Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Ancaman Rizi


__ADS_3

Ryan masih berada di ruang rawat Abel yang baru saja sadar beberapa menit lalu, saat ini gadis itu terus menangis sambil bercerita kepada Ryan tentang masalah hidupnya.


"Aku nggak mau ngerepotin kamu, Ryan. Seharusnya kamu nggak bawa aku pergi." Lirih Abel tanpa menatap Ryan.


"Aku cuma gadis yang bikin susah, ibu aku sakit, dan aku nggak punya siapa-siapa lagi."


"Aku emang bodoh, kenapa juga aku harus kuliah dan bukan kerja aja. Jadi aku nggak perlu pakai uang Rizi untuk biaya pengobatan mama."


Abel menatap Ryan yang hanya diam tidak menanggapi ucapannya, namun genggaman tangannya semakin erat.


"Ryan." Panggil Abel.


"Udah puas ngomongnya?" Tanya Ryan dengan ketus.


Abel menekuk wajahnya, Ryan selalu saja bicara ketus kepadanya, meski dibalik itu ada sikap hangat yang tidak di perlihatkan kepada semua orang.


"Iya, emang lo gadis paling bodoh. Mau-maunya lo di siksa sama si Rizi itu, mikir dong. Harusnya dari awal itu lo kabur, lapor polisi, atau bilang sama gue, bukannya malah diem dan pendam sendiri!" omel Ryan diakhiri helaan nafas kesal.


"Kamu malah marahin aku, kan aku nggak mau nyusahin kamu, Ryan." Balas Abel pelan.


"Harusnya lo jangan mikir gitu, lo nggak akan ngerepotin gue, Abel. Lo itu berarti buat gue," ucap Ryan tanpa sadar diakhir kalimatnya.


Abel menatap Ryan dengan melotot, ia juga syok mendengar penuturan pria itu barusan.


"Eh, gimana maksudnya?" tanya Abel tersenyum.


"Ya lo berarti buat gue, soalnya cuma lo yang bisa gue ledekin abis-abisan." Jawab Ryan ngeles.


Abel menghilangkan senyuman di wajahnya, ia mendengus mendengar ucapan Ryan yang asal-asalan itu.


"Ck, iya deh iya. Tapi makasih banyak ya, Ryan. Kalo aja tadi kamu nggak ada, aku pasti udah di lecehkan sama Rizi." Ucap Abel seraya membalas genggaman tangan Ryan.


Ryan menatap Abel dengan hangat, namun ditutupi dengan wajah dinginnya.


"Iya, sama-sama. Lagian gue heran sama tetangga lo, emang nggak dengar ya lo nangis kaya tadi." Balas Ryan lembut.


"Disana itu prinsipnya nggak peduli sama urusan orang, jadi ya mereka nggak akan mau ikut campur." Jelas Abel diakhiri helaan nafas pasrah.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, terlihat Velia dan Fikri ada di sana sambil bergandengan tangan. Ryan cukup terkejut melihat mereka datang, karena ia tidak menghubungi kakaknya yang baru menikah kemarin itu.


"Kak Velia, kak Fikri. Kalian disini?" tanya Ryan bangkit dari duduknya.


"Iya, Ryan. Tadi Rheana telepon, dia nggak bisa kesini makanya minta kami datang." Jawab Velia.


Velia mendekati Abel, ia masih ingat bahwa gadis yang terbaring di bangsal itu adalah gadis yang dibawa Ryan kemarin ke pernikahannya.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Velia lembut.


"Aku baik, Kak. Makasih ya udah datang kesini," jawab Abel pelan.


Velia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Ryan, aku sudah kirim uangnya ya, semoga bisa membantu." Bisik Fikri di telinga adik iparnya.


Ryan merogoh ponselnya, ia melihat notifikasi mobile banking miliknya mendapat kiriman uang dari kedua kakak iparnya dengan jumlah yang cukup besar.


Astaga! Ryan sangat beruntung memiliki kakak ipar yang kaya.


