
Hari ini Cakra mengajak kakak ipar dan juga adik iparnya bertemu di sebuah restoran yang alamatnya telah ia kirimkan melalui wa grup.
Benar, Cakra sampai melakukan itu demi lancarnya sebuah rencana yang telah ia pikirkan sejak lama.
Saat ini Cakra sudah duduk bersama dengan Ryan dan Abel, hanya tinggal menunggu Velia dan Fikri yang katanya sudah di jalan.
"Kenapa kak Rheana tidak ada di dalam grup, bukankah ini tidak adil?" tanya Ryan, remaja itu belum tahu rencana Cakra makanya bertanya.
Cakra menghela nafas. "Jika Rheana ada di dalam situ, sama saja kau membatalkan semua rencanaku." Jawab Cakra.
Abel menatap Ryan juga menatapnya, mereka berdua sama-sama penasaran dengan rencana yang akan dibuat oleh Cakra itu seperti apa.
"Memang kakak mau buat rencana apa?" tanya Abel pelan.
"Nanti akan ku jelaskan, kita tunggu Velia dan Fikri datang dulu." Jawab Ryan.
Tidak lama setelah mengatakan itu, Velia dan Fikri pun datang. Keduanya langsung duduk di depan adik dan adik ipar mereka.
"Ada apa meminta kami datang, Cakra?" tanya Fikri langsung pada intinya.
"Sabar, aku sudah memesan makanan. Kebetulan ini jam makan siang, ada baiknya kita bicara setelah makan." Jawab Cakra.
Meraka semua pun setuju, siang itu Cakra mentraktir orang-orang yang ia minta datang di restoran yang cukup terkenal itu, dan tentu saja tanpa kehadiran istrinya disana.
Tanpa terasa, makanan mereka pun habis. Kini waktunya membicarakan hal yang menjadi alasan Cakra memanggil mereka semua untuk datang.
"Aku berencana untuk membuat resepsi pernikahan dengan Rheana, jadi aku butuh bantuan kalian semua." Ujar Cakra membuka pembicaraan.
"Apa, benarkah?!" tanya Velia begitu senang.
Cakra mengangguk. "Sejak lama aku sudah memikirkan tentang rencana ini, tapi karena masalah diantara kami, akhirnya rencana ini harus ku undur." Jawab Cakra diakhiri helaan nafas.
Fikri menepuk bahu adik iparnya. "Kau tenang saja, kami semua siap membantumu." Tutur Fikri.
Ryan manggut-manggut, tentu saja ia juga akan membantu, apalagi dirinya tahu bahwa kakaknya itu memang sejak lama menginginkan sebuah pernikahan yang mewah.
Rheana selalu berkeinginan untuk memakai gaun pengantin yang cantik dengan dekorasi pelaminan yang sesuai dengan seleranya.
"Kami juga akan bantu." Ucap Abel dengan semangat.
"Benar, asal kalian juga membantu kami saat kamu menikah nanti." Tambah Ryan dengan begitu antusias.
Velia memukul bahu adiknya. "Belajar dan lulus dulu yang benar, setelah itu akan kami siapkan pesta mewah untuk kalian." Cetus Velia.
Ryan mengusap bahunya yang terasa sedikit sakit, namun ia tetap tersenyum karena mendengar ucapan sang kakak barusan.
Astaga! Ryan tidak sabar untuk menikah dan tinggal bersama pujaan hatinya ini.
__ADS_1
"Jadi kita akan mulai dari mana?" tanya Velia serius.
"Tenang saja, aku sudah membuat rencananya. Dan kalian juga sudah ku berikan tugas masing-masing." Jawab Cakra tersenyum lebar.
Setelah selesai bicara tentang rencana Cakra, mereka semua pun memutuskan untuk pulang. Tapi Fikri dan Cakra harus kembali ke kantor sebelum pulang ke rumah mereka.
"Ryan, hati-hati membawa mobilnya ya. Sedikit saja lecet, awas." Ucap Fikri kepada adik iparnya.
"Sayang …" rengek Velia dengan manja ketika mendengar ucapan suaminya yang begitu perhatian.
Fikri mengusap kepala Velia yang keluar dari kaca mobil, ia lalu menunduk dan memberikan kecupan di kening sang istri.
"Heh?! Sudah berhenti mesra-mesraan nya." Ketus Cakra, sebab saat ini tidak ada istrinya.
Fikri mendengus, aksi romantisan dengan istrinya harus tertunda karena ada orang-orang jomblo disana. Eh tidak jomblo sih, hanya saja pasangan Cakra tidak ada, sementara Ryan dan Abel masih pacaran.
