
Ryan dan Abel terlihat sedang begitu fokus dengan keterangan dosen di depan. Entahlah, ini kali pertama Ryan terlihat begitu bersemangat.
Hanya ada 2 kemungkinan, yang pertama mungkin ia suka dengan mata kuliahnya, dan yang kedua, dia suka dengan teman sebelahnya.
Poin kedua sih memang sudah pasti. Ryan kan memang naksir Abel sejak lama tapi terhalang status Abel yang memiliki kekasih.
Namun halangan dan rintangan apapun akan Ryan lalui, asal ia bisa mendapatkan Abel. Lagipula hubungan Abel dan Rizi sudah tidak baik-baik saja, atau bahkan mereka sudah putus.
Astaga, Ryan tidak masalah di sebut jahat, tapi dia memang bahagia jika Abel benar-benar putus dari kekasihnya. Maka Ryan akan langsung ambil posisi untuk mendekati gadis itu.
Ryan juga bukan tipe pria yang suka memainkan hati wanita, eaaa. Tapi memang benar, selama ini dirinya tidak pernah bermain-main dalam hubungan, jika ia suka dan pasangannya setia, maka ia akan mempertahankan hubungan mereka.
Jika bicara soal kesetiaan, Ryan masih sangat ingat bagaimana dulu dia di khianati oleh kekasihnya saat masih duduk di kelas 1 SMA.
Benar, pria sekelas Ryan pun pernah di selingkuhi, dan hal itulah yang membuat Ryan menjaga jarak dari para gadis.
Ryan tidak mau hatinya yang mahal ini di rusak. Tapi kenyataanya, ia malah kembali membuka hati untuk Abelia Silvi Utami.
"Ryan." Panggil Abel berbisik.
Ryan menoleh, ia jadi salah fokus karena wajah mereka terlalu dekat. Ryan menatap mata Abel yang bulat dan bibir nya yang tipis.
"Apa?" tanya Ryan kembali ke kesadarannya.
"Kamu bisa bantu aku hitung yang soal nomor dua?" tanya Abel menunjuk soal di papan tulis.
Ryan menatap papan tulis, ia tercengang melihat sudah ada 5 buah soal untuk di kerjakan dan di kumpulkan hari ini.
Ryan mengerutkan keningnya, apa sejak tadi ia tidur dengan mata terbuka, sehingga saat dosen menuliskan soal ia tidak tahu.
"Ryan!" Panggil Abel lagi karena Ryan malah celingak-celinguk.
Ryan menatap Abel. "Iya, gue bantu. Tapi kalo salah, jangan salahin gue ya." Sahut Ryan lalu mengambil pulpennya.
Abel memukul tangan Ryan pelan. "Harus benar, Ryan. Kamu cuma aku suruh kerjain soal nomor dua aja kan," timpal Abel.
Ryan terkekeh, ia mengusap tangan Abel yang sudah emosi itu dengan pelan.
"Heh! Lo berdua pacaran mulu, awas kepala lo nutupin soal!" tegur teman mereka di belakang Ryan.
"Makanya lo kalo tinggi ke atas." Ketus Ryan membuat temannya itu hanya bisa mendengus.
Satu kelas tahu bahwa Ryan adalah sosok pria yang ketus dan dingin, hanya Abel yang berhasil berteman dengannya, sementara sisanya biasa saja.
Bukan tidak ada yang ingin berteman dengannya, tapi Ryan berhati-hati dalam memilih teman untuk bergaul agar ia tidak ikut terseret dengan pergaulan yang bebas.
Ryan juga punya pengalaman, kekasihnya yang dulu saat SMA, ternyata selingkuh dengan temannya sendiri. Karena itulah ia juga memilih dalam berteman.
Dalam kelas memang hanya Abel, mahasiswi yang berhasil berteman dengan Ryan. Sementara untuk mahasiswa, ada beberapa.
"Ryan, aku nanti pulang kampus mau ke rumah sakit dan jenguk mama. Kamu pulang aja duluan, nggak apa-apa." Ujar Abel tanpa menatap Ryan.
"Gue nggak boleh jenguk calon mertua?" tanya Ryan pelan di akhir kalimatnya.
"Apa?" sahut Abel yang kurang mendengar perkataan Ryan barusan.
"Gue nggak boleh ketemu mama lo emang?" tanya Ryan mengulang, meski ada revisi di kalimatnya.
