
Rheana tidak melepaskan pegangan di tangan Cakra sejak mereka sampai di kediaman keluarga Dharmawan. Benar, saat ini keduanya berada di rumah keluarga Cakra untuk makan siang bersama.
Tampak Mama Mila dan Papa Wawan saling pandang, lalu menatap Rheana yang ketakutan.
Mereka memang tidak menyukai Rheana karena perbuatannya, namun mereka tidak mungkin melakukan kejahatan kepada wanita yang kenyataan adalah menantu mereka sekarang.
“Cakra, suruh istrimu makan.” Ucap Mama Mila membuka suara.
Cakra menghela nafas, ingin sekali rasanya ia menghempaskan tubuh Rheana agar menjauh darinya, namun tidak bisa demi kelancaran rencananya.
“Rhe, kamu tidak dengar? mama memintamu untuk makan,” bisik Cakra pelan.
Rheana perlahan mengangkat kepalanya, ia memberanikan diri untuk menatap kedua orang tua Cakra, lalu memasang wajah dengan senyuman.
“Makanlah, Rhea.” Tutur Mama Mila tanpa senyuman di wajahnya.
“Iya, Ma.” Balas Rheana memberanikan diri untuk memanggil ibu mertuanya begitu.
Cakra dan kedua orang tuanya saling pandang lalu beralih menatap Rheana dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tidak ada yang mengatakan apapun dan memilih melanjutkan makan siang mereka.
"Cakra, nanti ke ruang baca Papa sebentar ya." Ucap Papa Wawan.
Cakra mengangguk. "Iya, Pa." Balas Cakra pelan.
Cakra melirik istrinya sebentar, dan dibalas senyuman manis oleh Rheana.
Selesai makan siang, Cakra pergi ke ruang baca seperti ucapan sang papa. Sementara Rheana memilih untuk tetap berada di dapur, membantu mencuci piring bekas mereka makan.
"Rhea, itu sudah ada yang mengerjakan, kamu tidak perlu melakukannya." Tegur Mama Mila.
Rheana tersenyum simpul. "Nggak apa-apa, Ma. Lagipula, aku terbiasa melakukan ini di rumah." Balas Rheana lembut.
Mama Mila menghela nafas, ia melirik asisten rumah tangganya dan menyuruhnya untuk pergi.
Jika Rheana ingin mencuci piring ya sudah, ia tidak akan memaksa menantunya itu untuk menyudahinya.
Sementara itu Cakra, pria itu kini duduk berhadapan dengan sang papa yang tampak serius.
Cakra pun tidak kalah serius. Tanya yang ditopang diatas meja, dan tatapan yang tepat sasaran ke mata sang papa.
"Kamu serius melakukan itu, Cakra? Kamu nggak takut jika nantinya kamu terjebak dalam permainan mu sendiri?" tanya Papa Wawan.
Cakra tertawa kecil. "Maksud Papa, aku mencintainya?" tanya Cakra dijawab anggukan oleh sang papa.
"Pa, ini bukan kisah-kisah percintaan anak remaja. Aku tidak akan jatuh cinta kepada Rheana, rencana tetaplah rencana." Ujar Cakra dengan begitu yakin.
__ADS_1
"Cinta hadir karena terbiasa, kamu sudah biasa memberinya cinta dan kasih sayang, bukankah besar kemungkinan rasa itu tumbuh nantinya?" tanya Papa Wawan lagi.
Cakra menggeleng. "Tidak, Papa. Aku yakin, aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada wanita itu." Jawab Cakra berpegang teguh.
Papa Wawan menghela nafas, ia tidak bertanya lagi kepada putranya. Bagaimana pun nantinya, ia tidak akan ikut campur, karena semua ini adalah keputusan dari Cakra sendiri.
Setelah selesai dengan urusannya, Cakra mengajak istrinya untuk pulang karena ia juga ada pekerjaan yang harus dilakukan di rumah.
Meskipun ia pulang lebih awal, namun bukan berarti pekerjaannya selesai.
"Ma, Pa. Kami pulang ya," pamit Cakra seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian.
Rheana melakukan hal yang sama setelah suaminya.
"Hati-hati ya, sering-sering kamu main kesini." Tutur Mama Mila lembut.
