
Terlihat sepasang suami istri sedang duduk berhadapan dengan pria yang merupakan menantu di keluarga mereka.
Baik mama Erina, ataupun papa Rama tidak ada yang bicara lagi saat merasa bahwa jawaban mereka sudah cukup.
"Ma, Pa. Aku mohon beritahu aku dimana keberadaan Rheana saat ini." Ucap Cakra dengan lirih.
Benar, Cakra datang malam-malam ke rumah mertuanya hanya untuk mencari Rheana. Ia berpikir bahwa kedua mertuanya itu tau dimana posisi Rheana, dan sengaja disembunyikan darinya.
"Cakra, kami tidak tahu dimana Rheana. Kami juga masih mencarinya," tutur Mama Erina dengan lembut.
Kepala Cakra tertunduk. Pria yang merangkap sebagai ceo itu terlihat begitu terpukul dan hampir putus asa karena belum menemukan istrinya.
Cakra sudah mengerahkan anak buahnya ke seluruh daerah di Indonesia, dan beberapa negara lain, namun tidak kunjung menemukan titik terang.
Cakra hampir menyerah.
"Cakra, seharusnya kamu sendiri lah yang harus mencari keberadaan Rheana. Bukan kami atau siapapun," ucap Papa Rama tegas.
Cakra manggut-manggut. Ia tidak menyangkal ucapan mertuanya, ia memang seharusnya mencari Rheana sendiri, dan ia sudah melakukan itu, namun belum ada hasilnya sampai sekarang.
"Kamu datang malam-malam, lebih baik menginap saja, Nak." Tutur Mama Erina yang prihatin melihat keadaan menantunya.
"Tidak, Ma. Aku akan pulang saja," tolak Cakra pelan.
"Kondisimu sedang tidak baik, Cakra. Kau bisa kecelakaan jika tidak istirahat, lebih baik menginap saja." Ujar Papa Rama tanpa menatap Cakra.
Papa Rama bangkit, ia langsung menuju kamarnya sendiri. Sementara Mama Erina mengantar Cakra ke kamar Rheana dulu.
"Ini kamarnya Rhea, tidurlah disini ya." Tutur Mama Erina lembut.
Cakra mengangguk. Mungkin tidur di kamar istrinya akan bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
"Kau menyesal?"
Suara itu berasal dari belakang Cakra sebelum ia berhasil membuka pintu kamar.
Cakra menoleh, ia melihat Ryan sedang berdiri dengan tangan yang terlipat di dada.
"Ryan." Panggil Cakra pelan.
__ADS_1
"Kau menyesal setelah ditinggal oleh kakaku?" ulang Ryan dengan pertanyaan yang sama.
Cakra terdiam, ia bukan hanya menyesal, tapi merasa kesal dan marah kepada dirinya sendiri yang dulu begitu jahat.
"Bahkan aku lebih dari sekedar menyesal." Jawab Cakra pelan.
"Sudah terlambat, tapi meskipun begitu aku tetap mendoakan mu semoga bertemu dengan kakakku kembali." Ucap Ryan kemudian berlalu dari hadapan Cakra.
Cakra pun masuk ke dalam kamar Rheana, ia menyalakan lampu dan terlihatlah kamar yang begitu rapi dan wangi di depan matanya.
Di dinding kamar, terdapat beberapa foto yang terbingkai rapi. Senyuman seorang wanita yang sedang dirindukan oleh Cakra terlihat disana.
Cakra mendekati ranjang, ia duduk di pinggirannya dengan tangan yang mengusap sprei nya.
"Terasa sangat halus, seperti kamu Rhea." Gumam Cakra.
Cakra meraih foto yang ada di meja nakas. Foto itu merupakan foto Rheana saat masih kecil, sekitar umur 8 tahun.
Cakra tersenyum, ternyata sejak kecil istrinya itu memang cantik.
Saat Cakra hendak meletakkan kembali foto tersebut di atas nakas, tiba-tiba ponselnya mendapatkan notifikasi dari seseorang.
