Dinikahi calon kakak ipar

Dinikahi calon kakak ipar
Kok jadi pasrah??


__ADS_3

Rheana dan Velia sedang berbelanja bersama suami mereka. Sengaja mereka belanja malam hari begini, karena mereka semua sibuk bekerja, kecuali ibu hamil yang cantik dan menggemaskan ini.


Saat ini Rheana dan Velia pergi ke toko baju untuk mencari pakaian yang siapa tau saja ada yang cocok. Sementara para suami menunggu di kafe terdekat sambil minum kopi.


"Kak, ini cocok nih buat pengantin baru." Celetuk Rheana seraya menunjukkan sebuah lingeria berwarna hitam.


Pipi Velia bersemu merah, ia melirik sekitar lalu buru-buru menyembunyikan bahu dinas itu di dalam tas miliknya.


"Wow, nggak ada aksi nolak dulu. Nggak sabar ya, Kak. Kemarin malam pertama gimana?" tanya Rheana berbisik di akhir kalimatnya.


Velia kembali melotot, adiknya ini benar-benar membuatnya harus bisa menahan malu. Jika saja tidak sedang hamil, Velia pasti sudah memarahi adiknya ini.


"Rhea, suara kamu bisa di kecilkan?" tanya Velia lembut.


Rheana buru-buru menutup mulutnya karena lupa. Ia lupa jika sedang berada di tempat umum, dan pastinya ramai orang yang bisa saja mendengar ucapan mereka berdua.


"Lupa, Kak. Ya gimana, aku kan sebagai adik senang jika kakaknya bahagia dengan pernikahannya." Sahut Rheana dengan cepat.


Velia tersenyum manis, ia mengusap bahu adiknya yang baik hati dan cantik ini. Rheana benar-benar putri terbaik keluarga Chandrama.


"Aku mau beli baju hamil, pakaianku sudah sempit di perut." Ucap Rheana seraya mengusap-usap perutnya.


Rheana mengambil sebuah dress berwarna abu tua dan biru muda dengan bahan rayon. Rheana selalu suka memakai baju yang terbuat dari bahan nyaman begitu.


"Sudah selesai belum?" tanya Velia kepada Rheana yang asik memilih.


"Sudah deh, aku juga udah beli banyak." Jawab Rheana manggut-manggut.


Velia pun pergi ke kasir untuk membayar, sementara Rheana berdiri di belakangnya. Mata Rheana melotot ketika melihat lingerie bersama merah tua itu terlihat bagus.


"Kayaknya lucu buat ngerjain mas Cakra." Ucap Rheana lalu buru-buru mengambil pakaian itu dan memasukkannya ke dalam tas belanjaannya.


Setelah Velia dan Rheana sama-sama sudah membayar, mereka pun bergegas menghampiri suami mereka yang sedang mengobrol sambil menikmati segelas kopi.


"Kalian sudah selesai?" tanya Fikri kepada istri dan adik iparnya.


"Sudah, Sayang. Ayo pulang, ini sudah malam. Besok kita kan harus kerja lagi," jawab Velia seraya melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Eh nggak mau makan dulu, Kak?" Tanya Rheana.


"Kami sudah makan sebelum kesini tadi, kalian makan saja berdua ya." Jawab Velia lembut.


"Iya, Rheana. Makanlah berdua sama suami kamu ini," timpal Fikri seraya menyalami tangan Cakra sebagai tanda pamit.


"Kakak pulang ya." Velia memeluk adiknya dan tidak lupa melambaikan tangannya kepada sang adik.


Setelah kepergian Fikri dan Velia, Cakra langsung menatap istrinya dengan hangat dan penuh senyuman.


"Sayangku mau makan apa?" Tanya Cakra seraya merangkul bahu istrinya.


"Aku mau shabu-shabu, Mas. Kita BBQ-an juga yuk!" ajak Rheana dengan semangat.


"Iya ayo, apa sih yang nggak buat istriku yang cantik ini." Balas Cakra menurut saja.


Rheana menarik tangan suaminya menuju restoran grill yang katanya enak di mall itu. Rheana dan Cakra memilih duduk di sudut ruangan agar lebih nyaman.


"Minumannya mau apa, Sayang?" tanya Cakra seraya membolak-balik menu.


"Strawberry shake dan air mineral." Jawab Rheana yang langsung dicatat oleh pelayannya.


"Saya jus lemon saja." Tambah Cakra.


