
Rheana diajak oleh Cakra untuk berkeliling kebun teh sore hari. Setelah mereka istirahat selama beberapa jam karena perjalanan, kini keduanya sudah berada di kebun teh.
Cakra sengaja melakukan itu agar istrinya senang. Cakra ingin Rheana merilekskan pikiran dan tubuhnya di tempat yang memiliki udara sejuk ini.
"Mas, lihat deh." Ucap Rheana seraya menunjukkan pucuk daun teh di tangannya.
"Ini yang ada di iklan itu, Sayang. Yang ulatnya 'pucuk pucuk pucuk' kaya gitu." Sahut Cakra seraya menirukan slogan salah satu iklan.
Rheana tertawa, ia membuang daun teh itu lalu menutup mulutnya. Ucapan Cakra bukan candaan, tapi entah mengapa lucu bagi Rheana.
Cakra ikut tertawa melihat Rheana yang tertawa. Istrinya itu jika sudah tertawa maka akan nular.
"Sayang, heh?! Ketawa terus, mau beli minum nggak?" tawar Cakra seraya menutup mulut istrinya pelan.
"Minum apa, Mas?" tanya Rheana celingak-celinguk.
Cakra mendekat, ia memeluk Rheana dari belakang. Hal tersebut membuat Rheana langsung menyikut perut suaminya karena kesal.
"Nggak tahu tempat kalo mau peluk!" Desis Rheana kesal.
Cakra terkekeh pelan. "Kan tadi nanya minum apa. Aku mau minum susu dari sumbernya," balas Cakra ambigu seraya menatap dada Rheana.
Rheana melayangkan pukulan ke tangan Cakra, ia juga berjinjit guna menutup mata Cakra yang jelalatan itu.
"Kamu dasar pria mesumm!!" cibir Rheana geram.
Cakra tertawa, ia memegang tangan Rheana yang masih menutupi matanya kemudian menciumnya berulang kali.
"Nggak dosa kalo sama istri sendiri." Ujar Cakra dengan tenang.
"Emang kamu ada niatan buat mesumm ke istri tetangga?" tanya Rheana dengan mata yang menyipit.
"Ya nggak lah. Ngapain sama tetangga kalo rumput sendiri lebih hijau." Jawab Cakra seraya merengkuh pinggang istrinya.
"Nggak lucu banget." Tukas Rheana sewot.
Cakra tersenyum tipis, ia melepaskan pelukannya dan beralih menggandeng tangan sang istri.
"Yuk kita cari minum." Ajak Cakra lembut.
Rheana henya bisa menurut, wanita yang sedang hamil besar itu memasrahkan diri kepada suaminya yang entah mau membawanya kemana.
Selama mereka berjalan mencari minuman, tidak jarang orang-orang menyapa mereka dengan sopan dan ramah.
"Disini ada orang julid nggak ya?" tanya Rheana pelan.
"Mungkin ada, ini kan nggak terlalu desa banget. Eh walaupun desa banget juga pasti ada aja, Sayang." Jawab Cakra tidak kalah pelan.
"Iya ya, orang julid suka ada dimana-mana." Celetuk Rheana manggut-manggut.
__ADS_1
"Contohnya kamu, kamu kan julid terus sama aku." Sahut Cakra sekedar bergurau.
Rheana melirik suaminya dengan sinis. "Yaiyalah, gimana nggak julid kalo suaminya mesumm kaya kamu." Timpal Rheana sewot.
Cakra tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Sepertinya ia harus membawa Rheana pulang sekarang, selain karena sudah sore dan cuaca yang dingin, ia juga ingin menggigit bibir perempuan itu.
"Sayang, pulang yuk. Ada yang mau aku lakukan," ajak Cakra seraya mengusap punggung tangan Rheana.
"Kerja ya, Mas? Yaudah deh ayo pulang," balas Rheana begitu polos.
Cakra menghela nafas melihat kepolosan istrinya. Mama Erina dulu ngidam apa ya sampai memiliki anak polos seperti Rheana ini.
Sebenarnya Rheana bukan polos, tetapi penurut. Sejak kecil memang Rheana menjadi penurut, terutama ketika sedang di didik oleh kakek dan neneknya.
Sesampainya di villa, Rheana pergi ke dapur bersama Cakra untuk mengambil jus. Cakra yang mengajak pulang membuat mereka tidak jadi beli minum sesuatu.
"Ngapain masih disini, katanya mau kerja." Ujar Rheana tanpa menatap suaminya.
"Siapa yang mau kerja." Balas Cakra sambil melipat tangan di dadanya.
Rheana membalik badan, ia menatap suaminya dengan penuh kebingungan. Jika bukan pekerjaan, kenapa juga harus mengajaknya pulang.
"Terus ngapain aja aku pulang?!" tanya Rheana ngotot.
"Aku mau ciuman." Jawab Cakra begitu enteng mengatakannya.
