
Rheana memeluk sang kakak dengan suara berat. Akhirnya ia bisa kembali melihat wajah Velia saat kakaknya itu datang sore tadi.
Velia menangis dalam pelukan adiknya, menumpahkan rasa sedih, bersalah dan menyesal. Seharusnya Rheana menamparnya sejak awal mereka bertemu waktu itu, tapi Rheana justru memaafkannya.
"Rhe, kamu kemana aja. Aku dan semua orang mencari kamu." Ucap Velia seraya melepaskan pelukannya.
"Aku tidak kemana-mana, oh iya bagaimana hubungan kalian?" Tanya Rheana mengubah topik pembicaraan.
Tatapan Rheana menatap Velia dan Fikri bergantian. Saat ini mereka bertiga ada di kamar Rheana, karena tadi wanita itu mengaduh sakit di perutnya.
"Baik dong, mau nikah nih kita." Jawab Fikri sewot, namun tentu saja itu candaan.
Rheana tertawa mendengar jawaban dari pria yang kemungkinan akan menjadi calon kakak iparnya.
"Wihh, udah mateng persiapannya." Ujar Rheana manggut-manggut.
Sementara Velia hanya diam saja. Ada rasa takut dalam diri Velia, Rheana memang kembali tapi apakah adiknya itu akan kembali kepada Cakra, karena jika tidak maka Velia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Rhe, kanapa bisa kau pergi dalam keadaan hamil begini?" tanya Velia seraya mengusap perut adiknya.
"Kenapa nggak, Kak. Aku dan anakku ada untuk saling menguatkan," jawab Rheana pelan.
Fikri menatap kekasihnya, ia tahu apa yang sedang dikhawatirkan oleh Velia. Kekasihnya itu takut Rheana tidak kembali kepada Cakra.
"Kak, kembali ke rumah ini ya. Kasihan mama mencari, lagipula mama dan papa juga sudah tahu hubungan kalian kan?" tanya Rheana kepada pasangan kekasih itu.
"Oh jelas, udah mau nikah masa orang tua belum tahu." Jawab Fikri langsung.
Rheana melotot, ia ingin kakaknya yang menjawab, tetapi Fikri terus saja nyerocos.
"Berisik banget, aku tanya kepada kak Velia!" celetuk Rheana dengan ketus.
Velia terkekeh, ia mengusap lengan adiknya dengan lembut.
"Aku udah ngomong sama papa dan mama, lusa aku kembali ke rumah ini." Ucap Velia lembut.
Rheana tersenyum manis, bahkan sangat manis sampai membuat sosok yang berdiri di ambang pintu terhipnotis.
"Sayang." Panggilan itu berasa dari arah pintu, membuat ketiga orang dalam kamar Rheana menoleh.
Velia bangkit dari duduknya, ia mendekati Fikri dan memberikan ruang kepada Cakra untuk mendekati istrinya.
"Aku datang untuk menjemput kamu, sudah siap?" tanya Cakra lembut.
Rheana hanya mengangguk pelan. "Aku akan turun sebentar lagi, kamu tunggu di bawah aja, Kak." Jawab Rheana.
"Iya, Sayang. Aku tunggu di bawah ya," balas Cakra kemudian keluar dari kamar Rheana, tanpa melirik Velia ataupun Fikri.
Velia menatap adiknya penuh tanya saat mendengar ucapan Cakra tadi. Rheana memang belum cerita tentang ajakan Cakra.
"Aku akan pulang ke rumah keluarga kak Cakra," ucap Rheana yang mengerti tatapan sang kakak.
__ADS_1
"Apapun keputusan kamu, aku dukung Rhe." Balas Velia lembut.
Fikri menghela nafas lega, jika memang Rheana akan kembali kepada Cakra, maka itu artinya hubungannya dan Velia akan segera mendapatkan titik terang.
Sementara Cakra duduk menunggu istrinya. Sudah 15 menit berlalu dan yang turun hanya Velia bersama kekasihnya.
"Halo, Pak Cakra. Apa kabar?" sapa Fikri dengan sopan.
Cakra hanya diam saja, ia tidak melirik apalagi menjawab pertanyaan dari Fikri. Cakra masih terlalu benci kepada Velia yang telah membuatnya selalu menyiksa Rheana.
Tidak lama kemudian Rheana turun, ia terlihat sangat hati-hati sambil memegangi perutnya.
Cakra bangkit, ia mendekati istrinya dengan senyuman yang tidak menghilang dari wajahnya yang tampan.
"Kalian sudah mau pergi?" tanya Mama Erina dari arah kamarnya, bersama papa Rama.
Cakra menoleh, ia mencium punggung tangan mertuanya, begitu juga dengan Fikri yang mencium tangan calon mertuanya.
"Iya, Ma. Aku dan Rheana akan pergi, barang-barangnya akan dibawakan oleh orang suruhanku." Jawab Cakra sopan.
Mama Erina tersenyum manis, ia menatap putrinya lalu memeluknya erat.
"Ingat pesan Mama ya, Nak." Bisik Mama Erina lalu memberikan kecupan di kening Rheana.
"Cakra, hati-hati bawa mobilnya ya. Ini sudah lumayan malam," tutur Papa Rama memberi pesan.
Cakra mengangguk paham, ia membiarkan istrinya itu berpamitan kepada kedua orang tuanya, dan juga Velia yang masih setia berdiri di sana.
Rheana mengeratkan pelukannya kepada sang papa. Kasih saya seorang ayah kepada putrinya memang tidak bisa dianggap enteng.