"Boleh kok, cuma aku tadi takut kamu nggak mau." Jawab Abel tersenyum lebar.
Ryan menghela nafas, Abel ini terkadang aneh tapi juga menggemaskan. Orang tidak akan tahu mereka suka atau tidak, di repotkan atau tidak, jika kita tidak bertanya.
"Abel, lo bisa nggak sih lain kali jangan kira-kira terus." Ucap Ryan ambigu.
__ADS_1
"Kira-kira? Berprasangka maksudnya?" tanya Abel dan Ryan menjawabnya dengan anggukan.
"Prasangka lo salah mulu tentang gue. Gue nggak pernah di repotin sama lo, gue juga mau kok kalo lo ajak ketemu mama lo." Ujar Ryan menjelaskan.
"Iya, maaf ya." Balas Abel pelan.
"Yaudah, cepat kerjain. Ini harus di kumpulin kan," tutur Ryan kemudian ia akan mengerjakan soalnya sendiri.
Ryan hanya mengerjakan satu butir soal, sementara Abel empat. Mereka berbagi jawaban bersama, lalu segera mengumpulkannya.
Abel tersenyum senang, akhirnya soal bertemakan angka-angka itu bisa mereka selesaikan bersama. Walaupun tidak adil, tapi mereka senang.
"Ryan, Abal. Kantin yuk?" ajak 4 orang sekelas Abel dan Ryan. Dua perempuan, dan dua laki-laki.
"Kantin apa triple date?" tanya Ryan usil.
"Ayo deh, aku mau beli sesuatu." Sahut Abel kemudian mendekati dua teman perempuan di kelasnya.
Ryan mendengus, bisa-bisanya Abel pergi begitu saja. Ryan pun mau tidak mau akhirnya ikut ke kantin.
Sampai di kantin, Ryan dan Abel serta teman-teman mereka itu duduk bersama. Satu meja besar itu akan muat untuk menampung makanan mereka nanti.
"Kamu makan apa, Ryan?" tanya Abel seraya menatap Ryan yang diam saja.
"Mie ayam deh, nggak usah pakai pangsit." Jawab Ryan. "Minumnya es teh manis." Lanjut Ryan.
Abel manggut-manggut, ia pun mulai menulis pesanan Ryan, dan pesanan mereka semua sebelum memberinya kepadanya ibu kantin.
Sambil menunggu makanan datang, mereka berenam mengobrol ringan.
"Kalian pacaran ya?" tanya Abi, si ketua kelas.
"Ah enggak." Jawab Abel jujur.
"Masa sih, keliatannya kalian malah lebih dari pacar. Jangan-jangan udah nikah, kaya di novel-novel." Sahut Bila, katanya sih pacar Abi.
"Nah kan bener, kalian pacaran!" tukas Dila setelah mendengar ucapan Ryan.
"Eh, enggak. Ryan cuma bercanda mungkin," sahut Abel dengan cepat.
"Pacaran juga nggak apa-apa si, kan sama-sama jomblo." Timpal Fitra.
Abel menghela nafas, sementara Ryan terlihat begitu santai dengan pertanyaan dari temen-temennya mengenai status mereka.
"Ryan ini bukannya nyangkal malah diam aja, kan aku jadi kepedean." Batin Abel kesal.
Setelah selesai makan bersama di kantin, mereka pun pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.
Ryan dan Abel tidak, mereka akan pergi ke rumah sakit dulu untuk menengok mama Abel yang masih di rawat.
"Tumben lo diam aja?" tanya Ryan aneh.
Ryan melirik ke arah Abel yang melipat tangan di dadanya.
"Kekenyangan, jadi kalo aku ngomong nanti mual." Jawab Abel jujur.
Abel memang makan kebanyakan, ia makan mie ayam ditambah bakso juga, jadilah perutnya kencang begini.
"Tapi jadi ke rumah sakit kan?" tanya Ryan, dan Abel hanya menganggukkan kepalanya.
Tidak terasa akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Ryan mengikuti langkah Abel membawanya ke ruangan perawatan ibunya Abel.
Ketika sampai, Ryan bisa melihat ada rasa berat dalam diri Abel untuk membuka pintu ruangan itu. Ryan tidak tahu pasti alasannya, yang jelas ia tahu bahwa Abel berat karena takut merasa sedih.
