‘kamu’.


“I-iya.” Jawab Rheana singkat.


“Eh tapi, aku harus mandi, kak. Pakaianmu, lalu sarapan–” ucapan Rheana terhenti saat Cakra mengecup bibirnya dengan cepat.


“Jangan bicara lagi, dan sarapan.” Ucap Cakra memotong perkataan Rheana.


Rheana tersenyum lagi, ia segera menyantap sarapan yang dibuatkan spesial oleh suaminya.


“Enak tidak?” tanya Cakra seraya mengusap kepala istrinya.


Rheana mengangguk dengan semangat.


"Sangat enak, ternyata kau juga pintar masak ya, Kak." Jawab Rheana jujur.


Cakra mengusap sudut bibir Rheana dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Jika kamu suka, aku bisa memasak sarapan untukmu setiap hari, Sayang." Tukas Cakra dan langsung dibalas gelengan kepala.


"Tidak, Kak. Itu adalah tugasku dirumah ini, dan aku tidak akan membiarkanmu melakukannya." Tolak Rheana langsung.


Cakra tersenyum simpul. Ia membiarkan Rheana menghabiskan sarapannya, sementara dirinya hanya diam memperhatikan.


"Aku ingin sekali menambahkan racun ke dalamnya, tapi belum saatnya, Rheana." Batin Cakra tersenyum jahat.


Selesai sarapan, Rheana langsung mandi dan bersih-bersih, begitupula dengan Cakra. Mereka mandi di kamar masing-masing, dan Cakra bilang ini hari terakhir mereka tidur terpisah.


Selesai mandi, Rheana kini membantu suaminya bersiap-siap, karena Cakra juga mengatakan akan mengantarnya berangkat ke kampus.


"Sayang, tolong pakaikan dasi aku." Pinta Cakra memberikan dasinya.


Rheana menerimanya, ia melingkarkan dasi itu ke leher sang suami, lalu mengikat simpul dengan begitu rapi.


Tangan Cakra tidak mau kalah, ia juga sibuk menggoda Rheana dengan mengusap pinggang wanita itu, atau meniup wajah cantik istrinya.


"Kak, jangan lakukan itu." Tegur Rheana pelan.


"Kenapa, bukankah kamu menyukainya?" tanya Cakra mengangkat wajah Rheana agar mau menatapnya.


Rheana tidak menjawab, wanita itu hanya diam seraya mengagumi ketampanan sosok Cakra Dharmawan.


Rheana tersadar, ia buru-buru mengalihkan pandangannya dari wajah suaminya.


"T-tidak." Jawab Rheana berbohong.


Cakra tertawa, ia mengusap kepala istrinya, lalu turun ke leher Rheana yang tampak merah-merah karena perbuatannya semalam.


"Cantik." Celetuk Cakra sambil menatap tanda buatannya.


Rheana berdecak, ia lantas meraih rambut panjangnya dan menyampirkan ke samping untuk menutupi lehernya.


"Jangan, Kak. Apa kata anak kampus nanti," ucap Rheana saat Cakra ingin kembali mencium lehernya.


Cakra tidak menyahut, ia tetap melakukan keinginannya, namun tidak mencetak tanda di leher istrinya.


Rheana memejamkan mata, bahkan tanpa sadar tangannya melingkar di leher sang suami sebagai bentuk pelampiasan.


"Shhh … kita akan terlambat, Kak." Ucap Rheana disertai lenguhan.


Cakra menjauh, ia mengulas senyum lalu mengangguk.

__ADS_1


"Hmm, andai kita libur, maka aku akan menghabisi mu di atas ranjang itu." Sahut Cakra lalu menunjuk ranjang miliknya.


Wajah Rheana bersemu, ia lantas keluar dari kamar Cakra untuk mengambil tas dan buku-buku nya dikamar.


Sepeninggal Rheana, Cakra masih diam. Menatap diri di cermin seraya mengantungi kedua tangannya di saku celana.


"Nikmatilah masa-masa ini, Rhea. Tapi kau harus siap ketika aku menjatuhkan mu dari lantai paling tinggi," celetuk Cakra lalu segera keluar dari kamarnya.


***


Seperti ucapan Cakra, hari ini ia mengantar istrinya untuk pergi ke kampus. Selama perjalanan Rheana menyuapi Cakra roti bakar buatannya, karena ia tahu bahwa Cakra belum sarapan.


"Sayang, tolong minumnya." Pinta Cakra.


Rheana memberikan botol minum kepada Cakra, lalu kembali memasukkan roti ke dalam mulut suaminya.


"Aku sudah kenyang." Ucap Cakra.


Rheana menggeleng. "Bagaimana bisa kenyang jika hanya selembar roti, ayo makan lagi yang banyak." Tutur Rheana.


Namun Cakra menolak, membuat Rheana tidak memaksa lagi.


Mereka pun sampai di kampus, Rheana ingin segera turun, namun tangannya di tarik oleh Cakra.


"Ada apa, Kak?" tanya Rheana.


"Cium dulu dong." Jawab Cakra menunjuk bibirnya.


Rheana menghela nafas, ia mencium punggung tangan Cakra dan pipi pria itu. Hendak kembali pergi, namun lagi-lagi di cegah.


"Bukan disana, Sayang." Ucap Cakra lalu menarik tengkuk Rheana dan menyatukan bibir mereka.


Rheana menerima dengan senang hati ciuman dari suaminya, dan setelah beberapa saat barulah ia keluar dari mobil mewah milik Cakra.


"Hati-hati, Kak." Ucap Rheana seraya melambaikan tangannya.


Mobil Cakra pun pergi meninggalkan area kampus Rheana, dan Rheana masih berdiri sambil senyum-senyum sendiri.


Hati Rheana kini sedang berbunga-bunga, rasa cintanya kepada sang suami semakin besar karena terus diperlakukan dengan sangat baik.


"Aku mencintaimu, Kak. Sangat mencintaimu," bisik Rheana.


PENIPU KAMU YA, CAKRA🤧

__ADS_1


Bersambung........................


__ADS_2