Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Biasa diselingkuhi


__ADS_3

Di sebuah universitas yang cukup terkenal dan besar di kota, terlihat remaja tampan yang digandrungi oleh gadis-gadis cantik, bahkan kakak tingkatnya.


Remaja itu adalah putra bungsu keluarga Chandrama, Ryan Chandrama. Si remaja tampan dengan sejuta pesona yang menarik para gadis untuk mendekatinya.


Meski banyak yang mendekati, tetapi Ryan tidak sekalipun jatuh hari dari salah satu mereka. Ryan justru jatuh cinta kepada gadis cantik di kelasnya yang sederhana dan pendiam.


"Ryan." Panggil gadis berambut panjang dengan baju terusan di bawah lutut.


Ryan menoleh, ia tidak menyahut dan malah memasang wajah sedatar mungkin.


Inilah gadisnya, gadis yang ia cintai dalam waktu sekejap. Tingkah laku yang sederhana, tutur kata lembut dan wajah yang cantik, berhasil mendobrak pertahanan hati Ryan yang terkunci selama ini.


"Ryan, kok diem aja?" tanya Abel dan Ryan tetap diam saja.


Abel menekuk wajahnya, ia menarik-narik tangan Ryan agar pria itu mau bicara.


"Ryan, nggak baik tau nggak jawab panggilan orang." Celetuk Abel seketika membuat Ryan melotot.


"Apaan sih lo, bawel tau nggak!" sahut Ryan sewot.


"Eh kok marah, yaudah deh kalo gitu aku pulang sendiri aja." Ujar Abel hendak pergi, namun dicegah oleh Ryan.


"Cowok lo kemana emang, biasanya jemput." Ujar Ryan bertanya, karena hanya beberapa kali saja Abel akan nebeng motornya, sisanya gadis itu akan dijemput sang kekasih.


"Cowok aku? Lagi ngampus juga, katanya sih ada jadwal siang." Jawab Abel dengan begitu polos.


Ryan manggut-manggut, ia tidak bicara lagi dan hanya diam.


"Jadi boleh kan bareng?" Tanya Abel menaik turunkan alisnya.


"Iya bawel." Jawab Ryan kemudian berlalu dari hadapan gadis bernama Abel itu.


Abel pun segera menyusul teman sekelasnya itu. Entahlah mengapa ia bisa seakrab ini dengan Ryan, padahal Ryan itu sangat jauh berbeda dengan kepribadiannya yang lemah lembut.


Untuk masalah pacar Abel, tentu saja sudah tahu soal pertemanan Abel dan Ryan, dan tidak ada yang mempermasalahkannya sama sekali karena hanya sebatas teman.


Sesampainya di parkiran, Ryan naik ke motor sport nya dan tidak lupa memakai helm. Ia tidak membawa dua helm, sehingga Abel tidak memakai helm.


"Gue nggak bawa dua helm. Lo nggak masalah kan?" tanya Ryan menatap Abel serius.


"Iya nggak apa-apa, lagian kan aku cuma ikut sampai halte depan aja." Jawab Abel seraya menunjuk ke arah halte yang sedikit jauh.


"Nggak!" Sahut Ryan cepat.


Abel menatap Ryan dengan mata bulatnya, tatapan gadis itu terlihat heran mendengar suara Ryan barusan.


"Nggak? Nggak apa?" tanya Abel bingung.


"Gue anterin lo sampe rumah." Jawab Ryan singkat.

__ADS_1


Abel terkekeh kecil, membuat Ryan kembali menatapnya.


"Lo mau naik atau gue tinggal?" Tanya Ryan geram.


Abel buru-buru naik, jangan sampai ia kehilangan tumpangan gratis dari temennya ini karena terus saja tertawa.


Ryan pun segera mengendarai motornya meninggalkan area kampus. Tidak sedikit mahasiswa memperhatikannya dan Abel yang pulang bersama. Tidak jarang juga yang menggosipkan Abel sebagai kekasih Ryan, mengingat cowok gadis itu berkuliah di kampus lain.


"Ryan, rumah aku jauh loh. Yakin mau anterin?" tanya Abel sedikit berteriak karena suaranya tertelan angin.


"Ha?" sahut Ryan tidak mendengar.


"Rumah aku jauh." Jawab Abel tepat di telinga Ryan.


"Rumah lo jauh? Iya gue tau, terus kenapa?" tanya Ryan lagi.


"Kamu kasian nanti kejauhan, aku pulang naik angkutan umum aja." Jawab Abel dengan nada yang sama.


"Ke dokter umum, ngapain? Lo sakit?" Tanya Ryan tidak jelas.


Abel memukul kepalanya sendiri. Gini banget ya bicara sambil naik motor, harus bawa toa supaya terdengar.


Motor Ryan berhenti ketika ada lampu merah, dan di sanalah Abel baru bicara agar dirinya tidak perlu berteriak.