Terutama papa Rama yang sampai detik ini masih kerap kali merasa bersalah kepada putri keduanya.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Rheana pun pergi meninggalkan rumah. Ia kembali mengikuti langkah Cakra yang membawanya.
Dulu ia pergi dari rumah ini dalam keadaan hancur, ia di seret oleh Cakra untuk ikut dengannya usai acara akad. Dan hari ini, ia kembali di bawa oleh Cakra, namun dengan gandengan tangan yang begitu lembut.
Cakra membukakan pintu untuk istrinya duduk di kursi samping kemudi, kemudian di susul olehnya yang duduk kursi sopir.
"Di pakai seatbelt nya, Sayang." Tutur Cakra membantu Rheana memasang seatbelt nya.
Rheana memalingkan wajahnya, ia tidak mau wajahnya terlalu dekat dengan Cakra karena itu membuat jantungnya tidak karuan.
Cakra membunyikan klakson sebagai tanda pamit kepada kedua orang tua mertuanya yang masih setia berdiri di depan pintu.
Setelah itu Cakra baru benar-benar pergi meninggalkan rumah keluarga Chandrama untuk pulang ke rumahnya, rumah keluarga Dharmawan.
"Mama tahu Cakra salah, tetapi Mama juga tahu bahwa dia sangat mencintaimu, Nak. Mama berharap, dengan adanya anak kalian nanti, bukan menjadi alasan perceraian, tetapi justru sebagai pemersatu. Kamu dan Cakra, Mama doakan bahagia selamanya." Ucap mama Erina siang tadi, saat menasehati Rheana.
Rheana menatap jalanan yang terlihat ramai di malam hari, ia hanya diam dan tidak berniat untuk bicara dengan suaminya.
"Mau beli sesuatu dulu, Sayang?" tanya Cakra menawarkan, dan Rheana langsung menjawabnya dengan gelengan kepala.
__ADS_1
Cakra tersenyum, ia ingin sekali meraih tangan Rheana untuk ia genggam, namun ia tidak mau membuat istrinya merasa tidak nyaman.
Tanpa terasa, mereka pun sampai di rumah keluarga Dharmawan. Terlihat mama Mila dan papa Wawan sudah menunggu kedatangan mereka.
"Rheana …" Mama Mila mendekati Rheana dan langsung memeluknya.
Rheana membalas pelukan ibu mertuanya dengan hangat.
"Mama senang kamu akan tinggal disini, Sayang. Semoga betah ya, dan jangan sungkan." Ucap Mama Mila seraya melepaskan pelukannya.
Rheana tersenyum. "Iya, Ma." Balas Rheana.
"Kita bicara di dalam saja, kasihan Rheana. Ibu hamil tidak boleh terlalu lama di luar malam-malam." Ajak Papa Wawan.
Semuanya setuju, mereka pun masuk ke dalam rumah karena waktu sudah semakin malam.
"Rheana, Mama sudah masak untuk kamu. Kita makan dulu ya," ajak Mama Mila.
Rheana lagi-lagi hanya mengangguk nurut, ia tidak punya alasan untuk menolak ajakan ibu mertuanya.
Cakra mengekor di belakang istrinya, bersama sang papa yang beberapakali menepuk bahu putranya.
"Jangan sia-siakan kesempatan yang ada, Cakra." Ucap papa Wawan dan dibalas senyuman oleh Cakra.
Mereka berempat makan bersama dengan Rheana yang duduk di sebelah Cakra. Cakra membantu Rheana mengambil makanan, hal yang biasa Rheana lakukan dulu.
"Habiskan ya, Sayang. Mama masak spesial untuk kamu," kata mama Mila.
"Makasih banyak ya, Ma." Ujar Rheana pelan.
Makan malam itu berjalan dengan khidmat, meski sesekali mereka berbincang ringan, seperti memuji masakan mama Mila.
Selesai makan malam, Cakra mengajak istrinya untuk pergi ke kamar mereka. Kamar Cakra sebelum ia menikah dengan Rheana.
"Aku buatin kamu susu hamil dulu ya, kamu ganti baju dulu gih." Tutur Cakra seraya mengusap kepala istrinya.
Rheana tidak membalas, namun wanita itu langsung bangkit dan menyambar baju tidur yang ada di atas ranjang.
Rheana baru berjalan beberapa langkah, namun terhenti saat merasakan sebuah pelukan yang tidak begitu erat, namun hangat.
"Rheana, biarkan seperti ini dulu. Aku mohon, sejak kemarin aku menahan untuk memeluk kamu." Pinta Cakra dengan posisi memeluk istrinya dari belakang.
Rheana menahan nafas, tubuhnya berdesir merasakan pelukan Cakra yang sudah lama tidak ia dapatkan.
Aroma tubuh Cakra yang ia rindukan saat berada di Italia, akhirnya hari ini bisa ia hirup kembali. Rheana memejamkan matanya, anak dalam kandungannya seakan merespon perlakuan sang papa dengan memberikan gelanyar aneh.
Cakra senang karena Rheana tidak banyak berontak, sehingga membuat Cakra semakin mengeratkan pelukannya, bahkan menjatuhkan kepalanya di bahu sang istri.
Cakra merindukan suasana seperti ini, dimana ia bisa memeluk tubuh istrinya dengan erat, dan menciumnya tanpa ragu.
LUNAS YAAA, JANGAN LUPA KOMEN POSITIFNYA 🖤
__ADS_1
Bersambung...........................