"Pak, karyawan kita di cabang Italia melihat nyonya Rheana." Tulis Bagas dalam pesannya.
Tidak lama kemudian terlihat Bagas mengirimkan foto seorang wanita yang sedang duduk di restoran dengan pria yang wajahnya tidak terlihat.
Jantung Cakra berdetak begitu cepat, wanita yang sedang ia cari keberadaanya akhirnya ditemukan.
Segala perjuangannya mencari sang istri akhirnya mendapatkan titik terang.
"Rhea." Panggil Cakra penuh damba.
Hati Cakra berdenyut saat mengingat bahwa ia selalu menyiksa Rheana dulu, sampai istrinya itu memilih untuk pergi sangat jauh.
Cakra tidak memikirkan pria yang ada dihadapan Rheana, ia bisa menyuruh orang untuk mencaritahu, tetapi yang paling penting sekarang adalah Rheana, istrinya sudah ditemukan.
"Aku akan jemput kamu, aku akan sujud dan meminta maaf sama kamu, Sayang." Ujar Cakra dengan tetesan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
***
__ADS_1
Terlihat seorang pria sedang menyampirkan jas kerjanya di kursi, Faraz baru saja sampai dikantornya setelah makan siang bersama Rheana tadi. Pria itu membuka ponselnya dan membaca pesan grup yang sangat ramai.
"Wanita ceo sudah ditemukan." Gumam Faraz membaca pesan yang ada disana.
Faraz membuka foto yang dikirimkan oleh karyawannya di grup. Betapa terkejutnya ia melihat foto dimana ada dirinya dan Rheana yang sedang makan siang tadi.
"Wanita CEO, apa maksudnya Rheana?" gumam Faraz bertanya-tanya.
Faraz melempar ponselnya ke meja kerjanya, ia mengusap wajahnya kasar, lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Rheana adalah istrinya Cakra Dharmawan." Ucap Faraz seorang diri.
Faraz semakin pusing. Ia tidak menyangka bahwa Rheana adalah istri atasannya yang hilang. Inilah alasan yang membuat Rheana memilih pulang saat dirinya menyebut nama Cakra tadi.
"Rheana, aku memang tidak akan pernah bisa bersanding dengan kamu. Kamu putri kerajaan, sementara aku hanya orang biasa." Gumam Faraz lirih.
Faraz menaruh hati pada Rheana sejak SMA, namun karena ia terlalu takut makanya ia hanya memendam perasaannya saja.
Ia tidak menyangka akan dipertemukan lagi dengan Rheana, namun dengan status yang sudah berubah, yaitu Rheana adalah istri atasannya.
Sementara itu dirumah kediaman Opa Chandra, terlihat Rheana sedang berbaring sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sakit usai dirinya tidak henti menangis.
"Ihh kok malah nangis sih, ya biarin kalo kak Cakra nyari kak Velia. Lo kenapa nangis sih, jadi sakit kan perutnya." Celetuk Rheana kepada dirinya sendiri, seraya menyeka air matanya.
Rheana bangkit, ia mengambil air putih yang ada di nakas kemudian menenggaknya hingga tandas.
Rheana menatap perutnya yang sudah bulat, ia cemberut dengan wajah yang menggemaskan.
Wajahnya putih kini merah, dan mata yang sedikit bengkak.
"Dedek ya yang bikin Mama mellow gini," ujar Rheana dengan nada manja.
Rheana mengusap perutnya lembut, perlahan rasa sakitnya mulai hilang, hanya sedikit kencang saja.
Rasa sakit yang Rheana rasakan mungkin saja karena tekanan pikiran. Rheana yang dikatakan usianya masih muda itu tentu saja sering merasa labil pada keadaan, hingga membuatnya memilih menangis untuk mengekspresikan rasa yang ia terima.
MARI PERTEMUKAN DEDEK BAYINYA SAMA PAPANYA😫
Bersambung.......................
__ADS_1