"Ryan." Panggil Abel pelan.


"Apaan si, Ryan Ryan mulu. Minta gue cium lo?" sahut Ryan dengan cepat dan asal ceplos.


"Eh maaf-maaf. Aduh … kamu sih aneh-aneh ngomongnya. Sakit nggak?" Tanya Abel mengusap-usap kepala Ryan, lebih tepatnya mengusap helm.


"Nggak lah, kecuali lo getok kepada gue pake palu." Jawab Ryan tertawa kecil.


"Mau nyoba?" tanya Abel menawarkan dan Ryan langsung menjawab dengan gelengan kepala.


Motor pun kembali berjalan, dan benar-benar menyebalkan karena jalanan tiba-tiba saja macet.


Ketika sedang ditengah-tengah kemacetan, mata Ryan tanpa sengaja menangkap sebuah pemandangan pria yang sangat ia kenali.


Ryan melirik Abel yang sepertinya melihat pemandangan itu juga.


"Eh, Anabel. Mau beli ice cream nggak?" tanya Ryan mengalihkan.


"Ryan, cowok aku sama perempuan lain masa." Ujar Abel seraya menunjuk ke arah kekasihnya yang asik berduaan dengan perempuan.


"Kok lo ngeliat sih, ahh jangan lihat dong, nanti lo nangis." Sahut Ryan kesal sendiri.


Abel menggelengkan kepalanya. "Nggak bakal nangis, aku udah biasa." Jawab Abel sambil tertawa.


"BIASA?!" kejut Ryan sampai membuat pengendara lain menatapnya.

__ADS_1


"Ryan, mulut kamu." Tegur Abel malu.


Ryan tidak menyahut, ia harus mencari tempat yang enak untuk berbicara dengan gadis di belakangnya ini. Bisa-bisanya bilang biasa ketika melihat pasangan kita asik berduaan dengan perempuan lain.


Ryan membelokkan motornya ke sebuah kafe yang terdekat, hal itu tentu saja membuat Abel kebingungan.


"Kita ngapain disini?" tanya Abel bingung.


"Konser." Jawab Ryan asal-asalan.


"Oh, kamu bisa nyanyi. Ayo deh, aku temenin. Tapi nanti uangnya bagi dua ya," balas Abel lalu turun dari motor.


"Lo polos apa bodoh sih, otak lo pas lahir masih ketinggalan di rahim ya?" tanya Ryan kesal membuat Abel menekuk wajahnya.


"Ryan, mulut kamu." Tegur Abel seperti biasa. Setiap kali Ryan bicara kasar, hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Abel.


"Apa, mulut gue kenapa? Mau gue cium?" tanya Ryan menantang, dan Abel langsung menggeleng.


"Kalo aku di cium kamu, apa bedanya aku sama dia." Jawab Abel terkekeh kecil.


Ryan langsung menarik tangan Abel masuk ke dalam kafe, ia juga memesan minuman untuknya dan Abel.


"Sekarang cerita sama gue." Ucap Ryan langsung.


"Katanya mau konser, kok malah story' telling." Sahut Abel sengaja membercandai temannya.


"Cerita, Abel. Maksud kata biasa itu apa?" tanya Ryan geram.


Abel tersenyum, senyuman manis yang selalu berhasil membuat jantung Ryan tidak baik-baik saja.


"Aku udah biasa diselingkuhin, cowok aku emang gitu." Jawab Abel dengan tenang.


"Kok biasa lo masih mau sama dia?!" tanya Ryan kesal.


Abel menundukkan kepalanya. "Ada hal yang bikin aku nggak bisa lepas dari dia, Ryan." Jawab Abel.


"Apa? Kasih tau gue. Lo nggak pantes diginiin Abel!" ujar Ryan sedih.


Abel menggeleng pelan. "Aku belum siap cerita, nanti ya kapan-kapan aku cerita. Tapi aku nggak apa-apa kok, aku kan anaknya ceria." Balas Abel tersenyum lebar.


Ryan tiba-tiba menggenggam tangan Abel yang terasa gemetaran. Mungkin gadis itu mengatakan biasa saja, padahal hatinya pasti teriris.


"Kalo lo butuh sesuatu, cerita ke gue. Siapa tau gue bisa bantu," ucap Ryan lembut.


"Makasih ya, Ryan. Tapi gue nggak butuh apa-apa kok," timpal Abel membalas genggaman tangan Ryan.


Ryan tidak rela jika Abel sampai di sakiti, ia sudah mengalah dengan memendam perasaannya terhadap gadis itu. Namun jika kekasihnya menyakiti Abel, maka Ryan tidak akan segan untuk merebut Abel dari cowok itu.


RYAN, AKU DUKUNG KAMU!!

__ADS_1


Bersambung...........................


__ADS_2