Setelah pelayan itu pergi, Rheana langsung menyandarkannya kepalanya di bahu suaminya. Memang kursi yang mereka gunakan itu sofa panjang, sehingga mereka duduk bersebelahan.


"Gimana tadi belanja, banyak nggak?" Tanya Cakra lembut.


"Banyak, dan aku yakin uang kamu pasti habis." Jawab Rheana bergurau.


"Oh, bagus dong. Lagian kan sayang banget kalo uang cuma ada di ATM, padahal aku kerja sama gajiannya setiap hari." Timpal Cakra dengan santai.

__ADS_1


Rheana mengangkat kepalanya, ia menatap Cakra dengan sebal setelah mendengar ucapan pria itu.


"Ihh nggak boleh gitu, Mas. Kita ini harus menabung, jadi suatu saat kita butuh uang itu ada." Sahut Rheana sewot.


"Tenang, Sayang. Dana investasi pendidikan anak-anak sama biaya hari tua kita udah aku atur. Kamu nggak perlu mikirin itu, yang penting kamu happy kiyowo terus." Tutur Cakra lembut, tangannya mengusap wajah cantik Rheana.


Rheana tersenyum lebar. "Uang kamu banyak banget ya, Mas?" tanya Rheana berbisik.


Cakra tergelak, ia mengacak-acak rambut Rheana setelah mendengar pertanyaan dari bibir Rheana.


"Nggak banyak, tapi cukup." Jawab Cakra singkat dan merendah.


Rheana hanya manggut-manggut, benar yang Cakra bilang. Uang pria itu memang cukup, cukup untuk membeli apapun yang dia inginkan.


Cukup beli mobil, cukup beli rumah, cukup beli barang-barang mewah.


Tidak lama kemudian pesanan Cakra dan Rheana pun datang. Rheana yang memasak, sementara Cakra hanya diam sambil bermain ponsel.


Bukan karena Cakra tidak mau, melainkan karena Rheana melarangnya.


Setelah selesai, barulah mereka mulai menyantap hidangan khas beberapa negara di dunia itu. Cakra sesekali menyuapi istrinya yang lama sekali makan nya dan malah sibuk mengaduk-aduk kuah.


"Mas, makasih ya untuk hari ini. Nanti di rumah aku kasih surprise deh," bisik Rheana di telinga suaminya.


Cakra tersenyum usil, ia jadi penasaran apa kejutan yang sudah Rheana siapkan untuknya nanti.


"Kejutan apa?" tanya Cakra penasaran.


"Ya kalo aku kasih tahu, namanya bukan kejutan dong." Jawab Rheana sewot.


Cakra meringis, benar juga apa yang istrinya katakan barusan. Daripada kena omel Rheana, lebih baik ia diam saja dan menunggu kejutan seperti apa yang telah istrinya siapkan.


Setelah selesai makan dan membayar, Rheana dan Cakra pun bergegas pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk sampai di rumah, sebab jalanan yang cukup renggang.


"Iya, Ma." Jawab Rheana tersenyum lebar.


"Kalian sudah makan malam belum?" tanya Papa Wawan yang sibuk menggonta-ganti chanel televisi.


"Sudah, Pa. Tadi kami sekalian makan diluar," jawab Cakra.


"Ya sudah, kalian bersih-bersih gih lalu istirahat. Kasihan Rheana pasti capek," tutur Mama Mila.


Rheana dan Cakra pun pamit untuk masuk ke dalam kamar mereka untuk mandi dan bersih-bersih.


Ketika Rheana hendak membuka pintu, Cakra tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Mas!" tegur Rheana sambil berdecak.


"Apa, Sayang?" sahut Cakra dengan santainya.


"Lepasin, aku mau mandi!" Pinta Rheana seraya berusaha melepaskan pelukan Cakra.


"Kejutannya mana, Sayang?" tanya Cakra menagih.


"Nanti lah, aku mandi, kamu mandi. Setelah itu baru aku kasih kejutan," jawab Rheana kesal.


Cakra mengangguk paham, ia pun akhirnya membiarkan istrinya mandi dan ia akan menunggu giliran untuk mandi.


Sambil menunggu istrinya, Cakra melihat ponselnya yang seperti mendapatkan pesan, dan ternyata dari Fikri.


"Polisi kehilangan jejak Rizi di rumahnya." Tulis Fikri dalam pesannya.