__ADS_1
"Abel." Panggil Ryan.
Abel tersenyum, ia pun akhirnya membuka pintu dan masuk ke dalam ruang rawat ibunya.
Saat itulah Ryan melihat seorang wanita yang usianya mungkin sama dengan sang mama tengah terbaring di atas bangsal. Alat-alat medis yang menempel di beberapa titik tubuhnya membuat Ryan ikut merasakan sakit.
Abel mendekati bangsal, ia menggenggam tangan ibunya lalu menyalaminya.
"Mama, lihat siapa yang Abel bawa?" ucap Abel dengan senyuman, meski matanya berkaca-kaca.
"Dia Ryan, Ma. Yang selalu aku ceritakan sama mama, dia temanku di kampus." Tambah Abel semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Ryan mendekat, ia berusaha untuk tersenyum meski hatinya tiba-tiba merasakan pedih yang teramat dalam.
"Halo, Tante. Aku Ryan, temannya Abel." Sapa Ryan dengan ramah.
Abel tersenyum mendengar suara Ryan yang menyapa ibunya. Air mata Abel langsung menetes, ia ingin ibunya segera sadar dan pulih, tetapi sampai hari ini masih belum ada tanda-tanda.
"Hiks … mama, bangunlah. Aku udah nggak sanggup sendirian lagi, aku butuh mama." Isak tangis Abel membuat Ryan benar-benar merasakan sesak.
Ryan memegang bahu Abel dan mengusapnya, berusaha menenangkan Abel agar tidak menangis.
"Lo jangan gini, Bel. Kasihan mama lo, bagaimanapun dia masih bisa dengar suara lo, dia pasti sedih kalo lo ngomong kaya tadi." Ucap Ryan lembut dan penuh pengertian.
Abel menyeka air matanya, ia menatap Ryan dengan sisa-sisa air mata yang masih terlihat.
"Tapi gue nggak sanggup sendirian lagi, Ryan." Sahut Abel lirih.
"Lo nggak sendiri, ada gue." Timpal Ryan dengan sangat yakin.
Abel menatap Ryan, kenapa pria ini selalu saja membuatnya berharap lebih. Abel tidak mau jika hatinya semakin terkunci pada Ryan, jika pada akhirnya ia tidak bisa bersama pria ini.
"Kamu bisa nggak sih jangan ngomong gitu, itu nggak baik buat jantung aku, Ryan." Tegur Abel keceplosan.
Abel buru-buru menutup mulutnya.
"Jantung lo? Oh maksudnya lo gugup gue bilang kaya tadi?" tanya Ryan usil.
Abel menepis tangan Ryan, ia pun keluar dari ruang rawat sang mama daripada terus di usili oleh Ryan.
Tinggal lah Ryan di ruang rawat ibunya Abel.
"Tante, semoga Tante bisa dengar suara aku ya. Aku cinta sama anak Tante, dan aku janji akan menjaga dan melindungi Abel. Tante jangan khawatir ya," ungkap Ryan di depan ibunya Abel yang masih belum sadarkan diri.
Ryan pun segera keluar, ia melihat Abel duduk di kursi tunggu yang ada tepat di depan ruangan. Ryan duduk di sebelah Abel, kemudian merangkul bahu gadis itu.
"Ryan." Tegur Abel.
"Apa sih lo, Ryan mulu bosen gue. Panggil gue sayang kek." Sahut Ryan sewot.
Abel memukul tangan Ryan dengan cepat, pria di sebelahnya ini memang selalu asal-asalan jika bicara.
"Ryan mulut kamu itu bawa ke bengkel saja, pasang rem." Ujar Abel mulai mengeluarkan jokesnya.
Ryan tertawa, ia tidak menyangka gadis seperti Abel ternyata bisa bergurau juga.
"Baru tahu gue, lo bisa bikin orang ketawa." Celetuk Ryan.
"Kamu pikir aku patung, nggak bisa bikin orang ketawa." Sahut Abel ketus.
Ryan meringis, jarang sekali ia mendengar Abel bicara ketus begini. Biasanya Abel akan bicara dengan lembut dan manja, sangat berbeda dengan yang sekarang.
"Nggak mungkin kerasukan setan 'kan?" batin Ryan bergidik.
__ADS_1
KALO LIKE SAMA KOMENNYA SEDIKIT, NGGAK JADI CRAZY UP😰
Bersambung..................