
Fikri tercengang mendengar cerita dari mulut gadis yang dicintainya. Ia sungguh tidak menyangka jika Velia memiliki sikap seperti itu.
"Hiks … aku orang jahat, Fik. Jangan jatuh cinta sama aku, aku bukan wanita yang baik." Ujar Velia sambil menangis tersedu-sedu.
Velia mencintai Fikri dan itu tidak berubah meski ingatannya telah kembali. Ia ingat kepada Cakra, namun ia sudah tidak memiliki rasa lagi kepada pria itu.
Cintanya kini telah berlabuh kepada Fikri seorang.
Velia sadar bahwa dirinya telah melakukan sebuah kesalahan. Ia sadar apa yang telah ia lakukan terhadap adiknya, dan ia akan menerima konsekuensinya, apapun itu.
"Tolong antar aku bertemu Rheana dan Cakra, Fik. Aku akan bertanggung jawab atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat." Pinta Velia sambil berlinang air mata.
Fikri hanya diam, ia masih terlalu syok mendengar cerita Velia yang menuduh adiknya sendiri hanya karena cemburu.
Fikri tidak marah, ia hanya terkejut. Cintanya untuk Velia sangat besar, apalagi wanitanya itu kini telah sadar akan kesalahannya.
"Kalau kamu mau pergi, maka pergilah Fik. Aku tidak pantas dengan pria seperti kamu, aku–" Ucapan Velia terhenti saat merasakan pelukan hangat di tubuhnya.
Fikri memeluk Velia, ia tidak mau mendengar ucapan Velia yang tidak benar. Fikri tidak akan pernah meninggalkan Velia, dan itu nyata.
"Aku memang terkejut, Vel. Tapi aku tidak akan pernah melupakan cintaku, apalagi meninggalkan kamu." Jelas Fikri sambil mengusap bahu wanitanya.
Velia menangis, ia senang mendengar Fikri yang masih mau menerimanya. Kini ia hanya perlu mendapatkan maaf dari seluruh keluarganya, terutama Rheana.
Sementara itu di tempat lain, Cakra sedang mengemasi barang-barangnya. Ia sudah tidak memikirkan pekerjaan nya, yang terpenting baginya sekarang adalah menemui istrinya.
Rheana, wanita yang telah ia siksa habis-habisan itu ternyata tidak bersalah.
Cakra menyesal, ia masih ingat bagaimana Rheana menangis sambil memohon kepada semua orang untuk percaya padanya.
Memaksa untuk menikah, menjadi pengantin pengganti untuk objek balas dendam. Cakra menyesali itu semua.
"Rhea." Gumam Cakra.
Cakra memesan tiket penerbangan paling pertama, ia sudah tidak bisa menunggu untuk bertemu dengan istrinya.
__ADS_1
Cakra akan bersimpuh di hadapan istrinya, mengatakan banyak maaf atas apa yang telah ia lakukan selama ini.
Cakra menghubungi bawahannya untuk mengatakan bahwa ia akan kembali ke Jakarta.
Setelah selesai mengemas, Cakra langsung pergi dengan diantar oleh sopir kantor menuju bandara. Ia tidak akan memberitahu siapapun tentang kepulangannya, termasuk Rheana.
***
Setelah menempuh perjalanan dalam beberapa jam, Cakra akhirnya sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta.
Cakra dijemput oleh sopir kantor yang akan membawanya pulang ke apartemen miliknya. Selama perjalanan, Cakra tampak tidak sabar.
Tentu saja tidak sabar, beban rasa bersalah kini sepenuhnya berada di bahunya. Bisik tangisan Rheana selalu terngiang di telinganya.
"Pak, tolong cepat ya." Pinta Cakra tidak sabaran.
Jalanan yang macet membuat Cakra sedikit geram. Ia melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Sayang, aku pulang sebentar lagi. Tolong jangan marah padaku," gumam Cakra.
1 jam lebih perjalanan Cakra dari bandara untuk sampai di apartemennya. Cakra langsung keluar tanpa mempedulikan barang-barangnya yang ada di dalam mobil.
Sesampainya disana, tepat sekali pintu apartemen miliknya terbuka.
"Melelahkan sekali." Gumam Rheana seraya menyeka keringat di dahinya.
Cakra bisa melihat kantong sampah ditangan istrinya yang cukup besar, dan sudah pasti berat.
Rasa bersalah Cakra semakin besar saat ingat apa yang telah ia perbuat.
"Kau harus mengurus rumah ini seorang diri, tanpa bantuan asisten. Bangun jam 4 subuh untuk menyetrika pakaianku, mencuci dan memasak sarapan."
Cakra ingat kata-katanya yang memerintah Rheana saat mereka baru tinggal di apartemen. Istrinya itu melakukannya, Rheana melakukan segala pekerjaan rumah seorang diri.
Itu pasti melelahkan.
__ADS_1
"Sayang." Panggil Cakra setelah sejak tadi hanya diam.
Rheana menoleh, ia terkejut sekaligus senang melihat suaminya disana.
"Kak Cakra, kamu sudah pulang!!" pekik Rheana kegirangan.
Cakra tersenyum, ia mendekati istrinya lalu memeluk tubuh sang istri dengan begitu erat.
"Kak, aku belum mencuci tanganku." Ucap Rheana yang tidak berani membalas pelukan suaminya.
"Sayang, aku minta maaf." Ungkap Cakra seraya mengeratkan pelukannya.
Rheana melepas pelukan suaminya. Ia menatap Cakra dengan senyuman di wajahnya.
"Kenapa minta maaf?" tanya Rheana lembut.
"Kamu kenapa berkeringat, kamu lari dari Surabaya ke sini?" tanya Rheana tertawa pelan.
Cakra ikut tertawa, ia menggenggam kedua tangan sang istri lalu menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, aku–" Sebelum Cakra berucap, sebuah sapaan akrab terdengar dari belakang Cakra.
"Kakak!!" panggil Ryan dengan riang.
Rheana dan Cakra menatap asal suara. Rheana terlihat senang melihat kedatangan adiknya disana.
"Ryan, kamu kesini?" tanya Rheana senang.
"Iya, aku merindukanmu, Kak." Jawab Ryan lalu memeluk kakaknya.
"Kak Cakra, bukankah kakak di luar kota?" tanya Ryan kepada Cakra.
"Iya, tapi aku kembali lebih cepat." Jawab Cakra menganggukkan kepalanya.
Rheana pun mengajak suami dan adiknya untuk masuk ke dalam rumah. Ia akan membuatkan jus untuk dua orang tersayangnya itu.
__ADS_1
JANGAN SU'UZON SAMA VELIA, UDAH AUTHOR STIR DIA BIAR TOBAT 😬🤣
Bersambung.....................................