"Kak, kami pulang ya." Pamit Abel dari dalam mobil.
Fikri dan Cakra mengangguk, mereka pun menatap mobil itu sampai menghilang dari pandangan.
"Aku harus kembali ke kantorku." Kata Cakra seraya berjalan ke arah mobilnya.
"Ya, aku juga." Balas Fikri juga masuk ke dalam mobilnya.
Kedua menantu keluarga Chandrama itu pun pergi dari parkiran restoran untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
"Sayang mama haus ya, mau mimi cucu?" tanya Rheana berceloteh.
Rheana menggendong Ayla yang tidak dibedong. Sudah beberapa hari ini, Ayla selalu menangis jika tubuhnya di tutupi kain seperti lontong.
Rheana menyusui Ayla, tangannya mengambil ponsel untuk melihat apakah ada pesan atau panggilan dari suaminya, namun hasilnya nihil.
Tidak ada satu pesan apalagi panggilan dari kontak dengan nama 'Papa Ca'.
"Papa kemana ya, Dek. Apa sibuk sampai nggak telepon Mama?" Tanya Rheana sambil mengusap kepala putrinya.
Rheana hendak menelpon suaminya, namun tiba-tiba ponselnya mendapatkan pesan singkat dari Abel, calon adik iparnya.
"Kak Rhea, apa aku boleh minta tolong?" Tulis Abel dalam pesannya.
Rheana pun segera membalas pesan dari adik iparnya. Ia bertanya apa yang bisa ia bantu, namun Abel bilang akan datang ke rumahnya besok untuk memberitahunya.
Rheana pun hanya bisa menerima, ia malah senang jika Abel mau datang sehingga ia punya teman untuk mengobrol.
"Apa Ryan menyakiti Abel?" Gumam Rheana mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Awas saja jika dia berani menyakiti seorang gadis." Tambah Rheana mencak-mencak seorang diri.
__ADS_1
Rheana menundukkan kepalanya, ternyata Ayla sudah tidur. Rheana merasa lega, ia cukup lelah hari ini sehingga ikut tidur bersama putri kecilnya.
***
Cakra pulang terlambat dengan alasan bertemu klien, padahal ia pergi mencari beberapa hotel yang cocok untuk dijadikan tempat resepsi.
Cakra tidak mencari-cari tanpa adanya referensi, ia dibantu oleh Fikri yang merekomendasikan hotel terbaik untuk acara bahagianya.
Ketika Cakra sampai di rumah, ia langsung disambut oleh tatapan sinis dari istrinya, dan Rheana tahu alasannya.
"Sayang." Panggil Cakra seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Rheana tidak membalas, ia memilih untuk melipat pakaian Ayla lalu meletakkannya di dalam lemari kecil milik baby Ayla.
"Sayang." Panggil Cakra kembali mendekati istrinya.
"Kamu marah?" Tanya Cakra dengan sangat lembut.
Rheana menatap suaminya dengan tajam, ia ingin sekali memukuli dan membekap hidung suaminya yang masih saja bertanya.
"Kamu nanyea?" Timpal Rheana dengan gaya tengilnya.
"Heh! Aku nggak suka." Tegur Cakra dengan mengecup bibir merah istrinya.
Rheana mendengus, Cakra selalu pandai mengambil kesempatan untuk mencium dan memeluknya setiap hari.
"Sayang, tinggal 14 hari loh." Celetuk Cakra tiba-tiba.
Rheana mengerutkan keningnya, ia tidak paham dengan maksud kata-kata Cakra barusan.
"Apanya?" tanya Rheana.
"Waktu aku untuk unboxing kamu." Jawab Cakra lalu tertawa dengan begitu lepas.
"MAS!!!" teriak Rheana sambil melempar bedak Ayla yang ada di dekatnya.
Cakra masih tertawa, ia berhasil mengelak dari bedak melayang yang istrinya lemparkan. Pria itu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi sebelum Rheana benar-benar murka.
Rheana menghela nafas, ia memungut bedak Ayla yang ada di lantai lalu hendak menyimpannya. Tapi tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka sedikit.
Rheana menyipitkan matanya curiga ketika hanya kepala Cakra yang keluar.
"Apalagi?" tanya Rheana dengan sabar.
"Mau adu bibir di bawah shower nggak?" tawar Cakra seraya menaik turunkan alisnya.
IHH PAPA CA MAKIN GENIT 😬🤣
__ADS_1
Bersambung...............................