Rheana mengulum bibirnya, ia tidak akan berprasangka buruk dengan ucapan ibu mertuanya yang seperti tidak mengharapkan Cakra untuk datang lagi bersamanya.
"Ya sudah, kami pulang. Assalamualaikum," Cakra menggandeng tangan istrinya lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Mobil Cakra meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Selama perjalanan pun, tidak ada yang berbicara.
Rheana memilih untuk menatap jalanan dan lalu lalang orang sekitar.
"Mungkin kedua orang tua kak Cakra belum sepenuhnya menerimaku." Batin Rheana sedih.
"Ada apa?" Cakra membuka suara saat sadar bahwa Rheana hanya diam saja.
Cakra tersenyum lalu mengusap kepala istrinya. "Kamu kenapa diam aja?" tanya Cakra lembut.
Rheana meraih tangan Cakra yang mengusap kepalanya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Tidak, aku hanya sedang berpikir, makan malam apa yang harus aku masak?" tanya Rheana balik.
Cakra terkekeh. "Eummm … bagaimana jika makan diluar saja?" tawar Cakra.
Kening Rheana mengerut. "Kau mengajakku dinner, Kak?" tanya Rheana menahan tawa.
"Kenapa? Apakah salah suami mengajak istrinya makan malam diluar?" tanya Cakra balik, wajahnya ditekuk membuat Rheana langsung tertawa.
Pas sekali karena lampu merah, Rheana mengusap rahang Cakra lalu memberikan kecupan di pipi suaminya.
"Tidak salah sama sekali, Kak." Jawab Rheana.
"Tapi aku ingin memasak saja." Tambah Rheana.
Cakra terdiam sejenak, menatap tangan Rheana yang masih ada di wajahnya.
__ADS_1
Cakra mengambil tangan Rheana lalu menggenggamnya gantian.
"Makan seafood? Tapi kamu yang masak, kita belanja ke supermarket ya?" usul Cakra menaik turunkan alisnya.
Rheana mengangguk setuju. "Setuju!" balas Rheana.
Mereka pun membelokkan mobilnya ke arah supermarket yang tidak jauh dari sana. Keduanya turun bersama dengan Rheana yang menggandeng tangan suaminya.
Cakra mengambil troli dan mendorongnya, sementara Rheana bertugas mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan.
"Kak, kau ada riwayat alergi seafood tidak?" tanya Rheana tanpa menatap suaminya dan sibuk memilih udang.
"Tidak ada, Sayang." Jawab Cakra.
Rheana mengambil macam-macam seafood yang akan ia jadikan masakan malam ini, tidak lupa ia juga membeli bumbunya.
"Sudah." Ucap Rheana setelah memeriksa troli belanjaannya.
"Kamu tidak mau membeli sesuatu?" tanya Cakra dijawab gelengan oleh Rheana.
Mereka pun segera membayar, dan tanpa sengaja Rheana bertemu dengan Fikri disana yang juga sedang berbelanja.
"Rheana." Panggil Fikri heboh.
"Hai, kau belanja juga?" tanya Rheana.
"Tidak, aku sedang merampok." Jawab Fikri sewot. "Tentu saja aku belanja, Rhea." Lanjut Fikri membuat Rheana tertawa.
Sementara Cakra, pria itu langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.
"Ayo cepat bayar, Sayang. Kita harus segera pulang 'kan." Ajak Cakra dengan wajah yang datar.
Rheana pun pamit kepada Fikri dan membayar duluan.
"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya." Celetuk Cakra seraya meletakkan barang belanjaannya di meja kasir.
"Iya, aku tidak akan terlalu dekat lagi." Balas Rheana tanpa mau protes.
Cakra menatap Rheana yang langsung menurut begitu saja dengan heran, kenapa istrinya itu tidak pakai acara protes, debat atau alasan dan langsung menerima saja.
"Nggak mau debat dulu?" tanya Cakra tiba-tiba.
"Buat apa, aku malah senang karena itu artinya kamu cemburu." Jawab Rheana seadanya dan jujur.
Cakra membulatkan mulutnya, namun setelah beberapa saat ia tersadar dengan ucapan Rheana barusan.
"Aku cemburu?" Batin Cakra heran.
__ADS_1
CEMBURU NGGAK SIH???
Bersambung..................