Rheana melototkan matanya, ia maju dan siap memukul suaminya, tapi Cakra menghindar. Rheana tidak mau lari mengejar Cakra dan malah membahayakan janin nya.
"Percuma, Sayang. Orang ada kamu terus di samping kamu yang bikin nggak bisa berpikir jerih, maunya ciuman aja." Sahut Cakra santai.
Rheana geleng-geleng kepala, percuma bicara dengan suaminya yang memang sudah otak 32+. Apa-apa hanya ada ciuman dan ituan saja.
Rheana berjalan mendekati meja makan, wanita hamil itu duduk di sana dan melihat makanan yang tadi sudah di masak bibi untuk makan siang.
"Mas, nanti makan malam diluar ya?" tawar Rheana dengan penuh senyuman.
"Iya, tapi buat aku hangat dulu." Balas Cakra seraya menaik turunkan alisnya.
Rheana mengambil botol selai yang ada di meja, ia memberi gerakan melempar kepada Cakra, namun hanya sekedar gerakan dan tidak melempar sungguh-sungguh.
"Mas udah deh, jangan iya-iya aja pikiran kamu." Tegur Rheana seraya mengambil roti.
Rheana mengoleskan selai ke atas roti tawar itu, kemudian menggigitnya dengan penuh perasaan. Ahh rasanya manis dan enak, Rheana jadi ketagihan.
Cakra memperhatikan Rheana yang sedang makan dengan penuh rasa senang. Cakra mendekat, ia menarik kursi untuk dirinya di depan sang istri.
Cakra ingin selalu seperti ini. Cakra ingin dirinya ada ketika Rheana membuka mata, ketika Rheana makan, dan ketika Rheana hendak tidur.
Cakra pun ingin di setiap hari yang ia lewati, akan selalu ada Rheana di sampingnya, sebagai support system untuknya.
__ADS_1
"Habis ini mandi dan ganti baju, kita makan diluar ya nanti malam." Tutur Cakra seraya menyeka noda selai di sudut bibir istrinya.
Rheana manggut-manggut, wanita itu sedang fokus dengan roti di tangannya sehingga tidak terlalu mendengarkan ucapan suaminya.
***
Malam harinya, Cakra keluar dari kamar mandi setelah membuang air kecil sebelum mengajak istrinya makan diluar.
Ketika keluar, telinga Cakra menangkap suara tawa istrinya yang seperti sedang mengobrol diluar kamar.
Cakra aneh, ia lantas membuka pintu kamar dan menghampiri Rheana yang sedang asik menelpon seseorang.
Cakra berdiri sambil melipat tangan di dada, ia akan memberikan ruang dan waktu untuk Rheana bicara dengan orang di telepon itu.
"Malam pertama sakit tahu, aku dulu malah sakit banget." Celetuk Rheana sambil tertawa.
Mendengar ucapan istrinya, kini Cakra tahu bahwa Rheana sedang bicara dengan Velia, kakaknya.
"Kan kakak tanya, ya aku kasih tahu. Dulu aku di bobol mas Cakra aja sakitnya banget, tapi lama-lama enak." Celetuk Rheana lagi semakin asik.
"Sayang." Panggil Cakra menyadarkan istrinya.
Rheana menoleh, ia tersenyum melihat suaminya sudah ada disana dengan tangan terlipat di dada.
"Sukses untuk persiapannya ya, Kak. Aku mau pergi keluar dulu sama mas Cakra." Pamit Rheana lalu menutup sambungan teleponnya.
Setelah mematikan sambungan telepon, Rheana pun mendekati suaminya.
"Lagi telponan sama Velia sampai bahas malam pertama?" tanya Cakra seraya menggandeng tangan Rheana keluar villa.
"Iya, aku lagi berbagi cerita." Jawab Rheana.
"Maaf ya, Sayang." Ucap Cakra tiba-tiba.
Rheana menoleh penuh kebingungan ketika mendengar kata 'maaf' dari suaminya barusan.
"Maaf, for what?" tanya Rheana.
"Untuk kesan buruk malam pertama kita. Dulu aku mengambilnya secara paksa," jawab Cakra lirih.
Rheana terdiam, ia juga masih ingat bagaimana malam panjang pertama nya begitu menyakitkan. Namun Rheana sudah tidak ingin membahasnya.
Rheana tersenyum, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Lupakan saja, Mas. Ayo cari makanannya, dedeknya udah laper." Ajak Rheana bersemangat.
Cakra tersenyum, ia menunduk dan memberikan kecupan di kening Rheana.
"Aku janji akan mengganti malam pertama kamu yang menyakitkan itu, Sayang." Batin Cakra seraya mengeratkan gandengannya di tangan sang istri.
__ADS_1
MENGGANTI BAGAIMANA KIRA-KIRA GUYS😌
Bersambung..............................