"Kak, makasih banyak ya." Ucap Ryan menggenggam tangan Fikri.


Ryan mengangguk lagi, ini bukan sedikit, tapi sangat banyak. Jika kedua uang itu di satukan, maka bisa untuk membeli barang mewah, mobil mungkin.


***


Keesokan harinya, Ryan dan Abel keluar dari rumah sakit. Setelah menginap semalaman, hari ini Ryan akan membantu Abel untuk mencari kost agar Abel bisa punya tempat tinggal sendiri.


"Ryan, aku udah banyak ngerepotin kamu. Besok aku cari kerja ya, dan aku akan ganti semua uangnya." Ucap Abel seraya tersenyum manis.


"Nggak usah bahas tentang kerjaan, lo sembuh aja dulu." Balas Ryan ketus.


"Aku emang nggak sakit, Ryan. Aku kan cuma luka kecil aja," timpal Abel dengan tenang.


Ryan berdecak, ia memang susah sekali jika bicara dengan Abel. Gadis ini selain pendiam dan polos, juga sangat bawel.


Saat Ryan dan Abel menuju parkiran untuk mengambil mobil, seorang pria datang dan langsung menghadang jalan keduanya.

__ADS_1


"Rizi." Lirih Abel ketakutan.


"Mau apa lo?" tanya Ryan datar.


"Gue nggak ada urusan sama lo, jadi diam." Jawab Rizi seraya menunjuk wajah Ryan.


Rizi beralih menatap Abel yang ketakutan, bahkan sampai memegangi tangan Ryan. Hal itu semakin membuat ubun-ubun Rizi terasa sangat panas dan ingin meledak.


"Gue kasih satu kesempatan sama lo, balik atau nyawa ibu lo melayang?" tanya Rizi dengan begitu sombong.


"Rizi, kamu nggak bisa terus mengancam aku." Jawab Abel berusaha tenang, meski sekujur tubuhnya gemetaran.


"Oh udah mulai berani ya lo sama gue, bener mau lihat ibu lo mati?" tantang Rizi seraya maju beberapa langkah mendekati Abel dan Ryan.


"Lo yakin nggak bakal nyesel?" tanya Rizi pelan.


"Lo yang bakal nyesel, polisi bakal datang ke rumah lo dalam hitungan jam." Jawab Ryan, sementara Abel hanya diam.


Rizi tertawa meledek, ia menatap Ryan dengan tatapan jenaka ketika mendengar ucapan pria itu yang menurutnya lucu.


"Lo nggak tau siapa gue, Ryan. Gue Rizi Mahesa, orang tua gue punya kendali dengan hukum asal lo mau tau." Ucap Rizi dengan begitu bangga.


Memang benar, bahwa orang tua Rizi adalah seorang pengacara yang biasa mengurus kasus di pengadilan.


Ryan tersenyum, ia tidak takut sama sekali dengan jawaban Rizi yang pamer pekerjaan orang tua. Rizi tidak tahu saja bahwa keluarga Chandrama juga punya kendali, apalagi keluarga Dharmawan.


"Intinya lo jangan ganggu Abel lagi, atau gue benar-benar buat lo busuk di penjara." Tukas Ryan kemudian menarik tangan Abel mendekati mobil.


Ryan membukakan pintu mobil kemudian menyuruh Abel masuk, setelah itu dirinya lah yang masuk.


Sementara Rizi hanya bisa menatap kepergian keduanya dengan tangan terkepal. Jika dirinya tidak bisa menggunakan hukum, maka ia akan menggunakan akal gilanya untuk membuat Abel kembali padanya.


Rizi mengerem kesal, ia pun pergi dari sana untuk memikirkan rencana selanjutnya agar Abel menyesali pilihannya.


"Ryan Chandrama, lo bakal menyesali semaunya." Gumam Rizi lalu memukul stir mobilnya kasar.


MENANG ATAU KALAH, AKU YANG NENTUIN YA RIZI😚🤣

__ADS_1


Bersambung................................


__ADS_2