Cakra mengerutkan keningnya, ia akan memikirkan cara untuk menemukan penjahat itu besok. Cakra tidak akan membiarkan Rizi menyakiti Ryan, ataupun gadis yang Ryan kasihi.


Setelah 15 menit, Rheana pun keluar dengan daster yang biasa Rheana gunakan jika mau tidur. Ia berjalan dengan santai melewati suaminya.


"Mandi sana, jangan kaya ikan kurang air. Mangap terus!" tegur Rheana seketika membuat Cakra sadar.

__ADS_1


"Enak aja! Suami kamu ganteng gini dibilang mirip ikan," sahut Cakra geleng-geleng kepala.


Cakra pun buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih. Rheana hanya bisa terkikik melihat wajah kesal suaminya.


Setelah melihat suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Rheana pun mengambil baju yang tadi ia beli untuk ia kenakan malam ini.


Ingat! Hanya untuk mengerjai Cakra saja, tidak lebih.


Rheana menyemprotkan parfum ke beberapa titik tubuhnya, ia benar-benar tidak sabar Cakra keluar dan melihat penampilannya.


Hanya dalam 10 menit, Cakra keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya, sehingga pria itu tidak melihat istrinya sekarang.


"Sayang, tadi Fikri–" Ucapan Cakra terhenti ketika dirinya mengangkat wajah dan menatap Rheana.


"Kak Fikri, kenapa?" Tanya Rheana seraya naik ke atas ranjang dengan santainya.


Cakra berusaha menelan gumpalan saliva nya yang mendadak sulit. Cakra bahkan menjatuhkan handuk di tangannya yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


"S-sayang." Panggil Cakra gugup.


"Hmm." Sahut Rheana hanya berdehem pelan.


Cakra mendekati Rheana, mengambil ponsel wanita itu lalu meletakkannya di nakas.


"Jadi ini kejutannya?" Tanya Cakra dengan suara yang berat.


Rheana tidak menjawab, wanita itu malah mendaratkan jari-jarinya di atas dada bidang Cakra polos.


"Kenapa? Nggak suka?" bisik Rheana lalu menggigit telinga Cakra pelan.


"Shhh … sayang!!" erang Cakra kehilangan akalnya.


Cakra bangkit, ia mendekati pintu kamar lalu menguncinya agar tidak ada yang mengganggu aktivitasnya bersama Rheana malam ini.


Cakra kembali mendekati Rheana yang senyum-senyum sendiri. Pria itu langsung menarik tengkuk Rheana dan menyatukan bibir mereka.


Cakra sudah menahan ini sejak lama, selain takut Rheana marah, ia juga tidak mau sesuatu terjadi pada anaknya. Tapi jika Rheana sendiri memberinya lampu hijau, maka ia tidak bisa menolak.


"Ahhh." Desahh Rheana ketika ciuman Cakra turun ke lehernya.


Rheana merutuki dirinya sendiri, tadi kan niatnya hanya menggoda Cakra, kenapa jadi begini.


Cakra tidak sabaran dan langsung merobek gaun tidur yang istrinya gunakan malam ini.


"Mas, baru beli loh aku!!" tegur Rheana kesal.


Cakra menciumi seluruh tubuh istrinya tanpa ada yang terlewat, ia tidak mempedulikan ucapan istrinya barusan.


Cakra mampu membeli lingeria satu gudang sekalipun.


"Mhhh … ahhh, Mas!!"


Cakra semakin dalam menjelajahi tubuh istrinya. Malam ini Cakra benar-benar membuat Rheana tidak berdaya.


Rheana yang awalnya ingin mengerjai Cakra saja, justru berakhir banjir keringat seperti ini. Jangan lupa tiap gerakan Cakra yang membuatnya tidak berhenti berteriak nikmat.


"Baby, maaf ya papa ganggu kamu bobok." Bisik Cakra seraya mencium perut besar istrinya.


Rheana benar-benar pasrah, ia jatuh ke dalam lubang yang ia buat sendiri. Niatnya kan menggoda lalu meninggalkan Cakra, tapi lihat apa yang terjadi sekarang.


"Ahhh."


Tidak henti-hentinya suara itu mengalun di telinga Cakra setiap kali ia menambah tempo gerakannya.


Malam ini Cakra benar-benar sangat bahagia. Setelah berapa lama puasa, akhirnya malam ini berbuka dengan nikmatnya.


MBAK RHEAAAA🤧😫


Bersambung.............................

__ADS_1


__ADS_2